Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
GARA-GARA BIMA.


__ADS_3

"Aku nggak sakit. Aku hanya merasakan sensasi makan es krim rasa vanila. Memangnya nggak boleh ya kalau aku mau makan es krim rasa vanila itu?" Tanya Dewa.


"Biasanya aku mengajak Kakak itu, beli es krim rasa coklat. Atau enggak rasa durian," jawab Sascha.


"Lagi pengen aja rasa vanila. Rasanya sangat nikmat seperti susu," ucap Dewa dengan jujur.


"Terserah deh apa katamu. Yang penting kamu jangan ngambek seperti itu," ujar Sascha.


Mereka akhirnya menghabiskan es krim itu. Kemudian Dewa melihat pesan dari Devan. Dewa akhirnya mengajak Sascha dan Dita untuk pulang ke villa Bima.


"Ayo kita ke sana. Kita sudah kemalaman. Papa mengirimkan pesan untuk berkumpul di villanya Bima," ajak Dewa.


Kedua wanita itu menganggukkan kepalanya. Dewa mengambil beberapa belanjaan lalu membawanya. Sisanya Sascha dan Dita membawa belanjaan itu.


Villa milik Bima.


Devan dan Gerre sedang duduk bersantai. Mereka menunggu kedatangan Dewa dan Sascha. Lalu mereka memutuskan untuk bermain game online sebentar.


"Menurutmu, apakah Sascha bisa lepas dari masalah ini?" tanya Gerre.


"Bisa. Aku memang mengenal Sascha sudah lama. Cara Sascha menyelesaikan masalah itu sangat asyik sekali. Bahkan Sascha sering sekali ditindas sama temen-temennya dulu. Tapi mentalnya sangat kuat sekali. Bahkan teman-temannya yang suka membully akhirnya segan sendiri. Dan Sascha pun memaafkan mereka dan menjadi teman akrab sampai sekarang. Aku salut pada hidup Sascha yang keras itu. Tapi hebatnya dia seorang pemaaf. Kamu bersyukur memiliki Sascha," jelas Devan yang mengetahui sifat Sascha sebenarnya.


"Jujur... Pas ketemu David, Sascha membantingnya hingga kaca berserakan di mana-mana," ucap Gerre.


"Dia memiliki kekuatan dari dalam tubuhnya. Dia pernah mengikuti ilmu pernafasan di padepokan temannya Pak Andika. Jujur saat itulah Sascha bisa membanting orang. Aku nggak tahu kenapa dirinya bisa seperti itu?" tanya Devan.


"Semoga saja Dewa betah bersamanya," ujar Gerre.


Tiba-tiba saja Devan tertawa. Gerretidak menyangka kalau sang Putri tahan banting ketika ada orang yang menyakitinya seperti itu.


"Dia sangat cantik sekali seperti Chloe. Tapi hatinya seperti aku keras kepala. Ah rasanya... Hidupku sangat beruntung sekali," sahut Gerre.


"Dewa sangat menyukainya. Dia tidak akan melepaskannya begitu saja. Dia juga membiarkan Sascha berkembang. Kamu pasti tahu resiko menikah dengan ketua mafia seperti apa? Kalau putrimu tidak keras seperti itu, putrimu akan terbunuh oleh para musuh. Apalagi sekarang Black Tiger juga sedang mendapatkan masalah besar," jawab Devan.

__ADS_1


"Masalah semakin banyak. Jangankan Black Tiger. Black Swan pun sedang dapat masalah. Ada apa sebenarnya ini? Sepertinya ada yang mengadu domba antara kita berdua," jelas Gerre.


"Tidak papa," sahut Sascha yang baru saja datang.


"Maksud kamu?" tanya Gerre.


"Maksudku... Cathy dan Damar sedang bekerja sama. Ini sepertinya apa ya kasusnya. Kok aku jadi bingung sendiri," jawab Sascha yang masih kebingungan.


"Pokoknya mereka berdua sedang menyatukan kekuatan untuk menyerang kita. Damar akan menyerang Black Tiger dan Black Swan. Jika mereka menyerang bersama-sama. Bagian atas Cathy akan menyerangnya juga. Inilah yang aku takutkan selama ini. Soalnya pasangan suami istri itu sangat berani sekali mengambil keputusan. Aku harap kedua Papa mengerti apa maksudku," jelas Sascha.


"Ya sudah. Jalan satu-satunya adalah kita harus merapatkan bayangan. Kamu tahu kenapa Papa merapatkan bayangan?" tanya Devan.


"Aku tahu itu," jawab Sascha. "Kita akan cari siapa-siapa saja yang menjadi sekutu mereka. Lalu diam-diam kita Serang mereka terlebih dahulu dan melumpuhkan kekuatannya masing-masing. Setelah sekutu mereka lumpuh. Mereka tidak akan bisa menyerang lagi. Dengan kata lain kita bisa menghabisinya pelan ataupun cepat. Aku ingin hidup ini sangat indah dan tidak akan terjadi peperangan lagi."


"Kamu nggak pengen tahu rencananya apa?" tanya Devan yang membuat Sascha penasaran.


"Sepertinya kamu harus memancing dan mencari rencana mereka terlebih dahulu. Jadi kita tahu apa yang harus dilakukan untuk kedepannya," sahut Bima yang masuk dengan membawa bir dan menaruhnya di depan Devan.


"Buat apa kamu menaruh bir di depanku? Apakah kamu tahu umurku sudah menua seperti ini? Jangan macam-macam kau sama aku," kesal Devan karena Bima membuat ulah.


"Kak Bima mau mabuk lagi?" Tanya Sascha dengan serius.


"Enggak. Bagi siapa saja yang mau meminumnya silakan. Aku membeli bir itu dari pabriknya," jawab Bima. "Ke mana Dewa?"


"Entahlah. Sepanjang hari ini Kak Dewa sangat aneh sekali. Bayangkan saja seharian mintanya yang aneh-aneh. Aku sama Dita bingung memikirkannya," jawab Sascha.


"Pasti mintanya bakso rudal milik Papa Devan," celetuk Bima.


"Memangnya ada ya bakso rudal? Tapi rudalnya milik papa Devan," tanya Sascha polos.


"Ada," sahut Gerre.


"Boleh itu. Kirimkan segera ke aku," ujar Sascha.

__ADS_1


Seketika mata mereka membulat sempurna. Mereka tidak menyangka kalau Sascha ingin membuat bakso rudal. Yang dimaksud rudal milik Devan adalah rudal asli. Yang di mana rudal itu bisa menghancurkan satu permukiman kampung. Kenapa juga Bima bilang kalau ada rudal di Black Tiger. Jangan sampai Sascha meminta rudal itu. Bisa-bisa Devan pusing tujuh keliling menghadapi sang menantunya agak somplak itu.


"Bima," seru Devan.


"Apa pa?" Sahut Bima memutar bola matanya dengan malas sekali.


"Kenapa juga kamu bilang ada rudal? Sebentar lagi menantuku itu akan meminta rudal," jawab Devan yang kesal terhadap Bima.


"Maksud Papa rudal beneran?" Tanya Sascha yang tiba-tiba saja matanya berbinar sempurna.


Glek.


Devan menelan salivanya dengan susah payah. Jujur saja tatapan Sascha sangat menakutkan sekali. Lalu Devan mencoba berbohong.


"Maksudku? Itu bukan rudal. Itu hanya rudal mainan," hibur Devan agar sang menantunya tidak menangis.


"Papa Gerre," panggil Sascha yang mendekati Gerre.


"Ada apa sayangku?" tanya Gerre yang mengerti maksud Sascha sebenarnya.


"Bisa nggak papa memberikan aku rudal asli? Sepertinya aku harus mengkoleksi rudal itu," tanya Sascha berkata jujur.


"Tentu saja. Papa akan meminta papamu Devan untuk membuatkannya beberapa rudal saja," jawab Gerre dengan jujur.


"Tapi jangan lama-lama ya pa. Aku ingin bersama rudal itu. Ingin rasanya aku memeluknya. Seperti memeluk Kak Dewa yang empuk itu," ucap Sascha.


Mau tidak mau Devan akhirnya menuruti permintaan sang menantunya. Akhirnya Devan meraih ponselnya lalu menyuruh pengawalnya untuk membuatkan beberapa rudal saja.


Banyak yang tidak tahu kalau Devan adalah perakit rudal yang handal. Bahkan Devan sendiri sering menyediakan rudal untuk Black Tiger dan Black Swan. Mereka memilikinya hanya untuk berjaga-jaga. Agar mereka memiliki kekuatan yang lebih.


Di sisi lain mereka harus mempunyainya. Cepat atau lambat mereka harus menyediakan rudal itu. Suatu saat nanti jika antar mafia perang. Devan akan menjatuhkan rudal itu hingga bertubi-tubi.


"Lebih baik kamu nggak usah milih rudal dech," sahut Devan agar mengalikan perhatian saja tidak ke rudal tersebut.

__ADS_1


"Kenapa papa? Aku ingin sekali memiliki rudal satu," tanya Sascha yang mulai murung dan menunduk sedih.


__ADS_2