
Mereka menyepakati gaun yang dipakai oleh Sascha. gaun yang dirancang oleh Chloe belum pernah dipublikasikan ke dunia. Chloe memang sengaja menyimpan gaun bertabur berlian itu untuk putrinya ketika menikah. Entah kenapa impiannya didengarkan oleh Tuhan.
Chloe sempat meneteskan air matanya. Ada rasa haru di dalam hati ketika sang putri memakainya. Disisi lain Chloe berterima kasih dengan Devan karena menjatuhkan pilihan gaun itu.
"Ya sudah deh kalau begitu. Aku mau melepaskan gaun ini. Gaun ini sungguh sangat berat,'' keluh Sascha.
"Kamu tahu mamamu sengaja memasang berlian seberat sepuluh kilo. Ini adalah hasil rancangan mama kamu yang gila. Tapi papa sangat menyukainya,'' ucap Gerre dengan jujur.
"Apa?" pekik Sascha.
"Darimana mama mendapatkan berlian sebanyak itu?" tanya Sascha.
"Entahlah mama kamu mendapatkannya darimana,'' jawab Gerre berkata jujur.
"Kamu tahu mama sengaja buat gaun ini hanya untuk kamu. Memang kelihatannya simpel tapi mewah. Mama tidak pernah memamerkan gaun ini ke pameran gaun pernikahan Gaun ini sengaja buat kamu,'' ucap Chloe dengan lembut.
Sascha sangat terharu mendengar ucapan Chloe. Jadi selama ini sang mama menunggunya pulang. Sascha langsung memeluk Chloe sambil mengucapkan terima kasih.
"Habis gini ikut aku ke kantor. Papa meminta bantuan untuk mengecek laporan-laporan yang berhubungan dengan angka sialan itu!" ajak Dewa.
"Oh iya. Papa tadi berpesan pada aku selesai ini aku disuruh kesana,'' ucap Sascha yang hampir melupakan janjinya ke Devan.
Sascha segera mengganti bajunya di kamar ganti. Begitu juga dengan Dewa yang mulai mengganti bajunya. Setelah selesai mereka akhirnya mereka berpamitan. Lalu mereka keluar dari rumah mode.
Mereka menuju ke kantor Devan hanya berjalan kaki. Namun sebelum itu mereka berhenti di sebuah restoran masakan Asia untuk mengisi perut.
Bandung Indonesia.
Billi yang selesai membersihkan rumah sangat geram karena kelakuan Risa. Hampir setiap hari Risa keluar dan jarang pulang. Namun Risa memiliki otak cerdik untuk membuat mereka menderita.
Risa sengaja memasang CCTV di setiap sudut rumah. Risa bisa mengamati kegiatan mereka dari jauh. Seperti inilah jika mereka berleha-leha menghabiskan waktunya. Lalu ponsel Billi berbunyi. Billi sudah tidak tahan tinggal bersama Risa.
__ADS_1
"Ma... Apakah kamar mandi sudah dibersihkan?" tanya Billi yang melihat ponselnya bergetar.
"Ngapain juga membersihkan kamar mandi? Orangnya enggak ada. Mama ingin bebas dulu. Capek tahu kerja rodi kaya gini! Dibayar kagak malah disiksa!" kesal Fatin sambil memandang wajah Billi dengan tajam.
Billi hanya bisa menghembuskan nafasnya. Entah kenapa dirinya tidak rela melihat ibunya kecapekan. Mau tidak mau Billi membersihkan kamar mandi.
Ada penyesalan di dalam hati Billi. Saat membersihkan kamar mandi, Billi teringat akan Sascha. Gadis manis berparas cantik yang pernah mengisi relung hatinya akhirnya pergi.
Sekarang yang menjadi pertanyaan untuk Billi sendiri. Apakah Billi sangat mencintai Sascha? Secara tidak sadar Billi memang sangat mencintai Sascha. Namun Billi telah menorehkan sakit di dalam hati sang gadis itu.
Selama ini Billi sangat malu jika harus berjalan dengan Sascha. Karena status sosialah yang membuat Billi jijik jika berjalan dengan Sascha.
Sebenarnya Billi adalah pria baik. Semenjak berkenalan dengan Sascha, Billi sangat menyukainya. Ketika dikenalkan oleh kedua orangtuanya, Billi seakan mendapatkan angin baru untuk mendapatkan kasih sayang seorang perempuan.
Akan tetapi kedua orangtuanya tidak menyukainya. Karena sang adik mengetahui bagaimana kehidupan Sascha. Semenjak saat inilah sang mama tidak mengijinkan Billi kenal dekat.
Sang mama selalu memberikan doktrin ke Billi kalau Sascha itu adalah gadis miskin. Billi akhirnya membiarkan saja celotehan sang mama. Semakin lama Billi akhirnya terpengaruh oleh omongan sang mama.
Andai saja Dewa berada di rumah itu. Dewa akan naik pitam lalu menghajar Billi. Enak csaja Sascha yang sudah menjadi ratu di dalam hatinya dibuat menjadi pembantu?
"Awas saja kamu Sascha? Jika aku bertemu dengan kamu. Aku pastikan hidupmu akan menderita! Aku janji itu!" geram Billi.
Tak sampai menunggu lama, Risa datang sambil memeriksa keadaan rumah. Risa mulai mengecek kebersihan rumah di setiap sudut. Alangkah terkejutnya Risa mendapati guci favoritnya berdebu.
Risa bergegas mencari Fatin dengan wajah murka. Lalu Risa menemukan Fatin yang sedang bersantai. Dengan cepat Risa menampar Fatin lalu memakinya.
Dengan terpaksa Fatin berdiri dan membersihkan guci kesayangan Risa. Risa tersenyum miring melihat penderitaan keluarga Billi semakin berat. Entah ada dendam apa antara dirinya dengan keluarga Billi?
New York, US.
Selesai makan Dewa melanjutkan pergi ke kantor. Sascha merasakan hari ini sangat indah. Bahkan Sascha bisa tersenyum sumringah.
__ADS_1
"Teringat akan liburan bersama kamu disini,'' celetuk Sascha tersenyum manis.
"Ah... iya... bagaimana kamu bisa sampai sini?" tanya Dewa.
"Aku memenangkan taruhan bersama para petinggi-petinggi D'Star. Kami melakukan taruhan bola di liga Inggris. Aku saat itu memegang Chelsea. Yang lainnya memegang Arsenal. Saat itu bertepatan Sabtu malam Minggu. Lalu aku melihatnya sampai selesai. kamu tahu Chelsea membantai Arsenal dengan skors tiga nol. Aku langsung berteriak kegirangan dan merencanakan ingin menemui di sini,'' jawab Sascha.
Dewa tercengang melihat Sascha yang sangat pandai mengambil peluang. Bagaimana bisa uang taruhan bola untuk menemuinya? Memang Sascha sangat unik sekali.
"Kamu kuras semua uang mereka?" tanya Dewa yang tersenyum manis.
"Iya... memang mereka memegang Arsenal dan mendoakan Chelsea biar kalau. Namun doa mereka tidak didengarkan. Dengan terpaksa aku menguras uang mereka untuk membeli tiket disini dan memberikan akomodasinya,'' jawab Sascha.
"Tenang saja. Mereka tidak akan jatuh miskin, " ucap Dewa yang terkekeh sambil mengehentikan langkahnya.
Mereka akhirnya berhenti di sebuah gedung mewah menjulang ke langit. Dewa memegang tangan Sascha lalu mengajaknya masuk ke lobi.
Ketika ingin masuk ke dalam mereka dicegah oleh dua orang resepsionis. Dengan penuh curiga mereka menahan Dewa dan Sascha.
"Anda siapa?" tanya Lusia ke Dewa yang memakai baju biasa.
"Aku ingin bertemu dengan Tuan Devan,'' jawab Dewa dengan santai.
"Tidak ada Tuan Devan di sini!" ketus Lusia.
"Kalau begitu aku ingin menemui Nyonya Tara,'' pinta Dewa.
"Nyonya Tara juga tidak ada,'' jawab Lusia dengan nada lebih ketus.
"Yang benar saja. Bukannya tadi kita disuruh kesini. Lalu kenapa kita ditolak?' gerutu Sascha dengan kesal.
Mendengar Sascha menggerutu, Dewa tersenyum manis. Dewa sadar kalau dirinya hanya memakai baju santai. Karena dirinya tidak memakai baju formal. Dewa memutuskan untuk menghubungi Devan agar turun ke bawah. Devan pun memutuskan untuk ke bawah menyusul Dewa sekaligus memberikan pelajaran kepada sang resepsionisnya.
__ADS_1
"Nona,'' panggil Sascha. "Kenapa kami tidak boleh masuk? Sementara kami sudah mendapat undangan dari Tuan Devan secara langsung?'