
"Video yang dimana nenek sihir itu sedang menyerang seseorang wanita sedang menggendong bayinya. Motifnya belum diketahui oleh pihak kepolisian. Sementara si nenek sihir itu kabur entah kemana," jelas Leo.
Tara menggelengkan kepalanya sambil menghela nafasnya dengan kasar. Bisa-bisanya si nenek sihir itu tidak memiliki hati sama sekali. Entah kenapa dirinya seakan tidak rela dengan keadaan ini.
"Ini tidak bisa dibiarkan sama sekali," ucap Tara.
Devan yang melihatnya tadi hanya bisa mendelik. Ingin marah tapi percuma. Jika saja kejadian itu tejadi di depan mata, maka ia akan menariknya dan dimasukkan ke dalam ruangan bawah tanah.
"Berita sangat buruk sekali," kesal Devan.
"Memang sangat buruk sekali. Alangkah baiknya jika nenek sihir itu tidak menyerang seseorang seperti itu. Apalagi posisinya di depan umum," sambung Leo. "Bagaimana dengan menurut kamu Ric?"
"Ya... sudahlah. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi," jawab Eric yang sebenarnya malas membahas kejadian itu.
"Kalau ada Aulia, Aulia akan sangat marah sekali. Bahkan dia tidak mau melepaskan orang seperti itu dengan mudah," sahut Chloe yang baru saja datang dengan menaruh tasnya.
"Kamu tahu berita itu?" tanya Tara.
"Kejadian itu berada di depan mataku sendiri. Aku tidak ingin membelanya karena malas bertemu dengan nenek sihir itu," jawab Chloe duduk di samping Tara.
"Tapi percuma ya... kalau dilawan juga malah melawan," ucap Eric.
"Memang begitulah orangnya," ujar Chloe.
Sementara di depan markas, mobil Dewa sudah terparkir dengan mudah. Daniel, Bima, Dewa dan Sascha masih berada di dalam mobil. Daniel menelan salivanya dengan susah payah. Ia sekarang masuk ke dalam sarang mafia. Jujur meskipun seorang polisi, ia sangat takut sekali bekerja sama denngan mafia. Mau bagaimana lagi, Daniel akhirnya mau bekerja sama agar luka di wajahnya sembuh.
"Apakah kamu gila mengajakku ke markas Black Tiger?" tanya Daniel.
"Apakah kamu tidak tahu kalau komandan kamu memiliki sepupu sebagai mafia?" tanya Sascha bertanya balik.
__ADS_1
Daniel hanya menghela nafasnya dengan kasar. Ia baru menyadari kalau dirinya benar-benar terjebak antara hidup dan mati.
"Ternyata hidupku sudah gila. Bekerja sebagai pihak berwajib. Memiliki keluarga yang cukup bahagia. Eh sekarang aku tertimpa sial. Bertemu teman lama yang ternyata dia adalah seorang pengusaha. Tapi dia memiliki organisasi hitam yang sangat menakutkan. Dan aku terseret dalam lingkungan itu," keluh Daniel dengan jujur.
Dewa hanya terkekeh melihat temannya itu yang sedang mengeluh. Namun Dewa sendiri tidak ingin mengeksekusi temannya itu. Ia berharap kalau Daniel bisa diajak kerjasama dengan baik.
"Tenang saja. Aku tidak akan mengeksekusi. Kamu dulu sering banget membantuku dalam menyelesaikan banyak tugas. Setelah kasus ini selesai kamu lupakan semua apa yang aku minta. Soal persahabatan masih sama seperti dulu," jelas Dewa yang menepuk pundak Daniel.
"Kamu nggak boleh takut seperti itu. Jika kamu benar dan mengajak kita bekerja sama untuk menjebak si nenek sihir itu. Kenapa juga kamu harus takut?" tanya Sascha.
Akhirnya Daniel memberanikan diri untuk ikut mereka. Dewa mengajak Daniel masuk ke dalam markas tersebut. Jujur selama ini Daniel tidak pernah masuk ke dalam markas mafia manapun. Nama mafia Daniel malah kabur terlebih dahulu.
"Kemana semua orang di sini? Kok sepi ya?" tanya Dewa.
Salah satu pengawal datang menghampiri Dewa. Pengawal itu mengatakan kalau para petinggi Black Tiger berada di sebuah ruangan khusus. Dewa mengajak Daniel untuk pergi ke ruangan khusus tersebut. Yang lainnya memutuskan untuk mengikuti Dewa dari belakang.
Dewa merangkul Daniel sambil melangkahkan kakinya masuk ke ruangan tersebut. Leo bersama Eric yang sedang asyik bermain game terkejut melihat Dewa merangkul Daniel.
"Iya itu benar. Aku sengaja membawanya karena si nenek sihir itu sedang membuat rencana besar," jawab Dewa yang membuat Eric dan Leo terkejut.
"Kamu tahu kan? Orang ini yang selalu menggagalkan rencana penjualan senjata di semak-semak hutan?" tanya Eric.
"Aku tahu itu. Aku memang salah. Aku seharusnya tidak menggagalkan rencana kalian untuk menjual senjata itu. Itu bukan bagianku sendiri," jawab Daniel yang merasa bersalah kepada Eric.
"Semuanya nggak jadi masalah buat aku. Dia adalah temanku ketika kuliah di Harvard dulu. Setelah aku wisuda kami berpisah untuk waktu yang lama. Dia adalah seorang polisi. Barang-barang yang kita kirim itu dikira milik nenek sihir. Ternyata bukan sama sekali," jelas Dewa.
"Kenapa kamu membawa si Daniel ke sini Dewa?" tanya Gerre.
"Aku sengaja membawanya ke sini untuk bekerja sama dengan dia. Semuanya ini berawal dari Aulia. Aulia sengaja memesan mata-mata bukan dari Black Tiger. Melainkan Aulia sengaja memesan mata-mata melalui Paman Pablo. Jadi orang itu sengaja membuntuti nenek sihir ke mana dia pergi. Jujur saja nenek sihir itu sampai ke rumah orang ini. Terpaksa kami ke sana bersama-sama," jelas Dewa.
__ADS_1
"Tapi dia polisi area Washington DC. Dia sangat berbahaya bagi Black Tiger maupun Black Swan," ucap Devan yang tidak ingin bekerja sama dengan kepolisian manapun.
"Jujur saja aku nggak mau bekerja sama dengan kalian. Kami selaku kepolisian juga mengejar si nenek sihir itu. Ditambah lagi si nenek sihir sudah memiliki banyak daratan hitam di berkas-berkas kami. Bisa jadi kita bertukar informasi dan mengejar si nenek sihir itu bersama-sama," ujar Dewa.
"Tapi kenapa kok harus dengan dia?" tanya Leo.
"Aku nggak setuju kalau kalian bekerja sama dengan pihak kepolisian manapun. Ini sangat berbahaya sekali buat aku. Tapi jujur lebih baik aku bekerja sendiri," sambar Pablo yang masuk ke dalam ruangan itu.
"Masalahnya si nenek sihir itu licik banget. Kalau dipikir-pikir memang benar kita nggak boleh bekerja sama dengan pihak manapun. Tapi si nenek sihir itu sudah keterlaluan sekali. Aku tahu seluruh kepolisian di Amerika ini sedang mengejar si nenek sihir itu. Tapi si nenek sihir memiliki kepandaian untuk menghilang dengan cepat. Bisa jadi si nenek sihir itu memiliki jurus seribu bayang," jelas Tara yang sudah mengetahui gelagat nenek sihir itu.
"Memangnya Naruto kali ya si nenek sihir itu. Bisa memakai jurus seribu bayangan dalam waktu per sekian detik. Sampai saat ini aku bingung," ucap Gerre yang menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Kamu disuruh sama si nenek sihir bertemu?" tanya Leo.
"Ini menurut informasi dari George dan Mathias. Kamu harus menjelaskan kenapa menemui nenek sihir dalam kulit terluka sangat parah itu," pinta Devan.
"Masalahnya hanya satu. Aku memakai nama seorang pemalsu dokumen yang sudah meninggal. Aku bilang saja sama dia. Kalau aku bisa memalsukan seluruh dokumen tentang perusahaan Khans Company," ucap Daniel dengan penuh keseriusan.
"Berarti kamu sudah mempermainkan nenek sihir dong? Kamu sudah membohongi nenek-nenek. Hidupmu semakin parah saja," ledek Dewa yang menahan tawanya.
"Ya begitulah. Hidupku sekarang torombang-ambing bagaikan seorang nahkoda yang berada di tengah-tengah lautan. Apalagi kapalku pecah berantakan seperti itu," jelas Daniel yang memukul perut Dewa agar tertawa.
"Apakah kamu disuruh sama komandanmu untuk menjebak si nenek sihir itu?" tanya Sascha yang menghempaskan bokongnya di samping Tara.
"Itu sudah pasti. Komandanku memang menyuruhku untuk memakai identitas orang sudah meninggal. Lagi si nenek sihir itu ternyata memiliki ingatan yang sangat rendah sekali pada orang-orang yang ditemuinya itu. Ini satu fakta yang telah aku dapatkan dari komandanku sendiri. Bagiku ini sangat lucu dan juga bisa membuat semua orang geleng-geleng kepala Kalau bertemu dengan nenek sihir itu," jelas Daniel.
"Itu mah udah biasa bagi orang yang sudah berumur seperti nenek sihir. Bukannya usia sudah tua memiliki penyakit pikun. Kalau si nenek sihir melupakan siapa yang pernah ditemuinya itu. Itu adalah hal yang sangat wajar sekali. Aku yakin si nenek sihir itu lupa dengan wajahku ini," ucap Sascha yang menganalisis tentang keadaan nenek sihir itu.
"Apa yang dikatakan oleh Sascha benar adanya. Jika usia sudah menua dan lupa siapa yang ditemuinya baru saja itu adalah hal yang wajar. Masalahnya adalah Kenapa nenek sihir itu orang yang sangat kejam sekali?" tanya Devan.
__ADS_1
"Itu hanya sebagian saja. Kalian belum tahu kasus sebenarnya seperti apa. Dia memiliki jiwa psikopat yang tidak bisa hilang dari raganya itu. Aku pernah melihatnya si nenek sihir itu telah memutilasi seseorang di tepi jalan," jawab Daniel dengan serius.
"Apakah kamu yakin dengan perkataanmu sendiri?" tanya Tara.