Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
HAMPIR SAJA BERTEMU BILLI.


__ADS_3

“Tenang saja. Dewa berada di tempat yang aman,” jawab Tara sambil meraih tasnya.


“Tempat aman bagaimana ya ma?” tanya Sascha yang kebingungan.


“Kamu tidak perlu tahu. Pokoknya dua hari ini kamu ikut bersama mama dan Dita. Soal Dewa Mama pastikan aman, sejahtera dan sentosa,” jawab Tara sambil tersenyum.


Sascha hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan tersenyum manis. Sepertinya dua hari ini Sascha akan melanglang buana bersama calon adik ipar dan calon ibu mertuanya. Sascha tidak tahu kalau Dewa sedang disekap. Kalau pun tahu Sascha tidak keberatan. Karena Sascha ingin melepaskan diri dari dewa untuk sementara waktu.


Lalu kedua wanita berbeda generasi meninggalkan kantor. Mereka segera menuju ke lobi. Tanpa disadari oleh Sascha, Marty sedang menghadang Billi untuk tidak masuk ke dalam. Namun Billi tetap bersikeras mencoba masuk ke dalam untuk mencari Sascha.


Beberapa saat kemudian Almond beserta teman-temannya bergabung dengan Marty. Mereka langsung membentuk barisan dan memberi kode ke Tarra agar tidak lewat lobby. Tarra yang mengerti akan kode itu bergegas menarik Sascha menuju ke lift.


“Ma, Ada apa ya?” tanya Sascha yang merasakan hatinya tidak enak. “Kok mama lewat sini?”


“Ada Billy di depan lobby. Marty dan Almond sedang menghadangnya agar tidak masuk ke dalam,” jawab Tara hingga membuat Sascha terkejut.


“Apakah itu benar ma?” tanya Sascha lagi.


“Itu benar,” jawab Tara dengan wajah datar.


“Habislah aku ma,” ucap Sascha lemah.


“Kamu benar. Untung saja papamu memberikan pengawal pribadi. Jika tidak, maka hidupmu terancam. Mulai saat ini kamu kalau pergi kemana-mana harus pergi bersama Dewa, Almond atau Marty. Jika tidak maka Billy dan keluarga akan mencarimu. Yang mama dengar Billy masih mengharapkanmu untuk menjadi kekasihnya,” jelas Tara yang membuat hatinya ketar-ketir.


“Lalu, aku harus bagaimana?” tanya Sascha yang mulai ketakutan.


“Kamu nggak perlu khawatir. Kamu harus cepat-cepat menikah. Biar ada yang menjagamu dari keluarga Billi. Sekarang tunggulah papamu datang. Mama akan mempersiapkan acara pernikahanmu secepatnya. Jika tidak kamu akan terancam bahaya,” jelas Tara.

__ADS_1


“Bagaimana ia tahu kalau aku berada di sini?” tanya Sascha.


“Entahlah,” ucap Tara.


Beberapa saat kemudian datang sebuah mobil SUV hitam mendekati mereka. Mobil itu tepat berhenti di depan. Cepat-cepat Tara mengajak Sascha untuk masuk ke dalam mobil. Sascha pun menurutinya. Sedangkan Billy masih berada di lobby. Billy segera mengambil sikap waspada. Kemudian ia melihat celah agar bisa masuk ke dalam. Namun dengan cepat Marty membuat formasi memanjang agar bisa menutup celah.


“Minggir lu!” bentak Billi.


“Gue nggak mau minggir!” ucap Marty.


“Minggir!” bentak Billi dengan suara kencang.


“Kamu siapa?” tanya Marty.


“Elu lupa sama gue!” geram Billi.


“Oke, gue kenalin sekali lagi. Nama gue Billy Sudarmaji. Asal gue dari sinilah. Gue mau nyari Sascha. Hubungan gue sama dia adalah calon suaminya. Gue nyari dia karena suruh pulang ke rumah,” jelas Billi.


“Apa gue nggak salah dengar kalau lu masih ngaku calon suaminya? Lama-lama lu menghalu ya.. gue tegasin sekali lagi kalau Sascha nggak kenal sama elu. Percuma lu ke sini nyari dia. Sekarang lo paham... Kalau lu nggak paham gue jelasin lagi. Tapi gue males sih. Ya udah pulang sono nggak usah ke sini lagi. Kalau lu ke sini... Nggak bakalan ketemu Sascha. Apa lu paham? Kalau lu masih di sini gue panggilin polisi untuk ngejeblosin lu ke dalam sel,” ucap Marty dengan tenang.


“Lu hanya kacung doang sombongnya minta ampun. Gimana lu nanti jadi bos. Lu bakalan injak-injak orang kayak gue ini,” sindir Billi.


“Terserah... Lu mau ngomong apa? Gua males berdebat sama lu. Lu harusnya sadar diri. Kenapa Sascha pergi dari sisi lo? Bukannya lu udah resmi jadi lakik orang. Kenapa lu masih ngejar-ngejar Sascha? Oh ya pulang aja deh lo. Kantor bentar lagi tutup,” tegas Marty.


Marty memberikan kode untuk para pengawal segera bubar. Bahwa sore ini kantor akan segera tutup. Begitu juga dengan Almond, Almond juga bersiap-siap untuk pulang. Lalu bagaimana dengan Billy? Billy tetap saja menunggu Sascha datang.


Dita yang sedang menyetir tertawa lucu mendengar cerita Tara. Rara memang sengaja menceritakan kejadian tadi pagi. Ia tidak menyangka kalau sang kakak yang notabennya orangnya pendiam ternyata sangat agresif.

__ADS_1


“Bener-bener ya Kak Dewa. Ternyata Kak Dewa diam-diam menghanyutkan seperti sungai. Aku baru tahu kalau kakakku ini sangat lucu sekali,” puji Dita.


“Ya begitulah. Aku sendiri saja yang sering dekat dengan kakakmu itu dibuat frustrasi,” jelas Sascha.


“Kita mau ke mana Ma?” tanya Dita.


“Ke tempat biasa saja. Menghabiskan waktu di private room bercerita dari a sampai z. Atau kita menonton film. Atau juga kita belanja? Kalian pilihlah Mama akan mengikuti kalian,” ucap Tara.


“Kalau begitu Mbak Sascha saja yang memutuskannya,” pinta Dita.


“Baiklah kalau begitu. Bagaimana kalau kita makan saja dulu? Mbak mau mengajak kamu kerjasama,” pinta Sascha.


“Kerjasama apa Kak?” tanya Dita yang masih fokus mengendarai mobil.


“Nantilah,” jawab Sascha yang membuat Dita memiliki satu pertanyaan yang tiba-tiba saja muncul di kepalanya.


“Baiklah kalau begitu. Kita makan dulu saja ya,” ujar Tara.


“Oke ma,” balas mereka serempak.


Kemudian Dita menancap gasnya menuju ke restoran favorit mereka. Di dalam perjalanan Sascha yang sedang sibuk dengan ponselnya terkejut mendapat pesan dari Risa. Tanpa diduga-duga bisa mengancam Sascha jika bertemu dengan Billy maupun Jaya. Ia tidak menyangka kalau Risa akan membunuhnya dalam waktu dekat. Sascha hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Jujur saja Sascha sangat kesal dengan ancaman itu.


Tara yang duduk di depan bersama Dita tidak sengaja melihat Sascha. Ia mengerutkan keningnya sambil memperhatikan Sascha yang agak gusar. Begitu juga dengan Dita, Dita juga merasakan hal yang sama pada sang kakak.


Sebelum Tara berbicara, Dita berhenti di sebuah restoran favoritnya. Tara akhirnya mengurungkan niatnya untuk tidak bertanya apapun. Mereka keluar dari mobil dan melihat restoran sedang ramai. Untung saja Dita sudah mereservasi private room. Jadinya Dita bisa mengajak mereka duduk menikmati suasana klasik dari restoran tersebut.


Tidak sengaja Tara dan Sascha melihat Risa sedang makan. Mereka menatap Risa dengan tajam. Lalu Tara menarik Sascha agar segera berlalu dari Risa.

__ADS_1


“Sepertinya ada yang tidak beres?” tanya Dita ke Sascha.


__ADS_2