Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
KECURIGAAN PARA ORANG TUA.


__ADS_3

Kedua pria itu hanya memilih untuk


diam. Namun apa yang mereka rasakan ini sangat aneh sekali. Mereka merasakan ada


sesuatu yang tidak beres dengan putra-putrinya itu.


“Sepertinya ada yang enggak beres,”


celetuk Devan.


“Maksud kamu?” tanya Gerre.


“Aku tahu sifat Dewa dan Sascha. Mereka


tidak akan tidur hingga siang begini. Kalaupun kecapekan mereka memilih menikmati


hari untuk bersosialisasi sama orang-orag sekitarnya,” jelas Devan.


“Ayo kit periksa!” seru Gerre yang


segera berdiri.


Akhirnya Devan beranjak berdiri. Gerre


terlebih dahulu berjalan lalu diikuti Devan. Mereka berdua menuju ke kamar


Dewa.


Tak lama Chloe dan Tara mendekati


mereka. Mereka sangat penasaran sekali dengan apa yang para suami lakukan.


“Ada apa?” tanya Chloe.


“Aku mulai curiga kepada Aulia dan Dewa


tidak keluar-keluar dari kamar. Ada apa dengan mereka? Apakah mereka sedang memadu


kasih?” tanya Gerre balik.


“Aku rasa itu tidak mungkin. Karena


kalau orang memadu kasih hanya pagi saja. Aku tahu dewa adalah seorang pria


pekerja keras. Dia tidak akan membuang-buang waktunya demi memadu kasih hingga


sepanjang hari. Apalagi ini bukan hari Minggu. Aulia akan marah dan sewot


setengah mati jika Dewa tidak bergerak sama sekali,” jelas Devan.


“Lalu apa yang harus kita lakukan?”


tanya Gerre.


“Terpaksa kita geledah kamar


terlebih dahulu. Mereka kita bangunkan untuk makan siang terlebih dahulu,” jawab

__ADS_1


Devan.


Mereka beramai-ramai menuju ke


kamar Dewa. Namun ada salah satu penjaga di kamar Dewa datang menghampirinya


dengan wajah pucat. Devan mengerutkan keningnya sambil menatap sang penjaga


tersebut.


“Ada apa memangnya? Kok kamu merasa


aneh?” tanya Devan.


“Maaf tuan Devan. Nyonya Aulia dan


Tuan Dewa sudah tidak ada di kamarnya. Kami tidak menemukan apa-apa lagi tuan,”


jawab sang pengawal dengan nada bergetar.


Jeder....


Sebagai orang tersambar petir di


siang hari. Mereka terkejut dan saling menatap satu sama lain. Padahal Dewa


kakinya tidak baik-baik saja. Lantas mereka berpikir, bagaimana caranya mereka


kabur dari markas ini? Jika ada yang retak di tulang kakinya, orang itu tidak


memakai tongkat. Kalau kabur dari markas ini membutuhkan waktu yang sangat


lama. Kurang lebih setengah hari mereka baru keluar dari markas ini.


“Apakah kamu yakin jika mereka


tidak ada di tempat?” tanya Devan sekali lagi.


“Ya saya yakin Tuan. Tuan Dewa


bersama Nyonya Aulia tidak berada di tempat,” jawab pengawal itu lagi.


“Siapkan seluruh pasukan untuk


mencari keberadaan mereka! Aku yakin mereka masih berada di area sini! Sebenarnya


ini aku akan menghubungi Leo untuk mencari keberadaan mereka melalui CCTV!” tegas


Devan.


Pengawal itu menganggukkan


kepalanya. Pengawal itu segera berlari dan memberikan kode agar mereka


berkumpul di lapangan. Mereka memutuskan untuk ke kamar Dewa.


“Ini tidak bisa dibiarkan. Kenapa

__ADS_1


dia bisa keluar dari tempat ini? Kata Kobe tempat ini adalah tempat tersembunyi


buat para clan Nakata. Jadi kalaupun keluar bisa diperkirakan hanya setengah


hari untuk sampai ke kota,” jelas Devan.


“Apakah itu yang kakinya normal?” tanya


Chloe.


“Iya yang kakinya normal. Kalau


kakinya nggak normal bisa seharian atau dua hari. Jadi aku bisa memprediksi


kalau Dewa masih berada di area ini,” jawab Devan dengan serius.


Sesampainya di depan kamar Dewa,


mereka masuk dan melihat ranjang sudah kosong. Mereka langsung menggeledah


kamar itu. Namun mereka tidak menemukan apa-apa. Mereka hanya menemukan baju


yang sudah dipakai Sascha dan Dewa di hari kemarin.


“Kenapa mereka kabur? Apakah mereka


ada masalah?” tanya Tara.


Hanya membutuhkan 15 menit saja,


kamar itu sudah tergeledah. Namun di dalam kamar itu benar-benar kosong. Firasat


mereka mengatakan, kalau Aulia dan Dewa diculik oleh pengawal Anette. Mereka


sangat geram karena markas ini sudah ketahuan oleh musuh.


Sedangkan Sascha dan Dewa sudah


berada di markas musuh. Mereka memilih diam dan tidak ingin menyerang terlebih


dahulu. Dewa sedang membaca keadaan dan melihat di sekelilingnya.


“Apakah ini aman?” tanya Sascha.


“Aman seratus persen. Tolong kamu


kirim pesan ke Master Wa menanyakan keadaan ini. Aku ingin tahu seberapa hebatkah


pengawal yang berada di markas tersebut. Aku juga ingin tahu berapa orang yang


berada di sana. Jadi kita tidak perlu menghabiskan banyak tenaga untuk


menghajar mereka,” jelas Dewa.


“Baiklah kalau begitu,” jawab Sascha


dengan semangat.

__ADS_1


__ADS_2