
“Kamu kenal mereka?” tanya Timothy.
“Kenal. Mereka adalah hewan kesayanganku. Aku sudah memintanya ke mama agar memberikan mereka untukku,” jawab Dita yang secara blak-blakan mengakui kalau kedua anjing itu adalah peliharaannya.
“Waduh gimana ini?” tanya Timothy dalam hati dengan perasaan cemas.
“Kenapa Kakak membawanya ke sini? Memangnya ada kontes anjing di Indonesia?” tanya Dita sekali lagi.
“Ya nggak gitu kali. Begini, Kakak iparmu ingin memiliki dua anjing yang sangat lucu sekali,” jawab Timoty.
Dita terkejut dengan jawaban Timothy. Matanya membelalak sempurna dan menatap kedua anjing itu lagi. Di dalam hatinya kedua anjing itu adalah anjing yang memiliki ras tergalak di dunia ini. Bagaimana bisa? Timothy mengatakan kalau kedua anjing itu adalah anjing yang sangat lucu sekali.
“Apakah kakak nggak sadar kalau kedua anjing itu adalah anjing galak? Mereka sangat puas sekali dan bisa dijadikan sebagai anjing penjaga. Kalau buat Kak Sascha, kedua anjing itu tidak cocok sama sekali. Kak Sascha cenderung memiliki sifat lembut. Bisa dikatakan kakak iparku itu memiliki sifat ramah. Jadi Kak Sascha sangat cocok sekali memiliki anjing yang berjenis Golden retriever. Yang di mana jenis ras itu memiliki sifat famili dan tidak menyerang orang begitu saja,” jelas Dita. “Atau juga Husky Siberian. Kak Sascha sangat menyukainya dan cocok untuk dipelihara olehnya. Jadi kalau kedua anjing ini tidak cocok buat Kak Sascha.”
__ADS_1
“Sekarang aku bingung sama kamu. Kakak iparmu itu lebih menyukai kedua anjing ini. Kamu tahu, tadi ada tragedi yang di mana membuat kakakmu marah besar ketika Sascha memegang dia. Jadinya aku angkat tangan dan pergi meninggalkannya untuk sementara waktu,” ucap Timothy yang melihat kedua anjing itu sedang santuy.
“Ya kalau Kak Sascha suka Kenapa tidak. Aku akan memberikannya secara Cuma-Cuma. Lagian ibu mereka sedang mengandung lagi. Aku bisa memintanya ke Mama,” ujar Dita yang sengaja memberikan kedua anjing itu buat kakak iparnya.
“Kamu tidak keberatan jika aku memberikannya kepada Kakak iparmu itu?” tanya Timothy sekali lagi.
“Aku tidak keberatan sama sekali. Aku akan memberikannya secara Cuma-Cuma. Sebentar lagi kami akan hidup bersama di satu rumah. Jadi aku juga bisa merawatnya dan mengajaknya berjalan-jalan. Kak Sascha sedang hamil. Kakak nggak boleh terlalu intens mengajak mereka bermain. Aku takutnya mereka menyerang orang begitu saja. Nanti aku akan minta ke kakek untuk memberikan dua kandang besar buat mereka. Karena kami akan tinggal di Jepang selamanya,” jelas Dita yang mengulas senyumnya dengan tulus sambil melihat mereka.
“Sebentar lagi kami akan pergi ke New York. Aku akan membawanya mereka dan memeriksa kesehatannya di dokter hewan langganan Mama Tara. Kakakmu ingin memastikan kalau mereka baik-baik saja dan sehat. Agar mereka bisa menjaga Sascha ketika dirinya sedang tidak berada di rumah,” ujar Timothy.
“Boleh juga tuh. Kalau begitu aku antarkan kamu ke warung,” ajak Timothy.
“Ada-ada saja ini kakak. Warung sangat dekat gitu ngapain diantarkan? Kalau begitu aku tinggal sebentar,” pamit Dita sambil melambaikan tangannya dan berlalu meninggalkan Timothy.
__ADS_1
Pria berambut pirang itu pun sangat bahagia sekali. Jarang ia memiliki waktu mengobrol panjang lebar bersama Dita. Karena mereka memiliki pekerjaan yang cukup banyak. Hingga mereka tidak pernah say hello ataupun menegurnya. Timothy adalah seorang pria yang cukup lembut kepada wanita. Akan tetapi ia masih menjual mahal dirinya kepada wanita yang ingin mengajaknya berkencan. Karena Timothy sendiri sama seperti Dewa. Ia jarang sekali mengumbar kata-kata cinta kepada wanita. Ya bisa dikatakan pria itu sangat dingin saat bertemu dengan lawan jenisnya.
Di dalam kamar, Sascha menatap Dewa yang sedang uring-uringan. Entah ada setan apa Dewa diam tanpa bersuara. Apakah Dewa masih cemburu dengan kedua anjing tersebut? Semuanya itu adalah entah.
“Apakah kakak masih marah sama aku?” tanya Sascha sambil tersenyum nakal menghadap Dewa.
“Tidak tahu,” jawab Dewa yang sengaja membuang mukanya agar tidak melihat wajah sang istri.
“Ampun deh ini orang. Bisa-bisanya cemburu seperti ini,” ucap Sascha.
“Aku nggak cemburu!” kesal Dewa.
“lalu apa kalau nggak cemburu seperti itu?” tanya Sascha yang membuka kancing bajunya Dewa.
__ADS_1