
Mendengar nama Ela mengingatkan Ela yang di kenalnya juga, tapi Juan menepis semua itu tidak mungkin Ela yang di panggil Syeila dan Ela yang di kenalnya adalah orang yang sama.
Pasti hanya namanya saja yang sama dan tidak mungkin mereka orang yang sama, tapi postur tubuh mereka juga sama seperti yang dikatakan Syeila waktu belanja tapi tidak mungkin mereka orang yang sama, iya tidak mungkin, dunia sangat sempit jika mereka orang yang sama, nggak usah mikirin hal itu Juan batin Juan.
Ela mendengar suara panggilan Syeila, namun Ela mengacuhkan suara itu, dia terus berlari menuju kamarnya, Ela tidak sanggup kalau harus mendengar pembicaraan Juan dan Syeila. Ela benar-benar akan menangis sejadi-jadinya lagi jika mendengar Juan dan Syeila berbicara jadi lebih baik dia pergi saja agar hatinya tidak bertambah sakit lagi.
Ya ampun kenapa anak itu jadi aneh begini batin Syeila.
Syeila pun tersadar kalau dia sedang berbicara dengan Juan.
"Halo Juan maaf yah, itu tadi ponakan aku main kabur-kabur ajah, pas tahu kamu nelfon, heran aku biasanya dia tidak begitu," ucap Syeila.
"Ponakan yang kamu carikan oleh-oleh?" tanya Juan.
"Iya ponakanku yang itu," jawab Syeila.
"Namanya Ela?" tanya Juan.
"Iya namanya Ela, dia itu aneh banget tahu nggak hari ini, masa dia nangis setelah melihat foto kita berdua, terus tidak mau oleh-oleh lagi, tadi aku sengaja memperlihatkan ke dia foto kita karena kamu juga membelikan oleh-oleh buat dia, supaya dia tahu kan wajah orang yang membelikannya juga, ehh malahan dia nangis, dan kamu mau tahu alasannya?" tanya Syeila.
"Alasannya apa?" tanya Juan yang sebenarnya bingung kenapa ponakan Syeila bersikap seperti itu belum lagi dengan namanya yang sama dengan Ela yang dikenalnya.
"Karena kamu terlalu ganteng, dia mengira kita sudah berpacaran jadi dia pengen juga memiliki pacar seganteng kamu dan juga dia bilang kalau kita menikah aku akan jarang bertemu dengan dia," jawab Syeila yang sebenarnya memberi kode juga untuk Juan, namun Juan malah tertawa.
"Ponakanmu itu lucu sekali, kita hanya teman, beritahu padanya kalau kita hanya teman, biar dia tidak menangis-menangis seperti itu," kata Juan lalu melanjutkan tawanya lagi.
Wajah Syeila langsung berubah mendung.
Begini kalau suka pada orang yang tidak peka, aku harus memulainya darimana biar Juan peka terhadap perasaanku padanya, Juan ini ada niat buat menikah nggak sih, kok dia nggak mencari pasangan hidup batin Syeila.
"Juan apa kamu tidak ada niat untuk menikah?" tanya Syeila yang membuat tawa Juan langsung terhenti seketika.
"Juan kenapa kamu diam?" tanya Syeila karena tak kunjung mendapat jawaban dari Juan.
"Aku ada niat kok buat menikah, ada banget Syeila, hanya aku belum menemukan orang yang cocok, aku juga tidak berpengalaman dalam hal seperti itu, aku ikuti alur saja bukannya jodoh sudah di tentukan sama Allah, jadi pasti ada saatnya nanti aku bertemu jodohku dan menikah," jawab Juan.
__ADS_1
"Yang seperti apa tipemu?" tanya Syeila.
"Kenapa, kamu mau mencarikan buat aku? udah nggak usah, biar aku menemukannya sendiri saja nanti," jawab Juan.
"Juan kalau misalnya aku suka sama kamu, gimana tanggapan kamu?" tanya Syeila to the point.
Juan malah tertawa membuat Syeila mengernyitkan keningnya bingung.
"Kamu kenapa tertawa sih Juan?" kata Syeila sedikit kesal, dengan ketidakpekaan Juan itu terhadap perasaan wanita.
"Yah karena kamu lucu sih masa minta tanggapan aku, nggak mungkin juga kamu suka padaku," ucap Juan.
"Kenapa kita ngomongnya sudah ngelantur kemana-mana, aku tadi sebenarnya menelepon kamu untuk menanyakan keadaan kamu, kamu tidak mengabari aku ketika kamu sudah sampai, aku pikir kamu kenapa-kenapa tahu nggak," ucap Juan.
"Hemm nggak kok, aku nggak kenapa-kenapa, kenapa kamu perhatian padaku?" tanya Syeila.
"Karena kamu temanku Syeila, kenapa kamu menanyakan itu lagi, sudah pasti aku perhatian sama kamu bukannya itu hal biasa sejak dulu aku perhatian sama kamu," jawab Juan.
"Aku senang kalau kamu tidak kenapa-kenapa, kalau gitu aku tutup dulu yah telfonnya, aku mau lanjut kerja" ucap Juan.
Syeila sebenarnya agak penasaran dengan maksud Juan yang bilang bahwa kelakuan Ela sama dengan orang yang dia kenal, tapi sudahlah Syeila juga tidak mau terlalu memikirkan itu karena sekarang dia mau fokus untuk mendekati Juan membuat Juan peka dengan perasaannya.
"Iya akan aku beritahu," ucap Syeila.
Juan pun segera menutup panggilan telfonnya dengan Syeila.
#######
Syeila segera berjalan menuju kamar Ela bersama pelayan yang sedang membawa oleh-oleh untuk Ela, Syeila sangat bertanya-tanya dengan sikap Ela sekarang, seperti ada yang dia sembunyikan.
Ela sudah tidak menangis lagi, dia baru selesai mandi agar membuat dirinya lebih segar dan hatinya sedikit tenang, walaupun tidak sepenuhnya hatinya baik-baik saja, sungguh hati Ela lebih sakit begitu mengetahui Juan dekat dengan Syeila di bandingkan Ela mengetahui Juan sedang dekat dengan teman lamanya, walaupun mereka orang yang sama tapi rasanya berbeda bagi Ela begitu mengetahui semuanya.
Tok... Tok....Tok
"Ela sayang buka pintunya," ucap Syeila sambil mengetuk pintu kamar Ela.
__ADS_1
Ela segera berjalan untuk membuka pintu kamarnya.
Syeila segera masuk dan menyuruh pelayan untuk menaruh barang yang mereka bawa lalu pelayan-pelayan itu pun keluar dari kamar Ela.
Ini barang dari kak Juan batin Ela.
"Kamu kenapa tadi langsung lari ajah Ela?" tanya Syeila sambil duduk di pinggir tempat tidur Ela.
"Oh itu tan, tadi aku sakit perut banget, jadi aku langsung lari ajah, terus mau balik lagi aku nggak enak karena tante lagi telfonan dengan gebetan tante," jawab Ela.
"Oh begitu, ya ampun aku pikir kamu kenapa sayang," ucap Syeila lega.
"Oh iya kamu harus menerima semua pemberian itu yah, karena Juan dan tante menginginkan kamu menerimanya," ucap Syeila.
Ela pun segera melihat-lihat barang apa saja yang di belikan untuknya.
"Tante hanya membelikanmu sepatu itu dan makanan khas di Negara itu karena kamu suka makan, tapi Juan sangat banyak membelikan kamu, sampai-sampai dress pun dia belikan, aku hanya menyebutkan ciri-cirimu dia langsung membelikanmu, katanya dia mengenal anak SMA juga yang postur tubuhnya mirip kamu jadi dia langsung membelikan tanpa pikir panjang," ucap Syeila.
Gila kak Juan bagus-bagus dan mahal-mahal banget yang dia berikan sama aku, iissh dasar gimana cewek nggak baper coba, gimana tante Syeila nggak baper juga coba kalau dia baiknya begini, keponakannya di belikan seperti ini, dasar kang php tapi pasti yang di ingat kak Juan itu adalah aku heem miris banget sih nasib aku batin Ela.
Ela segera mencoba semua pemberian dari Juan dan benar-benar cocok dan pas jika dia gunakan.
"Wah... wah pas banget dan cocok banget," ucap Syeila.
"Hemm, ya udah aku jadi mengambilnya tan, makasih yah tanteku sayang dan juga pada gebetan tante makasih banyak" ucap Ela sambil nyengir, Ela memang wanita yang tidak ingin berlarut-larut dengan kesedihannya dan juga melihat Syeila yang ingin sekali Ela menerima semua yang di bawanya.
"Baguslah, tante ke bawah dulu yah, mau masak, lapar," ucap Syeila.
"Biar suruh pelayan ajah tan," ucap Ela.
"Tante ingin masak sendiri," ucap Syeila.
"Oh ya udah tante duluan, aku pakaian dulu terus nyusul tante," ucap Ela dan Syeila pun segera keluar kamar Ela.
Ela lagi ngapain yah, anak itu benar-benar tidak pernah menggangguku lagi setelah dia mengucapkan kata-kata itu, kenapa seperti ada yang kosong jika dia tidak mengangguku lagi, aku biasa menerima gangguan dia yang tingkat kepedeannya itu sangat tinggi, aku merindukan kebiasaannya itu, apa jangan-jangan dia sudah memiliki pacar sekarang batin Juan yang merasa gusar.
__ADS_1