
Beralih ke Jaya Gunadi.
Ting.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Jaya. Jaya meraih ponsel itu dan melihat nama yang tertera di layarnya. Ia segera membuka pesan itu kemudian membacanya.
Isi pesan itu :
Sekarang Risa menuju ke Jepang. Wanita itu akan melakukan misi untuk menghabisi presiden direktur Nakata's Groups. Tolong hentikan wanita itu. Karena Wanita itu terlalu berbahaya.
Jaya mendapat pesan itu sangat terkejut sekali. Entah kenapa dirinya seakan tidak rela jika Risa menjadi pembunuh. Apalagi yang di dunia itu adalah seorang pembisnis terkenal dan memiliki jiwa penolong. Mau tidak mau saya menghubungi Stay datang ke ruangannya.
Stay yang berada di ruangannya terkejut akan pesan dari Jaya. Matanya membulat lalu beranjak berdiri dan segera menuju ke ruangan Jaya.
Brakkkk!
Jaya yang berada di dalam sangat terkejut sekali karena ulah sang asistennya itu. Sang asisten mulai mendekat dan menghamparkan bokongnya di hadapan Jaya.
"Lu yang bener aja ngasih berita! Lu tahu itu siapa?" tanya Stay.
"Bukannya itu presidernya Nakata's Groups?" tanya Jaya balik.
"Itu benar. Tuan Aoyama adalah kakeknya Dewa," jawab Stay.
"Jadi selama ini," ucap Jaya menggantung.
"Ya kamu benar. Dewa adalah sang ahli waris Nakata's Groups," ujar Stay.
"Makanya dia berani melawanku. Ternyata oh ternyata diam-diam Dewa menyembunyikan identitasnya selama ini," kesal Jaya yang membuat Stay tertawa.
Lalu Stay menghentikan tawanya sambil memandang wajah Jaya, "Apa lu mau bantu Dewa buat menebus kesalahan?"
__ADS_1
"Siapin tiket menuju ke Jepang sekarang!" perintah Jaya.
"Kenapa lu nggak pakai pesawat pribadi?" tanya Stay.
"Memangnya gue masih punya ya?" tanya Jaya balik.
Plakkkk!
"Lu trauma atau amnesia?" tanya stay yang kesal dengan atasannya itu.
"Kirain lu udah jual gara-gara nambelin kas perusahaan," jawab Jaya.
"Lu seharusnya ngomong terima kasih kek. Setelah Risa merayu investor kita aku yang turun tangan langsung. Gue rayu lagi untuk masuk ke dalam perusahaan ini. Lalu mereka mau masuk lagi tanpa harus melibatkan Risa. Gue bilang setuju. Lagian juga Risa ikut nggak bisa ngapa-ngapain. Di sinilah gue kesel sama Risa," balas Stay.
"Uang hilang ya gara-gara Risa," kesal Jaya.
"Ya iyalah... Lu ngasih tanpa perhitungan. Lu tinggal nyomot aja uang kas perusahaan. Ujung-ujungnya langsung keok," kesal Stay.
Stay meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang agar menyiapkan pesawat pribadi Jaya. Kemudian Stay langsung mempersiapkan barang-barang yang dibutuhkan untuk bepergian ke Jepang.
Entah kenapa Jaya merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan Risa. Selama bersama Jaya tidak mengerti dengan perasaan Risa. Bisa dikatakan Risa itu adalah wanita liar dan licik. Wajahnya yang cantik namun itu hanya kiasan saja. Sebenarnya Risa memiliki jiwa psikopat.
Selain itu juga Risa suka sekali membunuh seseorang dengan menyiksanya terlebih dahulu. Untung saja di samping Sascha ada Dewa. Jaya sering sekali memperingatkan akan tanda bahaya dari Risa.
"Sialan itu cewek. Makin lama makin kurang ajar! Kalau kayak gini bisa-bisa habis itu orang di tangan Dewa. Tapi gue nggak akan menolongnya sedikitpun. Gue akan menolong Dewa. Gara-gara dia lah persahabatan gue hancur lebur seperti ini," geram Jaya dalam hati.
Setelah Stay menyiapkan semuanya, mereka, akhirnya pergi ke bandara siang ini juga. Di dalam perjalanan Jaya bingung memikirkan Risa. Bisa-bisanya dirinya selalu membuat ulah. Di sisi lain Riza tidak pernah membuat dirinya nyaman. Lalu apa tanggapan Stay? Stay hanya diam dan tidak banyak bicara. Dirinya tidak mau berkomentar apapun tentang Risa. Jujur saja stay tidak menyukai Risa semenjak berhubungan dengan Jaya.
"Kenapa lu nggak telepon seseorang yang berada di Jepang? Lu bisa minta tolong agar Risa dihadang oleh orang itu," saran Stay.
"Lu bener juga ya? Kenapa gue nggak hubungin itu orang? Sementara orang itu masih ada hubungannya dengan Dewa," jawab Jaya.
__ADS_1
"Ya udah hubungin aja ketimbang lo diam. Lu tahu selama ini Nakata's Groups sudah berkontribusi pada perusahaan kita. Bisa dikatakan Nakata's Groups investor terbesar di perusahaan ini. Jujur saja gue sangat berterima kasih kepada sang investor itu. Kalau nggak Perusahaan kita sudah jatuh," jelas stay yang memberitahukan bahwa perusahaan utama Dewa sering membantunya.
Jaya baru sadar akan hal itu. Mengapa dirinya tidak mencari jawabannya? Siapa-siapa saja yang menjadi inventornya Jaya juga tidak memperhatikan. Yang penting Jaya adalah orang yang gampang dibuat kerjasama.
"Aku akan menghubungi Kobe Nakata. Dia adalah temanku semasa kerja di Jepang. Gara-gara dia Aku berani mengambil keputusan agar bisa memegang perusahaan kedua orang tuaku," jawab Jaya.
Mendengar nama Kobe, Stay terkejut kedua kalinya. Mengapa para pangeran Nakata's Groups sangat baik kepada Jaya?
"Lu beruntung sekali jadi orang. Bisa kenal yang namanya bang Kobe. Di mana-mana Lu selalu diberkahi. Sekarang lu milih, lu mau jadi orang baik atau jahat? Lu tinggal pilih saja di antara dua pilihan itu," ujar stay yang memberikan dua pilihan sulit untuk Jaya.
Seketika Jaya terdiam dan menatap lurus ke depan. Kenapa dirinya terdapat dalam lembah Hitam? Akankah dirinya selalu terjebak dalam lembah itu! Ataukah Jaya sadar dari kejahatannya?
"Sadar lo Jay... Jangan kayak gini terus. Masa lalu ya sudah lupain. Lu bakalan dapat yang lebih baik lagi," ucap Stay yang mengingatkan Jaya pada kebaikan.
"Gua mau pindah dari negara ini. Kemungkinan besar gue pengen tinggal di Amerika atau Eropa. Jujur gue capek hidup begini terus. Gue iri sama Dewa, Bima dan lainnya. Mereka selalu sukses dalam pekerjaannya. Meskipun mereka adalah anggota mafia," ucap Jaya.
"Meskipun mereka anggota mafia, mereka mendirikan organisasi itu bukan untuk membunuh. Mereka hanya melakukan jual beli senjata. Kenapa mereka melakukan itu? Karena mereka memiliki hobi mengoleksi senjata. Itulah mereka bukan mafia jahat melainkan baik," jelas Stay.
"Lalu apa yang harus gue lakuin?" tanya Jaya.
"Ikutin apa kata hati lo. Kalau kata hati lu berubah Lu harus berubah. Kalau tidak lu paksa untuk berubah. Gue jamin lu bisa berubah jadi orang baik. Soal dunia bawah tanah tinggalin saja," jawab Stay.
"Thank you bro. Selama ini lu sudah nemenin gue dalam keadaan susah maupun senang. Jika gue udah nggak kerja di sini, Lu harus balik ke perusahaan. Gue yakin lu juga bisa sukses," ujar Jaya yang memberikan semangat kepada Stay.
"Bukan begitu bro konsepnya. Lu nyuruh gue minggat. Tapi lunya yang nggak tahu konsep kehidupan sebenarnya. Kalau gue nggak kerja, gue akan mendirikan yayasan pendidikan. Gue pengen mensejahterakan anak-anak kurang mampu agar bisa sekolah. Kemungkinan gue akan mengajak seluruh masyarakat membuat sekolah gratis bagi yang tidak mampu," ungkap Stay.
"Kenapa lu nggak bikin dua? Yang satu buat orang mampu yang satu buat orang tidak mampu? Pelajarannya sih sama aja. Uang yang dari orang mampu itu diberikan kepada orang yang tidak mampu. Istilahnya lu bisa bayar orang-orang yang mengajari anak kurang mampu. Lu ngerti maksud gue apa?" tanya Jaya kepada Stay.
Stay tersenyum bahagia mendengar pendapat dari Jaya. Kemungkinan besar saya akan meminta bantuan untuk membangun sekolah anak-anak kurang mampu. Betapa bahagianya hidup stay. Karena stay mendapat dukungan dari orang-orang terdekatnya.
"Gue akan menghubungi bang Kobe," sahut Jaya.
__ADS_1
"Setuju," seru Stay yang semangat untuk mendirikan sebuah yayasan sekolah.