
“Mama tahu kalau kami sudah melakukan perjanjian sebelum kuliah?” tanya Dewa.
“Maksudmu?” tanya Tara balik.
“Sebelum kami melanjutkan jenjang pendidikan tertinggi. Kami memang membuat perjanjian yang di mana seluruh perusahaan mereka miliki akan dilebur menjadi satu. Mereka tidak mau saling berpisah satu sama lain. Jika itu terjadi maka aku bersama mereka bisa membuat perusahaan adidaya,” jawab Dewa. “Apakah mama paham soal itu?”
“Oh... Jadi itu maksudmu. Baiklah itu terserah kamu. Mama nggak ikut-ikutan kalau kamu ingin memperbesar dan bekerja sama dengan mereka. Tapi jangan lupakan saja ya?” jawab Tara sambil memperingatkan Dewa.
“Maksud Mama apa?” tanya Dewa.
“Jika kamu sukses nanti, jangan sampai menikah lagi dengan wanita manapun. Jika itu terjadi maka Mama yang akan marah sama kamu. Seluruh fasilitas yang kamu punya mama balikan namanya untuk Sascha!” perintah Tara dengan nada menekan.
“Memangnya ada ya, orang sukses selingkuh dengan wanita lain?” tanya Dewa.
“Contohnya Billi. Kamu tahu sebenarnya kalau Billi sebenarnya sudah menikah dengan wanita asal Australia. Tapi Billi tidak mengakui kalau dirinya pernah menikah,” jawab Tara.
“Ternyata Mama adalah mata-mata yang hebat. Entah bagaimana aku mengatakannya. Selama tinggal di Indonesia aku tidak tahu kalau Billi sudah menikah,” ucap Dewa sambil beranjak dari duduknya.
“Kamu itu jadi ketua mafia abal-abal. Kamu paham maksud Mama apa? Dari berita kecil milik Billi dan keluarganya Mama tahu semuanya. Kamu tahu kenapa Mama hingga menyelidikinya sampai mendetail? Karena mama tidak mau kehilangan Sascha,” ujar Tarra hingga membuat Dewa terkejut.
“Jadi selama ini Mama ingin menjodohkanku sama Sascha?” tanya Dewa.
“Betul sekali. Kamu harus tahu kenapa Mama ingin menjodohkan kamu dengan Sascha? Karena Sascha adalah wanita memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Gara-gara gadis itu perusahaan pusat tidak ingin Sascha pergi dari perusahaan tersebut,” jawab Tarra membuat Dewa kegirangan.
“Mama telat untuk melaksanakan perjodohan ini,” ejek Dewa yang membuat Tarra kesal.
“Dasar anak durhaka! Kalau begitu Mama tidak akan menjodohkan kamu dengan anaknya Gerre!” geram Tarra.
“Mama nggak boleh marah gitu. Aku sudah memiliki surat perjanjian sama Tuhan kalau Sascha adalah milikku selamanya,” ujar Dewa.
“Ngomong sama kamu sama saja ngomong sama tiang listrik,” kesal Tarra.
__ADS_1
“Selamat malam mama,” balas Dewa.
Sementara Sascha sedang diculik Dita untuk tidur bersama. Entah kenapa jika Dita berdekatan dengan calon kakak iparnya itu memiliki perasaan yang nyaman.
“Mbak,” panggil Dita dengan manja.
“Apa dek?” sahut Sascha dengan nada kocaknya.
“Kakak mau menikah dengan kakakku yang tengil itu?” tanya Dita dengan serius.
“Gini lho dek. Aku mau jawab apa ya?” tanya Sascha hingga membuat sang adik ipar menepuk jidatnya.
“Kakak tahu kalau Kak Dewa itu orangnya ngeselin. Nggak mau ngalah. Pengennya menang terus. Pengennya jadi istimewa. Ditambah lagi Kak Dewa itu sifatnya ingin menang sendiri. Kan aku kesel jadi adiknya,” jawab Dita yang membuat Sascha tertawa.
“Aish... Kok kakak malah tertawa?” tanya Dita lagi.
“Lagian kamu itu lucu. Bisa-bisanya membuka kartu as kakakmu ke calon istrinya. Untung saja aku tahu sebelum kamu mengatakannya,” jawab Sascha hingga membuat Dita terkejut.
“Ya... Sudah tahu semuanya. Meskipun belum berpacaran aku sudah mengenal sifat Kak Dewa itu,” sahut Sascha.
“Apakah kakak nggak kecewa dengan sifatnya itu?” tanya Dita.
“Kakak nggak pernah kecewa dengan sifatnya ingin menang sendiri. Tapi kamu belum tahu sesungguhnya Kak Dewa. Kak Dewa itu adalah seorang pria dewasa yang di mana dirinya mementingkan keluarganya. Kalau kamu berpikiran bahwa kakakmu itu ingin menang sendiri itu salah. Aku tahu kamu pernah bersiteru dengan kak Dewa. Kamu tahu masalahnya apa sebenarnya pada waktu itu? Kamu itu sedang dijebak oleh lawan mainmu yang ingin menghancurkanmu. Sebelum semuanya terlambat maka aku dan kakakmu sudah mengetahuinya. Makanya Kak Dewa langsung mengambil sikap untuk menyelamatkanmu terlebih dahulu. Kak Dewa sengaja menghancurkan karirnya,” jelas Sascha.
“Jadi selama ini aku tidak tahu? Kenapa Kak Dewa nggak pernah cerita?” tanya Dita yang membuat Sascha mengangguk pelan.
“Kamu jangan menyesali perbuatan kakakmu itu. Kamu tahu jika kakakmu tidak melakukannya maka kamu akan terjebak oleh pria hidung belang di klub malam itu,” jelas Sascha.
Flashback On.
Cerita Dita dijebak.
__ADS_1
Malam itu Bima dan Sascha sedang mengadakan pertemuan dengan klien di salah satu klub malam. Sebelum mereka bertemu klien, Sascha melihat ada dua orang gadis yang cukup dikenalnya. Ia tidak sengaja melihat kedua gadis itu duduk di depan mejanya. Akan tetapi Sascha meminta izin terlebih dahulu untuk ke toilet. Hanya beberapa menit Sascha kembali dari toilet. Ia duduk membelakangi kedua gadis itu sambil menscroll tabnya.
Tak sengaja gadis berparas cantik itu mendengar percakapan mereka dengan jelas. Awalnya Sascha tidak ingin mendengar percakapan mereka. Namun mereka menyinggung nama Dita. Setahu Sascha mereka adalah lawan main di salah satu sinetron Indonesia yang cukup terkenal. Mau tak mau Sascha mendengarkan secara mendalam. Hingga mereka merencanakan sesuatu. Perasaan Sascha sudah tidak enak karena menyangkut adik angkatnya itu.
“Kok perasaan aku enggak enak ya?” tanya Sascha dalam hati
Tak lama Bima datang bersama klien. Saat itu juga Sascha segera mengenyahkan perasaan itu terlebih dahulu. Mereka akhirnya meeting bersama dengan suasana yang agak menegangkan.
Keesokan paginya Sascha sudah sampai kantor. Ia berlari mencari Dewa di kantornya. Namun Dewa saat itu belum datang. Terpaksa dirinya menunggu Dewa di dalam kantornya.
Sepuluh menit kemudian Dewa datang bersama Timothy. Ia segera menarik Dewa ke rooftop kantornya tersebut. Dengan terpaksa Dewa menurutinya dan tidak bertanya apapun.
Setelah sampai di sana Dewa memandang lekat wajah Sascha. Ia tidak mengerti dengan keadaan sahabatnya itu. Sebelum bertanya Dewa langsung memeluknya sambil bertanya, “Apakah meeting bersama klien tadi malam ada kendala?”
“Tidak. Semuanya berjalan lancar sesuai keinginan kamu,” jawab Sascha dengan membalas pelukan Dewa.
“Lalu?” tanya Dewa.
“Di mana Dita sekarang?” tanya Sascha balik.
“Dita sedang istirahat. Adikmu itu kecapean gara-gara syuting dua hari berturut-turut tanpa jeda,” jawab Dewa yang bahagia karena Sascha memperhatikan adik perempuan satu-satunya itu.
“Kalau begitu dengerin aku baik-baik. Tolong jangan bicara sama Dita. Aku kemarin meeting bersama Kak Bima duduk bersebelahan dengan lawan mainnya Dita. Aku tidak sengaja mendengar kalau mereka ingin melemparkan Dita ke pria hidung belang. Mereka sangat membenci kita setelah mendapatkan peran yang cukup banyak di sinetron itu,” jelas Sascha.
“Maksudnya?” tanya Dewa yang tidak paham.
“Kamu kok nggak paham sih?” kesal Sascha.
“Gimana mau paham jika aku tidak mengenal seluruh teman-teman Dita. Padahal aku sering mengantarkannya syuting,” jawab Dewa tersenyum karena membuat Sascha kesel pada pagi ini.
“Maksudnya apaan ya?” tanya Sascha yang bingung.
__ADS_1