
"Aku belum puas mengganggumu. Jadi jangan harap kamu lepas dari aku," bisik Dewa hingga membuat Sascha merinding.
"Kamu itu ya," kesal Sascha. "Apakah kamu ingin bermain denganku siang ini?"
"Memang iya. Karena tubuhmu sangat indah ketika kamu keluar dari toilet dengan memakai handuk," jawab Dewa.
__ADS_1
"Apakah semua pria di dunia ini sama saja? bisa-bisanya ngomong seperti itu? Sudah tahu yang membawa pisau dan wortel masih saja diganggu," ucap Sascha dengan wajah ditekuk dan mulutnya maju sepanjang sepuluh sentimeter.
Dewa tidak marah kepada sang istri. Malahan Dewa tersenyum melihat sang istri sedang ngambek. Akhir-akhir ini Dewa suka sekali mengerjai sang istri. Untung saja, Sascha sudah tahu kalau Dewa adalah suka jahil kepadanya.
Cup.
__ADS_1
"Cepat atau lambat kita akan tinggal di Tokyo. Mau nggak mau kamu harus ikut denganku di Tokyo. Aku sudah memutuskan ini semuanya sedari malam. Kasihan kakek sendirian di rumah. Soal kedua keluarga itu, lelah aku yang memutuskannya. Kamu nggak perlu pusing memikirkannya. Sekarang kamu harus fokus pada kehamilanmu. Kamu bersama bayi-bayi ku terjadi apa-apa," pinta Dewa agar Sascha tidak terlalu memikirkan dirinya larut dalam masalah keluarga besarnya.
"Masalahnya hanya satu. Bisa nggak mereka membuat aku nyaman di dalam rumah itu? Jangan sampai aku yang pergi dari rumah hanya karena omongan mereka. Kamu harus tahu emosi ibu hamil itu sangat berbeda dengan wanita yang tidak hamil. Ya kalau aku bisa terima omongan mereka. Beberapa hari yang lalu emosiku tidak stabil sama sekali. Karena semua ini adalah bawaan bayi. Kalau kamu nggak percaya tanyakan saja pada mamamu. Pasti jawabannya sama," jelas Sascha yang sengaja mengutarakan isi hatinya dan tidak ingin memendamnya hingga esok hari.
Apa yang dikatakan oleh Sascha itu benar. Mood ibu hamil kadang-kadang suka berubah yang tidak jelas sama sekali. Bahkan mereka bisa marah tanpa alasan apapun. Atau juga mereka memilih diam karena tidak ingin memperpanjang masalah. Sekarang yang jadi masalah adalah Dewa. Dewa sebenarnya ingin mengajak sang istri tinggal di sana. Mengingat Rumah itu sangat besar sekali. Dewa sengaja tidak mengeluarkan uang untuk membeli rumah di Tokyo.
__ADS_1
"Kalau begitu ya sudahlah. Kalau kamu nggak mau, kita akan tinggal di apartemen. Tapi apakah kamu sanggup meninggalkan kakek begitu saja? Kakek ingin kita untuk tinggal di sana selamanya. Rumah itu sebenarnya adalah milikku sendiri. Makanya di Jepang aku tidak pernah membeli rumah sama sekali. Sudah terlihat jelas surat warisan yang diberikan oleh kakek. Perusahaan dibagi dua. Yaitu aku sama Dita. Tapi Dita sudah menolaknya dan mengembalikannya semua buat aku. Aku tidak jadi masalah itu. Aku Yang akan mengolahnya dan memberikan hasil itu kepada sang pemiliknya. Karena kami memiliki darah dari kakek Aoyama. memang berat sih. Mau bagaimana lagi. memangnya kita bisa menolak? Semuanya itu adalah pemberian dari kakek,'' jelas Dewa.
"Semuanya tidak menjadi masalah buat aku untuk tinggal di manapun. Tapi aku tidak menyukai satu orang. Dia adalah seorang gadis kecil yang memiliki mulut pedas sekali. Mau ke sana selalu saja dia membuat masalah besar. Padahal kalau aku ke sana sering sekali menengok kakek. Apa salahnya seorang bawahan memperhatikan atasannya dengan dekat sekali?'' tanya Sascha yang tidak terima dengan seseorang sengaja ingin menjatuhkan harga dirinya hingga ke bawah.