
"Dewa tidak akan curiga dengan semua ini. Dewa memang sering memerintahkan mereka berdua untuk menyelesaikan kasus-kasus yang berada di perusahaan pusat maupun cabang. Sepertinya nggak Bima saja yang bekerja sama. Mainkan teman-teman Aulia yang berjenis kelamin perempuan juga turut membantu menyelesaikan kasus besar," jelas Devan.
Tara melihat putranya yang sedang terbaring lemah. Hatinya sangat sedih dan ingin menangis. Ia menatap Devan dan juga Kobe. Namun mereka paham apa yang dirasakan oleh Tara.
"Masalah ini bukan kita yang membuatnya. Aku rasa masa ini akan menjadi besar dan sangat besar sekali. Oh ya, Aku ingin mengumpulkan anak-anak untuk berdiskusi tentang masalah ini," ucap Kobe.
"Mereka sedang dalam perjalanan menuju ke sini. Kita nggak boleh fokus pada Dewa. Kalau kita terlalu fokus, Bagaimana dengan perusahaan kita? Bisa-bisa pusat juga kena," ujar Devan.
"Aku jamin perusahaan di Tokyo tidak akan terkena imbasnya. Nenek sihir tidak memiliki kuasa untuk sampai ke Tokyo. Nenek sihir dan kroni-kroninya tidak akan menyentuh perusahaan pusat. Kalau menurut Aulia ada motif lain. Mereka memiliki penyakit yang di mana tidak ingin melihat kebahagiaan orang-orang di sekitarnya. Atau juga orang-orang yang namanya sudah ternama. Ini hanya tebakanku saja," jawab Sasha yang baru Sascha datang dan menjelaskan apa maksudnya.
"Apakah kita harus memberitahukan kematian Gea kepada Pablo?" tanya Matias yang juga baru saja datang.
"Iya juga ya. Seharusnya kita memberitahukan apa yang telah terjadi pada Gea. Kita tidak akan bisa diam begitu saja. Pablo dan semuanya harus tahu. Begitu juga dengan Tommy, Gea adalah orang tua kandungnya sendiri. Tommy harus datang ke sini untuk membebaskan dendam kematian orang tuanya," suruh Devan.
"Itu tidak perlu," ucap Dewa yang tiba-tiba saja bangun dan melihat mereka berkumpul di kamar aneh.
Hampir saja mereka ketakutan. Karena tim dokter mengatakan kalau Dewa baru sadar beberapa hari kemudian. Sungguh ini sangat aneh sekali.
"Ah, hantu!" teriak Sascha yang sudah mulai ketakutan.
Bukannya memeluk Dewa, Sascha malah pergi meninggalkan tempat itu. Dewa hanya menepuk jidatnya sambil menatap Tara.
"Mama," panggil Dewa. "Aku ingin minta minum Ma. Tenggorokanku kering karena sedari aku kecelakaan hingga detik ini tidak meminum air sama sekali."
__ADS_1
Tara langsung menatap wajah Dewa. Ia segera mengambil air di botol mineralnya dan memberikan kepada Dewa. Dewa mengambil botol itu lalu menghabiskannya hingga tandas.
"Kenapa kamu baru sadar? Bukankah dokter sudah menyuruhmu sadar beberapa hari ke depan? Kamu itu seenaknya mempermainkan nyawamu. Kamu bukan seorang malaikat," kesal Kobe yang mengomeli Dewa habis-habisan.
"Aku bukan malaikat. Aku hanya orang biasa. Dari tadi kalian berbicara aku sudah mendengarnya. Aku nggak boleh sakit seperti ini berhari-hari. Kasihan istriku yang sedang menangisiku di dalam hatinya," ujar Dewa yang mengetahui Sascha sedang bersedih.
"Syukurlah kalau kamu sudah sadar. Aku yakin kamu dapat pulih dari semua ini. Akan aku panggilkan beberapa dokter yang sedang menangani tubuh kamu itu," pinta Kobe yang keluar dari kamar itu.
Kok bisa segera memanggil Jens untuk memeriksa Dewa. Namun kopi menceritakan Dewa sudah sadar. Jens pun terkejut apa yang dikatakan oleh Kobe. Pasalnya Jens sendiri memastikan kalau Dewa sadar dalam waktu beberapa hari.
"Kamu sudah gila ya! Kenapa kamu mengatakan kau Dewa sudah sadar? Seharusnya Dewa masih menjalani pemulihan," ucap Jens yang benar-benar terkejut dengan pernyataan Kobe.
Mau tidak mau mereka segera menuju ke kamar. Jens mengajak teman-temannya memeriksa keadaan Dewa. Benar saja Dewa saat ini sudah bisa tersenyum apalagi tertawa. Baginya ini adalah sebuah mukjizat yang nyata. Tuhan masih sayang sama Dewa dan menyadarkannya dalam waktu yang cepat.
Orang-orang yang berada di dalam kamar itu sudah keluar. Mereka sengaja memberikan ruang kepada para dokter untuk memeriksa Dewa. Lalu apa yang telah terjadi saat ini? Tim dokter hanya bisa tersenyum melihat kesembuhan Dewa. Mereka bersyukur atas karunia yang diberikan oleh Tuhan kepada Dewa.
"Apakah Kak Dewa hantu ma?" tanya Sascha.
"Tidak. Dewa sudah benar-benar sadar. Kami sangat berterima kasih sekali kepadamu. Andai saja kalau kamu nggak masuk ke dalam. Dewa tidak bisa terselamatkan," jawab Devan.
"Sekarang masuklah ke dalam. Dewa ingin bertemu denganmu. Katanya, Dewa ingin memegang perutmu itu," ujar Tara yang mengelus puncak kepalanya Sascha.
Sascha memutuskan untuk masuk ke dalam. Ia tidak sengaja melihat Dewa. Tanpa pikir panjang, Sascha memeluk Dewa sambil mengelus-ngelus punggung lebarnya itu.
__ADS_1
"Kamu itu ada-ada saja. Bagaimana bisa kamu kecelakaan seperti itu? Padahal depannya lobby sangat kecil hanya bisa dilalui oleh beberapa kendaraan yang berhubungan dengan perusahaan," jelas Sascha.
"Masalahnya bukan itu. Aku bertemu dengan Marty. Aku menyuruhnya untuk bergabung bersama Timothy sementara waktu. Setelah itu aku kembali dan masuk ke dalam lobi. entah dari mana asalnya ada sebuah motor besar datang. beberapa pengawal yang mengetahuinya langsung mengejarnya. Sebelum tertangkap dia sudah menabrakku terlebih dahulu. lalu beberapa pengawal itu menolongku. Nggak sampai kejadian itu ada Bima datang. Bima terkejut melihat bajuku kotor. Kedua tanganku hanya lecet-lecet saja. Kepalaku saja yang mengeluarkan darah sedikit. Tapi Bima paniknya setengah mati. Terpaksa Bima mengajakku ke rumah sakit. Aku sih ada yang merasakan yang aneh. Prosesor itu mendekatiku sambil membawa jarum suntikan. Aku disuntik lalu tertidur. Aku tidak merasakan apa-apa. Aku juga tidak mendengar apa yang telah terjadi di dalam kamar itu," beber Dewa yang melepaskan pelukan Sascha.
"Maafkan Aku. Kalau kamu sudah sadar aku sangat bersyukur sekali. Sekarang kasus ini sedang diselidiki oleh Mas Kobe. Aku juga merasakan ada yang janggal tentang masuknya motor itu ke lingkungan perusahaan. Nggak mungkin motor itu masuk kecuali memiliki tanda pengenal,' kata Sascha.
"Firasatku mengatakan, salah satu penjaga bagian garda depan telah berkhianat kepada kita. Nggak mungkin, orang itu memasukkan orang yang mengendarai motor tersebut ke area lobby. Kecuali pengantar paket atau jasa makanan. Itu hanya sebagian saja yang boleh masuk. Karena orang-orang tersebut sudah memiliki kartu akses sebagai tamu," ucap Dewa.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Aku tidak ingin kayak gini terus-terusan. Jujur aku sudah capek dengan teror orang-orang gila seperti nenek sihir itu. Aku tidak akan pernah melepaskan nenek sihir itu sekarang. Meskipun Kakak sudah mengeluarkan ultimatum," kesal Sascha.
Dewa akhirnya mengangkat tangannya. Ia tidak akan membendung kekuatan Sascha. Semakin lama Sascha mulai mengibarkan sayapnya untuk menjadi seorang mafia.
"Lakukanlah apa yang kamu mau. Aku sekarang mengangkat tanganku. Kamu harus berkembang dan berani melawan mereka. Kamu nggak boleh lemah dan mengemis kepada mereka agar melepaskanku seperti ini. Seorang mafia harus memiliki jati diri yang kuat. Kamu bisa membunuhnya dan juga menghabisinya satu persatu," jelas Dewa yang memberikan pesan dengan nada tegasnya.
"Sekarang kakak beristirahat dulu di sini. Kakak nggak boleh kemana-mana terlebih dahulu. Sebab masalah ini harus selesai dalam beberapa bulan ke depan," pinta Sascha.
Mereka akhirnya saling berdiam diri dan menatap. Untung saja, Sascha hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar. Betapa bahagia hatinya untuk saat ini. Mungkin inilah yang dinamakan cinta sejati yang sudah hadir dalam waktu tepat.
Di luar, Kobe mendapatkan sebuah pesan. Dalam pesan itu mengatakan memang benar tentang analisis Sascha. Ada orang dalam rumah sakit sengaja memasukkan para suster tersebut. Kobe membacanya dengan seksama lalu menarik kesimpulan.
"Memang ada yang tidak beres dengan rumah sakit yang dimiliki oleh Dewa. Mau tidak mau aku akan turun tangan dan membantu Dewa menyelesaikan masalah ini," celtuk Kobe yang didengarkan oleh Leo dan Bima.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Leo sambil menatap wajah Kobe.
__ADS_1
"Kebetulan sekali! Kamu berada di sini. Tolong periksa seluruh struktur organisasi Rumah sakit. Aku ingin meminta data-data mereka. Kalau bisa kirimkan saja lewat email," jawab Kobe yang meminta Leo untuk menyelidiki semuanya.
"Apa yang telah terjadi paman? Apakah ini berkaitan dengan Daffa sang direktur rumah sakit yang sudah ditunjuk oleh Dewa beberapa bulan yang lalu," tanya Bima.