Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
PAGI YANG APES.


__ADS_3

“Jangan takut menghadapi Tuan Dewa. Aku begini ada alasannya. Setelah sampai aku akan cerita Kenapa jadi begini dan tujuanku seperti apa?” jawab Sascha yang membuat Marty lega.


“Kalau begitu ya sudahlah Kak. Jujur, aku takut dipecat. Dari kecil aku sudah di Black Tiger,”ucap Marty yang keceplosan.


“Kamu serius di sana? Apakah kamu anggota Black Tiger?” tanya Sascha.


Marty tidak sadar kalau dirinya adalah anggota Black Tiger. Seharusnya Marty tidak boleh membuka identitas sebenarnya. Namun Marty sekarang terjebak dalam masalah. Ia akan mendapatkan sanksi dari sang ketua.


“Kalau kamu anggotanya Black Tiger maka nggak perlu takut untuk membuka rahasiamu ke aku. Aku sendiri adalah anggota terbaru dari Black Tiger. Maka kita bisa sharing tentang penyerangan musuh secara tertutup maupun terbuka. Apakah kamu paham?” tanya Sascha.


“Aish... Kakak sangat mengerikan. Jika benar Kakak anggota Black Tiger, maka Kakak setara dengan sang ketua yang berada di pusat,” ungkap Marty yang memuji Sascha namun hatinya ketar-ketir karena takut.


“Kamu nggak perlu takut gitu. Aku bisa saja menjadi lemah lembut seperti putri keraton atau menjadi barbar. Tinggal milih saja antara itu dan itu hingga membuat Marty tersenyum.


“Jujur Kak... Aku sendiri takut sama kakak. Memang dari dulu aku sudah melihat potensi kakak yang nyeleneh dari cewek-cewek lain di kantor. Bahkan Kakak sendiri memiliki jiwa bar-bar yang sudah mendarah daging dalam tubuh. Aku bingung mau jawab apa. Semoga Tuan Dewa tidak takut kepada kakak,” ujar Marty yang membuat Sascha tertawa terbahak-bahak.


“Nggak perlu takut. Aku masih makan nasi sama ikan kok,” kata Sascha. “Bagaimana dengan kantor semenjak penyerangan keluarga Billy yang membuat orang-orang kaget?”

__ADS_1


“Biasa, nggak terlalu menarik. Aku nggak tahu kenapa mereka menyerang. Kemungkinan juga mereka belum puas nyakitin kakak,” jawab Marty.


“Biarkan saja. Aku nggak ada masalah kok. Kalau mereka ingin nyakitin, ya sakitin aja. Lagian juga aku bukan siapa-siapanya mereka. Aku punya keluarga, punya teman, punya saudara, punya anak asuh dan beberapa hewan peliharaanku. Mereka nggak berhak mencampuri hidupku apalagi meminta uang kepadaku. Kamu tahu selama ini aku bodoh. Sering dibohongi, ditipu, direndahkan bahkan diinjak di depan umum. Jadi mulai saat ini yang namanya Sascha dulu sudah mati. Aku adalah wanita tangguh lahir dari keluarga tangguh,” ucap Sascha yang membuat Marty mengangguk setuju.


“Aku setuju pendapat kakak. Aku sangka Kakak nggak bisa bangkit lagi. Mereka menorehkan luka yang cukup dalam di hati. Aku masih mengingat bagaimana ibunya Billy memaki kakak di depan umum memakai nama-nama penghuni kebun binatang. Saat itu aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bukannya nggak bisa, kalau aku menyerang ibunya Billy di depan umum bisa-bisa masuk penjara. Jadi lebih baik aku memutuskan untuk diam. Selama ini Kakak nggak tahu kenyataannya bagaimana. Mamanya Billy sengaja membuat kakak jatuh miskin dan banyak hutang di mana-mana. Setelah mendapatkan semuanya dari kakak, maka mamanya Billy menyuruh anaknya pergi dari sisi. Aku sudah menyelidiki kasus ini bersama temanku. Aku ingin memberitahukan kepada kakak, Tapi saat itu Kakak sedang keras kepala. Jadi terpaksa aku memberitahukan ini ke Tuan Dewa,” jelas Marty.


“Nggak apa-apa. Yang penting aku sudah mengetahui siapa mereka. Aku ingin menjalani hidup normal seperti kalian. Tanpa ada yang membelenggu dan menikmati hidup dengan indah,” ungkap Sascha dengan bahagia.


Sesampainya di kantor, Marty menurunkan Sascha di depan lobby. Setelah menurunkan Sascha, ia memarkirkan mobilnya di VVIP. Sedangkan Sascha langsung masuk ke dalam. Tiba-tiba saja sang resepsionis yang bernama Liodra menatap jenis ke arah Sascha.


“Suruh siapa  masuk ke sini? Bukannya elu Sudah dipecat sama Pak Tommy? Lu sudah nggak berhak di sini apalagi kaki lu nginjek di perusahaan ini. Lu itu sok kecantikan banget. Pak Dewa lo buat tebengan agar melancarkan aksi lo untuk dapetin uang,” ujar Liodra yang sangat membenci Sascha.


Ketika masuk ke dalam, liodra mengejarnya dan menarik rambut Sascha. Wanita bertubuh semok itu langsung menghajar Sascha secara membabi buta. Iya sangat sial hari ini sebab dirinya sudah dihajar sebanyak dua kali. Bayangkan saja Sascha jago beladiri dan menembak bisa mendapati kenyataan seperti ini. Bagaimana Dewa tahu, kalau sang kekasih terkena sial bertubi-tubi.


“Lepasin nggak!” bentak dengan nada meninggi.


“Ngapain ngelepasin elu. Gara-gara elu gue nggak dapat apa-apa dari Pak Dewa!” bentak Liodra.

__ADS_1


“Ngapain juga ngarepin ya nggak pasti. Dan seenak jidatnya lu nuduh gue yang nggak-nggak. Sekarang lepasin gue atau lu tetap gini sampai cowok idaman lu turun dan siap-siap dapat surat pemecatan dari cowok idaman lu sendiri. Kalau lu nggak percaya sudah. Gue sudah memperingati elu,” kata Sascha.


“Gue nggak peduli dapat surat pemecatan dari Pak Dewa. Gue paling seneng buat muka elu yang sok kecantikan itu rusak. Sudah ku peringati berkali-kali soal Pak Dewa. Tapi lu ngeyel dan sekarang gue akan mengajar lu habis-habisan,” geram Liodra.


“Terserah lu. Gini aja sampai istirahat nggak usah berhenti. Kalau berhenti gue minta Pak Dewa untuk mecat lu sekarang juga. Apa lu mau?” tanya Sascha.


Kata demi kata keluar dari mulut seksi Sascha. Ia sendiri bingung dengan gertakannya. Mungkin saja dirinya terlen  efek penyerangan Risa. Namun dirinya masih bisa bertahan hingga detik ini. Marty yang baru saja selesai memarkir mobil melihat Sascha diserang oleh Liodra. Matanya membulat sempurna dan mulutnya menganga. Ia hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Akhirnya Marty mendekati Liodra sambil berkata dengan nada dingin.


“Lepasin Sascha atau lu tahu akibatnya!” bentak Marty.


“Gue nggak akan ngelepasin cewek sialan ini begitu saja! Gue akan membuat cewek ini menderita!” bentak Liodra.


Sascha sudah bosan dengan Liodra lalu tangannya memegang rambutnya. Ia sudah muak dengan keadaan seperti ini. Semakin lama diberi kesabaran, Sascha sering sekali ditindas. Sudah berpuluh kali Liodra sering membuat kekacauan badan memfitnah gadis cantik itu.


“Lu enggak bosan apa gini terus?” tanya Sascha.


“Gue akan bosan jika wajah lu yang sok itu lenyap dari bumi ini!” bentak Liodra.

__ADS_1


“Lepasin gue!” teriak Sascha yang melihat jam di dinding.


 


__ADS_2