Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
KITA NIKAH YUK!


__ADS_3

“Kamu sudah makan?” tanya Sascha.


“Aku belum makan dari siang tadi,” jawab Dewa.


“Kalau begitu lepaskanlah aku. Aku ingin memasak,” pinta Sascha.


“Kamu mau masak apa?” tanya Dewa yang melepaskan Sascha lalu memandang wajah sang kekasih.


“Nggak ada nasi ya?” tanya Sascha.


“Ada,” jawab Dewa. “Kamu mau masak apa?”


“Nasi goreng spesial. Kalau kamu sudah kelaparan begini, aku yang kamu ganggu,” jawab Sascha.


“Masaklah... Aku akan duduk seperti anak kecil menunggu sang ibu memasak,” ucap Dewa yang mendapat pukulan dari Sascha.


“Benarkah itu?” tanya Sascha.


“Iyalah... Kamu kan calon ibu dari anak-anakku,” jawab Dewa sambil menarik kursi lalu duduk manis. “Oh iya... Saran apa yang Dita berikan padamu?”


“Dita memberikan saran kalau aku harus cepat-cepat hamil. Jika tidak Billy dan keluarganya bisa menyuruhku kembali,” jawab Sascha sedang mengambil barang-barang yang berada di paperbag.


“Kok sama ya... Pemikiran Dita sama aku?” tanya Dewa yang membantu mengeluarkan barang-barang tersebut dari paperbag.


“Maksud kakak?” tanya Sascha yang tidak paham.


“Aku memang merencanakan hal itu dari sore tadi. Jujur cepat atau lambat mereka akan memintamu kembali,” ucap Dewa.


“Kakak tahu nggak... Kalau Billy sudah menikah dengan Risa. Aku agak tenang soal itu. Tapi di sisi lain Billy akan memakai cara untuk merebut aku dari kakak. Kemungkinan juga keluarganya akan ikut. Beberapa hari terakhir aku memikirkan hal ini. Aku belum ada solusi agar masalah ini terpecahkan. Mereka sangat mengerikan ketimbang Mama Tara yang menjadi ketua mafia Aku harus bagaimana sekarang? Apakah aku harus membuat mereka masuk dalam penjara. Tapi aku tidak tega. Inilah kelemahanku selama ini tidak bisa membiarkan orang menderita. Carikan aku solusi Kak enaknya gimana?” tanya Sascha dengan wajah sendu.


“Pemikiranku sama pemikiran Dita pasti ada maksudnya. Jika kamu memiliki anak, Aku pastikan kamu tidak bisa kemana-mana. Yang artinya kamu sudah terikat bersamaku. Yang menjadi ikatan kita adalah Dewa junior. Semoga kamu paham dengan ini semua,” jelas Dewa yang membuat Sasha terkejut.


“Mending kita nikah saja ketimbang bahas merajut Benang Kusut seperti ini. Makin lama makin pusing mikirin masalah ini. Aku sudah bilang, kalau aku adalah milik kakak. Kalau nikah ujung-ujungnya punya anak. Benar kan apa yang aku katakan?” ujar Sascha yang membuat Dewa tersenyum manis.

__ADS_1


“Memang benar. Kenapa juga pusing-pusing mikirin itu. Ujung-ujungnya juga ke kantor catatan sipil, tanda tangan surat lalu resmi menjadi pasangan suami istri. Terus kamu keberatan?” tanya Dewa yang merajuk.


“Ya nggaklah. Kenapa juga keberatan? Lagian kita kan sudah sehati. Pemikiran kita juga sama. Lalu mau apa lagi. Biarkanlah mereka memintaku kembali. Meskipun dunia berantakan aku tetap menjadi istri Kakak,” celoteh Sascha sambil meraih pisau.


“Ya sudah... Jangan bersedih seperti itu. Aku mau kamu tidak takut lagi sama mereka. Biarkanlah mereka mengusik keluarga kita. Kita mempunyai landasan pernikahan yaitu saling percaya. Apalagi kita di lingkungan bisnis. Aku sama kamu adalah ahli waris. Setelah itu aku akan menggabungkan seluruh perusahaan menjadi satu. Pekerjaan semakin banyak. Kalau kita memikirkan soal itu, kita akan hancur sendiri. Lihatlah ke depan jangan ke belakang. Toh kamu juga yang akan untung jika melihat ke depan,” saran Dewa yang membuat Sascha menganggukan kepalanya.


“Untungnya bagaimana?” tanya Sascha.


“Kamu tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama. Itulah mengapa kamu harus lurus ke depan. Pokoknya yang penting kita memiliki landasan kepercayaan. Semenjak kita berkenalan, kita memiliki landasan kepercayaan itu sendiri. Oh iya... Ponselku Kok tidak berbunyi sama sekali?” tanya Dewa.


“Kenapa? Apakah rusak?” tanya Sascha sambil membersihkan bahan-bahan makanan.


“Seluruh anggota Black Tiger pada ke mana semua?” tanya Dewa.


“Apakah kakak akan mengadakan pertemuan?” tanya Sascha yang menghentikan pekerjaan sementara.


“Sepertinya... Kamu harus ikut. Aku ingin kamu ikut membangun Black Tiger,” pinta Dewa.


“Baiklah,” balas Sascha.


“Lho... Tumben Mama ke sini?” tanya Bima.


“Ada yang perlu Mama omongin,” jawab Tara.


“Masuklah ma.... Kita ngobrol di dalam saja. Sekalian Mama menginap di sini nggak papa!” ajak Bima yang mempersilakan Tara masuk.


“Apakah kakak tidak membiarkan aku masuk ke dalam?” tanya Dita yang menatap horor Bima.


“Eh.... Dita. Apa kabar?” tanya Bima sambil cengengesan.


“Kabarku baik kak,” jawab Dita yang melepaskan jaketnya. “Apakah ada Kak Tommy?”


“Kamu itu selalu nyari Kak Tomi saja. Sekali-sekali kek cari yang namanya cowok ganteng ini yang namanya Bima,” kesal Bima.

__ADS_1


“Ogah... Kan Kak Bima sudah punya pacar banyak,” jawab Dita dengan jujur.


Bima langsung terdiam dan menatap sendu Dita. Entah kenapa jawaban Dita sangat menohok hatinya. Adik yang selama ini disayanginya ternyata sudah menyakitinya. Diam-diam Dita memberikan coklat buat Bima.


“Ketimbang Kak Bima nangis, aku berikan sebuah coklat ini untuk kakak,” ucap Dita dengan tulus hingga membuat Bima mengangguk-nganggukkan kepalanya.


Di ambang pintu Tommy berdiri sambil melihat Dita dan Bima sambil menahan tawa. Ia benar-benar melihat Bima seperti pria yang habis putus dari pacarnya. Tommy segera mendekati Dita dan meraih tangan mungil itu.


“Kasihan sekali ya kakakmu itu,” tunjuk Tommy ke arah Bima.


“Enggak,” sahut Dita secara blak-blakan.


“Dita,” panggil Bima dengan lirih dengan wajah dimelas-melasin.


“Ada apa kak?” tanya Dita sambil mengerutkan keningnya.


“Jujur sekali jawaban kamu itu. Untung saja aku tidak patah hati,” ujar Bima.


“Pastilah. Kenapa juga ditutup-tutupi? Memang kenyataannya begitu,” ucap Dita yang menimbulkan gelak tawa Tommy.


“Puas lo ketawa!” geram Bima yang meninggalkan Tommy dan Dita.


“Kakakmu itu sangat lucu sekali. Ingin rasanya aku mengerjainya,” ucap Tommy sambil tertawa.


“Bukan lucu lagi... Kak Bima sering menghiburku ketika lagi sedih,” ucap Dita.


“Kenapa nggak meminta aku untuk menghiburmu?” tanya Tommy.


“Ish... Kakak... Hampir setiap hari Kakak sangat sibuk sekali. Bayangkan saja setiap hari mendata para pegawai dari a sampai z dari ujung Kota Sabang hingga Merauke. Mana mungkin aku bisa ganggu kalau seperti itu,” jawab Dita yang berkata jujur.


“Maafkanlah... Inilah namanya tuntutan pekerjaan,” ujar Tommy. “Kalau ada masalah dengan pegawai di luar kota aku langsung berangkat. Bahkan aku tidak pulang paling lama seminggu. Aku harap kamu bisa memaafkanku.”


“Kita nikah yuk,” ajak Dita yang membuat Tommy berteriak kegirangan di dalam hatinya.

__ADS_1


“Apakah kamu serius?” tanya Tommy.


 


__ADS_2