
"Sayang jadi gimana,, aku pusing mau menghadapi Salsa,, aku nggak mau loh kalau dia akhirnya diberitahu bahwa om Jeki meninggal,, karena kenyataannya kan nggak seperti itu," ucap Friska sambil memeluk tubuh suaminya sesudah memberikan Kenan jatah.
"Udah sayang,, kamu beritahu aja sesuai keinginan Jeki,, kalau memang mereka jodoh mereka pasti akan bersama-sama nantinya entah mau cobaan sebanyak apapun,, percaya sama Jeki,, pasti Jeki melakukan itu semua sudah penuh dengan pertimbangan,, Jeki sangat memikirkan Salsa,, dia nggak mau Salsa merasa bersalah dengan mata itu,," ucap Kenan lagi.
"Tapi kan Salsa juga tetap aja merasa bersalah begitu mengetahui om Jeki meninggal,, aku yakin Salsa juga akan menyalahkan dirinya sendiri atas meninggalnya om Jeki," ucap Friska lagi sambil melihat Kenan yang sedang mengelus lembut Friska.
"Jeki pasti sudah memikirkan itu sayang,, mungkin Jeki maunya Salsa merasa sedih sebentar saja,, kalau Salsa tau Jeki masih hidup tapi buta karena dirinya,, Salsa akan merasa lebih bersalah lagi," ucap Kenan lagi.
"Udah yah,, sayang ikuti saja kemauan Jeki,, aku juga sedang berusaha mencarikan donor mata buat Jeki,, jadi sayang bantu doa juga supaya cepat aku dapat pendonor mata buat Jeki," ucap Kenan lagi lalu mengecup pipi Friska.
Friska pun menganggukkan kepalanya dan yakin akan memberitahukan Salsa sesuai dengan keinginan Jeki.
Ketika sedang asik bermesraan di tempat tidur, bahkan Kenan hampir saja meminta jatah lagi pada Friska tiba-tiba ponsel Friska berdering membuat Kenan akhirnya mengurungkan niatnya dulu.
__ADS_1
Friska pun dengan segera mengambil ponselnya.
"Siapa sayang? ganggu aja sih," ucap Kenan sambil memeluk tubuh Friska dari belakang.
Friska pun tampak ragu untuk menjawab pertanyaan dari Kenan,, karena yang menelepon dirinya adalah seorang pria dan itu pasti membuat Kenan cemburu buta lagi.
"Sayang kok malah diam?" ucap Kenan lagi yang malah asik mencium bahu Friska.
"Ada apa? kok menelepon istri orang di jam segini?" tanya Kenan langsung sambil melihat Friska,, lalu melihat ponsel Friska yang masih berdering.
Tuh kan mode cemburunya langsung kumat,, dasar om-om,, batin Friska.
"Yah nggak tau sayang,, makanya aku harus mengangkat dulu panggilan telfonnya baru aku bisa tau," ucap Friska dengan santainya sambil melihat Kenan.
__ADS_1
"Nggak usah,, aku nggak mau istriku mengangkat panggilan telfon dari pria lain,, apalagi pria itu adalah Dafa,, pria yang kamu cintai dulu,, atau jangan-jangan sekarang kamu masih mencintai dia?" ucap Kenan sambil melihat Friska dengan tatapan mata penuh selidik.
Friska pun langsung geleng-geleng kepala begitu mendengar ucapan Kenan.
"Dasar yah om-om ini,, pria yang aku cintai sekarang itu hanya suamiku,, pria yang sedang berada di hadapan aku ini,, jadi jangan mikir yang aneh-aneh yah," ucap Friska lalu mengecup sebentar bibir Kenan..
"Jadi aku angkat aja yah panggilan telfonnya,, siapa tau aja penting sayang," ucap Friska lagi.
"Udah percaya sama aku,, itu pasti nggak penting,, jadi nggak usah angkat panggilan telfonnya," ucap Kenan lagi.
"Ya ampun sayang,, dia jarang loh telfon banyak kali seperti ini jadi ada kemungkinan memang ada hal penting yang ingin dia bicarakan, lagian Dafa itu nggak suka sama aku sayang," ucap Friska lagi.
Sementara Dafa masih terus menelepon Friska karena memang ada hal penting yang ingin dia bicarakan dengan Friska.
__ADS_1