
“Mau ke sawah nyonya kecil,” jawab Diko nama salah satu pengawal yang memegang karung.
“Ngapain ke sawah?’ tanya Sascha.
“Kami akan membantu menghijaukan sawah nyonya kecil,” jawab yang lainnya.
“Memangnya kalian bisa menanam padi?” tanya Sascha.
“Kamu jangan meremehkan mereka. Mereka sangat pandai sekali bercocok tanam. Papa memang sengaja akan mempertahankan sawah itu demi kepentingan bersama. Siapa tahu nanti dari sawah kita bisa memberikan makan banyak orang,” sahut Gerre.
Sascha memegang dagunya sambil menganggukkan kepalanya. Ia seakan tidak percaya apa yang dikatakan oleh papanya. Ia akhirnya mengizinkan mereka pergi ke sawah.
Setelah mereka pergi, Sascha melihat Gerre yang duduk di sofa. Ia hanya tersenyum manis dan sengaja duduk di samping Gerre.
“Papa,” panggil Sascha.
“Ada apa?” tanya Gerre.
“Apakah papa tidak ikut kami ke New York?” tanya Sascha.
“Kapan kamu pulang ke New York?” tanya Gerre yang menatap wajah Sascha.
“Beberapa hari lagi pa. Katanya Kak Dewa, Khans Company sekarang dalam bahagia,” jawab Sascha.
“Memang lagi terpuruk. Papa sengaja memantaunya dari sini. Meskipun begitu papa juga masih peduli dengan perusahaan tersebut,” jelas Gerre. “Sebaiknya kamu mengganti nama kamu menjadi Aulia Atmaja. Karena sebentar lagi kamu harus tampil di depan umum.”
“Kalau aku memakai nama Sascha?” tanya Sascha.
__ADS_1
“Ini sangat penting sekali. Kamu tidak boleh seenaknya memakai nama Sascha. Kamu harus kembali menjadi Aulia Atmaja. Kamu tahu akhir-akhir ini nenek kakekmu mendatangi papa. Mereka meminta segera menyelesaikan masalah ini. Mereka disana tidak bisa tenang dan selalu bersedih,” pinta Gerre yang selama ini memiliki beban yang besar terhadap perusahaan Khans Company.
Mengingat nama nenek dan kakeknya itu, Sascha menjadi bersedih. Ia bingung apa yang harus dilakukannya sekarang. Hingga akhirnya ia memutuskan dengan cepat.
“Baiklah pa. Aku akan memakai nama Aulia Atmaja. Aku sendiri juga sudah rindu dengan masa laluku,” ucap Sascha.
“Papa akan ikut dengan kalian. Kemungkinan besar mama kamu akan disini bersama mama mertuamu,” ujar Gerre.
“Kenapa mama tidak ikut?” tanya Sascha.
“Mama kamu ada pekerjaan disini. Kamu tahukan mama sedang membangun rumah besar demi menampung anak-anak yang tidak memiliki orang tua? Mereka sudah membuat rancangannya dan juga akan membangunnya sebulan lagi,” jawab Gerre.
“Jadi papa yang akan ikut kami?” tanya Sascha.
“Iyalah. Papa memang inign ikut dengan kalian. Papa yang akan berada di belakangmu. Jika nenek sihir itu menyerang kamu, papa sudah bersiap untuk menangkapnya,” jawab Gerre yang memiliki rencana.
“Kamu mau tahu bagaimana si nenek sihir itu akan tunduk?” tanya Gerre.
“Aku tahu caranya. Papa tenang saja. Biarkan saja Sascha yang akan bekerja,” ucap Sascha yang meminta Gerre untuk tenang.
Siang pun tiba. Di saat bersantai Sascha melihat kedatangan sebuah mobil SUV. Sascha memutuskan untuk mengangkat wajahnya dan melihat sang pemilik mobil itu yang baru saja keluar. Ia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.
“Kak Timothy?” pekik Sascha.
Lalu dibalik pintu, Dewa keluar sambil membawa air mineral. Dewa ingin memastikan bahwa Sascha tidak boleh terkena dehidrasi. Sungguh di luar dugaan, Dewa yang memiliki wajah datar sangat perhatian sekali sama sang istri. Hal ini bisa membuat para perempuan menjadi iri.
“Timothy,” pekik Dewa yang melihat sang asistennya itu memakai baju bunga-bunga.
__ADS_1
“Hai brother,” sapa Timothy yang sengaja melepaskan kacamatanya.
“Tumben ada setan apa kamu memanggilku brother?” tanya Dewa sambil meledek Timothy.
“Mana ada orang tampan kesambet setan,” jawab Timothy yang membuat Sascha tertawa.
Melihat Sascha tertawa, Timothy mengerutkan keningnya. Ia mengerutkan keningnya sambil bertanya, “Hmmp... perasaan kamu kemarin bilang hamil.”
“Memang aku hamil,” jawab Sascha. “Lalu?”
“Kok tubuhmu enggak melar sedikit pun?” tanya Timothy.
“Ya belum. Masih dalam tahap pemelaran tubuh,” celetuk Sascha.
“Ternyata kamu sangat kucu juga ya?” tanya Timothy yang menghempaskan bokongnya di kursi.
“Memang sedari dulu aku sangat lucu sekali. Saking lucunya bos kamu malah terkena jerat asmara bersamaku,” jelas Sascha.
“Iyain saja dech. Aku memang mengalah agar bisa mendapatkan jatah setiap malan dari dia,” ucap Dewa yang membuat Sascha menatapnya tajam.
“Apakah ini resiko orang yang sudah menikah?” tanya Timothy.
Glek.
Dewa tidak bisa berkata apa-apa lagi. Karena dirinya kalah telak dari sang istri. Sedari tadi Sascha sedang uring-uringan tidak jelas. Yang namanya ibu hamil emosinya tidak bisa ditebak sama sekali.
“Ha?” tanya Dewa.
__ADS_1