
“Ya kami akan memasaknya. Nona tidak perlu capek-capek memasak untuk kebutuhan mereka,” jelas salah satu pengawal yang berada di samping Marty
“Terima kasih,” ucap Sascha. “Aku pergi dulu ya.”
“Ya... nona. Silahkan anda pergi terlebih dahulu,” jawab Marty yang tersenyum manis.
Melihat Marty yang tersenyum, salah satu pengawal tersebut mengerutkan keningnya. Ia menatap Marty lalu bertanya, “Bos... kok kamu tersenyum begitu?”
“Aku tersenyum begitu karena membalas senyumannya Nyonya Sascha. Jujur aku memang mengakui kalau Nyonya Sascha senyumannya sangat manis seperti gula,” jawab Marty. “Apalagi orangnya sangat baik sekali kepada sesama.”
“Kok dipanggil nyonya? Memangnya dia sudah menikah?” tanya pengawal itu.
“Iya. Dia udah menikah Her,” jawab Marty.
“Dengan siapa dia menikah?” tanya Heri yang benar-benar ingin tahu tentang Sascha.
“Dia sudah menikah dengan ketua mafia Black Tiger,” jawab Marty.
Jeder...
Bagai petir di siang bolong. Pengawal yang bernama Heri itu sangat terkejut. Ia baru mengetahui kalau Sascha sudah menikah dengan Dewa.
“Sepertinya aku tidak ada harapan lagi?” tanya Heri.
“Ya... enggak ada harapan. Lu sama Tuan Dewa jauh wajahnya. Lu itu kalau disandingkan dengan Sascha. Bagai bumi dan langit,” ucap Marty yang membuat Heri mundur alon-alon.
Seketika Heri menjadi lemas dan memutuskan untuk tidak mengejar Sascha. Kemudian Heri dan Marty memutuskan untuk memasak nasi terlebih dahulu.
Sascha masuk ke dalam kamar dan mengganti bajunya. Di dalam kamar sudah ada Dita. Ia tidak mau keluar karena malu ada Tommy di ruang tamu. Dengan jahilnya Sascha akhirnya meledek Dita habis-habisan.
“Ada yang datang nih,” ucap Sascha.
“Kakak mah gitu,” kesal Dita yang tidak berani menunjukkan wajahnya.
Sascha semakin gemas terhadap Dita. Dengan senyumnya yang mengembang Sascha akhirnya memegang tangan Dita lalu berkata, "Nggak usah malu. Lagian juga dia kekasihmu."
"Aku nggak malu Kak," jawab Dita.
"Sepertinya abangmu habis potong rambut ya? Modelnya sudah kayak Jungkook BTS," ucap Sascha.
"Iya sih Kak. Itulah yang membuat aku malu. Terkadang Kak Tommy tu ada-ada saja. Rasanya ingin menemuinya," sahut Dita.
__ADS_1
"Sudah temui saja sana. Jangan ragu-ragu untuk mengajaknya jalan ke pasar malam," ucap Sascha yang memberikan saran kepada Dita untuk malam nanti.
"Ide yang sangat bagus sekali. Tapi aku tidak akan pernah mau ke sana untuk malam ini. Karena malam ini adalah malam bakar-bakar ikan," jelas Dita sambil memajukan kepalanya dan memberikan rambutnya. "Kak usapin dong rambutku."
Dengan senang hati Sascha akhirnya mengusap rambut Dita. Kemudian mereka tertawa bersama karena membayangkan sesuatu. Setelah itu mereka memutuskan untuk keluar dari kamar. Mereka melihat Bima dan Ian duduk di sofa panjang.
"Tumben kalian duduknya mojok-mojokan. Biasanya kalian duduknya berbarengan dan berdempetan," ledek Dita.
"Kalian ini ada-ada saja. Oh ya Aku ingin ngomong sama Sascha," sahut Bima.
"Pasti membahas tentang kematiannya Fatin?" Tanya Sascha.
"Sepertinya tidak. Jujur aku malas sekali untuk membahas kematiannya Fatin. Aku ingin membahas yang lain," jawab Bima dengan blak-blakan.
"Berdua atau sendiri nih?" Tanya Sascha.
"Berdua saja juga nggak apa-apa. Biar suamimu itu tidak terlalu over sama kamu," jawab Bima.
"Oh ya sudahlah," sahut Dita yang tidak pergi dari tempatnya.
Lalu mereka menghempaskan bokongnya di hadapan Bima. Mata Bima memandang mata Sascha dan juga Dita. Setelah semuanya sudah ternetralisir dengan baik, Bima berkata, "Kamu tenang saja. Musuh utamamu sudah keok. Dia sudah tidak bisa ngapa-ngapain lagi. Bisa dikatakan Dia itu sekarang berada di jalanan."
"Kok bisa Kak?" Tanya Sascha.
"Masalahnya cuman satu Kak. Bagaimana dia pergi meninggalkan dunia ini?" Tanya Dita yang masih kesal terhadap Cathy.
"Hayah... Bisa-bisanya dia hanya mencari sensasi. Aku tahu dia hanya bersandiwara lalu memakai air matanya. Agar semua orang yang lewat mau mengakuinya. Dia juga suka banget bermain kata-kata," jawab Sascha dengan jujur.
"Kamu tahu dari mana?" Tanya Ian.
"Ya... Aku tahu semuanya dari mata-mataku. Aku memang sengaja menguntitnya dan membiarkan nenek-nenek itu hidup. Sebenarnya dia masih memiliki kekuatan lebih. Sangking lebihnya, dia memilih diam," jawab Sascha yang sudah menyuruh mata-mata Black Swan.
"Apakah kamu memakai Black Swan?" tanya Ian lagi.
"Iyalah. Sekarang Black Swan berada di pihakku. Aku sudah diberikan kunci sama papa untuk mengendalikannya," jawab Sascha kepada Ian. "Papaku kemana?"
"Ada. Setelah keluar bandara, papamu minta diturunkan ke Bangkok. Lalu papa pergi ke Amerika kemarin," jawab Ian yang membuat Sascha menggeleng.
"Ini sangat aneh sekali. Papaku kok nakal gitu?" tanya Sascha.
"Kamu tenang saja. Jangan pernah bingung dengan keadaan. Papamu memiliki mata batin yang kuat. Beliau bisa mengerti mana musuh dan pengawal. Beliau juga tahu kalau Cathy dan Damar tidak boleh mengunjungi negara mana saja. Maka dari itu papamu sengaja turun ke Bangkok," jelas Ian.
"Kenapa harus di Bangkok?" tanya Dita yang membuat Bima terkekeh.
__ADS_1
"Cathy dan Damar pernah membuat ulah dan memaki perempuan jadi-jadian. Mereka akhirnya di blok sama pihak pemerintah di sana," jawab Bima.
"Tanggung amat ya. Ya sudah kalau begitu," ucap Sascha. "Aku tidak akan mencari informasinya."
"Enggak usah mencari informasinya. Biarkan saja. Orangnya sudah tidak ada," ucap Ian.
"Baiklah. Terima kasih," sahut Dita.
"Buat apa?" tanya Bima.
"Buat ngajakin Kak Tommy kesini," jawab Dita yang mendapatkan toyoran dari belakang.
"Augh," kesal Dita.
"Lagian ngapain juga minta terima kasih kepada Bima," ucap Dewa yang membuat Sascha tertawa.
"Kak Dewa," seru Dita.
"Ngapain juga berteriak? Lagian Tommy kesini maunya dia," ucap Dewa.
Bima dan Ian terkekeh melihat pertengkaran antara Dewa dan Dita. Mereka selalu saja begitu ketika sedang berkumpul. Lain halnya Sascha, Sascha hanya bisa tersenyum melihat mereka yang sedang bertengkar. Lalu Sascha memutuskan untuk melihat ikannya yang dari sawah.
Dengan cepat tangan kekar Dewa memegang lengan Sascha. Sascha menatap Dewa sambil bertanya, "Ada apa?"
"Biarkan para pengawalnya memasak ikan tersebut," jawab Dewa.
"Lalu bagaimana dengan nasinya?" Tanya Sascha yang khawatir kehabisan beras.
"Mereka sudah membeli beras di warung. Sekarang kamu tenang dan duduk disini," jawab Dewa yang menyuruh Sascha duduk di kursi.
Sascha menganggukan kepalanya dan kembali ke posisi semua. Ia meraih ponselnya sambil melihat penjualan harga saham.
"Kapan kembali?" tanya Bima.
"Habis terjual rumah ini," jawab Dewa.
"Kalau begitu aku tawarin ya ke teman-temanku?" tanya Bima.
"Tidak perlu. Bryan sudah menolongku," jawab Dewa.
"Baiklah. Apapun barang yang dijual Bryan pasti langsung ludes," celetuk Ian.
"Kok bisa?" tanya Sascha.
__ADS_1