
Pagi di mana Lesya akan bersekolah lagi sudah tiba. Matahari pun sudah nampak walau hanya setengah saja di timur. Rasanya sangat malas sekali untuk bangun menurut Lesya.
Elvan yang baru selesai bersiap saja berdecak malas melihat Lesya yang masih lelap tertidur.
"Ck! Sikapnya nyusahin! " Lesya terperanjat kaget. Dirinya bangun dengan spontan mendengar gumaman Elvan.
Elvan menyisir rambutnya dengan tangan sedikit dan melirik Lesya sekilas. Rupanya sedari tadi Lesya melototkan matanya kepada Elvan.
Lesya melirik jam yang ada di nakas dan buru-buru merapikan kasur yang ditempatinya. Dengan langkah terburu-buru dia lari ke dalam kamar mandi setelah merasa kasurnya rapi.
Elvan duduk di sofa yang ada. Dia menunggu Lesya bersiap. Bukan karena suka, namun takut bundanya mengoceh di pagi hari. "Rapi! "
Tak sampai lima menit Elvan menunggu seraya mengerjakan tugas OSISnya, Lesya keluar dengan gaya biasanya. Elvan melirik sekilas dan kembali ke dalam tugasnya.
Rambut acak-acakan tak disisir, baju kemeja lelaki dikeluarkan, dasinya ada di dalam kantongnya dan jangan lupakan dirinya yang menggunakan celana panjang khusus lelaki.
Hanya sepatunya saja yang berwarna hitam. Namun kaos kakinya hanya semata kaki. Amazing!
Lesya mengambil kunci mobilnya dan dimasukkan ke dalam saku celananya. Tak lupa dengan dompetnya yang berisi kartu-kartu pribadi lengkap. KTP, STNK, SIM, bahkan ATM card.
"OSIS kok mau telat? " sindir Lesya.
Elvan mengabaikan ucapan Lesya. Dia malah menyimpan barang-barangnya dan melewati Lesya dengan tas di pundaknya.
Lesya mendengus malas dan mengikuti Elvan di belakangnya. Dia mengikuti Elvan hingga garasi. Di kediaman Grey, hanya ada mereka berdua dan pelayan lainnya.
Yang Angga mengikuti rapat meeting subuh tadi dan akan pergi ke sekolah pendiriannya.
Sementara Bunda Mayang, pergi ke butik nya dan akan bertemu suaminya di sekolah milik suaminya.
Lain dengan Elena, dia malah sibuk berkencan dengan Alam. Pagi-pagi? Katanya sih jadwalnya kosong waktu pagi. Dan dia harus menemui kedua orangtuanya di sekolah SMAnya dulu.
"Lama amat dah ke garasi. Omaigat! Telat gw" Lesya terburu-buru masuk kedalam mobilnya dan menancapkan gas menuju sekolah.
...~o0o~...
Lesya bingung sendiri mengapa sekolah tampak kosong? Bukankah bell akan segera berbunyi? Itulah isi pikirannya sekarang.
Lesya memilih duduk di bangku miliknya dan menunggu kedatangan sahabatnya. Tak lama kemudian Luna datang dengan siswa-siswi lainnya.
"HELLOW SASA APA KABAR? Tumben lo datang cepet? " Lesya menoleh ke arah Luna dan menunjukkan jamnya.
"What? Jam tujuh lewat tiga puluh menit? Jam lo rusak kali" Lesya mengerutkan keningnya. Rusak? Rasanya tak mungkin.
"Kagak, tadi jam di nakas juga jam tujuh kurang malah" Luna menepuk jidatnya pelan. Mengapa queennya bodoh sekali?
"Di ganti sama babang hubby kali. Coba lu pikir dah dia jam segitu belom berangkat? " Lesya menyetujui perkataan yang dilontarkan Luna.
"ARGHH! Beg* gw! " Luna tertawa melihat sikap sahabatnya itu.
__ADS_1
Lesya menangkupkan wajahnya berniat tidur. Rasanya dia mengantuk sekali dan tak berminat sekolah.
Kriiingg...
Guru dan siswa sudah melakukan kegiatan belajar mengajar. Bu bunga yang kebetulan mengabsen siswa 12 kelas B heran mengapa tak ada suara yang disebut?
"Lesya? " Siswa-siswi mengoceh melihat Lesya yang tertidur di kelas.
Mendengar suara ocehan Lesya terbangun. "Brisik! Iri amat gw tidur"
Letha menoleh ke belakang. Rasanya dia jauh jarak dengan Lesya. Dia ingin bermain dengan Lesya seperti mereka berumur 3 tahun. Tapi dia lebih mementingkan teman-temannya dibanding keluarga.
"LESYAAA! Kenapa kamu tidur di jam pelajaran saya hah?! " Tamat sudah riwayat Lesya.
Dia menyengir tanpa dosa. Kali ini dia tak mau dihukum. Dia memukul bibirnya pelan dan merutuki kebodohannya.
"Hehe, bu bunga, apa kabar bu? " tanya Lesya basa-basi.
"Baik, udah basi pertanyaan kamu" jawab bu bunga sedikit marah.
Lesya memutar otaknya untuk lolos dari hukumannya, "Emang pertanyaan saya makanan apa? Basi segala"
Bu bunga naik pitam. Bukan amarahnya tambah reda, malah naik darah. "LESYAAA! HORMAT TIANG BENDERA SAMPAI PELAJARAN SAYA SELESAI! "
Lesya merutuki kebodohannya yang asal main oceh saja. Menatap bu bunga dengan tatapan berharap, "Sekarang bu? " tanyanya.
"IYA! Dan tidak ada bantahan. Jika kamu kabur, siap-siap saja kamu membersihkan toilet satu sekolah ini! "
"Kuatkan imanmu Sasa. Jangan sampai pingsan" peringat Luna.
Yah, Lesya menanggapinya dengan anggukkan kepalanya. Dia tahu seberapa khawatirnya Luna ketika dia lecet.
"Selamat menjalankan hukumanmu Lesya sayang! " bisik orang itu. Luna melihat namun hanya mengepalkan tangannya.
Lesya terus berjalan tak mempedulikan orang itu. Dia hanya menggerutu tak jelas selama perjalanan.
"Ck! Cabe sial*n! Tapi kenapa dia manggil gw dengan sebutan itu? Aneh! " gumam Lesya.
...—...
Lesya duduk di tengah-tengah lapangan. Dia malas untuk berdiri. Biar saja dia dihukum yang penting kali ini dia selamat.
Namun kembali dia berdiri dan hormat pada tiang bendera. Karena bu bunga memperhatikannya seraya mengajar kelasnya.
"Ck! Panas banget! Gak ada orang apa? Biar gw jatuh, terus ditolongin. Masuk UKS terus gw tidur" gerutunya.
...~o0o~...
Elena kini sudah bersama kedua orangtuanya di ruang kepala sekolah. Mengapa dia harus ikut? Pikirnya.
__ADS_1
"Bagaimana perkembangan sekolah ini? " tanya Angga.
"Baik, semua baik Pak. Hanya saja ada satu siswi yang selalu membuat masalah" Angga, Mayang dan Elena menatap serius kepala sekolah.
Pak kepala sekolah menelan ludahnya kasar, "Saya salah ngomong kah? " tanyanya.
"Boleh keliling? Dan menemukan dimana siswi itu? " tanya Angga serius.
Pak kepala sekolah mengangguk, "Dia anak kelas 12B Pak. Walau dia nakal, tapi dia sering memenangkan banyak kompetisi" belanya.
"Ajak saya keliling, saya mau bertemu dengannya" tegas Angga. Memang benar jika Elvan keturunan Angga, sikapnya saja sama persis.
"Tapi, dia akan membawa walinya sekarang Pak. Jadi bapak bisa berbicara dengan walinya" ujarnya.
"KAU TAK DENGAR APA YANG SAYA UCAPKAN? " emosi Angga. Mayang menenangkan Angga yang tampak emosi.
Huhu ayah klo marah serem banget woy—batin Elena.
Angga dan Elvan memang pribadi yang hampir sama. Sikapnya yang mendominasi sama persis namun wajah yang berbeda. Hanya saja bedanya Angga lebih mudah emosian.
"Baik Pak, mari ikut saya" Angga, Mayang dan Elena mengikuti Pak kepala sekolah berjalan menyusuri sekolah.
Saat menyusuri sekolah, pak kepala sekolah yang tak lain pak Rio melihat Lesya yang sedang duduk di panas matahari.
Angga, Mayang dan Elena sempat terkejut mengapa berbelok? Apa siswi itu di sana? Pikir mereka.
"Lesya kamu ngapain di sini? " tanya pak Rio.
"Duduk, nafas, ngejemur diri, jalanin hukuman" jawab Lesya tanpa menoleh sama sekali.
Angga, Mayang dan Elena terkejut mendengar pemilik nama. Lesya! Jadi diakah?
"Ini orangnya Pak" Lesya menoleh ke arah pak Rio setelah melihat jam tangannya.
Hukumannya tuntas. Dia menoleh ke arah pak Rio saja tak ke arah Angga, Mayang dan Elena. Posisi pak Rio berada di depan Lesya sementara ketiga orang tersebut dibelakang Lesya.
Lesya berdiri dan melambaikan tangannya, "Hukuman saya selesai ya pak bilang sama istri bapak, buabay " Pak Rio mendengus mendengar ejekan Lesya.
"Maaf Pak, dia memang seperti itu. Dia namanya Zelyra Aleesya Michella Fyo. Siswi yang kita bicarakan tadi"
"Ya, saya paham. Tadi kamu bilang walinya datang? Mengapa tak orang tuanya? " tanya Angga.
Mayang teringat tentang kejadian di taman. Mulutnya terkunci seolah tak akan membiarkan hal tersebut keluar dari mulut. Raut wajahnya biasa saja seolah tak ada apa-apa.
"Orang tuanya sibuk pak namun ibunya sakit. Itu katanya" jawab pak Rio jujur.
"Lalu? Walinya? "
"Akan tiba setelah istirahat tiba di ruang kepala sekolah"
__ADS_1
Mereka semua kembali ke ruang kepala sekolah seraya menunggu waktu istirahat tiba. Mayang merutuki kebodohannya yang lupa akan janjinya menjadi wali Lesya. Padahal Lesya juga lupa.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗