
“Aku
tidak takut soal itu,” jawab Sascha. “Memangnya kenapa?”
“Aku
rasa nyali kamu sangat besar dan tidak terkalahkan,” jawab Kobe memuji
kehebatan Sascha.
“Aku
ingin kamu masuk ke dalam White Tiger,” pinta Kobe.
“Tidak
bisa,” potong Dewa dengan cepat.
“Kenapa
tidak bisa? Aku harus mencari seseorang untuk dijadikan strategi perang dan
provokasi,” ucap Kobe.
“Sascha
sudah menjadi anggota Black Tiger. Meskipun belum disumpah Sascha sudah resmi
menjadi amggota Black Tiger,” ucap Tara yang sedari tadi mendengar perdebatan
mereka.
“Dan aku
adalah pemegang Black Swan,” sahut Sascha yang membuat Kobe menelan salivanya
dengan susah payah.
“Sepertinya
Sascha semakin lama semakin menakutkan,” gerutu Kobe yang dibarengi oleh Dewa
tertawa terbahak-bahak.
“Apakah
itu benar?” tanya Tarra.
“Itu
benar ma,” jawab Dewa. “Para petinggi di Nakata’s Groups sangat ketakutan
ketika Sascha datang. Mereka langsung berkeringat dingin. Padahal Sascha hanya
berkunjung menemui kakek.”
Pernyataan
Sascha membuat Tarra terkejut. Bagaimana bisa seorang gadis bertubuh kecil dan
wajah cantiknya membuat seluruh orang ketakutan. Ini memang sangat aneh sekali.
Lantas, Tara berpikir, kenapa Sascha tidak digembleng saja? Kemungkinan besar
dirinya akan menjadi wanita hebat dan pemberani. Ia akhirnya mengambil
keputusan untuk menyerahkan Black Tiger ke tangan Sascha.
“Mama
sudah mengambil keputusan. Bahwa malam ini Sascha akan menjadi ketua Black
Tiger pusat!” tegas Tarra.
Sascha
yang masih sibuk dengan game mafianya terkejut. Dirinya tiba-tiba saja didaulat
menjadi ketua. Saat itu juga Sascha lansung menolaknya. Ia merasa tidak pantas
menjadi sang ketua mafia. Ia juga tidak ingin mendahului Dewa. Karena dirinya
bukan seseorang yang kejam.
“Maaf...
ma... aku tidak bisa,” tolak Sascha.
“Kenapa?”
tanya Tara dan Dewa serempak.
“Karena
di keluarga mama masih ada Kak Dewa dan Dita. Sementara aku hanyalah orang
lain,” jawab Sascha dengan jujur.
“Sascha,”
panggil Dewa dengan lembut.
“Ada apa
kak?” tanya Sascha dengan lirih.
“Kamu
tahu kenapa mama memberikan kamu kesempatan?” tanya Dewa.
“Aku
enggak tahu,” jawab Sascha dengan wajah lembutnya.
“Mama
ingin menggembleng kamu secara serius. Kamu memiliki potensi besar. Kamu adalah
seorang pemberani. Enggak gampang menyerah pada kenyataan,” jelas Tarra.
“Kenapa
__ADS_1
enggak Kak Dewa saja?” tanya Sascha. “Kan Kak Dewa anak mama?”
“Meskipun
anak mama, sedari dulu menolaknya. Bukan berarti tidak meiliki potensi apapun,”
jawab Tara.
“Aku
tidak mau menjadi ketua mafia pusat karena pekerjaannya berat. Belum lagi
masalah dunia bisnis yang bisa dibilang sangat membingungkan buat aku,” sahut
Dewa sambil menjelaskan semuanya.
“Lalu,
Dita?” tanya Sascha.
“Dita
tidak ada bakat untuk menjadi pemimpin besar. Anaknya selalu ceroboh. Saat
mengambil keputusan tidak memikirkan ke depannya. Inilah mama takut jika Dita
naik ke kursi ketua mafia,” jawab Tara.
“Satu
lagi Dita tidak ingin menjadi ketua mafia. Sedari dulu memang Dita tidak
tertarik pada dunia gelap seperti ini,” tambah Dewa.
“Bagaimana
organisasiku?” tanya Kobe.
“Organisasi
yang kamu dirikan biarkan berjalan apa adanya. Kamu aku daulat mengawal kakek
di manapun berada. Cepat atau lambat Jayden akan menyerang. Ia sudah siap-siap
mencari sekutu. Ditambah lagi dia akan bekerjasama dengan beberapa anggota
mafia Eropa,” jawab Tarra yamg membuat Kobe matanya membulat sempurna..
“Begitu
juga dengan Sascha. Khans Company begitu sangat mengkhawatirkan. Cathy dan
Damar sudah bersiap-siap merebut kursi CEO Khans. Selama tiga bulan kamu harus
belajar dengan serius dengan Dewa. Kamu harus menjadi wanita yang memiliki
kepribadian bar-bar. Jangan sampai kamu diinjak-injak oleh mereka,” imbuh
Tarra.
“Kapan
Sascha akan belajar?” tanya Tara ke Dewa.
Januari. Aku hanya menyuruh memegang D’Stars Inc. Dan aku turun jabatan sebagai
asistennya. Aku bisa mendampinginya ketika ada pertemuan besar antar
perusahaan,” jawab Dewa dengan serius.
“Berapa
bulan?” tamya Kobe.
“Tiga
bulan ke depan,” jawab Dewa.
“Baiklah...
mama setuju,” balas Tara. “Lebih cepat
lebih baik.”
“Jadi
Sascha?” tanya Kobe.
“Tetap
menjadi ketua mafia,” jawab Tara sudah final akan keputusannya itu.
“Aku
setuju ma,” sahut Dewa.
“Kalau
begitu aku pulang ya ma,” pamit Sascha.
“Kamu
dicariin Eric,” sahut Tara dengan cepat.
“Kenapa
dengan Kak Eric?” tanya Sascha lagi.
“Uang
tiga milyar hilang,” jawab Tara.
“Baiklah...
aku akan menemuinya,” balas Sascha yang beranjak berdiri sambil meninggalkan
mereka bertiga.
Mau
tidak mau Sascha harus menerima kalau dirinya adalah ketua mafia. Sungguh berat
__ADS_1
beban buatyang harus ditanggungnya. Namun apa daya cepat atau lambat Sascha
akan melindungi Khans Company.
Setelah
keluar dari ruangan tersebut, Sascha segera mencari keberadaan Eric. Ia berlari
menuju ke halaman belakang. Sepanjang perjalanan Sascha merutuki kebodohannya
karena melupakan kasus itu. Ia menyesali perbuatannya karena menuruti keinginan
Dewa.
Sesampainya
di halaman belakang Sascha melihat para petinggi D’Star Inc sedang berkumpul.
Dirinya langsung bergabung dan berbaur menjadi satu. Ketika melihat Erc yang
gelisah, Sascha menghampirinya sambil memanggilnya dengan lembut, “Kak Eric.”
Eric
yang terdiam semenjak dari tadi hanya bisa menghembuskan nafasnya. Wajahnya
mendongak lalu melihat wajah Sascha dengan teduh. Ia mempersilakan Sascha duduk
di sampingnya.
“Duduklah
di sini terlebih dahulu,” pinta Eric.
Kemudian
Sascha duduk di samping Eric sambil melihat keberadaan Tommy dan Dita. Ada
senyum yang mengembang di bibir mungil Sascha. Lalu ia memilih diam dan berdoa
dalam hati, agar mereka bisa menikah hingga kakek nenek.
“Apakah
kamu sudah tahu kabar uang tiga milyar hilang?” tanya Eric.
“Iya...
aku sudah tahu itu. Aku berharap bisa menemukannya. Meski enggak utuh nanti aku
utuhin lagi,” jawab Sascha.
“Aku
enggak peduli uang itu ada atau enggak. Yang aku butuhkan siapa pelakunya?
Apakah orang luar atau orang dalam?” tanya Eric.
“Kalau
orang luar itu enggak ada dech. Karena sistem yang dipakai itu sistem rahasia.
Yang dimana sistem diciptakan oleh Kak Leo sendiri. Kak Leo pernah menyuruh
beberapa hacker untuk membobol sistem tersebut. Tapi mereka menyerah dan bilang
sistem anda canggih sekali untuk perusahhan sekelas D’Stars Inc. Kalau
prediksiku sih orang dalam,” jawab Sascha. “Itu bisa meleset.”
“Kenapa
juga sih ada orang ingin mengobrak-abrik keuangan itu?” tanya Eric yang
menyugar kepalanya.
“Emang
itu uang dari mana?” tanya Sascha.
“Dari
pendapatan D’Stars Inc. Selama beberapa bulan,” jawab Eric.
“Apakah
kakak membawa laptop?” tanya Sascha.
“Di
kantor. Rencananya aku kabur dari kantor bersama anak-anak untuk menghukum
Dewa. Orang lagi pusing... eh... malah enak-enak di kamar!” kesal Eric. “Apakah
Dewa sudah tidak perjaka lagi?”
“Memangnya?”
tanya Sascha terkejut sambil melihat Eric.
“Bukannya
kamu tahu fakta sesungguhnya?” tanya Eric.
“Maksudnya?’
tanya Sascha.
“Kalau
Dewa tidak pernah tersentuh dengan perempuan manapun,” jawab Eric.
“Oh...
jadi begitu,” sahut Sascha. “Kalau fakta itu sudah tahu sebenarnya.”
“Syukurlah...
aku menjadi senang,” puji Eric.
“Lalu,
__ADS_1
uang itu bagaimana?” tanya Sascha.