
“Harus,” jawab Tara. “Jangan bilang nggak yakin ya?”
“Yakin kak. Sedari dulu Sascha ditunjuk sama kakek untuk mengeksekusi kasus besar dalam perusahaan cabang maupun pusat,” ucap Kobe sambil membuka jaketnya lalu membuangnya ke segala arah.
“Lalu, sepertinya kamu ragu atas keputusan kakak?” Tanya tara curiga.
“Jangan mencurigaiku seperti itu. Kakak tahu nggak, masalah ini masalah besar. Kalau kita meminta Sascha menjadi garda di depan, nyawa Sascha dalam bahaya,” jawab Kobe menyugar rambut panjangnya.
“Aku tahu itu. Kalau kita nggak bergerak sedikitpun, lama-lama perusahaan akan hancur. Aku tahu Sascha adalah wanita yang hebat. Dia bisa memecahkan masalah demi masalah hingga selesai. Lalu, apa masalahnya buat kamu?” tanya Tara.
“Ayolah, Jangan bertengkar seperti itu,” sahut Sascha yang membuat Tara dan Kobe terkejut.
“Kami nggak bertengkar. Tapi kami sedang berdiskusi,” ungkap Kobe.
“Diskusi apa?” tanya Sascha yang memandang Kobe dengan penuh perasaan.
Secara tidak sengaja Sascha memandang wajah Kobe. Lalu Kobe mengangkat wajahnya sambil bertanya, “Kenapa kamu memandangku seperti itu?”
“Lama-lama Mas Kobe sangat aneh sekali buatku,” jawab Sascha.
“Lalu?” tanya Kobe lagi.
“Ada masalahkah di pusat?” tanya Sascha.
“Ada masalah pelik. Seseorang menginginkan kakek Aoyama turun dari jabatan. Orang itu ingin menduduki jabatan presiden direktur,” jawab Kobe.
“Seseorang itu siapa?” tanya Sascha dengan penasaran.
“Seseorang yang di mana ingin menguasai perusahaan pusat dan cabang di seluruh dunia. Tapi orang itu tidak memiliki pengalaman sama sekali. Dia bukan keluarga dari Nakata,” jawab Kobe.
“Oh... Kisah kita sama berarti ya?” ucap Sascha yang membuat Dewa, Tara dan Kobe menepuk jidatnya bersama-sama sambil tersenyum.
“Apa maksudmu?” tanya Kobe yang tidak paham.
“Apakah aku harus menceritakan kisahku?” tanya Sascha ke Dewa sambil meminta izin.
“Ceritakanlah,” jawab Dewa.
“Apakah kakak nggak keberatan?” tanya Sascha lagi.
“Ceritakanlah saja. Masalah itu sudah menjadi besar dan keluar ke media. Percuma kamu tutup-tutupin. Karena semua orang sudah pada tahu dan mendesak kamu keluar,” jawab Dewa.
“Apa maksudnya?” tanya Kobe.
__ADS_1
“Masa kamu nggak tahu sih? Masalah yang sedang happening banget di dunia bisnis? Apakah Mas Kobe tidak mengikuti majalah bisnis dari a sampai z?” kesal Dewa terhadap Kobe yang tidak mengetahui masalah apa sebenarnya.
“Beneran, aku nggak tahu apa-apa. Aku sedang sibuk rekaman album baru,” jawab Kobe dengan jujur.
Gubrak.
“Gimana ini orang? Bisa-bisanya nggak update soal berita bisnis?” tambah Dewa yang menjadi sangat kesal sekali.
“Bukannya begitu. Kamu tahu kan, 2 tahun sekali aku harus mengeluarkan album. Setiap update sosial media. Aku selalu dikejar-kejar kayak maling sama penggemarku. Tiap detik tiap menit tiap jam tiap hari tiap minggu tiap bulan tiap tahun hingga membuat aku kesal. Bayangkan saja seorang Kobe sang vokalis metal dikejar-kejar kayak penjahat. Jadi gerah kan aku sendiri,” jawab Kobe hingga membuat Sascha matanya membulat sempurna.
“Jangan begitu melihatku. Nanti kalau kamu jatuh cinta bagaimana?” ledek Kobe yang melihat saja melotot.
Dewa tertawa terbahak-bahak melihat Kobe sangat percaya diri. Untung saja Dewa tidak pernah marah atau cemburu pada sang paman. Malahan mereka suka saling meledek satu sama lain. Bagaimana dengan Tara? Tara hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat mereka mengobrol. Bahkan Tara sangat terhibur sekali dengan kelakuan mereka.
“Kalian ini Kalau bertemu selalu tidak pernah serius. Jujur saja aku sangat terhibur sekali dengan kelakuan kalian,” ujar cara dengan jujur.
“Kami kami jarang serius ketika berbicara. Sering sekali kita suka bercanda seperti ini ma. Apalagi mas Kobe orangnya welcome banget.” ucap Dewa.
“Bagaimana perkembangan di pusat?” tanya Tara.
“Sangat memilukan,” jawab Kobe yang mulai serius.
“Maksud Mas Kobe apa?” tanya Sascha.
“Jayden mulai membuat ulah. Ia bekerja sama dengan mafioso,” jawab Kobe.
“Mafioso bukan mas Yoso,” terang Kobe.
“Bagus itu mas. Ribet kalau nyebutnya,” ujar Sascha.
“Bagus apanya? Kamu pikir mafioso itu adalah mainan?” kesal Kobe yang membuat Dewa tertawa terbahak-bahak.
“Bagus kan. Berarti itu adalah mainanku mas,” jawab Sascha sembari mengambil air mineral di meja.
“Kamu jangan mengada-ngada deh,” ucap Kobe.
“Mas juga jangan mengada-ngada,” ujar Sascha yang mulai serius.
“Mereka adalah penjahat kelas kakap,” terang Kobe.
“Kelas kakap saja ya?” tanya Sascha yang membuat Dewa terkagum-kagum.
“Dia itu jahat Sascha!” geram Kobe.
__ADS_1
“Kurang jahat Mas,” sahut Sascha yang membuat Kobe kalah berdebat. “Lalu jahatnya bagaimana?”
“Pokoknya dia jahat. Titik nggak pakai koma,” kesal Kobe lagi.
“Lalu aku harus bagaimana?” tanya Sascha dengan suara merengek.
“Kamu jangan ikut-ikutan ini,” jawab Kobe yang tidak membiarkan Sascha ikut-ikutan masalah berat ini.
“Kenapa nggak boleh ikut-ikutan?” tanya Sascha lagi.
“Mereka itu jahat,” jawab Kobe yang mulai frustasi dan membuat Dewa malah tertawa semakin kencang.
“Jahatnya bagaimana? Bukankah semua orang memiliki sisi jahat?” tanya Sascha lagi.
“Aku frustasi Dewa!” teriak Kobe.
“Salah sendiri nggak mau nyebutin jahatnya bagaimana?” kesal Sascha. “Bukannya Mas kobi adalah ketua mafia White Tiger?”
Sontak saja Kobe terkejut dengan pernyataan Sascha. Bagaimana Sascha tahu kalau dirinya adalah ketua mafia? Kemudian Kobe menatap wajah Dewa sambil meminta jawaban sesungguhnya. Kali ini Dewa tidak akan menjawab semua itu. Karena Dewa sudah berjanji dalam hati agar tidak memberitahukan sesuatu.
“Bagaimana calon istrimu tahu kalau kau ada seorang mafia?” tanya Kobe sambil berbisik.
“Kalau itu entahlah. Aku hanya ikut alurnya saja,” jawab Dewa.
“Mengakulah... Nggak usah ditutup-tutupi seperti itu. Bukankah kalau kita saling terbuka hubungan menjadi awet dan tidak bercerai?” tanya Sascha yang membuat Kobe menghembuskan nafasnya secara kasar.
Kobe tidak tahu harus apa lagi menjawabnya. Ia harus jujur atau diam saja. Dirinya sangat bingung mau menjelaskan di mana dulu. Sementara dirinya bingung, darimana Sascha tahu kalau dirinya adalah seorang mafia.
“Sepertinya kamu harus menceritakan semua ini,” bisik Dewa.
“Apakah dia tahu kalau kamu adalah seorang mafia?” tanya Kobe.
“Sudah tahu semua. Bahkan Sascha sudah menjadi lady mafiaku,” jawab Dewa dengan jujur.
“Apa?” pekik Kobe.
“Itu benar. Ternyata kecerdasannya membuatku menjadi tsunami bagiku,” jawab Dewa yang membuat Kobe bingung setengah mati.
“Waduh!” ujar Kobe yang membuat dirinya kaget.
“Sekarang kamu ceritakan apa adanya. Kamu nggak perlu menutup-nutupi siapa dirimu sebenarnya? Karena Sascha suka sekali mengobrak-abrik dark web. Aku sudah mengecek seluruh surel yang dibuka oleh Sascha. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala dan merasakan hatiku meringis. Lalu, aku harus bagaimana?” tanya Dewa yang benar-benar memiliki calon istri sangat ajaib sekali.
“Beruntunglah kamu memiliki calon istri yang membuat dirimu kebingungan,” seru Tara yang membuat Dewa bingung.
__ADS_1
“Memang iya. Jadi aku tidak susah-susah lagi untuk mencari seorang hacker yang bisa mencari informasi dari dunia bawah tanah,” puji Dewa sambil tersenyum manis.
“Apakah kamu tidak takut soal itu?” tanya Kobe dengan serius.