Cinta Presdir Tampan

Cinta Presdir Tampan
Aku harap kamu hidup bahagia,,


__ADS_3

Keadaan menjadi semakin tegang,, Ela dan Salsa saling berpegangan tangan sama-sama ketakutan, mereka memang bar-bar tapi kalau dalam kondisi seperti ini mereka benar-benar ketakutan,, apalagi melihat ke belakang mobil itu masih terus mengikuti.


Sedangkan Friska mencoba menenangkan dirinya,, Friska tau suaminya memilih melarikan diri dari para penguntit itu karena dirinya yang sedang mengandung. Friska tau Kenan tidak menganggap remeh seni bela diri Friska namun karena mengandung yang membuat Kenan memilih tidak meladeni para penguntit itu.


"Kalian jangan takut,," ucap Friska mencoba menenangkan kedua sahabatnya di belakang terlihat jelas kedua sahabatnya benar-benar takut.


Ela dan Salsa hanya terdiam sambil menganggukkan kepala mereka.


"Tuan,, sepertinya Kenan Mahardika sudah mengetahui bahwa kita sedang mengikutinya,," ucap anak buah pria itu sambil melihat mobil Kenan yang sudah ngebut.


Pria itu tersenyum miring.


"Hmm instingnya memang tidak bisa di anggap remeh aku akui itu,, tapi kali ini dia tidak akan bisa lolos,, dia harus mati sebelum anak buahnya datang,, aku sangat yakin dia pasti sudah memberitahukan anak buahnya,, dan aku ingin memastikan sendiri kematiannya,, sebelum aku memastikan dia tidak bernafas lagi aku tidak akan percaya dia sudah mati,," ucap pria itu.


"Siap Tuan," ucap anak buah pria itu.


"Cepat lakukan,, sebentar lagi kita akan sampai ke jalan yang ramai dan tidak mungkin mencelakai Kenan di jalan yang ramai karena Kenan bisa saja mendapatkan pertolongan,," ucap pria itu kesal karena sejak tadi anak buahnya hanya mengikuti Kenan saja.

__ADS_1


"Tenang Tuan,,, kami sudah menandai tempat dimana kami akan mencelakai Kenan Mahardika,, jadi Tuan duduk santai saja sambil menyaksikan mobil Kenan jatuh,," ucap anak buah itu lagi yang memang telah menyusun rencana setelah tau Kenan pergi ke puncak.


Sementara Juan dan Jeki benar-benar panik begitu mengetahui kabar dari salah satu anak buah Kenan,, bahwa keadaan Kenan sekarang yang sedang diikuti oleh orang tak dikenal.


Tanpa pikir panjang Juan dan Jeki langsung menuju ke puncak,, dengan membawa lebih banyak orang,, karena Kenan mengatakan jika mobil itu tidak sendiri melainkan banyak.


"Apa Salsa sama-sama dengan Tuan Kenan?" tanya Jeki khawatir pada anak buah Kenan yang berada satu mobil dengan mereka.


Anak buah Kenan pun menganggukkan kepalanya. Jeki sudah menduga tadi karena tidak mungkin Kenan menyimpan Friska,, dan apabila Friska ikut sudah tentu Ela dan Salsa juga akan ikut.


Jeki berusaha menghubungi Raka karena Raka biasa membantu disaat seperti ini namun nomor ponsel Raka tidak aktif.


Sementara Juan juga tak kalah khawatirnya biar bagaimanapun calon istrinya juga saat ini dalam bahaya.


Juan dan Jeki berharap tak ada yang terjadi kepada mereka semua. Berharap mereka tidak datang terlambat.


Namun terlambat,, saat ini Kenan menyadari bahwa mobil itu ingin membuat dirinya celaka. Belum sempat melakukan apa-apa,, mobil Kenan sudah jatuh ke jurang.

__ADS_1


Ela dan Salsa hanya bisa teriak sambil menutup mata. Kenan tidak perduli lagi pada dirinya,, Kenan berusaha melindungi Friska.


Sedangkan Friska sempat terbentur dan sudah tidak sadarkan diri.


"Sayang,," ucap Kenan yang sudah meneteskan air mata karena tidak bisa menjaga istrinya,, Kenan berusaha menyadarkan Friska meskipun mobil masih dalam keadaan berguling. Darah pada kepala Kenan pun tidak dia perduli kan sama sekali.


"Rencana berhasil Tuan," ucap anak buah pria itu sambil tersenyum puas.


"Ayo turun ke bawah,, aku ingin memastikan langsung Kenan sudah tidak bernafas lagi,," ucap pria itu yang tidak akan tenang sebelum memeriksa nafas Kenan.


Segera mereka memakai apapun yang dibutuhkan agar tidak ketahuan oleh polisi,, semuanya mereka sudah rencanakan sebersih mungkin,, tak ingin ada satu pun barang bukti ditemukan.


Salsa dan Ela sudah terlempar keluar dari mobil,, sementara Friska dan Kenan masih berada di dalam mobil. Kenan masih sadarkan diri walaupun sangat pusing,, Kenan tetap berusaha mengeluarkan Friska dari dalam mobil,, Kenan tau sebentar lagi mobil ini pasti akan meledak,, Kenan melihat sedikit ada api yang mulai membesar.


"Sayang,, sadarlah,, aku mohon,," ucap Kenan sambil berusaha mengeluarkan Friska dengan sekuat tenaga,, darah yang keluar pada tubuhnya Kenan tidak perdulikan sama sekali. Sakit pada lukanya tidak sebanding dengan sakit yang Kenan rasakan ketika melihat Friska tak sadarkan diri dengan bersimbah darah. Kenan bahkan merasa Friska sepertinya keguguran. Air mata Kenan terus keluar sambil berusaha membantu istrinya keluar dari dalam mobil.


Berhasil,, Friska dan Kenan telah keluar dari dalam mobil,, dengan sempoyongan Kenan memeriksa sahabat-sahabat Friska dan Kenan tidak melihat mereka,, Kenan yang sangat lemah tak bisa lagi mencari sahabat-sahabat Friska,, Kenan mendekati tubuh istrinya memandang Friska dengan perasaan bersalah sambil memeriksa denyut nadi Friska.

__ADS_1


Maafkan aku istriku tidak bisa menjaga kamu,, aku mohon bertahanlah sampai ada yang menolong kita, kalaupun aku tidak bisa tertolong lagi,, aku harap kamu hidup bahagia,, batin Kenan merasa dirinya tidak akan tertolong karena darahnya sudah banyak yang keluar dan luka-lukanya teramat parah bahkan saat ini benar-benar lemah,, Kenan memandangi wajah Friska yang sudah pucat tak sadarkan diri bersimbah darah sambil mengingat momen-momen bahagianya bersama Friska selama ini, momen disaat Friska hamil,, Kenan tersenyum getir dengan berderai air mata menggenggam tangan Friska hingga akhirnya jatuh tak sadarkan diri di samping istrinya dengan tangan yang masih menggenggam tangan Friska.


########........##########


__ADS_2