Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
KERAMAHAN SASCHA.


__ADS_3

"Nilai plus yang di mana kamu sangat berarti sekali di mata setiap pria. Aku yakin pria manapun akan iri kepadaku. Karena aku mendapatkanmu secara sempurna," jawab Dewa.


Sascha memegang pipi Dewa sambil tersenyum manis. Dewa melihat beberapa orang sedang sibuk bermain ponsel. Dengan cepat Dewa mencium bibir Sascha.


"Kamu ini ada-ada saja. Masa kamu menciumku di depan semua orang. Malu atuh kang," cebik Sascha.


"Jangan malu seperti itu. Karena kamu sudah menjadi istriku. Biarkanlah orang-orang melihat kita seperti ini," ucap Dewa.


"Janganlah kamu mengumbar kemesraan di depan orang. Aku malu sekali Jika dilihat sama mereka," bisik Sascha.


Kurang lebih satu setengah jam pesawat yang ditumpangi oleh Sascha dan Dewa akhirnya mendarat dengan sempurna. Mereka langsung disambut oleh sopir yang sedang menunggunya. Sopir itu sudah mendapatkan perintah dari Timothy. Memang Timothy sengaja mengambil salah satu karyawannya untuk menjadi pemandu wisata.


Saat mereka turun Dewa mendapatkan sebuah pesan dari sang asistennya itu. Dewa menarik tangan Sascha sambil berkata, "Ternyata asistenku sudah menyiapkan semua ini. Baik sekali ya."


"Memangnya Kak Tim sangat jahat?" tanya Sascha.


"Jujur saja asistenku itu orang baik. Tapi orangnya agak nyebelin. Jikalau penyakitnya itu kumat aku sendiri tidak bisa menyembuhkannya kembali," jawab Dewa yang atas keburukannya Timothy.


"Rasanya kalian jarang pernah akur deh. Kalau akur berarti sedang ada masalah berat untuk diselesaikan bersama-sama. Jika tidak ada masalah maka kalian akan saling berantem sana-sini," ejek Sascha.


"Kamu benar. Jujur aku sudah menganggap Tim sebagai adikku sendiri. Bahkan Tim sering membantuku dalam kesusahan. Aku ingin mensejahterakan hidupnya Tim," ucap Dewa sambil mencari orang yang menjemputnya. "Bagaimana dengan Eric terhadap kamu?"


"Sama saja. Tapi Kak Eric orangnya juga baik. Nggak rese kayak kakak. Setiap hari aku selalu mendapatkan ilmu baru dari dia," jawab Sascha dengan jujur.


"Baguslah. Hanya kamu yang betah menjadi asistennya Eric," ujar Dewa.


"Iya Kakak benar. Hampir empat tahunan aku menjadi asistennya. Jarang ada yang mau menjadi asistennya. Apalagi khusus kaum hawa. Aku nggak tahu kenapa Kak Eric kok sangat aneh sekali? Setiap orang-orang masuk ke dalam ruangannya, orang-orang tersebut memilih mengangkat tangannya masing-masing," sahut Sascha.


"Nanti kamu tahu sendiri. Ada apa dengan bosmu itu?" jawab Dewa.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian datang seorang pria muda sedang membawa poster yang berisikan namanya Dewa dan Sascha. Seketika Sascha sadar lalu menepuk bahu Dewa.


"Sepertinya kita kedatangan seorang tamu," celetuk Sascha.


Dewa sadar dan matanya tertuju pada seorang pria muda berkulit hitam manis itu. Dewa menatapnya sambil berseru, "Apakah kamu Antonius?"


"Iya tuan. Akulah orang yang disuruh sama Tuan Timothy untuk menjemput anda," jawab Antonius.


"Untunglah Aku menemukanmu," seru Sascha.


"Kalau begitu Mari saya antar ke hotel," ajak Antonius.


Antonius berjalan terlebih dahulu di depan mereka. Ia menjadi seorang pemandu untuk menunjukkan jalan keluarnya. Kemudian Sascha terkejut dengan nama Antonius. Lalu wanita bertubuh mungil itu langsung menghentikan perjalanannya terlebih dahulu.


"Bukannya kamu Antonius yang dulu pernah bekerja di cabang Surabaya ya?" tanya Sascha.


"Ya itu benar. Aku memang pernah bekerja di cabang sana. Jadi ketika ibuku sakit-sakitan aku memutuskan untuk keluar dari sana. Tapi Tuan Tommy melarangku keluar. Aku diberikan tugas hanya untuk menjemput para tamu dari perusahaan AA Groups," jawab Antonius dengan malu-malu.


"Syukurlah Aku masih mengingatmu. Kamu dulu memiliki pekerjaan yang sangat bagus sekali. Tiba-tiba saja aku kemarin mencarimu. Tapi sudah tidak ada lagi. Kalau begitu terima kasih ya sudah menjadi pemandu tour kami," ucap Sascha.


"Saya terima kasih nona. bagi saya Ini adalah suatu kehormatan khusus yang diberikan oleh Tuan Tommy dan Timothy. Maafkan aku jika keluar tanpa mengabarkan ke nona," ujar Antonius.


"Tak apa. kalau begitu ayo kita pergi meninggalkan bandara. Aku lihat tuanmu sedang boring setengah mati," ledek Sascha.


Tak terima diledek Dewa langsung merangkulnya. Kemudian Antonius matanya membulat sempurna. Bagaimana bisa big bossnya itu berbuat kurang ajar kepada Sascha. Belum sempat menegurnya Dewa berkata, "jangan menegurku seperti itu. Aku hanya membaca semua pesan-pesan yang berada di ponselku ini. Dia adalah istriku. Jadi kami sudah resmi saling memegang."


"Selamat ya tuan muda dan juga Nona muda. Kalau begitu mari Aku antar ke hotel!" ajak Antonius.


Antonius segera berjalan ke depan. Mereka mengikuti Antonius sambil menatap area bandara itu. Suasana di sana lumayan sangat ramai sekali. Sascha melihat bis-bis berdatangan hanya untuk mengambil wisatawan yang akan berkunjung ke ke sana. Terutama ke pulau Komodo.

__ADS_1


Mereka meninggalkan tempat di sana untuk menuju ke villa milik Gerre. Diam-diam Gerre memiliki sebuah villa di sana yang menghadap pantai. Gerre sangat menyukai suasana pantai dan deburan ombak.


"Kamu nggak nanya kita tinggal di mana?" tanya Dewa.


"Paling-paling tinggal di hotel. Aku bisa menebaknya," jawab Sascha.


"Salah, kita tinggal di villanya papamu itu. Meskipun kecil tapi tempatnya sangat indah sekali. Kamu bisa menikmati deburan ombak yang sangat kencang sekali. Aku sudah lama tidak pergi ke sini. Kurang lebih delapan tahun yang lalu," jawab Dewa.


"Berarti kamu sudah tahu villa ini?" tanya Sascha.


"Aku belum tahu villa ini. Aku tahunya dari Bima. Dulu kami sering ke sini saat menginap di villa Bryan. Jujur aku terkejut sekali ketika Bima mengatakan villa tersebut," jawab Dewa.


"Aku memang baru mengetahuinya. Dulu pas kamu memberikan aku tugas ke sini. Aku tidak pernah lewat sini. Jujur akses ke sini itu sangat susah sekali. Anak-anak pernah berencana ke sini akhirnya gagal total. Kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Lombok," jelas Sascha.


"Antonius," panggil Dewa.


"Iya Ada apa Tuan?" tanya Antonius.


"Apakah asistenku tidak ngasih tahu di mana aku akan tinggal?" tanya Dewa balik.


"Di alamat ini tuan. Asisten anda memberikan alamat ini dan foto ini," jawab Antonius sambil memberitahukan foto di dalam ponselnya.


Dewa melihat foto itu sambil mengganggukan kepalanya. Kenapa juga Timothy memberikan tempat seperti ini? Jujur saja tempat ini mulutnya sangat indah sekali. Meskipun akses sangat susah. Namun Dewa sangat menyukainya.


"Berarti benar kita tinggal di villa itu," tunjuk Dewa ke arah villa yang begitu mungil tapi kecil.


"Iya tuan. Kata Timothy tempat ini akan menjadi tempat tinggal Anda selama bulan madu," ucap Antonius.


"Kalau begitu kita ke sana," ajak Dewa sambil menggandeng tangan Sascha.

__ADS_1


__ADS_2