Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
DEWA GILA.


__ADS_3

“Ya itu benar. Gara-gara kamu aku menjadi ketagihan lagi,” jawab Dewa sambil tersenyum manis.


“Dasar Kak Dewa gila,” umpat Sascha sambil menginjak kaki Dewa.


“Argh!!!” teriak Dewa lalu memegangi kakinya itu.


“Lagian... Pagi-pagi Kakak sudah menjadi gila,” kesal Sascha.


Dewa menurunkan kakinya sambil tersenyum puas telah membuat sang kekasih kesal. Ia segera memeluk Sascha sambil berbisik, “Kamu mau ke mana? Pagi-pagi kok sudah rapi.”


“Mau ke kantor. Tapi aku mau ke apartemen dulu ngambil barang-barangku,” jawab Sascha.


“Mau aku antar?” tanya Dewa.


“Kayaknya nggak perlu deh. Aku pergi ke apartemenmu sendiri,” ucap Sascha yang melepaskan dirinya dari pelukan Dewa.


“Kalau begitu pergilah sama Almond,” suruh Dewa.


“Kenapa harus sama Almond?” tanya Sascha.


“Almond dan teman-temannya adalah pengawal pribadimu yang diutus oleh papa,” jawab Dewa. “Meskipun kamu jauh dari papa, Papa sangat mengkhawatirkanmu.”


“Kalau nggak mau?” tanya Sascha.


“Jangan tolak permintaan papamu! Kalau kamu nggak mau, kamu harus berangkat denganku. Kalau nggak mau juga... Aku akan mengurungmu di sini! Jadi orang kok keras kepala,” kesal Dewa.


“Bukannya aku nggak mau. Kamu tahu kan kalau aku adalah wanita mandiri? Kalau soal pekerjaan Aku masih bisa mengatasinya. Jika bukan pekerjaan, aku pasti minta tolong kepadamu.”


“Tapi ya jangan gitu. Kerja nggak kerja kamu pasti membutuhkanku,” ucap Dewa dengan sendu.


“Maksudku? Aku nggak mau orang kantor membicarakanku soal hubungan ini. Kakak tahu kan banyak karyawati yang ingin bersanding dengan kakak? Ditambah lagi beberapa karyawati yang ingin berlomba-lomba mendapatkan kakak. Aku sudah sering kena tindas sama mereka karena kedekatan kita. Padahal kedekatan kita adalah partner bisnis. Makanya aku nggak mau kena tindas seperti itu. Aku memiliki tujuan ke kantor untuk bekerja bukan mencari musuh. Jika aku marah, aku bisa kesetanan dan menghajar mereka,” jelas Sascha.


“Oh jadi itu maksud kamu. Bagaimana kalau aku mengumumkan, kalau kamu adalah calon istriku. Aku nggak peduli soal omongan mereka. Soalnya kita sudah kenal dari kecil. Kalau mereka menindasmu aku bisa mengecatnya tanpa harus melalui Tommy. Kamu jangan khawatir soal itu. Aku yang akan melindungi kamu,” jelas Dewa.


“Aku nggak ingin disebut wanita manja yang merengek pada laki-laki hanya karena kasus seperti ini. Aku ingin mereka memandangku menjadi wanita strong. Terkadang menjadi wanita strong aku sering kena tindas. Bahkan yang lebih parahnya lagi mereka menyebutku cari muka kepada atasan. Padahal aku nggak nyari muka. Mukaku masih berada di tempatnya. Apalagi hubunganku sama Kak Eric sangat dekat. Aku nggak tahu gimana menjelaskannya. Padahal aku adalah asistennya Kak Eric,” kata Sascha.


“Sudahlah... Jangan terlalu dipikir. Kamu kan punya hak veto untuk memecat mereka? Harusnya kamu gunakan hak itu sebaik mungkin. Apalagi mereka seenaknya menindas orang yang tidak bersalah sama sekali. Jadi wajarlah,” tegas Dewa yang mengingatkan Sascha memiliki hak veto.


“Punya sih punya. Tapi aku melihat kondisi terlebih dahulu. Jika aku memecat mereka kasihan keluarganya yang tidak makan. Aku mikirnya dari situ,” ungkap Sascha.


“Kamu jadi orang terlalu baik. Saking baiknya kamu sering dimanfaatkan oleh mereka. Kamu nggak pernah menyelidikinya lebih dalam dan tidak tahu mereka sebenarnya,” ujar Dewa.


“Maksud kakak?” tanya Sascha yang tidak paham.

__ADS_1


“Mereka mencari uang bukan untuk keluarganya. Mereka mencari uang untuk gaya hidupnya yang glamor. Aku sudah menyelidikinya dan tahu kebiasaan mereka. Mereka membeli barang-barang branded  untuk dipamerkan ke semua orang. Dengan gaya hidup itulah mereka bisa menindas orang seenaknya. Bisa dikatakan mereka adalah sosialita kelas atas,” jawab Dewa.


“Jadi selama ini?” tanya Sascha.


“Ya mereka sengaja melakukannya. Mereka memandangmu sebagai kuman yang merusak mata,” jawab Dewa.


“Kalau begitu aku akan turun tangan. aku nggak bisa terus-terusan ditindas seperti itu,” kesal Sascha.


“Apakah kamu nggak tanya tentang bukti-bukti mereka?” tanya Dewa yang menghempaskan bokongnya di tepi ranjang.


“Jawabannya pasti di tanganku,” jawab Sascha yang membuka lemari untuk mencari baju kerja Dewa.


“Enggak. Seluruh bukti yang ada di tangan Tommy,” ucap Dewa dengan jujur.


“Baiklah. Aku menyerah dengan kamu. Kamu lebih cantik dari aku. Aku rasa harus mencontoh dan mengambil ilmu kecerdikanmu,” kata Sascha yang membuat Dewa tertawa.


“Nggak usah ambil. Aku akan mengajarimu gratis lagi tanpa bayar sepeser pun,” sahut Dewa.


“Pakai ini aja ya?” tanya Sascha yang mengambil kemeja hitam, jas hitam, celana bahan hitam, dan dasi hitam.


“Ada nggak warna lain?” tanya Dewa yang menolak warna hitam.


“Kemeja pink dan dasi hitam,” jawab Sascha yang ingin mendadani Dewa menjadi pria dewasa.


“Ya... Sudahlah kalau begitu,” balas Sascha.


Jujur Dewa tidak terlalu menyukai warna terang. Ia lebih memilih warna putih ketimbang terang. Sascha sampai geleng-geleng kepala melihat lemari Dewa cenderung ke warna putih dan hitam. Sampai-sampai Sascha malas membelikan baju berwarna terang. Jika disuruh memilih baju untuk Dewa dirinya langsung mengangkat tangannya dan menolak dengan tegas.


“Akhir-akhir ini setiap membuka lemari atau walk in closet isinya rata-rata hitam dan putih. Dibelikan baju warna terang agar hidupnya terang seperti lampu eh... ujung-ujungnya ditolak,” omel Sascha yang membuat Dewa tertawa terbahak-bahak.


“Kamu tahu warna terang yang aku pakai itu ada waktunya,” sahut Dewa.


“Terserah deh. Kalau mau beli baju jangan melibatkan aku. Lebih baik kamu libatkan seluruh pengawalmu untuk mencarikan baju yang bagus,” kesal Sascha yang membuat Dewa semakin tertawa keras.


Setelah mempersiapkan pakaian buat Dewa, Sascha pergi meninggalkan kamar sambil berteriak, “Aku tunggu di belakang. Kita sarapan bareng.”


“Baiklah kalau begitu. Aku menyusulmu,” balas Dewa.


Sementara itu Dita sudah rapi dan pergi ke dapur. Dita melihat saja membantu mengambilkan piring langsung mendekati sang kakak, “Apakah kakak sibuk hari ini?”


“Iya Kakak sibuk,” jawab Sascha yang menaruh piring di meja. “Kakak akan pergi ke apartemen untuk mengambil peralatan kerjaku. Setelah itu aku berangkat ke kantor. Memangnya kenapa?”


“Aku ingin ngajak Kakak jalan-jalan,” jawab Dita.

__ADS_1


“Eh... Ada pasar malam nggak?” tanya Sascha.


“Ada sih Kak di daerah Ciputat sana,” jawab Dita yang tersenyum sumringah.


“Boleh tuh kita ke sana,” sahut Tara.


“Lho, emangnya Mama mau ikut ke pasar malam?” tanya Sascha.


“Ya maulah. Apalagi ada kamu,” jawab Tara yang membuat Sascha terkejut.


“Ada apa ini kok rame sekali?” tanya Dewa yang baru saja datang sambil membawa kunci mobil Sascha.


“Rencana nanti malam aku, kakak sama mama mau pergi ke pasar malam. Boleh kan ya kak?” tanya Dita yang memohon untuk memberikan surat izin ke pasar malam.


“Kamu nggak ngajak Kakak?” tanya Dewa.


“Emangnya kakak mau?” tanya Dita balik.


“Ya maulah. Memangnya kalian keberatan jika seorang CEO terpandang di dunia menikmati pasar malam?” tanya Dewa serius.


“Nanti kalau ada paparazzi dimasukin ke dalam majalah bisnis kalau Kak Dewa pergi ke hiburan rakyat jelata bagaimana?” tanya Dita panjang lebar.


“Aku nggak masalah. Sekarang jadi pertanyaan Kenapa mereka meributkan aku jalan-jalan ke area pasar malamnya rakyat jelata? Sementara aku sendiri nggak keberatan dan sangat menikmati malam-malam membaur dengan orang-orang kecil,” jelas Dewa.


“Baiklah kalau begitu. Nanti aku infokan lagi Kak. Aku juga pengen ke sana dan bermain bersama kakak,” jawab Dita.


“Apakah mama mau ikut juga?” tanya Dewa.


“Kalau kalian nggak keberatan Mama mau ikut. Mama ingin naik bianglala dan komedi putar,” jawab Tara hingga membuat mereka menggelengkan kepalanya.


“Baiklah kalau begitu. Mumpung besok mau weekend jadi kita habiskan malam ini mengelilingi pasar malam,” ucap Dewa.


“Ayo sarapan!” ajak Tara.


Sementara di kantor Eric sangat stres sekali. Wajahnya pucat dan tidak berselera makan. Tak lama Timothy datang dengan membawa sarapan untuk Eric. Ia langsung menaruh sarapan itu di meja.


“Sarapan dulu agar kuat menghadapi kenyataan pagi ini,” kata Timothy.


“Ah sialan lu, dasar temen nggak ada akhlak,” kesal Eric.


“Gue udah nyeritain ini semua ke Sascha. Awalnya gue nggak berani cerita takut Dewa ngamuk. Tapi gue harus ngelakuin agar Dewa mau mengerti keadaannya bagaimana? Untung saja ada Sascha. Kemungkinan besar Sascha bisa meredam amarah Dewa,” ucap Timothy yang lesu.


“Lalu bagaimana selanjutnya?” tanya Eric.

__ADS_1


__ADS_2