Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
PESAN DEWA


__ADS_3

“Sudah dari dulu kali, Mama merestui hubungan ini. Bahkan Sascha belum menemukan keluarga aslinya. Mama semakin kencang mendekati Sascha agar menjadi calon istri kakakmu itu. Dari gelagatnya kakakmu itu suka sekali sama saja. Tapi kenapa Dewa jarang mengungkapkan perasaannya itu. Malah Sascha diambil sama Billy. Memang sedih Ternyata hidup mama,” kesal Tara kepada Dewa.


“Terima kasih ya ma... Sudah mau menerima aku menjadi calon istrinya Kak Dewa. Tapi maafin aku ya Ma. Sudah melakukan hubungan terlarang sebelum pernikahan,” ungkap Sascha dengan kesedihan.


“Nggak perlu sedih begitu. Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Kamu kan mainnya sama Dewa. Bukan sama pria lain. Jadi nggak usah terlalu disesalkan,” ucap Tara yang menatap Sascha. “Kamu keluar dulu sana. Masakin sup jagung buat bayi gedemu itu. Mama sama Dita mau pergi ke villa. Kalau kamu ikut nggak apa-apa.”


“Terus Kak Dewa gimana?” tanya Sascha.


“Biarkan saja. Di sini kan masih ada pelayan,” jawab Tara yang ingin membuat Dewa marah.


“Sepertinya Mama ingin membuat Kak Dewa marah ya?” tanya Dita yang menyelidiki mata Tara.


“Sepertinya... Biarkan saja Mama menculik saja lagi,” jawab Tara.


“Ish... Mama sama anak sama saja. Hobinya balas dendam satu sama lain. Untung saja tidak menimbulkan perang dunia ke sekian. Apalagi mama didukung sama papa. Entah aku harus berkata apa?” ungkap Dita yang membuat Sascha tertawa.


“Ya udah deh mah. Aku keluar dulu. Hati-hati di jalan ya Ma,” pamit Sascha sambil meraih paper bag yang berada di sampingnya.


“Oke,” balas Tara.


Melihat kepergian sang calon menantunya itu, Tara sangat bahagia sekali. Dirinya memang tidak salah mencarikan seorang jodoh buat anak laki-lakinya itu. Bahkan Tara ingin cepat-cepat menikahkan anaknya agar sang calon menantu tidak diambil orang. Sedangkan Sascha tidak tahu dengan rencana sang calon Mama mertua. Sascha sendiri tidak terlalu memperdulikan soal pernikahan itu. Dirinya sangat santai menghadapi hari-hari hanya menuju pernikahan. Bagaimana dengan Dewa? Dewa juga merasakan hal yang sama. Dewa ingin coba-coba meminang rahasia menjadi istrinya. Namun tujuan utamanya Dewa bukan itu. Tujuan utamanya adalah melindungi Sascha dari para musuh yang berada di Indonesia maupun di luar. Meskipun namanya semakin besar, Dewa harus melindungi sang istri.


Saat menaruh belanjaannya di atas meja. Ia segera mencari keberadaan Dewa. Ketika mau keluar Dewa Sudah berdiri di ambang pintu. Lalu Sascha tidak melihat sama sekali ada orang di depannya. Hingga akhirnya Sascha...

__ADS_1


Duaaaakkk!


Kemudian Sascha jatuh terlentang. Ia merasakan ada tubuh besar yang menghalanginya. Lalu Sascha memegang tangannya sambil berkata, “Augh.... Rasanya aku menabrak beton.”


Mata Dewa membulat sempurna. Ia tidak menyangka kalau sang calon istrinya menabraknya begitu saja. Dirinya harus menangis atau tertawa melihat Sascha terjatuh. Jujur saja Dewa sangat bingung sekali dengan Sascha.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Dewa.


“Sakit yang kurasakan tidak seberapa. Tapi aku menabrak sebuah botol yang ada di depanku. Jujur tubuhmu sangat keras sekali,” jawab Sascha.


Dewa segera membungkuk dan meraih tangan saja. Lalu ia menarik Sascha agar terbangun. Hingga akhirnya Sascha protes kepada dewa.


“Tubuh sangat keras sekali bagaikan beton,” protes Sascha.


Sel-sel menjalankan kepalanya karena sedih tidak menghargai Dewa. Ia segera memeluk dan mendekap sang kekasih. Namun tanpa disadarinya Dewa malah mendekapnya dengan erat.


“Kamu pergi ke mana tadi?” tanya Dewa.


“Aku pergi bersama mama dan Dita. Mereka mengajakku makan di restoran favorit kita dulu. Kami mengobrol tentang segala hal. Hingga Dita memberikan satu saran kepadaku,” jawab Sascha.


“Sepertinya perasaanku nggak enak nih,” celetuk Dewa.


“Kamu tahu pas waktunya mau pulang, Billi ada di lobby. Ia ingin masuk tapi Marty menghalanginya. Mama mengajakku pergi ke basement. Di sana aku bertemu dengan Dita. Tapi syukurlah Dita dengan cepat membawaku dari kantor. Jujur saja Aku benar-benar takut sekali melihat Billi memanggilku seperti orang kesetanan. Aku nggak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Semakin lama Billi semakin beringas seperti itu. Ditambah sama istrinya mendekatiku dan memaki-makinya. Apalagi dia menyebut nama Jaya di hadapanku. Padahal aku sama Jaya tidak memiliki hubungan apa-apa. Aku semakin bingung sama itu orang. Kenapa dia selalu menyerangku? Bahkan membullyku habis-habisan. Apa yang harus aku lakukan?” tanya Sascha hingga membuat Dewa bersedih.

__ADS_1


“Siapa istrinya?” tanya Dewa.


“Istrinya adalah Risa,” jawab Sascha.


“Maksud kamu Risa Amelia?” tanya Dewa.


“Iya itu benar. Aku merasa bingung sama Risa. Padahal dulu nggak ada yang namanya permusuhan,” jawab Sascha.


“Kamu belum tahu siapa Risa sebenarnya? Memang dari dulu Risa selalu membuat masalah dan  kasus sama orang-orang tersebut. Selain itu juga dia lebih bangga menjadi penjahat ketimbang orang baik. Aku juga tidak habis pikir, Kenapa Risa selalu begitu? Apakah kamu tidak berkunjung ke Intan?” tanya Dewa. “kamu bisa menanyakan soal Risa kepada Intan. Karena Intan adalah saksi hidup kakaknya yang telah meninggal karena Risa. Dan kasusnya itu tidak selesai sampai sekarang. Bahkan seluruh keluarga Intan menuntutnya pun percuma. Orang tua Risalah yang membantu Risa keluar dari penjara.”


“Iya aku tahu itu. Bahkan aku juga membantu kasusnya hingga selesai. Tapi aku kalah. Padahal aku sudah mencari bukti-bukti yang akurat untuk diserahkan ke aparat. Nyatanya sebelum persidangan Risa keluar dan melanggar bebas dari penjara. Kasihan Intan yang kehilangan Kak Jeff,” ucap Sascha.


“Apakah kamu mau melawan Risa? Jika kamu mau maka aku membantumu. Aku akan memanggil Raymond untuk menuntaskan kasus ini. Kalau nggak begitu dia semakin ngelunjak. Tambah lebih parah daripada yang ini,” jelas Dewa.


“Bukannya Kak Raymond ada di Amerika?” tanya Sascha yang menyembunyikan kepalanya di dada Dewa.


“Itu gampang. Tinggal hubungi, dia akan datang. Kamu tahu beberapa bulan ini aku sengaja mengangkat Raymond untuk menjadi kepala tim pengacara perusahaan. Jadi kalau kamu perlu hubungi saja. Soal biaya gampang,” ujar Dewa yang mengelus-ngelus rambut Sascha.


“Kalau Paman George gimana?” tanya Sascha.


“kejauhan. Kecuali Risa membuat kasus di New York. Pasti Paman George mau menanganinya,” jawab Dewa.


“Kalau begitu baiklah. Aku akan mengulur waktuku sampai di mana Risa bisa menjadi wanita penguasa. Setelah aku menjadi CEO, maka aku akan bermain-main sama dia,” ucap Sascha dengan tegas.

__ADS_1


“Ya nggak apa-apa. Aku nggak jadi masalah soal itu. Kamu harus berani menindasnya. Jangan sampai kamu diam terus-terusan. Hingga Risa menginjak-injak kamu. Jika itu terjadi enggak aku saja yang murka. Papamu, papaku dan mamaku sangat murka sekali,” pesan Dewa.


__ADS_2