Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
RENCANA MEMANCING.


__ADS_3

"Namanya juga pura-pura untuk menjerat korban. Kamu tahu sendiri kan Fatin itu gimana? Jadi wajarlah kalau Fatin melakukannya dengan bagus," jawab Brian.


"Bener juga sih Kak. Jujur sebenarnya aku deket banget sama istrinya. Istrinya itu orang baik banget. Jarang banget Yang namanya marah-marah ke anak-anaknya maupun ke suaminya. Aku mengakui kalau istrinya itu orang hebat dan wanita tangguh. Tapi kalau untuk melakukan hal itu. Aku setuju juga. Wanita mana yang ingin melihat rumah tangganya hancur hanya karena pelakor? Nggak ada kak. Aku belum nikah saja miris mendengarnya. Padahal Fatin di sana itu disambut baik lho sama istrinya. Tapi kenapa kok bisa menghancurkan rumah tangganya dalam waktu sekejap?" Jelas Dita.


"Yang namanya setan tetap aja setan. di mana ada tambang uang di situ dia harus mempertahankannya. meskipun dia sudah tidak peduli lagi dengan omongan masyarakat. Apalagi masyarakat sudah menyebutnya pelakor. Aku juga nggak habis pikir soal dia. Terus kejadiannya malam pas ada yang ngirim makanan. Ya sudah dimakan lah itu sama Fatin akhirnya pingsan deh dan nggak bangun-bangun," jelas Bryan.


"Sepertinya sih ini sangat menyakitkan. Tapi mau bagaimana lagi," celetuk Sascha.


"Apakah kasus ini akan diteruskan?" Tanya Bryan menatap wajah Dewa.


"Sudah nggak perlu. Hapus aja kasus itu dari dunia. Lagian juga mau nagih gimana kalau dia ketahuan korupsi di perusahaan milik papa Gerre? Apakah kamu mau nagih di neraka sana?" Ucap Dewa.


"Kamu benar Wa. Nanti aku tarik Tama dari kasus ini. Setelah itu sama aku lemparkan ke Khans company cabang pusat. Papamu memintaku untuk memberikan beberapa pengacara dari negara ini."


"Kenapa harus memakai pengacara sini?" Tanya Dita.


"Kalau dulu jadi kenapa-napa bisa ngurusnya. Jadi nggak perlu orang luar masuk ke sini. Lagian juga akan susah jika mengurusnya memakai orang luar," jelas Bryan. "Oh ya rumah ini sudah ada peminatnya. Yaitu kurang lebih lima orang."


"Yah bagus itu. Kita nggak perlu lagi mencari pembeli. Siapa tahu nanti ada yang fix membelinya," sahut Sascha.


"Berikan harga yang cocok saja Bray buat mereka. Ini setengahnya dikasihkan kepada kakaknya Pak Andika. Setengahnya lagi diberikan ke panti asuhan. Kalau sawahnya lebih baik dijual saja," pinta Dewa.


"Lebih baik aku tawarkan kepada teman-temanku. Siapa tahu nanti teman-temanku pada mau sawah," ucap Dita yang meraih ponselnya dan menawarkan sawah milik Pak Andika.


"Nggak apa-apa. Yang penting laku saja. Lebih cepat lebih baik lagi. Itu uangnya juga diberikan kepada panti asuhan," jelas Dewa.


Kemudian mereka bekerja sama untuk menawarkan barang-barang Pak Andika dan ibu Nirmala. Semoga hari ini mereka bisa menjual barang-barang itu dengan cocok dan pas harganya.


"Setelah kujual Apakah kalian akan ke sini?" Tanya Brian lagi.


"Aku nggak bisa janji untuk ke sini. Lagian juga sebentar lagi aku megang perusahaan. Yah tempat ini pasti akan aku rindukan. Semoga saja tempat ini menjadi kenang-kenangan yang terindah. Seiring berjalannya waktu mungkin aku akan ke sini tapi untuk menengok saja," jawab Sascha.


"Tidak apa-apa. Yang penting kamu bahagia selamanya. Tetap semangat ya. Jangan pernah menyerah lagi," pinta Brian ke Sascha.


Jujur saja saat ini Dewa tidak cemburu ataupun marah. Dewa malah bahagia jika sang istri Ada yang menyemangatinya lagi. Tapi dewa saat ini sedang gundah gulana. Bisa tidak dirinya ke sini tapi hanya untuk menengok? Entahlah.


Mereka melanjutkan obrolan dengan ringan. Mereka menceritakan hal-hal yang konyol yang Sascha tidak pernah mendengarnya. Meski Bryan orangnya serius dalam bekerja. Namun kalau sedang santai memiliki sisi kocak dan konyolnya. Begitu juga dengan Dewa. Mereka berdua memang sama-sama konyol.


Bagaimana dengan lainnya? Iya sama saja. Jika mereka berkumpul bisa-bisa membuat suasana menjadi renyah. Mereka di sini tidak membicarakan soal pekerjaan. Melainkan soal liburan yang sangat konyol.


Sore pun tiba. Akhirnya Brian mendapatkan penjual dengan harga yang cukup tinggi. Kenapa Bryan menjualnya dengan harga cukup tinggi? Karena rumah itu sangat strategis sekali. Rumah itu dekat dengan pasar dan terminal. Banyak sekali ojek online yang sudah wira-wiri di depan rumah Pak Andika. Apalagi rumah ini sering membawa hoki.

__ADS_1


"Aku sudah mendapatkan pembelinya. Aku yakin kamu mau melepaskan rumah ini," ucap Bryan.


"Aku nggak memperdulikan harga tinggi Bray. Pokoknya rumah ini kejual terus nggak ada polemik lagi. Takutnya setelah aku tinggal rumah ini belum terjual lalu adiknya Pak Andika itu datang dan mengklaim rumah ini. Terus aku mendapatkan pesan agar uangnya bisa digunakan sebaik-baiknya," jelas Dewa.


"Ya nggak apa-apa sih. Kalau dijual dengan harga tinggi. Kemungkinan besar kakaknya Pak Andika untung besar. Bisa saja dibuat kuliah anak-anaknya. Atau bisa dibuat bangun usaha," ujar Bryan.


"Memangnya kenapa dengan keluarganya kakaknya Pak Andika?" Tanya Dewa.


"Orangku sudah menyelidiki kabarnya kakaknya Pak Andika. Setelah diusir dari rumah. Kakaknya itu tidak memiliki apa-apa. Makanya itu aku nggak tega untuk memberikan uang sedikit. Dia juga sudah mendengar kabarnya Pak Andika meninggal," jawab Brian.


"Apakah kamu tahu tinggalnya di mana?"


"Ya tahulah. Setelah semuanya sudah selesai. Kita akan ke sana untuk mengunjunginya."


"Kapan orang itu akan ke sini?"


"Hari Minggu."


"Lama juga ya. Ya sudah sekalian liburan di sini. Aku juga sudah lama tidak merasakan liburan panjang."


"Bagaimana kalau kita mancing ikan di sawah?"


"Wah itu ide yang sangat bagus sekali. Suasananya masih siang. Ayolah kita berangkat ketimbang di sini.'


"Biarkanlah mereka beristirahat."


Dewa menganggukkan kepalanya lalu menuju ke belakang. Pria bertubuh kekar itu mengambil pancingan ikan. Untung saja pancingan yang disimpannya masih ada. Jadi Dewa tidak perlu lagi membelinya.


Sementara itu Sascha mendekati Dewa dan melihatnya membawa pancingan. Kemudian Sascha bertanya, "Bang buat apa itu?"


"Mancing ikan. Aku sudah lama tidak memancing ikan," jawab Dewa yang memilih pancingan bagus.


"Dengan siapa Kakak memancing ikan?" Tanya Sascha.


"Dengan Brian. Kamu di rumah saja ya. Istirahat sana biar nggak terlalu capek," jawab Dewa.


"Aku tidak akan istirahat jika Kakak masih berkeliaran di mana-mana," ucap Sascha.


"Kamu itu ada-ada saja. Kamu mau ikut tah?" Tanya Dewa yang membaca pikiran sang istri.


"Ya iyalah kak. Masa aku ditinggal di sini sendirian. Tunggu sebentar. Aku akan mengajak Dita untuk pergi ke sawah," pinta Sascha lalu meninggalkan Dewa.

__ADS_1


Dewa hanya tersenyum lucu melihat istri kecilnya itu. Entah kenapa Sascha saat ini sangat lucu sekali. Inginnya Dewa mengurung di dalam kamar dan mengajaknya olahraga di atas ranjang. Tapi Dewa mengurungkan niatnya.


Setelah mengobrol, Dewa mengecek pekerjaan. Kemudian dirinya melihat harga saham di dunia. Lalu Dewa memutuskan untuk beristirahat sebentar. Akhirnya Dewa diajak Bryan untuk memancing.


"Dita," panggil Sascha.


"Ada apa kak?" Tanya Dita.


"Lebih baik kita pergi ke sawah," jawab Sascha.


"Wah itu ide yang sangat bagus sekali. Aku rasa kita akan kesana. Apakah Kak Dewa sama Kak Brian ikut?"


"Ya mereka ikut. Itu adalah rencana mereka ketika pergi ke sawah pada siang-siang bolong begini."


"Memangnya mereka mau ngapain Kak?"


"Mereka ingin memancing."


"Oalah... kok aku baru tahu ya hobinya mereka memancing?" tanya Dita.


"Sebenarnya sih bukan hobi. Tapi mereka hanya gabut saja. Kalau di sini mereka melakukan hal-hal yang aneh. Kalau di perusahaan mereka memilih untuk tidur. Atau ngajakin aku bermain game. Bisa-bisa jam istirahat sampai pulang nge-game terus. Kan aku jadi pusing," jawab Sascha yang mengakui kalau dirinya sering bermain game di dalam kantor.


"Kakak nggak perlu pusing soal nge-game. Lagian juga tempat gamenya adalah kantornya Kakak sendiri. Dipaksa pun Kak Dewa sudah memberikan stik untuk bermain playstation," jelas Dita yang membuat Sascha tertawa.


"Tapi dulu aku pernah buat vlog. Saat buat vlog aku hapus lagi. Captionnya gini... Gue sama anak buah sedang gabut bermain game online di kantor," ungkap saja sambil menunggu Dita berganti pakaian.


"Jadi nggak upload di media sosial kakak? Biasanya Kak Dewa yang sering upload," tanya Dita.


"Nggak males. Nanti banyak karyawan yang iri kepadaku. Jadinya aku hapus lagi," jawab Sascha dengan jujur.


"Ya seharusnya di upload aja Kak. Kakak bisa membuktikan kalau kantor itu tidak menyeramkan. Bahkan kantor itu dijadikan sebagai tempat tidur bagi karyawan," jelas Dita yang selesai mengganti bajunya.


"Ya mau bagaimana lagi. Niatnya hanya menghibur diri saja jika nggak ada pekerjaan. Kamu udah selesai?" Tanya Sascha.


"Ya aku udah selesai. Aku mengganti bajuku saja. Karena di sini aku memakai baju terbuka. Takutnya nanti parah warga marah sama aku," jawab Dita.


"Ya sudah kalau begitu. Kalau ke sawah memakai baju terbuka kan enak," celetuk Sascha yang mengajak Dita keluar.


"Enak sih enak. Lalu bagaimana dengan para lelaki itu?" Tanya Dita sambil menunjuk kedua pria itu.


"Jaga aurat. Agar tidak terjadi kenapa-napa," ucap Sascha sambil mendekati Dewa.

__ADS_1


"Oh iya Dit. Nanti sore Tommy dan Bima akan ke sini. Mereka memutuskan untuk liburan sejenak. Katanya hidup di pekerjaan sangat membosankan," ucap Dewa yang membuat Dita tersenyum bahagia.


"Nanti mau dimasakin apa Kak?" Tanya Dita yang bingung dengan kekasihnya datang ke sini.


__ADS_2