
Saat Sascha bertanya siapa pemilik fotokopi tersebut, Dewa memutuskan untuk tutup mulut. Dewa memang tidak mengatakan apapun tentang kisah itu. Setelah bercerita tentang pertemuannya pertama kali pasangan suami istri itupun akhirnya paham. Mereka bersyukur karena Sascha dipertemukan kembali dengan cara Tuhan yang sangat indah.
Sebelum pergi dari klinik Matias menjadwalkan pemeriksaan Sascha. Matias akan menyembuhkan Sascha dengan maksimal mungkin. Karena mereka berburu dengan waktu.
"Mulai Minggu depan kamu sudah ikut terapi. Kamu harus teratur jaga pola makan. Kemungkinan besar aku akan meminta paman Matias mencarikan dokter gizi untukmu," ucap Dewa yang fokus ke depan.
"Enggak usah terlalu berlebihan. Aku bisa makan semuanya. Dan kakak tahu enggak kalau orang sembuh dari penyakit itu harusnya bahagia. Banyak senyum dan saling berbagi. Kemungkinan besar aku akan bahagia disini," jawab Sascha.
"Bagaimana caranya kamu bahagia?" tanya Dewa yang mengerem mendadak.
Dug.
"Aw," ringis Sascha yang kepalanya terkena dashboard mobil.
"Kamu enggak apa-apa?" tanya Dewa dengan panik.
"Selalu saja begitu. Coba dech berhentinya jangan mendadak seperti itu!" ketus Sascha.
"Ya maaf," ucap Dewa dengan lirih.
"Aku enggak apa-apa. Aku hanya kejedot," jawab Sascha.
"Apakah kamu marah?" tanya Dewa.
"Enggak," jawab Sascha.
"Katakanlah kepadaku, bagaimana caranya kamu bahagia?" tanya Dewa.
"Bahagia itu mudah. Caranya dengan saling berbagi kita udah bahagia," jawab Sascha.
"Berbagilah cintamu untukku maka kamu akan bahagia," suruh Dewa dengan penuh percaya diri.
Cup.
Sascha mencium mulut seksi Dewa dan membuka pintu. Sascha merasakan jantungnya sungguh berdebar dengan kencang.
"Ternyata aku jatuh cinta pada Kak Dewa," ucap Sascha dalam hati.
__ADS_1
Sementara Dewa menyunggingkan senyumnya dengan manis. Siang ini Dewa sangat bahagia sekali karena mendapat serangan mendadak. Akhirnya Dewa memutuskan untuk keluar dan memeluk Sascha.
"Apakah kamu tidak ingin membagi cintamu untukku walau hanya secuil?" tanya Dewa.
"Hmmp... Bisakah kamu tidak mengatakan itu?" tanya Sascha balik.
"Jawablah. Jangan biarkan hatiku membeku lagi," pinta Dewa.
"Aku sangat mencintaimu kak. Ternyata hati ini telah kamu curi semenjak aku masih kecil," ucap Sascha dengan jujur.
"Apakah itu benar?" tanya Dewa.
"Ya itu benar," jawab Sascha.
"Apakah kamu mau menikah denganku?" tanya Dewa dengan serius.
"Aku mau kak," jawab Sascha.
"Tapi jangan salahkan aku ya suatu hari nanti perutmu berubah," bisik Dewa yang membuat Saaacha langsung melongo.
"Nanti kamu tahu sendiri kekejaman seorang suami terhadap istrinya. Kalau kamu enggak tahu tanyakan saja pada papamu itu," jawab Dewa yang membuat Sascha bingung.
Sascha baru sadar apa yang dimaksud oleh Dewa. Sascha memukul Dewa dan memberontak ingin pergi dari pelukannya. Namun Dewa menahannya sambil bertanya, "Apakah kamu tahu jawabannya?"
"Sudah tahu. Jujur aku mengakui kalau pria di dunia ini sangat kejam sekali. Bahkan kejamnya melebihi ibu kota," jawab Sascha.
Dewa membungkam mulut Sascha dan memasukkan lidahnya ke mulut Sascha. Lalu Dewa mengajarkan Sascha bagaimana caranya berciuman dengan panas. Namun Sascha sangat menikmatinya. Setelah selesai mengeksplor mulut Sascha, Dewa melepaskan mulut Sascha lalu berkata, "Bernafaslah."
Sascha segera mengambil nafasnya secara cepat. Sascha merutuki kebodohannya sendiri karena sudah melakukan ciuman yang panas.
"Kamu harus belajar ciuman yang panas," ucap Dewa.
"Kakak ngajarin aku yang enggak-enggak. Kakak tahukan kalau aku enggak boleh ciuman seperti itu?" tanya Sascha yang kesal.
Dewa tertawa melihat Sascha yang kesal. Bagaimanapun juga Sascha itu sangat lucu sekali. Akhirnya Dewa mengajak Sascha pergi ke rumah nenek dan kakeknya.
Di belahan bumi lainnya Pak Pak Andika dan Ibu Nirmala sudah tenang dengan keberadaan Sascha. Sebelum pergi ke klinik Dewa sudah memberitahu keadaan Sascha dimana. Dewa terpaksa berbohong dengan keadaan Sascha yang sebenarnya.
__ADS_1
"Syukurlah Sascha baik-baik saja," ucap Ibu Nirmala.
"Tapi kapan ya Sascha pulang ke sini?" tanya Pak Andika.
"Sascha banyak sekali pekerjaan," jawab Bu Nirmala.
"Bapak rindu sekali sama Sascha," ucap Pak Andika.
"Ya nanti kalau tidak ada pekerjaan sama sekali. Oh ya semalam ibu bermimpi kalau Sascha itu di kelilingi oleh orang terkenal. Kalau enggak salah ada satu wanita yang sangat cantik sekali. Kalau enggak salah sih Sascha berada di karpet merah," celetuk Ibu Nirmala.
"Apakah Sascha akan menjadi orang terkenal ya Bu?" tanya Pak Andika.
"Bisa jadi. Bapak kan tahu kalau Sascha itu anaknya yang jenius. Sangking jeniusnya Sascha bisa memecahkan semua masalah," ujar Pak Andika. "Jadi wajarlah jika Sascha bisa menjadi orang terkenal."
"Kita doakan saja semoga cita-cita Sascha tercapai," kata Bu Nirmala sambil mengucapkan doa yang tulus.
"Amin," balas Pak Andika.
Mereka sangat tulus mendoakan Sascha. Di ambang pintu ada Kinanti sedang menguping pembicaraan kedua orangtuanya. Kinanti menjadi murka karena mereka terlalu sayang sama Sascha. Namun tidak demikian bagi kedua orangtuanya. Mereka memberikan kasih sayang yang sama.
"Oh... Bagus ya... Kalian telah mendoakan Sascha j*lang itu dengan tulus!" teriak Kinanti yang tidak mau orangtuanya sayang sama Sascha.
"Kamu ngapain sih Kin? Setiap kami membicarakan Sascha kamu selalu marah. Terus mau kamu apa? Apakah kamu pernah membuat prestasi di sekolah?" tanya Pak Andika. "Apakah kamu pernah membuat kami bahagia?"
"Terus saja membela Sascha," ketus Kinanti dengan nada meninggi.
"Kami enggak membela Sascha. Tapi ini kenyataan Sascha bisa mengangkat derajat Keluarga ini. Dia tidak pernah membuat masalah. Kamu! Kamu adalah biang masalah yang berat. Mencoreng muka kami dengan masalah yang berat. Kamu tidak pernah membuat prestasi sedikitpun. Malahan kamu sering membuat masalah dengan mencoreng kotoran di wajah kami," ucap Pak Andika secara datar.
Meski datar suara Pak Andika seperti menyindir Kinanti hingga masuk ke relung hati. Pak Andika tidak habis pikir dengan Kinanti yang ingin menghancurkan Sascha di depan kedua orangtuanya. Namun mereka lebih percaya apa yang dilihatnya.
Kinanti sudah tidak bisa mengatakan apapun. Memang kenyataannya Kinanti selalu membuat ulah. Kemudian Kinanti pergi meninggalkan mereka dan masuk ke dalam. Kinanti akan mencari cara agar mempengaruhinya. Kinanti segera menghubungi Ricky sang suami untuk segera pulang ke rumah.
"Gue akan menyuruh Ricky pulang," ucap Kinanti. "Dengan cara inilah gue bisa membuat rencana untuk mempengaruhi mereka."
Di Jakarta, Risa dan Billi mengadakan pernikahan. Billi terpaksa menikahinya karena nyawa orang tersayangnya berada di tangan Risa. Setelah mengucapkan akad nikah yang sah Billi mengajak Risa pulang ke Bandung. Di sana Billi akan menjadikan ratu di dalam rumah. Bagaimana dengan Jaya? Jaya tidak memperdulikan hal itu. Tujuan pernikahan ini adalah menjadikan Billi sebagai boneka ajang balas dendam. Jaya sangat bahagia bisa membuat rencana satu telah berjalan.
"Sekarang bagaimana selanjutnya?" tanya Wira sang asisten Jaya.
__ADS_1