
Tok... tok... tok...
Suara bising dari ketukan pintu itu membuat seorang gadis terpaksa bangun dari tidurnya. Dilihatnya lah jam digital yang berada di nakasnya kini sudah menunjukkan pukul 07.05 WIB. Dan itu artinya dia sudah sangat telat untuk berangkat ke sekolah.
"Non, ini Bibi, Non Lyra tidak berangkat?" tanya Bi Ana, salah satu asisten rumah tangga di keluarga Fyo. Sang pemilik nama sama sekali tak menjawab. Dia hanya asik bergumam kecil tanpa tahu apa yang digumamkan dirinya sendiri.
"Gw tidur dua jam doang?" gumam gadis tersebut dengan suara kecil nyaris tak terdengar indra pendengarannya.
Seorang gadis dengan perawakan cantik itu memang baru tidur sekitar jam lima subuh. Dia diharuskan kerja untuk membiayai kehidupannya dan kembarannya tanpa sepengetahuan orangtua bahkan keluarganya.
Dia miskin? Jawabannya tidak. Sebenarnya dia adalah salah satu anak orang kaya raya, alias sultan. Namun karena permasalahan keluarganya yang membuat sebuah keharmonisan hancur, mengharuskannya untuk kerja keras sejak masih memiliki umur dini.
Mendengar suara ketukkan pintu, gadis cantik tersebut membukakan pintu dengan remote controlnya. Dan dia langsung mendudukkan dirinya di atas kasur empuknya dengan mata yang sayu karena baru bangun dari tidurnya.
Merasa seolah sudah diperbolehkan untuk masuk, Bi Ana segera masuk sambil mengucapkan permisi sebelum masuk. Tak lupa kepalanya sedikit tertunduk membuat kesan hormat pada anak majikan tempat dia bekerja.
"Bibi masuk ya Non, permisi."
"Iya Bi, hoaamm.... Oh iya, Lara udah berangkat, Bi?" tanya gadis tersebut sambil menutup mulutnya saat hendak menguap kecil.
Sang lawan bicara tampak mengangguk pelan saja. "Non Lara sudah berangkat atuh, Non. Dia juga sudah sarapan." jawab bi Ana sopan.
"Siapa yang ngantar, Bi?" tanya gadis tersebut lagi dengan tatapan matanya yang masih sayu karena mengantuk.
"Mang Mamat yang anter, Non." jawab bi Ana lalu bertanya kembali. "Nona muda tidak bersekolah kah?" tanya Bi Ana lagi.
"Sekolah kok, Bi. Cuman lagi proses ngumpulin nyawa dulu baru bentar lagi mandi." jawabnya singkat lalu dibalas anggukan kecil oleh Bi Ana.
"Kalau gitu Bibi siapin sarapan untuk buat Non dulu, ya?" izin bi Ana dan diangguki oleh gadis cantik yang berstatus anak majikannya.
Gadis cantik tersebut yang sudah melihat kepergian asisten rumah tangga nya pun segera beranjak dan masuk ke dalam kamar mandi di kamarnya untuk melakukan aktivitas mandinya.
Tak butuh waktu lama dia segera memasukkan buku tulis besar dan sebuah pulpen yang entah sudah kehabisan tinta ataupun masih terisi dia tak mempedulikannya ke dalam tas hitam kecil. Tas tersebut bukan tas selempang, namun tas ransel mini yang berwarna hitam pekat dan tak ada sama sekali warna lain di tas tersebut. Biasa disebut sebagai tas ransel kecil.
Dengan gaya cuek bebeknya akan penampilannya, dia hanya mengobok-obok rambutnya sedikit lalu membiarkan rambutnya tergerai lurus. Tak lupa dengan memakai celana panjang khusus lelaki dan baju seragam perempuan asal-asalan alias baju yang tak dimasukkan. Dipadukan dengan sepatunya yang kanan berwarna biru sedangkan kiri berwarna kuning.
"Perfect!" gumamnya pelan lalu mengambil tasnya dan ditentengnya di salah satu bahunya.
Dengan langkah pelan dia melangkahkan kakinya menuju meja makan yang sudah ada sarapan kecil untuknya dan maminya. Seorang wanita sedikit paruh baya menoleh begitu mendengar langkah kaki mendekat. Itu maminya!
"Pagi, Mi...." sapanya lantas mengambil sepotong roti di meja makan. Dengan segera dia duduk di salah satu kursi di sana dan melahap roti yang diambilnya tanpa mengambil selai apapun.
"Pagi juga Ra...." balas maminya.
__ADS_1
Dengan lahap orang yang disebutkan Rara tersebut menghabiskan sepotong roti dan mengambil sepotong roti lagi untuk dimakannya. Hubungannya dengan sang mami tak sedekat itu.
"Ra, kamu masih ingatkan perjanjian kita? Mami mau tagih sekarang!" tanya maminya berhati-hati takut sang anak tersinggung dengan ucapannya.
"Masih kok, Mi. Oh ya, Mi, kapan mami jual kue lagi?" tanyanya mengalihkan pembicaraan. Dia cukup kesal diingatkan itu dan itu jika sedang berdua begini.
"Emm, kalau itu Ma-"
Sang mami kali ini tampak bingung untuk menjawab pertanyaan sang anak sulungnya. Putrinya itu memang selalu mengalihkan pembicaraan jika tak suka dengan obrolan yang dibahas.
"Dia tak boleh lagi berjualan."
Suara bariton yang sangat dibenci oleh anak gadis tersebut menoleh ke arah suara bersama dengan sang maminya yang menoleh ke arah sumber suara.
"Kenapa?" tanyanya cuek.
"Karena kita sudah kaya raya buat apaan juga jualan kue? Malah dikasih sama g*mbel pula, reputasi kita bisa hancur kalau ada yang tau." jawabnya.
Sang anak tak menggubris omongan sang papa justru meminum segelas susu putih dan bersiap berangkat ke sekolahnya. Karena sudah melihat kepergian sang anak, sang papa pun menarik sang mami ke atas untuk menyiksa dengan cara kotor.
Tau, 'kan?
...~o0o~...
Sesampainya di sekolah, gadis tersebut ingin mendobrak gerbang sekolah yang sudah tertutup rapat. Namun, sayangnya hal tersebut diurungkannya karena telah melihat ketua OSIS yang menghadang mobilnya. Ketua OSIS tersebut berdiri tegap di depan mobilnya seolah merasa tak takut.
Dengan tatapan marah, gadis cantik tersebut berjalan ke arah ketua OSIS yang membawa satu buku dan pulpen di tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya diletakkan di saku celananya.
"Apa lagi hukumannya?" tanyanya.
"Ikut gw ke BK!" jawab ketua OSIS tersebut dan menarik pergelangan tangan gadis itu dengan paksa.
"E-eh, terus mobil gw gimana?" tanyanya.
"Val, bawa!" acuh ketua OSIS tersebut dengan singkat, padat dan jelas. Sementara yang dipanggil hanya mengangguk dan mengambil kunci mobil gadis tersebut dan memarkirkannya di parkiran khusus mobil.
...———...
Brak...
Suara gebrakkan meja terdengar melenggar dari ruang BK. Bu Bunga yang sudah angkat tangan atas perilaku dan tindakan murid yang satu ini, tak tahu apa yang harus dilakukannya karena sikap muridnya yang sangat melegenda itu. Untung saja sebelumnya dia sudah menyimpan stok kesabaran lebih.
"ZELYRA ALEESYA MICHELLA FYO!" geram bu Bunga dengan menggebrak meja di depannya. Cobaan apa lagi yang di depannya ini. Telat? Bolos? Atau bertengkar? Di antara ketiga alasan itu, sudah sering kali dia dengar.
__ADS_1
"Iya Ibu? Ada apa panggil nama saya? Nge-fans ya?" tanyanya dengan penuh percaya diri seolah dirinya tak ada salah.
"Hufftt ... kamu keliling lapangan 20 kali!" final bu Bunga yang akhirnya sudah menentukan hukuman yang pantas untuk murid super nakalnya itu.
"Kapan, Bu?" tanyanya polos.
"Besok. YA SEKARANG LAH, LESYA!" geram bu Bunga dengan galak dan diakhiri dengan nada ngegasnya.
"Okeh, Bu." santainya lalu beranjak pergi agar melakukan apa yang diperintahkan oleh Bu Bunga, guru BK-nya.
Dia tak sendiri, tapi diawasi oleh ketos yang membawanya ke ruang BK. Sambil menunggu Lesya yang menyelesaikan hukumannya, ketua Osis tersebut mencatat nama yang paling dibencinya.
Kenapa? Karena nama tersebut adalah nama neraka bagi bu bunga dan dirinya. Hampir setiap lembaran buku penuh dengan namanya. Mulai dari hal kecil saja contohnya, celana yang dipakainya celana khusus lelaki. Dia memang lelaki apa? Pikir ketua Osiss tersebut malas.
"Udah, lo boleh balik." datar ketos tersebut lalu melangkahkan kakinya pergi dari lapangan itu.
Lesya yang sudah selesai akan perjalanan hukumannya hanya mendengus malas. Tak lupa dia terus menyumpah serapahi ketua Osis yang dibencinya itu.
"Dasar ketos tukang adu, Zioner Elvano Gregorius Grey dasar tukang cepu." gumamnya pelan lalu melangkahkan kakinya ke arah kantin.
"Sial banget sih gw hari ini. Niat gw mau ketemu pangeran, eh malah ketemu ketos nyebelin." gumamnya lagi.
...~o0o~...
"LESYA!" panggil seorang gadis cantik kepadanya. Dia adalah sahabatnya yang tak lain adalah Aluna Margareta. Panggil saja dia Luna.
Tahu pemilik suara adalah sahabatnya, dengan segera dia langsung menghampiri sahabatnya yang tengah memakan bakso miliknya. Lesya langsung duduk di salah satu kursi yang kosong. Dilihatnya ada dua gelas es teh manis tersaji di meja mereka.
"Nih, lo minum doang kan?" tanya Luna menyodorkan segelas es teh manis kepada Lesya yang baru saja datang. Sang lawan bicaranya itu hanya mengangguk pelan saja seraya menyeruput minumannya.
"Badmood lagi? Soal apa lagi nih? Nyokap? Bokap? Atau Letha?" tanya Luna beruntun. Bukan hal biasa mengenai cerita keluarga Lesya. Masalah keluarganya tak sederhana yang dipikirkan. Lebih rumit dari dibayangkan.
"Gw dijodohin." lesu Lesya mengingat perjanjian sang maminya.
"WHAT THE HECK?" pekik Luna terkejut.
"Berisik lo, Lun." malas Lesya.
"Letha tau kagak?" tanya Luna mengabaikan omongan Lesya yang tadi. Lesya hanya menggeleng pelan saja dan sedikit mendekat pada Luna seolah kode agar dapat berbisik satu sama lain.
"Rencananya sih kagak mau ngasih tau dulu ke dia, takut diembat hehe... Tau kan dia bening sekali langsung ngap-ngep." kata Lesya berbisik.
"Bener juga, sih. Tuh liat si Letha dia ke sini, Sya!" celetuk Luna yang melihat kedatangan Letha ke meja mereka.
__ADS_1
Tanpa basa-basi, Lesya menoleh ke arah Letha yang benar-benar ingin menghampiri mejanya. Senyum tipis namun tak terlihat terbit di wajah nan indah milik Lesya. Sama sekali tak ada yang tahu apa arti dari senyuman Lesya itu termasuk Luna, sahabatnya.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗