
Friska menyunggingkan senyumnya kepada suaminya itu lalu Kenan berbaring di samping istrinya sambil memeluk Friska dan sesekali mengecup pipi Friska, tak lupa Kenan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua.
"Sayang lihat aku dong," ucap Kenan sambil mengecup leher Friska.
Friska tidak menoleh-menoleh juga karena dia masih saja malu, apalagi kalau dia mengingat akan apa yang baru terjadi dengan dirinya dan suaminya.
Kenan tersenyum begitu melihat istrinya yang sedang malu-malu.
"Emm sayang kamu semakin cantik yah kalau lagi mendesah kenikmatan gitu," goda Kenan yang langsung membuat Friska menoleh kepada suaminya dan itu membuat Kenan langsung memberikan ciuman di bibir istrinya.
"Kamu masih istriku kan? kenapa jadi diam-diam gini, biasanya ribut apalagi kalau lagi di kamar pasti manja, ini menoleh ajah nggak mau," kata Kenan setelah mencium bibir Friska, padahal Kenan tahu Friska begitu karena lagi malu.
"Kamu jangan bahas yang tadi aku malu yank," ucap Friska sambil menyembunyikan wajahnya di dada Kenan dan memeluknya.
"Cup.. cup.. cup istriku lagi malu yah, nggak usah malu sayang aku ajah nggak malu nih malahan mau tambah lagi," kata Kenan sambil mengusap rambut istrinya yang membuat Friska langsung terkejut.
"Ihh yank masa mau tambah lagi kan tadi udah, nggak lagikan kalau udah," kata Friska sambil melihat Kenan.
"Tadi beda sayang, tadi itu proses pembobolan tapi enak banget, sempit banget jadi gimana gitu rasanya," kata Kenan yang memang benar-benar baru merasakan hal yang seperti itu.
"Ihh kamu itu mesum banget sih," ucap Friska.
"Iya aku mesum, tapi hanya sama kamu ajah aku mesumnya sayang kan udah halal, dan udah lama nunggu juga jadi yah gitu deh tapi beneran loh enak banget daripada aku melakukannya sendiri" ucap Kenan sambil mengelus lembut punggung istrinya.
"Kamu suka lakuin apa?" tanya Friska penuh selidik.
"Itu pelepasan sendiri di dalam kamar mandi," jawab Kenan sambil nyengir dan semakin mengeratkan pelukannya pada istrinya.
Friska langsung teringat dengan Kenan yang setiap habis menyusu atau tangannya yang sedang nakal pasti langsung ke kamar mandi, Friska pikir itu hanya kebiasaan Kenan saja yang sedikit aneh menurut Friska.
"Ishh kamu tuh apa-apaan sih masa kayak gitu," ucap Friska sambil bergidik ngeri.
"Iya emang gitu sayang abis sakit kepala kalau nggak gitu," ucap Kenan.
"Tambah lagi yah sayang," rayu Kenan dengan tangannya yang sudah berada di area kenyal-kenyal.
__ADS_1
"Nggak mau lagi, sakit tahu yank," rengek manja Friska sambil berusaha memindahkan tangan nakal suaminya itu karena Friska sudah merasakan sengatan aneh lagi pada tubuhnya tapi bukan Kenan kalau tangannya bisa berpindah dengan cepat. Kenan malahan semakin memainkan jari-jarinya di area kenyal-kenyal itu.
"Kan sakit-sakit nikmat sayang, iyakan?" bisik Kenan lalu mencium dan memberikan gigitan-gigitan kecil di telinga Friska membuat Friska menggigit bibir bawahnya lagi merasakan sensasinya.
Kenan yang lagi menjamah tubuh istrinya dibuat kesal dengan ketukan pintu di kamarnya. Padahal istrinya benar-benar sedang menikmati setiap sentuhan jarinya.
"Yank buka dulu," kata Friska karena Kenan tak kunjung pergi membuka pintu, dia malah masih asik menjamah tubuh istrinya.
"Biarin ajah sayang nanti juga pergi sendiri kalau tidak di bukain pintu, karena mengira kita udah tidur," ucap Kenan sambil jari-jarinya bergerilya kesana-kemari.
"Nanti penting yank dari tadi loh ketukan pintu itu," ucap Friska.
"Pergi buka dulu gih," kata Friska lalu mengecup bibir Kenan.
Kalau istriku menyuruhnya dengan cara begini, mana mungkin bisa nggak mengikuti keinginannya batin Kenan.
"Baiklah istriku sayang," ucap Kenan sambil mengecup pipi Friska, lalu menutup tubuh istrinya hingga kepalanya saja yang terlihat, dan Kenan segera memakai setelan baju tidurnya.
Issh santai banget dia begitu di hadapanku, ya ampun segede itu tadi pantas saja sakit banget pas dia lakuinnya batin Friska shock begitu melihat sesuatu milik Kenan yang sedang tegak seperti keadilan.
"Sayang," ucap Friska lembut karena melihat Kenan yang kepalanya seperti sedang mengeluarkan asap. Friska tahu pasti suaminya itu sedang kesal bisa-bisa orang yang mengetuk pintu kamar akan terkena imbasnya, mendapatkan omelan dari suaminya.
"Iya kenapa sayang?" tanya Kenan yang menatap Friska dengan kelembutan, seketika raut wajah kesalnya hilang ketika menoleh kepada istrinya.
"Jangan marah-marah, jangan marahin orang yang mengetuk pintu itu, dia kan nggak tahu apa-apa kalau di dalam sini kamu lagi beraksi," ucap Friska dengan senyumnya.
Kenan pun langsung tersenyum dan mencium gemas pipi istrinya.
"Baiklah sayang sesuai keinginan kamu," ucap Kenan lalu segera berjalan untuk membuka pintu kamar.
Lagi tegang-tegangnya bisa-bisanya ada yang ganggu, dan istriku tadi lagi mau gimana kalau dia nggak mau lagi sebentar coba, awas saja kalau ini bukan sesuatu yang penting, akan ku pastikan pulang dengan berenang saja, istriku tadi melarang aku marah-marah kan kalau menyuruhnya pulang dengan berenang itu bukan marah-marah batin Kenan yang sedang mengomel-ngomel sambil berjalan untuk membuka pintu kamarnya.
Kenan membuka pintu kamar dengan aura dinginnya membuat pelayan itu benar-benar takut.
Sejak tadi para pelayan itu saling menyuruh untuk mengetuk pintu kamar, hingga akhirnya ada satu orang yang memberanikan diri karena kasihan pada teman-temannya yang belum di biarkan keluar oleh Kenan. Padahal Kenan dan istrinya sudah sejak tadi berada di dalam kamar.
__ADS_1
Mati aku pasti aku sudah mengganggu waktu tuan Kenan bersama istrinya batin pelayan itu.
"Tuan maaf mengganggu," ucap sopan pelayan itu terlebih dahulu sambil menundukan sedikit kepalanya.
Hemm itu tahu kalau dia mengganggu batin Kenan.
"Ada apa? ini harus penting karena kalau tidak penting kamu akan pulang dengan berenang saja, kamu bisa-bisanya mengganggu waktuku dengan istriku, aku kesini untuk berbulan madu, cepat katakan ada apa?" ucap Kenan dingin tapi tegas, dan agak pelan sedikit agar istrinya tidak mendengarkan Kenan tentang ancamannya kepada pelayan itu.
Untung saja pelayan-pelayan itu tidak tahu kalau Kenan suami yang penurut istri, kalau sampai di tahu pasti mereka tidak akan segan lagi pada Kenan.
"Maaf tuan, saya hanya mau bilang kalau pengawal-pengawal masih berada di dalam ruangan belum keluar sejak tadi dan belum makan juga tuan," ucap pelayan itu sambil tertunduk takut.
Kenan langsung menepuk jidatnya karena baru ingat dengan pengawal itu, segera Kenan pergi mengambil kunci lalu memberikan kepada pelayan itu.
"Buka dan beri mereka makan, pasti mereka sangat kelaparan dan ingat jangan mengetuk pintu kamarku lagi," ucap Kenan sambil memberikan kunci kepada pelayan itu.
"Baik tuan," ucap pelayan itu.
Kenan pun segera masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu kamarnya lagi.
"Ada apa sayang?" tanya Friska.
"Itu sayang ada yang aku lupa tadi tapi udahlah kamu nggak usah pikirin itu, kita lanjutkan saja lagi yang tadi" ucap Kenan lalu kembali membuka setelan baju tidurnya dan masuk ke dalam selimut berdua dengan istrinya.
"Yank ihh tidur ajah," ucap Friska.
"Nggak mau sayang," ucap Kenan lalu mulai mencium tubuh istrinya dari atas sampai bawah.
Friska hanya mendesah sambil meremas selimut dan meram melek merasakan sensasi yang di berikan oleh si jon.
Friska sudah berkali-kali di puncaknya dan akhirnya Kenan pun sampai di puncaknya, sejak pertama mereka melakukan, begitu sampai puncaknya Kenan membiarkan si jon lama-lama di sarangnya nanti setelah Kenan merasa cukup dan puas barulah dia menarik si jon.
Kenan hanya beristirahat beberapa menit lalu meminta jatah lagi membuat Friska harus melayani suaminya itu lagi, karena Kenan tidak membiarkan istrinya tidur. Friska juga tidak menolak keinginan suaminya itu.
Entah berapa ronde yang terjadi malam itu hingga akhirnya jam 4 mereka baru tidur, dengan Friska yang benar-benar kelelahan. Mereka tidur saling berpelukan.
__ADS_1
######