
Sore itu juga mereka meninggalkan markas. Mereka pergi ke suatu tempat yang sudah diberitahukan oleh mata-matanya Sascha. Mereka berharap pria tersebut mau diajak bekerjasama dengan mudah. Kalau tidak Bima yang akan menjadi senjata utamanya untuk menakut-nakutinya.
Di dalam perjalanan mereka sengaja tidak mengajak lainnya. Selama ini Dewa tidak memakai Timothy terlebih dahulu. Dewa menyuruh Timothy bersama Kobe mengurusi perusahaan DT groups. Karena Dewa ingin mengambil perusahaan Khans Company dan lalu sengaja mengakuisisi terlebih dahulu.
Kenapa bisa terjadi seperti itu? Karena mereka mengantisipasi agar si nenek sihir itu tidak melangkah terlalu jauh. Dewa sudah membicarakan hal ini secara matang kepada papa mertuanya itu.
"Semuanya sudah beres. Kita bisa mengakuisisi perusahaan milik Aulia. Aku yakin perusahaan itu bisa kembali lagi ke tangan sang pemilik aslinya," ucap Kobe.
"Apakah ini tidak bahaya?" tanya Timothy yang menghempaskan bokongnya duduk di hadapan Kobe.
"Tidak menjadi bahaya. Perusahaan itu bukanlah perusahaan milik si nenek sihir. Perusahaan itu sengaja dibangun oleh leluhurnya Aulia. Yang menjabat di perusahaan tersebut harus memiliki darah keturunan leluhurnya itu. Sedangkan si nenek sihir tidak memilikinya sama sekali. Si nenek sihir itu mengklaim kalau perusahaan tersebut milik pribadinya. Bahkan surat-surat yang ada di tangannya itu semuanya palsu. Tapi kalau palsu kok bisa ya dibuat mengurus segala sesuatunya?" tanya Kobe.
"Aku bingung. Lebih baik kita bicara dengan ini sama mereka. Malam ini akan ada pertemuan tiga mafia sekaligus. Pertemuan itu akan dilaksanakan di markas besar Black Tiger," jawab Timothy.
"Tujuan utamanya adalah ingin menghancurkan keluarga Atmaja. Lalu dirinya ingin merebut perusahaan tersebut. Tapi setelah dicek, si nenek sihir itu tidak mengambil apapun dari perusahaan Itu. Asetnya masih utuh dan juga beberapa dokumen-dokumen di sana masih tersusun rapi," ucap Kobe.
__ADS_1
"Dari mana paman tahu?" Tanya Timothy yang sangat penasaran sekali.
"Aku memiliki izin akses dari Papa Gerre. Aku sengaja ke sana dan memeriksa semua kelengkapan dokumen-dokumen tersebut. Bahkan dokumen-dokumen tersebut utuh dan tidak terjajar kemana-mana. Andaikan si nenek sihir itu mengambilnya pasti hilang semuanya dokumen-dokumen tersebut," jelas Kobe.
"Lah, si nenek sihir itu ternyata nggak bisa baca dan tulis. Bagaimana caranya kalau mengambil dokumen-dokumen tersebut? Kalau mengambil dokumen-dokumen tersebut maka si nenek sihir akan membayar orang untuk mempelajarinya terlebih dahulu. Bukannya orang tersebut bisa mengerjakan tugasnya. Malahan seluruh rahasia yang dimiliki oleh perusahaan Khans Company jatuh ke tangan yang salah. Siapa tahu perusahaan tersebut diambil oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab," ungkap Timothy yang membuat Kobe terkejut.
"Apa itu benar? Kalau dia tidak bisa baca dan tulis. Kenapa orang itu ingin sekali merebut perusahaan tersebut?" tanya Kobe.
"Inilah yang masih aku cari penyebabnya. Aku memang disuruh sama Dewa menurunkan beberapa mata-matanya untuk mengikuti si nenek sihir tersebut. Bahkan aku menyuruhnya untuk menjadi pengawal setianya demi mengorek informasi sekecil apapun dari si nenek sihir itu," jelas Timothy.
"Jujur ingin tertawa tapi takut dosa. Soalnya aku ketawa pada nenek-nenek yang sangat aneh itu," ucap Timothy.
"Ya sudahlah. Kalau begitu kita beritahukan saja satu fakta yang sungguh sangat aneh sekali," kata Kobe yang menahan tawanya.
Entah dari mana berita itu beredar kalau si nenek sihir tidak dapat membaca dan menulis? Namun kenyataannya itu benar. Si nenek sihir itu ternyata tidak bisa membaca dan menulis. Mereka berdua memiliki banyak cara agar si nenek sihir itu tunduk. Akan tetapi mereka berdua harus membicarakan hal ini dengan berbagai banyak pihak.
__ADS_1
Di dalam perjalanannya menuju ke sana, Dewa bersama Sascha dan juga Bima memiliki sebuah ide. Dewa akan menyuruh Bima untuk mengancam pria tersebut. Sedangkan Sascha diberikan tugas untuk mendesak pria itu. Agar pria itu mengakui apa yang dilakukan oleh nenek sihir tersebut.
"Jadi gini. Apakah kamu sedang membawa pisau Bim?" tanya Dewa.
"Kebetulan sekali aku membawanya. Memangnya kenapa? Apakah kalian ingin memetik buah?" tanya Bima.
"Sepertinya kalau memetik buah itu tidak asik sekali. Pisau itu bisa buat mengancam pria tersebut. Aku ingin kamu membuat pria itu ketakutan dan mau mengakui semuanya. Dan kamu Aulia, kamu harus membuat orang itu ketakutan. Tekan dia hingga mengaku semuanya. Katakan kalau pihak berwajib sudah menunggunya di depan rumahnya," perintah Dewa.
"Lalu kamu ngapain?" tanya Bima.
"Aku memilih hanya diam saja. Percuma kalau aku menanyakan kalau dia tidak jujur sama sekali. Bukannya aku menahan kesabaran. Malahan aku ingin menghajarnya habis-habisan," jawab Dewa dengan jujur.
"Ya baguslah. Jadi tidak perlu bersusah-susah payah agar pria itu mengakuinya," celetuk Sascha.
"Kamu ini ada-ada saja. Bisa-bisanya kamu mengatakan hal seperti itu. Seharusnya kamu mencari cara agar aku tidak memukul orang tersebut. Kalau aku melakukannya, orang tersebut tidak dapat bisa hidup kembali," jelas Dewa.
__ADS_1
"Apakah pukulanmu seperti pukulan tapak naga?" tanya Sascha yang asal bicara.