
Lisa menggeleng. Dia tetap kekeh menekankan jika papanya itu sangatlah kasar. "Enggak! Emang ada seorang ayah tega nyakitin anaknya? Kemaren gw pulang malem langsung ditarik ke kamar noh! "
"Siapa suruh lo pulang malem?! Mana besoknya mau camping lagi? Wajarlah marah! Harusnya lo sadar kalo lo salah! " omel Luna tak habis pikir.
Lisa justru mendengus. "Ngapain gw ngerasa salah?! Toh ya yang harusnya minta maaf itu bokap gw! Lo harus nya paham dong gimana jadi gw! Untung aja bokap lo gak ada! " ucap Lisa asal menyeplos hingga membuat Luna tersinggung.
Luna berusaha menahan emosinya itu. "Maksud lo apa bawa bokap gw?! " Lesya mendelik tajam mendengar geraman Luna yang sedikit terdengar. "Gak ada maksud cuman.. Gw bingung kenapa lo ikut campur urusan gw sama keluarga gw! "
Luna mendorong Lisa pelan mulai tersulut emosinya. "Dan lo kenapa bisa masuk ke dalam kawasan gw, Lesya, dan Leon? Oh gw tau.. Lo manfaatin kita karena lo gak ada temen kan? " sinis Luna.
Lesya menarik Luna agar menahan amarahnya. Sedikit dari sekitar mereka mulai memperhatikan keributan antara Luna dan Lisa. Sementara Leon menarik Lisa dan menenangkannya. "Bisa diem gak? "
"Ck! " Luna pergi menjauh dan menarik Lesya. Leon masih berusaha menenangkan amarah Lisa yang sudah terkumpul. "Udah Lis! Lo gak malu apa diliatin? "
Berbeda dengan Lesya yang ditarik hingga sekitar belakang taman segera berhenti hingga Luna ikut terhenti. "Lepas! " ucap Lesya tegas. Luna yang merasa sekitarnya sepi, berjongkok dan memeluk lututnya.
Lesya merasa tak tega melihat sahabat sedari dirinya kelas 4 nya itu berjongkok. Dengan cepat dirinya berjongkok dan memeluk sahabatnya itu yang mulai terisak. "Hikss.. Kenapa papa dibawa-bawa Sya? Padahal papa udah tenang di sana! Sekarang? Gw gak suka ada orang yang hina papa Sya! " isak Luna.
Lesya mengelus punggung Luna dengan lembut. "Dasar cengeng! " Bukannya mereda, Luna makin terisak mendengarnya. "Huwaaa! Lo juga sama aja! Dari dulu gak berubah! Gw gak cengeng ya! " Lesya melepaskan pelukkan nya. "Makanya hapus! Jelek lo! "
"Tauk lah! Gw mau pergi bye! " Luna beranjak dan mengusap pipinya yang sedikit basah. Di saat Lesya hendak beranjak, Letha yang baru saja datang entah dari mana tiba-tiba menampar Lesya.
Plaakkk!
Lesya memegang pipinya yang tarasa merah. "LO DARI MANA SIH?! " bentak Letha. Lesya menatap adiknya itu dengan tatapan datarnya. "Sejak kapan lo di sini! " tanya Lesya.
Letha mengepalkan tangannya erat. Bukan itu pertanyaan yang dia tunggu. "Barusan! Dan gw cuman mau nanya lo dari mana?! " tekan Letha. Lesya menghela nafasnya dan mengangkat satu alisnya. "Kenapa memangnya? "
__ADS_1
"Kenapa? KENAPA LO BILANG?! Lo tau gak? MAMI KEMARIN SEKARAT!! DAN LO GAK ADA DI SANA! Lo juga tau gak? Mami sibuk manggil nama lo bukan gw! Kenapa? Gw yang selalu jaga dia, kenapa LO YANG DISEBUT?! "
Letha akhirnya mengeluarkan unek-unek yang dia pendam sejak kemarin malam. "Apa cuman lo anaknya? " lirih Letha mengakhiri unek-unek nya.
Lesya menghela nafas mendengarnya. Dirinya menatap langit yang masih gelap karena matahari belum bersinar. "Gw mau nanya! " Letha menatap Lesya dengan mata yang sudah sembab karena mengeluarkan unek-unek nya baru saja.
"Kenapa cuman lo yang beruntung? " Mata Letha memicing tak paham. Kalimat Lesya memang terdengar sangatlah pelan. Namun kata-kata nya mengandung sentilan di dadanya. "Maksud lo? "
Lagi-lagi Lesya menghela nafas dengan mata yang masih menatap langit gelap yang kosong. "Kenapa harus gw yang rasain semua ini? " lirihnya.
Hening!
Baik Lesya dan Letha tak mengeluarkan kata-kata sepatah pun. Hanya hembusan angin malam yang terdengar. Lesya akhirnya tersenyum simpul dan menepuk pundak adiknya yang masih terlihat bingung dengan ucapannya. "Forget it! " ucapnya.
"Oy! Kalian ngapain di sini? Bus mau jalan loh! " panggil Valen tiba-tiba dengan Farel di sampingnya. Lesya menatap tajam Valen. "Cerewet lo! " Valen mendelik. "Beh sakit bro! Nyentil ke ginjal! "
Farel tak menanggapi. Dia melirik Letha dan tersenyum simpul begitu juga dengan Letha. Entah kenapa, akhir-akhir ini mereka sering mengobrol di taman tanpa ada yang tahu. "Gw pamit! " ucap Letha diangguki Farel.
"Enak aja! Ikutlah! " ucap Lesya berlalu dan berjalan menuju arah depan. Sudah ramai orangtua yang melepaskan anaknya tiga hari. Banyak pelukkan yang Lesya lihat disertai drama kecil. "Geli njem gw liatnya! " ucap Lesya bergidik ngeri.
Prriiiittt!
"SEMUA HARAP BERBARIS SESUAI KELASNYA!! BUAT BAPAK DAN IBU SILAHKAN KEMBALI ATAU MENUNGGU HINGGA BUS BERJALAN! " Suara pak Rio disertai toa yang dia genggam membuat sakit telinga. "Baru sadar pak Rio suara kek bu bunga! "
Priittt!
Lesya menghela dan menutup telinganya mendengar suara pak Rio yang kembali menyeret dirinya. "SEMUA AYO KUMPUL SEBAGAI PEMBAGIAN BUS! DAN KAMU LESYA KENAPA MASIH DI SITU? " Berjalan malas, Lesya berdiri di belakang Luna. "Suaranya membagongkan! " gerutu Luna.
__ADS_1
Lesya terkikik samar-samar mendengar gerutuan Luna. "Sangat membagongkan! " Mereka tertawa kecil bersamaan.
Setelah pembagian bus yang memakan waktu sedikit lama, Lesya bernafas lega namanya sudah disebutkan. "Dari tadi kek! Capek gw nunggunya! Karattann! " cebik Lesya akhirnya masuk ke dalam bus yang sama dengan Luna, Leon dan Lisa.
Menaiki tangga bus, Lesya menghela nafas jika dirinya hampir kehabisan tempat duduk. "Pak? Pak Riooo! Penuh tempatnya tauk! " panggil Lesya menyembulkan kepalanya dari pintu bus.
Pak Rio menoleh diikuti Elvan yang mengangguk memahami ucapan pak Rio baru saja. "Masih ada yang kosong dua tempat lagi! " Lesya mendelik tak percaya. "Gak boleh pindah gitu pak? Penuh itu namanya! Membuat kesesakan seseorang! Bapak mau? "
Pak Rio menepuk jidatnya seraya menggeleng. "Vano, tolong antar dia ke bangkunya! Oh iya sekalian kamu naik bus itu! " Elvan mengangguk lalu berjalan menuju bus yang ditempati Lesya.
Lesya kembali memasukkan wajahnya dan mundur beberapa langkah mempersilahkan Elvan masuk. Tatapan mereka bertemu sejenak hingga Elvan kembali berjalan mencari bangku yang kosong. "Oy Van, lo di sini? " tanya Valen.
Elvan mengangguk. Dirinya baru tahu jika ke empat temannya juga berada di bus yang sama. Perdebatan kecil dari Luna dan Lisa kembali terdengar hanya masalah perebutan kursi hingga anggota OSIS menoleh.
"Gw di sini ya! "
"Enggak! Pokoknya gw yang di sini! "
"Gw duluan nemuin! "
"Gw duluan liat! "
"Lo sono gek sama siapa! "
"Ogah! Lo aja sono sama yang lain! "
Valen berdiri dengan sigap melerai perdebatan tersebut namun justru dirinya yang terkena imbasnya. "Udah diem! Nanti juga ditentuin sama pak Rio atau gak bu bunga! Biar adil! "
__ADS_1
"DIEM LO! " kompak mereka ngegas secara bersamaan.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗