
"Nggak juga kali bang. Aku sendiri juga bingung. Zona nyaman dalam pernikahan itu apa sih?"
Tanya Dita yang membuat Tommy tertawa semakin keras.
"Kak Tommy malah tertawa semakin keras saja. Kan aku nggak tahu zona nyaman setelah pernikahan itu apa? Ya sudah deh kalau kakak tertawa."
Tommy menghentikan tawanya sambil melihat wajah Dita. Sebenarnya dirinya tahu zona nyaman itu apa? Ia tidak akan menceritakan kepada Dita dan membiarkannya penasaran.
"Kamu itu sangat polos sekali. Kalau kamu sudah menikah dan mengerti zona nyaman itu. Nanti kamu paham apa artinya?"
Jawab Tommy.
"Kakak lagi ngapain? Nggak cari makan gitu?"
"Biasalah... Kakak sedang mengerjakan perusahaan keluarga. Kamu tahu, setelah kita mengadakan bakar-bakar ikan dan ayam. Kakakmu menyuruh kita kembali ke perusahaan masing-masing. Sekarang jadi pertanyaannya adalah Apakah kamu mau menjadi istriku? Tapi Aku tidak akan bekerja dengan kakakmu lagi. Perusahaan di bidang kuliner keluarga sedang membutuhkan aku sekarang ini. Aku harap kamu nggak marah sama kakakmu."
"Aku nggak bisa marah sama kakak. Tapi kenapa Kakak menyembunyikan identitas aslinya? Seharusnya Kakak sudah masuk ke dalam sana. Nggak usah ikut lagi sama Kak Dewa."
"Zaman SMA adalah zaman masih labil. Yang di mana Banyak sekali yang akan diperjuangkan. Mulai dari a sampai z. Lalu kenapa kami nggak bekerja langsung di perusahaan keluarga? Karena kami ingin merasakan dunia luar itu kayak apa? Kita itu hidup di masyarakat luas. Yang di mana masyarakat luas itu memiliki sifat dan watak yang berbeda jenis. Setelah bergabung dengan kakakmu, aku mengerti sifat mereka kayak apa? Terus aku mulai perlahan melakukan pelayanan demi pelayanan kepada para klien perusahaan kakakmu. Aku juga belajar masalah lainnya. Itulah keuntungan aku ketika berada di luar perusahaan milik keluargaku sendiri. Istilahnya kita harus mandiri sendiri. Karena kita suatu hari nanti menjadi tumpuan keluarga. Aku harap kamu mengerti apa yang kukatakan tadi."
Jawab Tommy yang menjelaskan sebenarnya dirinya ingin mencari pengalaman hidup saja.
"Oh, jadi kakak selama ini hanya mencari pengalaman kerja?"
"Nggak juga kali Dit. Aku lagi mencari pengalaman hidup. Yang di mana pengalaman itu akan kujadikan sebuah pedoman. Sejarah Aku adalah pria yang akan memimpinmu dan juga anak-anak kita."
Mata Dita berbinar dan terharu. Ternyata selama ini Tommy telah merancang hidupnya untuk masa depan. Ia sangat bersyukur sekali mendapatkan calon suami yang sangat dewasa. Mulai saat ini dirinya akan mempertahankan Tommy hingga titik penghabisan. Sebab pria seperti Tommy itu sangat jarang sekali baginya.
"Setelah kembali ke New York. Akan aku perkenalkan kamu dengan kedua orang tuaku. Aku harap mereka cocok denganmu dan kita akan menikah."
"Bertemu dengan calon mertua?"
__ADS_1
"Janganlah kamu bersikap sok manis kepada mereka. Aku mau kamu bertemu dengan mereka dengan gaya yang natural saja. Mereka tidak akan pernah menilai seseorang dengan cepat. Mereka terus akan memperhatikan kamu hingga waktunya tiba. Jika kamu berpura-pura, nanti akan fatal buat kamu sendiri. Maka dari itu bersikaplah seperti biasa."
"Kakak ini sangat aneh sekali. Kalau ngajarin itu ngajarin Yang bener Kak. Ngajarin itu misalnya kamu harus gini gini gini gini. Tapi kenapa kakak langsung menyuruhku bersikap natural seperti biasanya?"
"Karena keluargaku tidak suka kepura-puraan. Mereka sangat ideliasis sekali terhadap orang. Kalau mamaku suka sama kamu. Kamu akan dipertahankan habis-habisan. Jika tidak suka ya mau bagaimana lagi. Aku mengatakan ini supaya kamu nggak kecewa. Soalnya jika aku menutupi mereka dari kamu. Nanti kalau kamu nggak suka ujung-ujungnya pergi. Aku sudah meminta izin kepada mereka untuk menceritakan ke kamu. Agar kamu paham Bagaimana dengan keluarga besarku?"
"Rasanya aku sangat tersanjung sekali. Mendapatkan informasi dari kamu siapa keluargamu sebenarnya. Apakah Kak Dewa tahu?"
"Ya tahulah. Bapak aku dan bapak kamu adalah teman sekolah. Begitu juga dengan bapaknya Sascha. Begitu juga dengan lainnya. Bisa dikatakan kami adalah serumpun. Sering berkumpul dan memberikan support satu sama lain."
Jelas Tommy.
"Berarti selama ini Kak Sascha tahu?"
"Nggak tahu. Andaikan kalau Kakak iparmu nggak terpisah dari kedua orang tuanya. Kakakmu itu akan tahu segalanya. Kakakmu itu sebenarnya orang besar. Tapi gara-gara Fatin sialan itu. Jadi kakakmu terpisah jauh dan tidak mengerti apa-apa tentang keluarganya sendiri. Jujur selama ini aku masih kasihan sama kakakmu. Kok bisa-bisanya ketika waktu kecil dipisahkan. Tapi aku bersyukur kepada Tuhan. Gara-gara anaknya berpacaran dengan kakakmu. Dewa bisa melacak kasus ini. Dan kami sangat bahagia bisa memecahkan kasus ini satu persatu."
"Begitu hebatkah Kak Dewa itu?"
"Tapi dia bodoh Kak?"
"Bodohnya apa?"
"Masa menaklukkan Kak Sascha butuh sepuluh tahun."
"Itu nggak bodoh. Itu Dewa masih ingin bekerja terlebih dahulu. Prinsipnya Dewa itu nggak usah dipegangin jodohnya. Biarkan saja jodohnya itu berjalan-jalan terlebih dahulu. Kalau sudah waktunya, mereka akhirnya bersatu. Memang sih agak lucu mereka berdua menjalin asmara. Tapi aku memang suka gayanya kakakmu itu."
"Kenapa nggak tunangan ya Dari dulu?"
"Kamu itu ada-ada saja. Yang namanya jodoh meskipun tanpa tunangan pun jadi. Kalau belum jodoh terus tunangan akhirnya bubar. Ada kok kisahnya. Kisah itu berasal dari kakakku sendiri. Udah tunangan dengan mewah. Eh... Ujung-ujungnya putus. Sampai sekarang kakakku masih menyibukkan dirinya sampai bekerja."
"Kasihan banget ya Kak kisahnya?"
__ADS_1
"Yang namanya perempuan kalau udah putus kayak apa sih? Untung saja kakakku ini orangnya kuat kayak Sascha. Ya semoga saja kekasih barunya bisa membuatnya bahagia."
"Memangnya kekasihnya siapa Kak?"
"Dia belum cerita apapun ke aku. Dia lagi sibuk mengurus pembangunan apartemen baru di Denmark. Sebulan sekali dia pasti pulang kok ke rumah. Semoga saja kita bisa bertemu dengannya."
"Rasanya aku ingin bertemu dengannya?"
"Bersabarlah. Kalau kita ketemu sekarang pun, percuma saja. Kakakku itu sangat sulit sekali dipertemukan."
"Ya sudah deh Kak. Sekarang aku lega."
"Serius, kamu lega?"
Tanya Tommy yang sengaja meledek Dita.
"Memang aku lega kak. Ya sudah deh... Nunggu Kak Dewa keluar saja dari kamar. Aku mau jalan-jalan untuk mencari makan pagi."
"Jangan beli makanan apapun. Hargailah pengawalku ketika memasak makanan. Nanti kamu akan menyukainya."
"Memang anggota Black Tiger adalah orang yang sangat juara sekali. Untung saja Kak Dewa nggak memiliki makanan favorit. Dikasih apapun dia mau makan."
"Bagaimana dengan Kak Sascha?"
"Biarkanlah mereka berdua saja dengan Kak Dewa. Aku akan berjalan-jalan dulu."
"Tunggu di sini dulu. Aku mau ikut denganmu."
Seru Tommy agar Dita tidak pergi terlebih dahulu.
"Ya sudah aku tunggu di sini. Hitung-hitung kita berkencan ya kak di pinggir sawah."
__ADS_1
Ucap Dita yang se dari tadi ingin berdiri namun ditahan oleh Tommy.