
"Ya... Begitulah papamu. Kalau sudah yang namanya liburan tidur terus. Makanya mama kalau liburan memilih di mansion saja," jawab Chloe.
"Ya... Sama saja. Begitu juga dengan Kak Dewa. Aku malah suka menyalurkan hobi tanpa harus keluar uang banyak," cebik Sascha sambil memandang Dewa yang pura-pura tidak mendengar.
"Kalau begitu jika para suami kita tidur. Lebih baik kita liburan berdua," ajak Chloe yang senang memiliki teman petualang.
"Itu bukan ide yang buruk. Aku sangat menyukainya," ujar Sascha dengan mata berbinar.
"Sepertinya aku harus bekerja ekstra keras untuk memberikan tiket yang banyak agar kamu bisa liburan," celetuk Dewa.
"Sepertinya kakak tidak perlu. Aku sudah memiliki uang banyak. Aku bingung mau dipergunakan ada. Disisi lain kemungkinan besar aku akan menyalurkan hobiku yaitu mendesain baju seperti dulu," ucap Sascha.
"Apakah kamu serius suka mendesain baju?" tanya Chloe.
"Ya. Sascha memang suka mendesain baju. Mulai dari anak-anak hingga dewasa. Desain baju itu dijual di rumah mode milik Dita," jawab Dita.
"Tapi itu jarang sih ma. Semenjak aku sibuk memegang dua perusahaan sekaligus. Aku menghentikan untuk sementara waktu. Aku tidak bisa fokus jika terlalu sibuk," jawab Sascha.
"Kalau begitu kamu bisa menyalurkan hobi lagi," ujar Sascha.
"Entahlah ma. Rencana Kak Dewa ingin menariku menjadi asistennya. Dan Kak Timothy akan memegang perusahaan AA Groups," jawab Sascha yang memiliki pekerjaan banyak di depan mata.
"Baiklah. Kalian sangat cocok menjadi partner hidup dan partner bisnis yang mumpuni," ujar Chloe yang bangga dengan kecerdasan Sascha. "Jika begitu mama meminta dua cucu perempuan agar mereka mengikuti jejak mama."
"Baiklah ma," balas Dewa yang menyetujui permintaan Chloe.
Mata Sascha membola sempurna ketika melihat Dewa. Sascha tidak habis pikir dengan jawaban Dewa yang mantap. Memangnya melahirkan itu gampang apa.
__ADS_1
"Janganlah kamu marah. Jujur saja aku ingin memiliki enam anak. Aku ingin memiliki keluarga besar," ujar Dewa.
"Nanti kamu bantu ngurusi mereka ya," pinta Sascha ke Dewa.
Chloe mengembangkan senyumnya yang manis. Chloe benar-benar bahagia mendapatkan seorang calon menantu yang baik. Bahkan sang calon menantu sudah menjadikan sang putri menjadi ratu. Chloe berharap Sascha bahagia selamanya dan saling mencintai.
Chloe kembali mengambil tabnya lalu mengecek beberapa jadwal ke depan. Sedangkan Dewa dan Sascha mulai larut dalam pekerjaan masing-masing. Hari ini kepala Sascha sudah sedia kala. Memori demi memori telah kembali dan menyatu dalam pikiran Sascha. Cepat atau lambat Sascha akan menjadi wanita tangguh.
Menjadi pendamping hidup untuk seorang CEO, maka dirinya harus cerdas dan cerdik. Disisi lain Sascha harus mengimbangi kecerdasaan Dewa. Disisi lain Dewa akan menarik Sascha untuk menjadi asisten pribadinya.
Hampir sebelas jam pesawat jet Chloe berada di atas awas. Pesawat itu mendarat di bandara internasional John F. Kennedy. Sebelum turun ada seorang pria yang mendekati Chloe. Pria itu melaporkan kalau jalur VVIP sudah steril dari wartawan. Mereka akhirnya turun untuk menuju ke area parkir.
Gerre sengaja menempatkan salah satu Pengawal terbaiknya untuk menjaga anak istrinya. Gerre tidak mau kecolongan untuk kedua kalinya kejadian masa lalu agar tidak terulang lagi. Sebelum turun pengawal itu meminta para pengawal untuk berjaga di beberapa titik lokasi agar bisa mengamankan mereka.
Setelah mereka keluar dari bandara, sang supir langsung menancapkan gasnya untuk menuju ke sebuah tempat. Perjalanan hari ini cukup ramai namun tidak macet. Sascha memandang keluar lalu melihat gedung-gedung tinggi menjulang. Lalu tidak sengaja Sascha memiliki ide brilian. Sascha ingin membangun sebuah perusahaan di tempat ini.
Mata Dewa membulat sempurna karena mendapatkan pertanyaan dari sang kekasih. Entah apa yang dipikirkan sekarang. Jujur saja Dewa bingung harus menangis atau tertawa. Dewa berpikir kenapa sang kekasih tidak meminta berlian atau perusahaan? Malahan meminta mendirikan pembangunan. Ah... Sekarang Dewa bingung harus jawab apa.
"Kamu minta apa?" tanya Dewa.
"Aku ingin mendirikan perusahaan di bangunan ini," jawab Sascha.
"Apakah kamu tidak meminta mobil Lamborghini, Ferrari atau Porsche?" tanya Dewa yang bingung.
"Hmmp... Tidak perlu. Aku ingin membangun perusahaan agar bisa membeli berlian sendiri," jawab Sascha.
Dewa langsung mengusap wajahnya secara kasar. Dewa sangat frustrasi mendengar jawaban Sascha yang ingin membuat perusahaan. Jujur saja bagi Dewa ini sangat aneh sekali. Buat apa kalau dirinya bekerja siang malam namun calon istrinya menolak pemberian berlian darinya.
__ADS_1
"Okelah kamu bisa membuat perusahaan di sini. Kamu bisa memberinya nama AA Groups International," ucap Dewa yang bingung harus mengatakan apa.
"Jadi kakak ingin memperbesar AA Groups lalu atas namaku?" tanya Sascha.
"Iyalah. Itu hadiah dari aku. Aku sendiri sangat frustrasi. Baru kali ini ada seorang kekasih meminta perusahaan bukan sebongkah berlian. Rasanya aku ingin menangis," jawab Dewa.
Sascha terkekeh kecil melihat Dewa frustasi. Ingin rasanya dirinya tertawa terbahak-bahak. Namun Sascha menahannya. Sascha ingin menjadi perempuan mandiri dan tidak menggantungkan hidupnya ke orang lain.
Sedangkan Chloe yang larut dalam pekerjaan tertawa mendengar permintaan Sascha. Menurut Chloe ini sangat lucu sekali. Bagaimana tidak Sascha meminta perusahaan ke Dewa? Seharusnya Sascha meminta barang-barang branded dengan harga mahal. Namun Sasvha meminta membangun perusahaan.
Melihat sang mama tertawa Sascha menjadi bingung. Sascha hanya bisa menghembuskan nafasnya sambil bertanya, "Kenapa mama tertawa?"
"Mama tertawa karena kamu sangat lucu sekali. Seharusnya seorang wanita jika memiliki kekasih yang tajir meminta barang-barang branded. Tapi kamu enggak sayang. Kamu malah meminta perusahaan," jawab Chloe.
"Ah... Aku juga berpikiran seperti itu ma. Seumur-umur Sascha tidak pernah meminta barang itu. Tapi ini lain ma. Masa Sascha meminta perusahaan. Lalu buat apa aku bekerja siang malam kalau begitu?" tanya Dewa yang kesal sama Sascha.
Sascha bingung mau jawab apa. Sebenarnya dirinya juga tidak sadar meminta itu. Namun dirinya hanya mengedikkan bahunya.
"Kamu enggak usah membangun perusahaan. Kamu urus saja Khans Company dan rumah mode mama. Toh juga nantinya itu buat kamu semua. Kamu bisa kembangkan lagi dengan cara sendiri. Mama tidak akan marah sama kamu kok," tutur Chloe dengan lembut.
"Setelah kita menikah nanti kita jadiin satu. Toh nanti kita punya anak bisa dibagi. Biar mereka yang menjadi generasi selanjutnya," tambah Dewa.
"Jika D'Stars Inc dan AA Groups digabungkan, lalu bagaimana dengan Dita?" tanya Sascha.
"Dita sudah memiliki jatah sendiri. Dia bisa mengambil di negara terserah dimana. Singapura, Malaysia, Hongkong, Taiwan atau juga daerah Eropa dan Amerika. Bisa juga Dita mengambil cabang Australia untuk dikembangkan sendiri. Karena kakek sudah memberikan porsi masing-masing," jawab Dewa.
"Jadi Dita boleh memilih?" tanya Sascha.
__ADS_1