
Tidak sengaja Dewa mendengar perkataan Sascha. Dirinya sangat terharu dan langsung memeluk sang istri dari belakang. Jujur saja Dewa sangat mencintai sang istri begitu tulus. Semua yang dimilikinya sudah cukup untuk dirinya. Seketika Dewa memandang wajah Sascha sambil tersenyum, "Terima kasih sayangku."
"Itulah yang dinamakan cinta sejati. Mencintai tanpa harus meminta. Aku harap kalian bisa hidup bahagia selamanya," ucap Ian kepada Dewa dan Sascha.
"Tapi ingatlah satu hal. Masih ada Billi dan keluarganya. Aku takut mereka akan menyerang kalian lagi," pesan Eric.
Entah kenapa pasangan itu saling menatap wajah Eric. Mereka tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Jujur setelah Eric mengingatkan hal itu mereka tidak akan lengah untuk mendapat serangan dari keluarga Billi.
"Untung saja kamu mengingatkan aku pada keluarga itu. Jika tidak aku berlarut ria pada kebahagiaanku ini. Kalau begitu aku akan memberikan orang untuk memata-matai mereka. Aku yakin mereka sedang membuat rencana dan memaksa Sascha menikah dengan Billi," tambah Dewa.
"Aku yakin istrimu itu tidak akan mau memilih Mereka lagi. Biar dari kelompokku saja yang menjadi mata-mata mereka," ucap Ian.
"Aku masuk dulu ya," pamit Eric.
"Baiklah. Biasanya kakek jam segini masih berada di kamar untuk melakukan meditasi. Rasanya aku ingin mencobanya," ujar Dewa.
"Sasha bisa melakukannya," celetuk Erc yang mengetahui Sascha bisa melakukan meditasi.
"Ish... Pak Eric ini buka-buka kartu saja. Kalau dulu iya sering melakukannya. Kalau sekarang jarang melakukannya. Bisa dipastikan aku sangat sibuk sekali melakukan pekerjaan kantor maupun rumah," sahut Sascha.
"Ditambah lagi dengan teman barumu itu yang menemanimu sepanjang masa," ledek Ian sambil tersenyum manis menatap Dewa.
"Kalian bertemu kakek atau ngobrol di sini?" tanya Dewa dengan kesal karena mengganggu ketenangan sang istri.
__ADS_1
"Bucin banget ya kamu lama-lama?" sindir Ian sambil berlari masuk ke dalam dengan diikuti Eric.
"Aku nggak bucin. Tapi kalian sudah mengganggu istriku," Dewa berteriak dengan kencang.
"Aku merasa tidak diganggu," ucap Sascha sambil menatap kepergian kedua atasannya itu.
"Kamu lagi apa di sini?" tanya Dewa.
"Aku sedang membuat boneka salju. Sedari dulu aku ingin membuatnya namun belum kesampaian," jawab Sascha.
"Kalau begitu aku bantu kamu untuk membuatnya. Mari kita buat boneka salju bersama," seru Dewa lalu membantu Sascha membuat boneka salju.
Hampir tiga jam mereka berhasil membuat boneka salju. Mereka memasang boneka salju itu di sudut halaman rumah kakek Aoyama. Sementara di atas kakek Aoyama sedang melihat kedua cucunya asyik membuat boneka salju. Ada senyum merekah di bibirnya itu. Andai saja jika sang istri masih hidup kemungkinan besar akan bahagia selamanya.
Namun kakek Aoyama tidak akan pernah menyesali perbuatannya itu. Ia sangat bahagia dan menatap langit yang bersih tanpa adanya polusi udara. Jika saja saat itu ia tidak melakukan perjalanan bisnis, tentu saja sang istri masih bisa selamat. Akan tetapi yang namanya takdir akan terjadi juga. Satu kata di dalam hati sang kakek adalah menyesal.
"Ada apa?" tanya kakek Aoyama tanpa menoleh sedikitpun.
"Maafkan aku pa. Semalam aku tidak hadir dalam eksekusi Risa dan keluarganya," jawab Tara.
"Tidak apa-apa. Aku tahu hatimu sangat sakit sekali," ucap kakek oyama yang mengerti perasaan Tara.
"Iya itu benar pa. Aku masih teringat akan Devan berpaling dariku ketika hamil Dewa. Aku tidak menyangka kalau Melly sengaja membuat rumah tanggaku hancur. Untung saja saat itu Devan sadar atas kelakuannya itu," kata Tara.
__ADS_1
"Kamu tahu Devan itu sangat mencintaimu. Saking cintanya Devan tidak akan pernah melepaskan kamu sedikitpun. Devan juga menyesal saat itu. Jika sampai terjadi Devan tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. Untunglah saat itu kamu sangat bersabar atas kejadian ini. Nggak kamu saja yang menjadi korban mereka. Banyak orang-orang yang rumah tangganya hancur disebabkan oleh mereka," jelas Aoyama sambil menoleh melihat Tara. "Kamu tahu menantumu itu yang telah membunuh Risa."
Seketika Tara terkejut. Bagaimana bisa menantunya yang kalem itu ternyata bisa membunuh? Tara menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Itu tidak mungkin pa. Sascha tidak akan membunuh orang walaupun itu musuhnya sendiri."
"Jika kamu tidak percaya, tanyakan saja pada Dewa. Cobalah yang menjadi saksi bisu tentang pembunuhan Risa," tambah kakek Aoyama.
Kemudian Tara mengingat kejadian demi kejadian antara Risa dan Sascha. Risa seringkali mempermalukan Sascha di depan umum. Bahkan Risa mengolok-olokkannya di media sosial. Sering sekali Sascha menjadi bahan bulian orang-orang di sosial media. Setelah itu Tara sadar dan menatap kakek Aoyama.
"Oh iya pa. Aku percaya dengan ucapan papa. Selama ini aku melupakan Risa yang selalu mempermalukan Sascha di depan umum. Yang lebih parahnya lagi menantuku itu sering terkena sanksi sosial dan hujatan-hujatan dari warga dunia maya. Akhir-akhir ini Sascha sudah tidak mau main lagi itu. Mentalnya juga tidak kuat menghadapi mereka yang menghujat dirinya. Maafkan aku Pa," ucap Tara yang baru sadar dengan kondisi Sascha.
"Itulah kenapa menantumu melakukannya sendiri. Aku tahu perasaannya saja saat ini. Satu kata yaitu hancur. Bayangkan saja setiap hari bertemu Risa selalu saja mendapatkan perlakuan yang tidak enak. Kalau aku menjadi dirinya juga sama rasanya seperti itu," imbuh Kakek Aoyama.
"Biarkanlah seperti itu. Jujur saja aku tidak pernah menginginkan menantuku menjadi jelek di mata masyarakat. Aku sendiri merasakan kalau Sascha itu adalah orang baik. Semoga mereka awet hingga kakek nenek. Dari dulu cinta mereka sudah tumbuh ketika bekerja. Tapi yang lucunya Dewa tidak pernah mengatakan Aku mencintaimu di depan Sascha," beber Tara.
"Aku tahu itu. Dewa adalah pria pemalu. Dia bukan seperti Bima atau juga Tommy. Dewa juga bukan Devan. Aku tidak tahu lagi, Kenapa Dewa tidak seperti Devan yang ugal-ugalan untuk mendapatkan dirimu itu," jelas kakek Aoyama.
"Itulah keistimewaan Dewa. Malah yang ugal-ugalan adalah Dita mengejar-ngejar Tommy," celetuk Tara.
"Rasanya aku ingin tertawa saja melihat Dita yang mengejar-ngejar Tommy. Tapi syukurlah Tommy sangat mencintainya. Bahkan rasa cintanya itu tidak akan pernah luntur sedikitpun. Sepertinya kamu harus merestui mereka. Agar mereka bisa hidup bahagia dalam hubungan pernikahan," pesan kakek Aoyama dengan tulus.
"Apakah papa akan merestui Dita menikahi Tommy?" tanya Tara.
"Iya... Kita harus melakukannya. Cepat atau lambat mereka harus menikah. Biar mereka tidak melakukannya di luar pernikahan," jawab kakek Aoyama yang setuju dengan keputusannya sendiri.
__ADS_1
"Sepertinya Tommy harus melamar kita terlebih dahulu. Setelah pulang dari sini aku akan membicarakan hal ini kepada Devan. Aku tidak ingin Devan mengamuk karena putri satu-satunya itu resmi menjadi milik Tommy," balas Tara hingga membuat kakek Aoyama tertawa.
"Apakah Devan masih posesif kepada kalian?" Tanya kakek Aoyama.