
"Mau minta izin apa?" tanya Dewa yang menatap wajah Sascha.
"Aku ingin membunuhnya," jawab Sascha yang sudah muak dengan Risa.
"Kenapa kamu ingin membunuhnya?" tanya Kakek Aoyama.
Tak lama Sascha bercerita tentang Risa yang membullynya. Bahkan kata-kata yang dikeluarkan Risa sangat menyakitkan sering terdengar. Sering sekali Risa memanggilnya dengan memakai hewan yang tidak pantas di hadapan semua orang. Jujur Sascha tidak kuat menahan air matanya ketika bercerita. Semua orang masih berada di sana langsung menggelengkan kepalanya. Bisa-bisanya Risa berbuat seperti itu hanya karena demi menyakiti Sascha. Padahal Sascha ketika berteman dengannya sangat tulus.
"Kakek sering memperhatikan kamu. Aku sangka pertemanan kalian sangat tulus sekali bagaikan saudara. Tapi ujung-ujungnya," ucap Kakek Aoyama dengan menggantung yang menyesali kesakitan Sascha.
"Semuanya itu benar kek. Di kampus Sascha sering ditindas seperti hape terlindas ban. Aku enggak mengerti motifnya apa? Awalnya aku mengira kalau Risa itu sakit jiwa. Tapi semakin kesini Risa semakin menjadi," tambah Dewa yang mengetahui seluk beluk Sascha yang sering terkena serangan fitnah dari Risa.
"Yang lebih parahnya lagi, Billi sebagai kekasihnya Sascha malah direbutnya. Tapi Sascha mendapatkan keuntungan yaitu menikahi sahabatnya sendiri," imbuh Kobe yang angkat bicara tentang keadaan Sascha yang sebenarnya.
"Apakah ada motif lain kamu ingin membunuhnya?" tanya Kakek Aoyama dengan bijak.
"Ada kek. Setelah menipu kakek dengan cara ahli waris Nakata's Groups, Risa akan mengincar Khans Company. Yang dimana Risa didukung oleh orang tuanya itu. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Karena perusahaan itu bisa menghidupi tiga juta keluarga di seluruh dunia," jawab Sascha yang membuat Kakek Aoyama yang semakin terkejut.
Apa yang dikatakan oleh Sascha benar apa adanya. Andaikan semua itu terjadi, bisa dipastikan Risa membuat Khans Company akan bangkrut. Inilah yang akan akan ditakuti oleh Sascha? Bagaimana jadinya kalau itu terjadi?
"Lebih baik kamu jangan kotori tanganmu dengan darahnya. Serahkan pada pengawalku yang akan mengeksekusi Risa dan keluarganya," saran Kakek Aoyama yang membuat mereka setuju.
__ADS_1
Terpaksa Sascha mengalah demi sang kakek agar tangannya tidak terkotori oleh darah Risa. Kemudian Dewa menghapus air matanya Sascha sambil tersenyum, "Sudah jangan menangis lagi. Aku juga tidak akan membiarkan Risa hidup. Sedari dulu aku ingin menghabisinya karena satu kasus yang membuat Dita terseret."
"Apakah itu benar? Kenapa Dita bisa terseret?" tanya Kobe yang baru mengetahui kalau keponakan perempuannya terkena masalah oleh Risa.
"Ceritanya sudah lama. Risa memang sengaja menjebak Dita dengan cara memberikan obat perangsang ketika karirnya menanjak di dunia permodelan. Saat itu usia Dita masih empat belas tahun. Tubuh Dita saat itu masih bagus-bagusnya. Karena saat itu ukuran S yang sedang dipakainya," jelas Dewa. "Setelah itu Dita langsung ditawari oleh Brand Ambassador yang sangat terkenal di Indonesia. Akhirnya aku menyuruhnya menerimanya. Karena yang punya ambasador adalah temanku sendiri ketika masih SMA. Di situlah Risa iri hati yang membuat banyak rencana untuk menghancurkan karir Dita."
"Sangat kejam sekali ternyata. Lalu?" tanya Taro.
"Dita tidak sengaja meminum jus jeruk yang sudah dicampur obat perangsang. Setelah obatnya bereaksi Risa membawanya ke hotel. Untung saja Bima dan Bryan saat itu aada. Alhasil Dita bisa diselamatkan. Bagaimana nasibnya jika tidak ada mereka? hatiku sungguh hancur berkeping-keping karena tidak bisa menjaga Dita adik perempuan satu-satunya," jelas Dewa yang membuat Sascha sedih.
"Kalau begitu okelah… biarkan mereka yang menghabisi Risa," balas Kakek Aoyama.
Semua menyetujui permintaan kakek Aoyama. Lalu mereka menunggu pesanan boneka yang mirip dengan Kakek Aoyama. Sambil menunggu Kakek Aoyama langsung menarik pasukannya. Kemudian Kakek meminta beberapa orang pengawalnya untuk berjaga.
"Apakah si Kakek tua ada berada di rumah?" tanya Risa.
"Tidak," jawab pria itu yang sedang memegang gelas.
"Dimana Kakek tua itu?" tanya Risa.
"Ada di rumah sakit. Kakek tua itu sedang merasakan kesakitan. Kemungkinan di kakek tua itu akan mati," jawab Pria kutu.
__ADS_1
"Baguslah," puji Risa yang membuat pria itu tersenyum manis.
"Kalau begitu lakukanlah. Aku senang kakek tua yang tidak berguna itu mati!" bisik pria itu dengan nada menekan.
Risa menganggukan kepalanya sambil tersenyum manis sambil berkata, "Berikan aku servis yang hot jika sudah selesai."
"Baiklah," balas pria itu.
Tiga jam berlalu. Boneka yang dipesan oleh Taro sudah datang. Kemudian Taro memintanya untuk menaruh boneka itu dibaringkan di atas ranjang milik Kakek Aoyama. Setelah dirasa sempurna, mereka memutuskan untuk pergi dari ruangan itu.
Taro dan Kakek Aoyama memutuskan pergi dari rumah sakit. Sementara Sascha, Dewa dan Kobe masih berada di sana menunggu kedatangan Risa. Sambil menunggu, mereka sedang bersantai.
Lalu, bagaimana pengawal yang disuruh sama Kakek Aoyama? Mereka sudah berjaga di posisi masing-masing. Dewa dan Kobe sudah membaginya di setiap sudut. Mereka selalu berhubungan satu sama lain hingga ke Dewa.
Tepat pukul sebelas malam, Risa datang memakai gaun hitam dengan harga mahal. Ia melangkahkan kakinya sambil menatap lorong menuju ke ruangan Kakek Aoyama sangat sepi sekali.
Beberapa orang yang bersembunyi langsung lapor satu sama lain. Mereka dengan serius saling memandang Risa yang sedang lewat. Sedangkan Sascha, Sascha dengan santainya tersenyum manis. Ia masih tenang dan membiarkan Risa mulai masuk ke dalam sambil tertawa.
Tak lupa juga dua pria yang usianya tidak jauh itu. Kedua pria itu sangat geram sekali dengan kedatangan Risa. Mau tidak mau mereka menahan amarahnya supaya tidak meledak seperti bom atom yang membumihanguskan Nagasaki dan Hiroshima di kala waktu itu.
Risa berjalan dengan anggunnya mendekati replika kakek Aoyama. Lalu Risa mengambil sesuatu di dalam tasnya. Kemudian Risa menaruh tasnya terlebih dahulu dan menatap wajah tua Kakek Aoyama.
__ADS_1
Dengan senyuman yang khas, Risa memegang replika itu. Ia tidak sadar kalau yang berada di depannya adalah Kakek Aoyama palsu. Diam-diam Risa menyuntikkan obat itu ke dalam tangan replika itu. Kemudian Risa menepuk-nepuk pipi Kakek Aoyama sambil berkata, "Kamu sudah membuat aku kecewa. Kamu menolakku karena aku j4l4ngkan… Iya kan… kakek tua! Lebih baik kamu mati dan pergi ke mereka untuk menemui istrimu!" geram Risa.