
Lesya mengabaikan ucapan Leon. Dia berjalan menuju parkiran dan pergi dari perkarangan sekolah. Leon menggeleng saja manatap kepergian Lesya.
"Lo masih sama Sya! Coba aja lo tau gw suka sama lo dari dulu" ucap Leon tersenyum kecut. Posisinya kini menggendong Lisa ala bridal style.
"Haiisss, mereka yang buat gw yang kena! Emang bos selalu benar" Leon membawa Lisa masuk ke dalam mobilnya dan pergi menuju rumah sakit terdekat.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata mengintai mereka berdua. Mulai dari Lisa ingin mendorong Luna hingga mereka pergi. Dia bersikap datar layaknya tak melihat apapun.
Dia pergi ke parkiran dan mengendarai mobilnya meninggalkan sekolah. Pikirannya berkelana memikirkan ucapan Leon.
'Lo masih kecil! Dan kita khawatir apalagi lo dipukulin sama bokap lo'
Apa maksud dari ucapannya itu? Apa mungkin memar dan luka yang Lesya dapat dari Gilang? Ayahnya? Bukannya seharusnya ayah menyayangi anaknya?
Dia mengambil ponsel yang ada di laci mobil. Dia mencari kontak asistennya dan menghubunginya. Telepon diangkat oleh pihak sebrang.
๐ Halo tuan,
๐ Hm, kamu cari info tentang anak sulung tuan Fyo.
๐ Tapi tuan, bukannya anaknya kembar? Apa perlu dua-duanya saya cari?
๐ Yang namanya 'Zelyra Aleesya Michella Fyo' saja.
๐ Baik tuan, nanti saya kirim ke email anda.
๐ Jangan lupa info masa kecilnya juga!
๐ Baik tuan, ada lagi?
๐ Em, tidak itu saja.
๐ Baik tuan, kemungkinan datanya akan masuk nanti malam.
๐ Hm.
tuttt...
Panggilan terputus begitu saja. Orang yang mengintai tadi, menelepon seraya mengendalikan stir mobilnya. Tak terasa dia sudah tiba di perkarangan rumahnya.
...~o0o~...
Lesya sudah tiba di kediaman Grey. Dia membawa satu kantong kresek hitam yang berisi minuman kaleng dingin. Lesya pecinta minuman kaleng dingin terutama coca cola.
Bunda Mayang yang baru saja turun dari tangga, mengernyit bingung dengan isi kresek yang dibawa Lesya. Mayang menghampiri Lesya dan memeluk Lesya.
"Lesya, udah pulang? " Lesya mengangguk, "Udah bun" Bunda Mayang menoleh ke arah kresek yang dingin saat tadi ia memeluk Lesya.
"Itu apa? " tanya Mayang menunjuk kresek hitam tersebut. Lesya mengangkat kresek ke samping wajahnya.
"Cuacanya panas bun, jadi Lesya beli coca cola di mini market tadi" Mayang mengerti. Memang cuaca akhir-akhir ini lumayan panas.
"Yaudah jangan sering-sering yah, gak baik buat kesehatan" Lesya mengangguk dan pamit ke kamarnya, "Iya bun, Lesya mau ke kamar dulu ya" Mayang mengangguk.
*******
Lesya meletakkan kresek tersebut di kulkas yang ada di kamarnya. Dia mengganti bajunya di walk in closet. Setelah selesai, Lesya keluar dari walk in closet, dia menoleh ke arah ponselnya.
__ADS_1
Rupanya Leon yang menghubunginya. Lesya mengernyit bingung. Tumben sekali Leon menghubunginya? Apa terjadi sesuatu? Pikir Lesya.
Sudah 10 panggilan tak terjawab dari Leon dan 17 pesan belum terbaca dari Leon. Lesya tak mempedulikan pesan dari Leon. Karena menurutnya tak penting.
๐ฉLeon
P
P
P
P
Lesya!
Sya
Lesyaa
Angkat telepon gw woy!
Sya, angkat!
P
P
P
Sya!
Sya!
Sasya!
Zelyra Aleesya Michella!
Lesya langsung memencet tombol hijau di layar ponselnya. Lesya mendekatkan ponselnya ke telinganya setelah mengangkat telepon dari Leon. Dia membulatkan matanya mendengar informasi dari Leon.
๐ Halo?
๐ Halo Sya, lo ngapa baru angkat telepon sih?!
๐ Gw ganti baju beg*!!
๐ Iya-in biar cepet! Lo tau gak? Waktu gw ke markasโ /kepotong
๐ Bentar-bentar lo bukannya jagain Lisa ya?
๐ Iya tapi dia kagak mau dibawa ke RS, ydh gw anter balik ke rumahnya. Gw balik ke markas abis nganterin dia.
๐ Trus lo nelpon gw buat apaan dah?
๐ Lah iya! Data-data lo udah dilacak seseorang woy!
๐ Whatt! Kok bisa?!! Lo ngapa baru ngomong sih?!
__ADS_1
๐ Tadi yang ngulur waktu siapa sih?!!
๐ Siapa suruh lo yang cerita hah?! Gw gak mau tau lo harus nemuin siapa yang ngehack data gw sekarang!
๐ Siap tapi siapa yang setel ulang data lo?
๐ Gw yang setel ulang. Dan pastikan temuin orang itu secepatnya!
tuuuttt...
Lesya mengacak rambutnya. Dia menyambar laptop miliknya yang khusus dia rancang. Lesya mengotak-atik laptopnya. Jari manisnya bergerak cepat menari di atas keyboard laptopnya.
Lesya benar-benar frustasi saat memeriksa bahwa data-data nya dilacak. Bahkan dia bisa melihat bahwa pelaku sudah menyalin datanya.
Lesya khawatir jika akan terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Lesya mengigit kukunya yang panjang cemas. Bahkan dia memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya di lututnya.
Lesya mendongkak dan menatap langit kamar. Dia sudah membuat keamanan yang hanya dia saja yang tau. Dan kali ini dia tak akan memberitahu privasi keamanannya kepada siapapun. Termasuk Luna dan Leon!
Elvan yang sudah lama keluar dari kamar mandi semakin penasaran akan rahasia besar yang disembunyikan Lesya. Dia memperhatikan gerak-gerik Lesya mulai dari mengangkat telepon.
Awalnya dia ingin melihat mengapa suara dering ponsel berdering terus menerus. Itu saja! Lesya menghela nafas panjang. Dia melirik sekitarnya dan melihat Elvan yang berdiri tegap seraya bersingkap dada.
Lesya melotot. Apa mungkin Elvan mendengar ucapannya tadi? Pikir Lesya jauh., "Sejak kapan lo di sini? Lo nguping ya? "
Elvan berjalan ke arah kasurnya. Lesya yang melihat Elvan mendekat hanya was-was saja takut Elvan macam-macam padanya. Sedari tadi, Lesya berada di kasur.
Elvan duduk dan memainkan laptop miliknya, "Baru aja" Dua kata itu membuat Lesya tenang. Lesya tak sadar bahwa Elvan berbohong dengan ucapannya.
Elvan membuka email yang baru saja masuk ke dalam laptopnya. Dia membaca dengan teliti data-data, bio bahkan masa lalu orang itu. Jika kalian bisa tebak, memang benar data orang yang Elvan baca data Lesya!
Jika Lesya tahu pelaku ada di sampingnya, mungkin Elvan sudah bonyok hanya nama dibuat Lesya. Elvan yang membaca sedikit paham mengapa sifat Lesya dan Letha berbeda.
Letha dilimpahkan kasih sayang yang begitu besar sementara Lesya bekerja dari kecil dan tak lupa disiksa oleh Gilang jika salah sedikit. Pantas saja banyak memar yang terdapat di tubuh Lesya.
Lesya melirik Elvan yang terlihat fokus dari biasanya. Lesya melirik layar laptop Elvan namun tak bisa karena dirinya ditatap tajam oleh Elvan.
Lesya memundurkan tubuhnya yang sempat maju. Lesya memayunkan bibirnya membuat dirinya terlihat imut. Bahkan batin Elvan berusaha untuk tak luluh dengan keimutan Lesya.
Elvan menyimpan laptopnya di nakasnya dan menatap Lesya yang masih memayunkan bibirnya. Lesya menatap bawah namun dia tak menunduk.
Rambut lumayan acak-acakkan, wajah putih, mata lentik, bajunya yang kebesaran, pipi tirus dan bibir bagaikan cherry. Cantik! Itu gambaran Lesya saat ini.
Elvan yang tak tahan dengan keimutan yang di depannya, mencubit pipi Lesya gemes. Lesya tersadar dan memundurkan tubuhnya sedikit ke belakang. Dia terkejut dengan sikap Elvan saat ini.
Elvan masih menoel pipi Lesya yang membuat sang empu mengomel terus-menerus. Namun, Elvan tak peduli akan itu.
"Lepas bege! Sakit woy ditoel mulu! Lo kan punya pipi toel pipi lo sendiri ngapa!" omel Lesya
Setelah puas rasanya menoel pipi Lesya, Elvan menci*m pipi Lesya hingga sang empu membulatkan matanya. Kaget? Tentu saja!
Sebagai seorang gadis, Lesya cukup terkejut di perilaku-kan seperti itu. Bahkan dia baru pertama kali merasakannya. Pipinya memerah bagaikan kepiting rebus.
Elvan mengelus pipi Lesya yang memerah. Senyumnya tertarik ke atas sedikit. Dia menci*m pipi Lesya lumayan lama dan pergi ke bawah untuk makan malam. Sebelumnya, dia mengacak rambut Lesya gemes.
Lesya tersadar dan memegang pipinya, "***! Pertama kali gw diginiin sama cowok malah! Sttt! Sya inget lo gak boleh luluh karna ini doang! Iya gak boleh luluh"
Lesya menetralkan wajahnya dan turun mengikuti acara makan malam dengan keluarga Grey. Seperti biasanya setelah makan, mereka mengerjakan tugas mereka dan tertidur.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif๐ค