
Devan akhirnya mengirimkan beberapa file tentang Risa dan keluarganya. Ia masih menggelengkan kepalanya karena kebejatan keluarga Risa. Diam-diam Risa sudah membohongi publik. Dengan mengatakan mereka adalah seorang pengusaha terkenal. Namun nyatanya Risa adalah seorang penipu ulung. Ditambah lagi Risa suka membully teman-temannya yang usianya sama. Termasuk juga Sascha yang menjadi temannya saat itu.
Gerre yang mendapatkan berita tersebut sungguh terkejut. Pria paruh baya itu pun mengaku kalau keluarga dari Risa sangat licik sekali. Saking liciknya para pengusaha hampir kehilangan seluruh asetnya.
"Jujur… ini sangat aneh sekali. Mereka sudah melakukan hampir 20 tahun. Motifnya menguasai aset milik orang lain. mereka masuk ke dalam keluarga itu dan mengaku-ngaku sebagai keponakannya atau apapun itu untuk menjerat para korban. Kalau tidak tahu silsilah keluarganya, mereka bisa terjerat dalam mulut manis Risa. Akhirnya mereka percaya kalau Risa itu adalah keluarga besarnya. Ditambah lagi dengan wajah yang dipasang oleh Risa seakan menjadi anak yang tidak pernah diberi nafkah oleh keluarga itu," jelas Devan terhadap Gerre.
"Ini motif yang lama sepertinya.Aku dulu pernah mendengar kasus ini tapi tidak memperhatikannya. Sekarang giliran kakek Aoyama setelah itu aku. Untung saja kami saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Sekarang aku serahkan pada mereka saja. Aku tidak ambil pusing soal itu. Aku juga sudah tahu bagaimana perlakuan Risa terhadap putriku sendiri. Cepat atau lambat putriku tidak akan membuat Risa tersenyum di dunia ini lagi. Istilahnya adalah kasih jantung minta ati ampela. Itulah yang tepat buat Risa," ucap Gerre.
"Mereka sangat bodoh sekali. Mereka tidak tahu siapa yang dihadapinya itu. Ditambah lagi Nakata's Groups dilindungi oleh White Tiger dan Black Tiger. Jika itu terjadi bisa dipastikan nyawa mereka tidak akan selamat," jelas Devan.
Nagoya Jepang.
Beberapa jam kemudian Risa sadar dan melihat di sekelilingnya. Risa terkejut dengan apa yang dilihatnya itu. Entah kenapa dirinya berada di suatu ruangan yang temaram dengan tangan diikat. Lalu Risa menarik tangannya itu tidak bisa. Begitu juga dengan kakinya, kaki Risa juga diikat dengan rantai seberat lima ton. Lalu dirinya berteriak agar ada yang melepaskan ikatannya tersebut. Para pengawal pun pergi meninggalkan Risa dan melaporkan kejadian ini ke Dewa.
Sementara di ruangan khusus, Sascha dan Dewa sedang asyik bermain kartu. Tak lama para pengawal yang menjaga Risa langsung membungkukkan tubuhnya sambil berkata, "Selamat pagi Tuan."
"Pagi," sapa Sascha yang menaruh kartu di atas meja. "Apakah Risa sudah bangun?"
"Sudah nyonya," jawab pengawal itu yang membuat Sascha berdiri dan menatap wajah Dewa.
__ADS_1
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Dewa sambil menaruh kartu itu.
"Menyapanya," jawab Sascha dengan serius.
"Kalau begitu ayolah," ajak Dewa.
Pasangan suami istri itu pun langsung meninggalkan ruangan khusus itu. Mereka menuju ke ruangan bawah tanah. Saat berjalan ke bawah, Kobe mendekati mereka lalu bertanya, "Apakah orang itu sudah bangun?"
"Sudah," jawab Sascha.
"Kalau begitu aku ikut denganmu," pinta Kobe.
Risa yang mendengar suara kalem dari Sascha terkejut. Wajahnya memerah dengan bibir tersenyum sinis. Ia langsung memandang wajah Sascha sambil berkata, "Oh Lo?"
"Ya ini gue," jawab Sascha sambil tersenyum iblis. "Kenapa?"
"Kenapa gue ada di sini? Cepat jawab!" bentak Risa yang tidak terima masuk ke dalam sel.
"Nggak papa. Lu memang seharusnya ada di sini. Gue yakin elu tak akan bisa lepas dari sini. Oh iya…ini hari terakhir lu di sini. Selanjutnya lu akan pindah ke neraka," jawab Sascha dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Percaya diri banget sih lo! Harusnya lu yang berada di neraka!" geram Risa yang tidak tahu malu itu.
"Memang. Bukankah manusia itu hidup dengan penuh percaya diri?" tanya Sascha. "Dan elu…punya kepercayaan diri tingkat tinggi tapi tidak ditunjang dengan akhlak yang baik. Merebut laki orang seenaknya saja. Merebut punya orang dengan paksa. Jika orang orang itu bahagia, lu rebut sampai orang itu depresi. Semuanya itu gara-gara lu. Gue tahu sama orang yang kenal elu selalu menderita. Mereka menangis tersedu-sedu karena ulah lu!"
"Dan itu termasuk lu kan?" tanya Riza sambil tertawa terbahak-bahak.
"Gue nggak merasa menderita karena lu. Gue bebas mengekspresikan diriku tanpa elu. Sekarang gue tanya, puas lu merebut Billi dari gue? Puas lu juga merusak hubungan gue sama Jaya? Padahal gue sama Jaya nggak ada apa-apanya. Gue hanya berteman biasa dan menganggap Jaya itu Abang gue. Jaya nggak keberatan nganggep gue adik. Tapi lu menghancurkan semuanya. Lu bilang kejelekan gue di depan mata Jaya."
"Ya itu memang benar. Gue memang pengen ngerusak lu," jawab Risa dengan nada menekan.
"Oh begitu ya… gue salah apa sama lu? Gue makan aja nggak minta elu. Gue ngapa-ngapain aja nggak laporan sama elu. Kenapa lu sewot? Kenapa lu nyamperin urusan gue? Padahal gue itu orangnya ngalah sama apapun. Gue juga nggak akan pernah menyakiti seseorang. Kenapa gue jarang kumpul sama elu semua? Karena gue memang sengaja nggak mau nambah dosa. Gue mutusin habis pulang kuliah ya pulang. Lu ngajak gue, gue nggak mau. Lu paham kan apa maksudnya?"
"Ya iyalah. Kesalahan lu akan terbongkar dengan sendirinya! Karena elu adalah j4l4ng yang tidak kelihatan. Diam-diam lu tidur sama banyak pria di rumah. Lalu lu membiarkan mereka tinggal di sana," ejek Risa yang mulai playing victim.
"Cih…. Mulai playing victim ternyata.dari dulu lu emang ya suka banget yang namanya playing victim. Untungnya yang suka sama lu itu cuman satu. Yaitu Billy dan keluarganya. Lu di sana mendapatkan tempat terindah. Gue hanya mendapatkan cacian dan makian dari mereka," jelas Sascha yang membuka kartu milik Risa. "Kalau lu playing victim di hadapan gue, itu salah besar!"
"Kenapa gue berkata lu salah besar?" tanya Sascha.
"Ya iyalah lu emang salah besar. Lu harusnya ngaca. Wajah jelek, baju lusuh tak layak pakai. Ditambah lagi dengan gaya lu yang culun itu. Lu sangat perfect sekali jadi orang. Tahu kan maksud gue apa?" tanya Risa sambil mengejek Sascha.
__ADS_1