
Jakarta Indonesia.
Dita yang selesai dari toilet hanya bisa menghembuskan nafasnya. Jujur saja ia sudah bosan dengan rumah sakit. Dalam hatinya kapan dirinya akan keluar dari sini sambil menikmati hari yang cerah. Ia memutuskan untuk kembali ke atas ranjang.
“Lama-lama aku bosan tinggal di sini. Padahal sakitku enggak parah. Kak Tommy keterlaluan sekali,” kesal Dita dalam hati.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Dita akhirnya duduk di atas ranjang. Matanya melihat seorang wanita paruh baya yang masih cantik berjalan menghampirinya. Wanita itu tersenyum hangat lalu mendekati sambil menyapanya, “Dita.”
“Mama,” seru Dita sambil merentangkan kedua tangannya.
“Apa kabar?” tanya Tarra nama wanita itu.
Tarra berhambur masuk ke dalam pelukan sang putri. Air matanya menetes karena beberapa bulan ini tidak bertemu. Tarra sangat sibuk di dunia bawah tanah dan Dita sibuk dengan jadwal syuting yang padat. Mereka berpelukan sambil melepaskan rindu. Meskipun jarak memisahkan namun mereka selalu berkomunikasi.
“Kabar aku baik-baik saja ma,” jawab Dita.
“Apakah kamu mau tinggal di sini terus?” tanya Tarra.
“Aku enggak tahu ma. Jadwalku padat banget. Aku enggak bisa menikmati hariku,” jawab Dita dengan sendu.
“Lebih baik kamu keluar dan meraih impian kamu yang lain,” saran Tarra sambil melepaskan Dita. “Mama juga enggak tenang jika jauh sama kamu.”
“Kalau aku keluar berarti harus membayar denda?” tanya Dita sambil mengangkat wajahnya.
“Apakah kamu mau tetap di sini? Sedangkan kakakmu akan pindah ke New York. Papa dan mama berencana akan pensiun,” jawab Tarra.
Dita terdiam sejenak lalu memikirkan masa depannya. Ia tidak mungkin terus-terusan di dunia entertainment. Dirinya harus memiliki keahlian bidang lain untuk hari esok.
“Jika aku keluar, denda yang aku harus bayarkan adalah lima milyar,” jawab Dita.
“Nanti mama minta ke Dewa,” ucap Tarra yang membuat Dita membulatkan matanya.
“Mama” rengek Dita.
__ADS_1
“Apa?’ tanya Tara.
“Kenapa mama meminta ke kak Dewa? Aku pasti kena omel,” tanya Dita.
“Kamu tidak akan kena omel. Dewa akan mendukungmu untuk berhenti dari pekerjaan kamu itu,” ucap Tarra. “Bukannya kamu ingin kuliah mengambil jurusan desain dan bisnis dan manajemen?” tanya Tarra.
“Iya sih ma. Tapi belum terealisasi,” jawab Dewa.
“Dan rencananya kamu berjanji sama kakakmu Sascha untuk kuliah bersama?” tanya Tarra yang mengingatkan janji itu.
Mendengar nama Sascha, Dita tersenyum manis. Dita sangat merindukan Sascha. Jujur Dita ingin mengajaknya belanja dan membeli baju-baju yang super murah.
“Ah... rasanya aku merindukan kakak perempuanku itu. Aku sudah lama tidak mengajaknya belanja baju yang super murah. Gara-gara aku menculik Mbak Sascha, Kak Dewa sering ngambek dan membekukan tabunganku selama seminggu,” ucap Dita dengan lemah.
“Apa itu benar?” tanya Tarra.
“Ya... itu benar ma. Bahkan aku sangat kesulitan membayar barang yang aku beli,” jawab Dita yang membuat Tarra tertawa.
“Sebegitukah kakak kamu mencintai Sascha?” tanya Tarra.
“Bagaimana dengan Billi?” tanya Tarra.
“Ah... mama harus tahu ini. Ternyata selama ini keluarga Billi dan Billi sering memanfaatkanya. Mama tahu kalau Sascha adalah gadis polos. Sangking polosnya mereka sering memintanya uang. Enggak Billi, ibunya dan bapaknya juga minta. Jika enggak dikasih mereka bakalan ngamuk,” jawab Dita. “Kakak kan anaknya mama Chloe dan papa Gerre. Bagaimana kalau mereka tahu jika Mbak Sascha anaknya konglomerat?”
“Ini yang sedang kami pikirkan. Semoga saja mereka tidak mendekati Kak Sascha. Kalau mendekatinya kemungkinan besar kami bisa menuntutnya untuk kasus penipuan,” jawab Tarra.
Sepertinya Tarra ingin tahu bagaimana Sascha hidup di Jakarta. Setelah mengorek sedikit tentang Sascha dari putrinya, Tarra sepakat untuk mengumpulkan sebuah bukti. Yang dimana bukti itu sudah dikumpulkan lalu diserahkan ke Gerre. Tarra sudah menganggap Gerre sebagai kakak kandungnya. Mereka sering share tentang informasi yang didapatkan.
“Sepertinya mama punya rencana?” tanya Dita.
“Iya... Mama sangat tertarik sekali mengulik kakak perempuan kamu itu. Mama akan mengumpulkan semua bukti dan menyerahkannya ke Papa Gerre. Nantinya biarkan Papa Gerre yang akan bertindak,” jawab Tara yang membuat Dita tersenyum.
“Iya ma... aku setuju,” jawab Dita bersemangat.
“Kamu semangat sekali ingin membuat mereka menderita?” tanya Tarra.
“Mama tahu enggak kalau kepalaku terbentur manekin karena si Santi! Padahal aku tidak pernah berurusan sama dia hingga akhirnya mendorongku. Sebenarnya Kak Tommy sudah cerita, bagaimana Dita dipecat? Begitu juga dengan Kak Ian. Kak Ian dibentak oleh Santi dan disuruh membersihkan meja. Jadi kak Ian kesal sama Santi yang sok-sokan seperti bos. Padahal Kak Ian enggak kaya gitu. Yang lebih parahnya lagi Santi pernah mempermalukan Mbak Sascha di depan investor asal Finlandia. Tapi mereka tidak percaya dan langsung menyetujui kerjasamanya asalkan tidak bersama Santi. Selesai acara meeting Santi mengamuk dan menyumpahi Mbak Sascha. Yang lebih parahnya lagi diteriakin j4l4ng ketika bertemu dengan para petinggi perusahaan,” jelas Dita.
__ADS_1
“Baguslah. Mama akan meminta seluruh perusahaan di dunia memblacklist keluarga Billi. Dengan begitu mereka tidak bisa bekerja di perusahaan bergengsi manapun. Ditambah lagi dengan semua bukti yang mengarah ke mereka. Sekarang kamu enggak perlu takut lagi sama Santi. Cepat atau lambat kamu tunjukkan siapa dirimu sebenarnya. Begitu juga dengan Sascha dan Dewa. Jika mereka mengetahui siapa jati diri Sascha dan Dewa sebenarnya, maka mereka tidak akan berkutik sedikitpun. Lalu tunggu kakak-kakak kamu yang lainnya. Mereka masih berada di zona aman dan nyaman. Cepat atau lambat mereka akan kembali ke perusahaan masing-masing,” ucap Tarra.
“Maksud mama apa?” tanya Dita.
“Nanti kamu akan tahu siapa mereka sebenarnya,” jawab Tarra.
“Begitu juga dengan Kak Tommy? Apakah Kak Tommy lahir dari keluarga yang berada?” tanya Dita dengan serius.
“Iya... Keluarga Tommy adalah pemilik perusahaan otomotif terbesar di dunia,” jawab Tarra yang tiba-tiba saja memandang Dita. “Sebaiknya kamu harus tutup mulut dahulu. Karena rahasia ini masih disembunyikan.”
“Baik ma,” balas Dita.
“Kamu boleh pulang hari ini. Setelah kini kamu harus urus semuanya. Cepat atau lambat kamu harus kembali ke New York. Mama akan tenang jika kamu hidup bersama mama!” titah Tarra.
New York City USA.
Sascha mulai membuka mata sambil melihat bidang dada yang kokoh berada di depannya. Sontak saja Sascha terkejut dan melihat wajah Dewa sedang tertidur pulas. Wajahnya yang tampan membuat dirinya menyunggingkan senyuman yang manis. Sascha mencoba mengangkat tangannya dan memegang rahang kokoh Dewa. Pagi ini memang sangat indah buat dirinya. Jantungnya semakin berdegup kencang. Sascha mulai merasakan tubuhnya panas dingin.
Jujur bagi Sascha, Dewa memeluknya dengan sangat erat. Bahkan jarak antara dirinya sangat dekat. Sascha diam-diam mencium mulut Dewa hingga si empunya semakin mengeratkan pelukannya.
“Kakak,” panggil Sascha yang membuat Dewa tersenyum manis.
Dewa sengaja tidak merespon panggilannya Sascha. Akan tetapi Dewa tetap tersenyum manis. Sascha berusaha melepaskan tangan Dewa yang melingkar di pinggang. Namun tidak berhasil juga. Hingga akhirnya ia mengangkat tangannya sambil memegang dada Dewa.
“Kakak,” panggil Sascha lagi sambil mengelus dada bidang tersebut.
Selang berapa detik. Dewa mulai merasakan tubuhnya bereaksi. Tubuhnya mulai berkeringat dan bawahnya sudah berontak untuk keluar. Namun Dewa masih menahannya dan membiarkan Sascha bermain-main.
“Kak... kakak tahu enggak? Kalau hari ini kita terbang ke Labuhan Bajo untuk melihat proyek baru kita. Sekalian ke Kuta dan Jogjakarta,” tanya Sascha dengan lembut agar Dewa terbangun.
“Jam keberangkatannya siang ini loh kak. Sekalian meeting sama anak-anak untuk menentukan nasib perusahaan AA Groups? Mau di sini atau di Amerika?” tanya Sascha serius.
Alhasil Dewa sudah tidak tahan lagi dan mulai mendesah karena ulah Sascha. Mau tidak mau Dewa melepaskan kekasihnya itu lalu pergi ke toilet dengan membanting pintu.
BLOOOM!
Sascha terkejut dan menatap pintu yang tertutup dengan kasar. Entah kenapa Sascha menjadi bingung dan cemas. Lalu kepalanya menyimpan sejumlah pertanyaan untuk Dewa. Tiba-tiba saja Sascha sangat khawatir dengan Dewa. Ia akhirnya bangun dengan tubuh bergetar sambil bertanya, “Kenapa dengan Kak Dewa ya? Kok pagi-pagi kak Dewa menjadi aneh?”
__ADS_1