
Dengan cepat Kenan menarik Friska agar tidak tertabrak mobil dan itu membuat Friska benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja akan di alaminya beruntung Kenan datang tepat waktu.
Dengan cepat Kenan menghafal plat nomor mobil itu lalu menghubungi bawahannya agar mencari orang itu sampai ketemu, nafas Kenan masih belum beraturan akibat keterkejutannya melihat istrinya hampir saja di tabrak dan juga dia habis berlari dengan sangat kencang.
Kenan memutuskan untuk menyusul istrinya begitu dia merasa istrinya sudah pergi cukup lama, begitu dia keluar dari lift khusus untuknya, dia baru melihat istrinya sedang berjalan-jalan santai keluar perusahaan.
Kenan sempat bingung karena sudah sejak tadi istrinya pamit mau pergi beli cemilan dan begitu dia lihat istrinya baru akan keluar perusahaan.
Kenan pun memutuskan untuk mengikuti istrinya saja, namun dia langsung panik begitu melihat sebuah mobil melaju dengan sangat kencangnya menuju kepada istrinya, Kenan yakin bahwa mobil itu pasti sengaja ingin menabrak istrinya, tanpa pikir panjang Kenan langsung berlari untuk menyelamatkan istrinya.
Sedsngkan Renata yang berada di dalam perusahaan benar-benar lagi bahagia, karena sebentar lagi akan ada kabar bahwa wanita yang bersama Kenan tadi telah meninggal akibat tabrak lari.
Siapa suruh loe berani mengambil orang yang gue taksir sejak dulu, jadi loe harus mati biar gue bisa mendekati Kenan batin Renata.
"Sayang kamu nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Kenan dengan penuh khawatirnya sambil memeriksa seluruh tubuh istrinya untuk memastikan.
Friska masih shock, dia hanya langsung memeluk Kenan dengan erat akibat keterkejutannya.
"Sayang kamu nggak kenapa-kenapakan?" tanya Kenan sambil membiarkan Friska memeluknya.
Kenan pun langsung meminta tolong kepada orang yang sedang berkumpul melihat kejadian itu agar memberikan Friska minuman. Dan kebetulan ada yang mempunyai minuman, orang itu belum sempat meminumnya, dia langsung memberikan kepada Kenan.
"Terima kasih," ucap Kenan kepada orang yang memberinya minuman, lalu Kenan segera memberikan kepada istrinya agar istrinya minum terlebih dahulu.
Friska pun langsung meminumnya.
Kenan pun memutuskan untuk membawa Friska kembali masuk ke dalam perusahan.
Sebagian karyawan yang mengetahui kejadian itu turut panik. Begitupun Renata yang lagi berpura-pura panik dan sudah menunggu kabar bahwa Friska sudah tidak tertolong lagi.
Renata benar-benar terkejut, begitu melihat Kenan yang sedang menggendong tubuh Friska dengan wajah khawatirnya, menuju ke ruangan Kenan. Renata juga sangat kesal karena ternyata Friska tidak apa-apa sama sekali dan juga sekarang dia sangat takut jika Kenan mengetahui dia adalah dalang dari kejadian itu.
__ADS_1
Renata tidak tahu sama sekali kalau ternyata Kenan menyusul Friska, karena sewaktu Kenan menyusul Friska, Renata sedang ke toilet itulah mengapa dia tidak tahu sama sekali. Kalau Renata tahu sudah pasti dia akan menyuruh orang itu untuk membatalkan rencananya.
"Pak Kenan terlihat khawatir banget," ucap salah satu karyawan di kantor Kenan.
"Iya dong pasti dia khawatir, secara wanita yang membuatnya langsung bahagia tadi hampir saja tertabrak mobil,"
"Aku yakin ini pasti kesengajaan,"
"Iya sih menurut aku juga begitu,"
Begitulah pembicaraan antara sesama karyawan, sedangkan Renata lagi berusaha terlihat biasa saja padahal di dalam hatinya dia sudah sangat ketakutan sekali, jika Kenan mengetahui semuanya nanti apalagi melihat Kenan begitu khawatir tadi pada Friska.
######
Begitu sampai di ruangan Kenan, dengan segera Kenan ingin menghubungi dokter, sedangkan Juan tidak tahu apapun yang terjadi karena Juan sedang bekerja sekaligus pikirannya ke Ela.
Kenan pun tak mau merepotkan Juan. Karena tadi Kenan sudah menyuruh Juan untuk mengurus sebagian kerjaannya.
"Mau nelfon dokter sayang, kamu harus di periksa," ucap Kenan.
"Nggak usah, aku cuma shock ajah kok tadi, makasih sayang kamu datang tepat waktu, kalau nggak ada kamu aku pasti sudah...." ucapan Friska terhenti karena Kenan sudah menyentuh bibirnya menggunakan jari telunjuknya.
"Jangan bicara seperti itu sayang, aku benar-benar nggak mau mendengar kata-kata itu, membayangkannya saja aku tidak mau," ucap Kenan.
"Kamu beneran nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Kenan lagi.
Friska pun menganggukan kepalanya.
"Aku pasti akan memberi pelajaran kepada orang yang sudah berniat ingin membunuhmu," ucap Kenan sambil menahan amarahnya di hadapan istrinya.
Tapi Friska tahu kalau suaminya sekarang benar-benar sedang marah.
__ADS_1
"Sayang tenanglah," ucap Friska sambil mengelus-ngelus dada suaminya itu.
"Aku nggak bisa tenang sayang, aku sudah sangat ingin bertemu dengan orang itu," ucap Kenan.
"Dan mulai sekarang kamu nggak boleh lagi keluar sendiri seperti tadi, pokoknya nggak boleh," ucap Kenan tegas.
Friska pun langsung cemberut setelah mendengar ucapan Kenan dan Kenan melihat itu.
"Jangan memasang wajah seperti itu sayang, aku nggak akan terpengaruh kalau untuk masalah keselamatanmu, kamu tahu kamu itu sangat berarti untuk aku pokoknya sangat-sangat berarti, kamu itu penyemangat hidup aku," ucap Kenan tulus sambil melihat Friska.
"Memang tadi itu beneran aku sengaja ingin di tabrak, aku ingin di bunuh?" tanya Friska seakan masih belum percaya.
"Iya istriku orang itu sengaja ingin menabrak kamu, aku menyaksikannya sendiri. Untung aku menyusulmu tadi kalau tidak entahlah apa yang terjadi sekarang," ucap Kenan sambil memeluk istrinya.
"Kamu beneran nggak kenapa-kenapa sayang?" tanya Kenan lagi untuk yang kesekian kalinya.
"Iya nggak apa-apa kok, aku tadi hanya shock saja sayang," ucap Friska.
"Kamu masih mau ngemil?" tanya Kenan.
"Bentar ajah," ucap Friska.
#######
Jam makan siang Kenan dan Friska pun segera ke kantin perusahaan untuk makan siang, itu semua karena keinginan Friska jadi Kenan mengikut saja, padahal dia tidak pernah makan di kantin perusahaan baik di dalam maupun di luar Negeri.
Sedangkan Juan memutuskan untuk makan siang di ruangannya saja di temani dengan kegalauannya, karena Ela sama sekali tidak ada mengirimkan dia pesan atau apapun itu, semenjak Juan meneleponnya pagi tadi. Juan masih berharap agar Ela menghubunginya karena dia tidak mau menghubungi lebih dulu lagi. Itu semua karena Ela menutup panggilan telfonnya.
Kenan tersenyum begitu melihat Friska sudah akrab dengan karyawan-karyawan wanita yang ada di perusahaannya, mereka saling bertegur sapa seperti sudah kenal lama saja, ada juga yang menanyakan keadaan istrinya itu dengan ekspresi yang benar-benar tulus karena khawatir bukan hanya ingin mencari muka saja.
Friska juga sangat lancar dalam berbahasa Inggris jadi tidak ada kendala sama sekali ketika mereka berbicara.
__ADS_1
Sedangkan Renata lagi benar-benar merasa ketakutan saat ini, bahkan dia takut dekat-dekat dengan Kenan dan juga Friska, dia lagi memikirkan bagaimana nasibnya nanti begitu Kenan mengetahui semuanya, Renata sudah yakin cepat atau lambat dia pasti akan ketahuan.