
Syeila memperlihatkan semua foto-foto mereka, Ela masih mencoba tersenyum, senyum palsu lebih tepatnya. Foto Juan dan Syeila benar-benar mesra, jika orang yang melihatnya dan tidak mengenal mereka berdua sudah pasti mereka di katakan sebagai sepasang kekasih bahkan sepasang suami istri.
Ela juga melihat Juan dan Syeila benar-benar sangat cocok. Juan yang pendiam dan dewasa bertemu dengan Syeila yang juga sudah dewasa, terutama Ela tahu betul tantenya itu berhati baik, lemah lembut, dan juga elegan tidak seperti dirinya yang ribut, centil dan juga masih kekanak-kanakan di tambah dengan manja, semakin jadilah Ela merasa tidak pantas.
Kenapa takdir sebercanda ini padaku, kenapa harus tante yang paling aku sayang menyukai orang yang paling aku sayang juga, sampai saat ini aku masih berusaha keras untuk menerima semua kenyataan bahwa kak Juan tidak mencintaiku dan hanya menganggap aku adik saja, tapi kenapa...kenapa disaat aku berharap kak Juan akan dekat dengan orang yang tidak aku kenal sama sekali biar hatiku tidak terlalu sakit ketika mendengar kabar nanti,,, ternyata malah kak Juan dekat dengan tante aku sendiri, kenapa harus tante aku teman lamanya kak Juan tuhan, bagaimana nanti jika mereka menikah apa aku sanggup terima semuanya, batin Ela merasakan sesak pada dadanya.
"Ela kenapa kamu diam?" tanya Syeila.
"Loh kok kamu nangis Ela?" tanya Syeila panik sendiri.
"Apa ada yang salah, atau kamu sakit atau kenapa?" tanya Syeila.
"Ela kamu kenapa sayang, kenapa tiba-tiba menangis?" tanya Syeila sambil membuat Ela melihatnya.
Jangan tanya terus tante aku bingung mau bilang apa, aku tidak bisa menahan air mataku, aku benar-benar sakit, hatiku benar-benar sakit, kenapa nasib percintaan aku begini, aku baru menyukai seseorang dan orang itu hanya menganggap aku adik, aku mencoba dengan sangat keras untuk menerima semua kenyataan itu dan sekarang kenapa harus tante aku yang dekat dengan dia, apa aku harus mencoba dengan sangat keras lagi untuk menerima double kenyataan menyakitkan buat aku, hatiku benar-benar hancur sekarang, jika kalian menikah akulah orang yang tidak akan datang, bukan aku egois tapi aku takut akan menangis seperti ini di hari bahagia kalian batin Ela yang sudah menerawang jauh ke depan.
Yah Ela memang sudah menerawang jauh ke depan, mengingat Juan yang sudah mapan, sudah waktunya untuk menikah dan Syeila juga yang sudah dewasa sudah waktunya untuk menikah, tinggal menunggu saja salah satu dari mereka untuk mengungkapkan perasaan terlebih dahulu maka tidak menutup kemungkinan mereka akan langsung ke jenjang yang lebih serius, terlebih lagi Ela yang melihat foto Juan dan Syeila yang tampak tidak ada kecanggungan sedikit pun, Ela melihat Juan nyaman dengan Syeila.
Ela kembali teringat dengan dirinya yang pernah jalan dengan Juan lalu mengajaknya berfoto, namun Juan menolaknya, Juan tidak mau berfoto dengan Ela, tapi melihat Syeila sangat banyak memiliki foto dengan Juan semakin yakinlah Ela jika Syeila memiliki tempat spesial di hati Juan.
__ADS_1
Teman juga tidak mungkin semesra dan sebanyak itu fotonya begitu pikir Ela.
"Ela kamu kenapa sayang?" tanya Syeila lagi karena Ela masih menangis.
"Apa kamu mengenal teman tante, terus dia orang yang tidak baik?" tanya Syeila yang langsung mendapatkan gelengan kepala cepat dari Ela.
"Nggak aku nggak kenal orang itu tante," jawab Ela cepat yang masih sesenggukan.
Lebih baik tante Syeila tidak usah mengetahui semuanya, biarkan waktu yang memberitahukan semuanya, aku tidak ingin tante Syeila merasa bersalah padaku, lagian kak Juan dan tante Syeila jauh lebih dulu saling mengenal, di bandingkan aku yang baru-baru saja mengenal kak Juan, kali ini aku harus benar-benar mundur dan tahu diri, jika kak Juan bersama dengan tante Syeila, tante Syeila pasti akan sangat bahagia dan kak Juan juga akan sangat bahagia karena keduanya orang baik, sudah cukup bagiku melihat kak Juan orang yang aku cintai bahagia dengan orang yang di cintainya, cinta tidak harus memiliki bukan, semoga aku di berikan kesabaran dan juga keikhlasan, aku yakin akan ada orang yang mencintaiku juga nanti dan aku juga mencintainya, itu semua hanya masalah waktu saja batin Ela yang lagi mencoba menghibur dirinya sendiri.
"Lalu kenapa setelah melihat foto Juan kamu langsung menangis, ayo beritahu pada tante alasannya," desak Syeila.
"Nggak tan, orang itu sangat ganteng dan juga sangat cocok dengan tante yang sangat cantik begini," ucap Ela sambil mencoba tersenyum kembali.
"Lalu kenapa menangis?" tanya Syeila lagi yang tidak henti-hentinya bertanya karena baru kali ini dia melihat keponakannya itu yang selalu ceria malah menangis hanya karena melihat foto dirinya bersama Juan.
"Karena dia terlalu ganteng tante, aku juga pengen nanti punya gebetan seganteng itu dan juga tante pasti bakalan menikah dengan dia, tante pasti bersama suami tante dan akan jarang bertemu aku lagi," ucap Ela yang memberi alasan di paksakan dengan Ela yang tersenyum.
"Ya ampun Ela kamu buat tante khawatir tahu nggak, tante pikir kenapa kamu jadi nangis, berlebihan banget sih ponakanku ini, oh iya ada oleh-oleh buatmu dari dia dan dari tante juga, dia cowok yang baik, tante menceritakan tentang kamu yang sangat ceria ini dan banyak lagi, dan dia membelikan kamu juga," ucap Syeila sambil menyuruh salah satu pelayan di rumah Ela untuk mengambil oleh-oleh yang di bawanya yang masih berada di dalam mobilnya.
__ADS_1
Pelayan itu pun segera pergi mengambil, setelah Syeila memberikan dia kunci mobil.
"Tante aku udah nggak mau oleh-oleh lagi, nggak usah tan, sebenarnya aku cuma bercanda saja kok waktu aku minta oleh-oleh," ucap Ela.
Aku nggak mau menyimpan pemberian dari kak Juan, aku nggak mau batin Ela sambil masih menahan sakit di dadanya.
Syeila pun mengernyitkan keningnya bingung.
"Loh kenapa sayang, kita sudah membelikan kamu, masa kamu nggak mau, lagian walaupun kamu tidak minta sayang sudah pasti tante akan membelikan kamu, tante nggak mungkin melupakan keponakan cantik tante ini yang manja, dan dia juga membelikan buat kamu karena kita pergi sama-sama mencarinya, dia ikhlas kok, tante juga ikhlas, kamu harus menerimanya yah," ucap Syeila yang semakin bingung dengan Ela yang tidak seperti biasanya.
"Tapi tan...," ucapan Ela terhenti karena ponsel Syeila berdering dan ternyata Juan lah yang menelepon Syeila.
"Loh panjang umur, Juan nelfon nih," ucap Syeila senang sambil mengangkat panggilan telfon dari Juan.
"Halo Juan," ucap Syeila begitu sudah mengangkat panggilan telfon dari Juan.
"Halo Sye...," ucapan Juan terhenti karena mendengar Syeila yang sedang memanggil seseorang.
"Ela kenapa pergi?" teriak Syeila begitu melihat Ela yang mendadak pergi.
__ADS_1