Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
ENGGAK USAH DISELIDIKI.


__ADS_3

Dewa yang sesi makan memutuskan untuk duduk di depan rumah. Ketika duduk ponsel Dewa berdering. Kemudian ia melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu. Ternyata yang menghubunginya adalah Tommy.


"Halo," sapa Dewa.


"Halo bro," sapa Tommy balik. "Ada kabar buruk buat kamu."


"Ada apa dengan perusahaanku?"


"Semuanya tidak berhubungan dengan perusahaan manapun. Fatin dikabarkan telah meninggal dunia."


Dewa langsung bengong dan tidak bisa berkata apa-apa. Dirinya bingung sambil menatap Sascha yang ingin duduk bersamanya. Kemudian Dewa bertanya, "Kamu yang bener apa kalau ngasih berita itu?"


"Lah ini berita beneran. Aku tidak bohong sama sekali. Aku baru mendapatkan infonya dari internet. Makanya aku langsung cek ke lokasi ternyata dia meninggal beneran," jawab Tommy.


"Sangat disayangkan ya. Padahal aku mengusut semua kejahatannya dan memberitahukan kepada dunia. Tapi ya sudahlah. Aku sekarang nggak capek-capek untuk mengusutnya," ucap Dewa.


"Syukurlah. Semuanya sudah mulai berakhir sedikit demi sedikit."


"Tinggal sedikit lagi."


"Tinggal rajanya."


"Maksud kamu?"


"Kamu tahu kan hidup Aulia itu kayak permainan game. Yang di mana dia telah menghancurkan pengawal-pengawalnya. Lalu sekarang tinggal ketuanya. aku yakin deh kalau ketuanya masih hidup dan berkeliaran bebas di kota New York ataupun di Amerika."


"Itu ceritanya lain lagi. Sebentar lagi masalah di Nganjuk selesai. Aku dan lainnya menyusul kalian ke New York. Menurut aku tempat persembunyiannya itu tidak jauh dari area lingkungan kita."


"Gue setuju soal itu. Ya udah deh gue mau balik lagi ke rumah. Salamin buat calon bini gue."


"Yoi," balas Dewa.


Setelah itu Dewa mematikan ponselnya. Iya bener saja sambil berkata, "Fatin sudah tidak ada."


"Maksud kakak gimana?" tanya Sascha.


"Maksudku orangnya sudah nggak ada. Padahal kasus itu mau diusut sama Brian. Kalau gitu Ya sudahlah. Kita tutup buku saja. Lagian juga kita tidak memiliki urusan lagi sama mereka," jawab Dewa.


"Ya semoga saja semuanya berakhir. Sepertinya dari sini aku akan kembali ke Jakarta terlebih dahulu. Mengecek semuanya tentang keuangan milik Khans Company cabang Jakarta."


"Nggak usah dicek. Biarin aja. Kalau udah hilang juga nggak seberapa. Soalnya dia itu masih berencana untuk mengambil banyak. Kalau dia masih hidup Ya kemungkinan dia ngambil banyak."


"Tapi aku nggak enak sama papa."


"Ceritakan saja enaknya gimana. Nanti papa ngasih solusinya. Kalau papa sudah ngasih solusi. Kita tidak akan bisa berbuat apa-apa. Anggap saja amal."

__ADS_1


Sascha menganggukkan kepalanya tanda setuju. Sebenarnya dirinya juga tidak enak sama sang papa. Bagaimana ia menceritakan tentang kejadian ini?


"Gimana Kak langkah selanjutnya?" Tanya Sascha.


"Kalau rumah ini dijual ya sudah tamat. Kita berikan saja uangnya ke kakaknya Pak Andika. Sisanya diberikan ke panti asuhan. Soalnya aku sendiri merasakan ada yang aneh dengan arwahnya Pak Andika. Mereka itu masih di dalam rumah ini. Istilahnya dia belum pergi sama sekali. Soalnya kalau dia belum pergi masih ada aja keinginan yang belum tercapai. Terus aku semalam di mimpikan oleh Pak Andika. Dia bercerita Kalau kakaknya sangat menderita sekali. Uangnya dibagi fifty-fifty. Yang satu untuk anak panti. Yang satu buat kakaknya. Setelah itu kita bisa pergi dari sini."


Jawab Dewa yang membuat Sascha menganggukkan kepalanya.


"Syukurlah... Semuanya sudah jelas. Tinggal satu lagi. Yaitu adiknya."


"Nggak perlu. Kalaupun dia datang ke sini. Rumah ini sudah berganti nama. Dia tidak bisa lagi mengotak-atik rumah ini. Lagian kita sudah putus dengan keluarganya pak Andika. maka dari itu kita harus menjalankan perintah dari Pak Andika terlebih dahulu sebelum kembali ke New York."


"Ya sudah kalau begitu. Kita tenang untuk memikirkan masalah lain. Semuanya sudah clear dan berharap sudah tidak ada lagi masalah baru di sini."


"Semoga saja tiga hari ke depan bisa terjual rumah ini."


"Loh, kakak jualnya ke mana?"


"Aku menyuruh Brian untuk menjual rumah ini. Katanya sih menurut dia. Temen-temen bulenya atau siapapun itu sedang membutuhkan rumah di pedesaan. Mungkin saja orang itu sangat membutuhkan suasana baru. Jadi mereka bisa membeli rumah ini."


"Apakah harganya tidak turun?"


"Entahlah Brian yang mengaturnya. Lagian juga Bryan memiliki hobi jual menjual barang."


"Iya sih kalau aku lihat di sosmednya. Biarkan sajalah."


"Jakarta kayaknya. Oh ya bagaimana perusahaan yang berada di New York itu?"


"Setelah masalah ini selesai kita akan ke sana. Sebenarnya bapak itu masih memproduksi barang. Tapi bapak itu sengaja menutupnya sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Maksudnya pabriknya itu yang ditutup hanya untuk mengelabui nenek-nenek itu."


"Aku kan jadi lucu tuh sama nenek-nenek. Meskipun dia nggak punya Kenapa juga dia ingin menguasainya. Secara perusahaan itu adalah perusahaan milik keluarga kita."


"Yah kamu tahu sendiri kan manusia itu gimana? Kalau nggak punya pun diambil. Padahal sudah diselidiki semuanya. Kalau nenek-nenek itu tidak ada hubungan darah sama Atmaja ataupun keluarganya mamamu. Kalau menurutku sih neneknya itu udah kehabisan cara. Taringnya tinggal sedikit. Dia sekarang sudah tidak memiliki pasukan apapun."


"Kalau dia merekrut orang?"


"Tenanglah. Dia juga kehabisan uang kok. Dia bukan orang-orang berduit. Mau nyewa orang untuk membunuh Apakah bisa?"


Mendengar kata menyewa untuk membunuh, Sascha teringat pada sang papa. Memang sang papa memiliki pekerjaan sampingan yaitu sebagai sniper. Sekalinya menembak Papa langsung mendapatkan uang yang banyak. Sascha tidak memperdulikan akan hal itu.


"Kok aku jadi ingat ya tentang hidupku yang lalu?" Tanya Sascha.


"Hidup yang mana?" Tanya Dewa balik.


"Dulu Risa ingin membunuhku. Terus Risa menyewa salah satu sniper. Eh ujung-ujungnya sniper itu adalah papa sendiri. Aku nggak bisa membayangkan betapa kecewanya Risa saat itu."

__ADS_1


"Sekejam-kejamnya manusia tidak akan pernah membunuh anaknya. Apalagi anak itu yang telah hilang dalam beberapa tahun. Aku tahu saat itu perasaan papamu bagaimana. Marah bercampur bahagia. Hanya karena populer saja Risa melakukan hal yang Di luar batas. Sampai saat ini aku masih bertanya-tanya, Kenapa dia melakukan hal itu?"


"Yah aku sendiri juga tidak tahu Kak. Aku sendiri melihatnya seperti orang yang sangat membenciku. Padahal aku sama dia itu tidak terjadi apa-apa. Melainkan aku sendiri tidak ada dosa sedikitpun sama dia. Jika aku bercanda ya biasa. Jadi nggak bisa dipersalahkan dalam hubungan pertemanan ini."


"Kita bisa mengambil hikmahnya dibalik semua ini. Jika Risa meminta papamu untuk tidak melakukannya. Maka semuanya tidak akan terjadi seperti ini. Maksudku bertemu dengan kedua orang tua kandung."


"Ternyata aku adalah anak dari seorang pengusaha terkenal. Mamaku seorang model dan pemain film Hollywood. Nggak bisa terbayangkan olehku. Jika semuanya harus terjadi."


"Terutama pada Billy juga. Kamu juga harus berterima kasih sama dia. Kalau nggak ada dia, kamu nggak akan pernah tahu siapa orang yang memisahkan dirimu dan kedua orang tuamu?"


"Hidupku ternyata kebetulan ya. Memang lucu kisah hidup ini. Tapi ya sudahlah kita jalani saja apa adanya. Selain itu juga aku tidak akan mengungkit masalah ini."


"Ya sudah kita tutup saja.; Oh iya... Kapan kau makan periksa ke dokter?"


"Sepertinya Kakak sangat penasaran sekali?"


"Iyalah. Siapa tahu nanti ada yang muncul. Yaitu Dewa junior."


Sascha mengusap wajahnya berkali-kali. Dirinya ingat kalau hampir dua bulan tidak kedatangan tamu. Matanya melirik Dewa sambil berkata, "Aku tidak kedatangan kamu selama dua bulan."


"Oh itu ide yang sangat bagus. Kalau begitu mari kita periksakan ke dokter," ajak Dewa.


"Nanti aja kita periksanya. Masih ada waktu banyak."


"Banyak sih banyak. Nanti kalau perutmu udah kelihatan bagaimana?"


"Kamu yang tanggung jawab. Seenaknya kamu nggak mau tanggung jawab lalu kabur gitu ya?"


"Nggak usah kabur kali ya. Kabur pun paling ke kamar untuk tidur."


"Ya sudah deh kalau begitu. Aku pengen mengajak kita untuk membuat kue favoritku."


"Kapan itu?"


Tak lama Bryan dan Dita datang. Mereka berdua duduk di hadapan Sascha bersama Dewa.


"Udah tahu belum kabar tentang kematiannya Fatin?" Tanya Bryan.


"Sudah tahu. Tommy yang menghubungiku tadi."


"Sebenarnya Fatin itu dibunuh oleh seseorang. Yang di mana orang itu menaruh dendam kepada Fatin. Dia adalah seorang istri dari orang terkenal. Dia memang sengaja membunuhnya karena gara-gara Fatin rumah tangganya hancur," jelas Brian.


"Apakah itu adalah seorang produser musik?" Tanya Dita.


"Itu benar. Nggak usah disebutin ya namanya siapa. Katanya si perempuan ini bilang. Rumah tangganya baik-baik saja. Meskipun banyak sekali kedatangan banyak perempuan di rumahnya. Mereka hanya berdiskusi tentang masalah pekerjaan. Yang produser ini orangnya setia kepada istrinya. Singkat cerita dia itu kedatangan Fatin. Yang di mana Fatin itu pura-pura ingin membuat lagu. Istilahnya dia ingin jadi penyanyi," ungkap Bryan dengan fakta sebenarnya.

__ADS_1


"Memangnya bisa ya Fatin menjadi seorang penyanyi? Setahuku suaranya tidak bagus-bagus amat. Nah ini nih yang membuat Aku curiga," tanya Sascha yang mengetahui Fatin sebenarnya.


__ADS_2