Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
404: Memancing Keluar


__ADS_3

Kriinggg...


Bunyi bell sekolah kini berbunyi. Siswa-siswi kini sudah berhamburan dari kelas mereka. Ada yang masih menetap di kelas seraya mengobrol, ada yang pergi membeli makanan di luar sekolah, ada yang bermain ponsel, ada juga yang langsung kembali ke rumah mereka.


Di lantai atas kelas B, kelima most wanted sekolah Gregus itu kini mulai masuk dan duduk di kursi yang kosong. Ken yang tanggap dengan cepat mengusir semua yang masih menetap ke kelas itu secara halus. Jika dia mengusir secara kasar, imagenya sebagai lelaki setia walau playboy pasti hancur nanti.


"Gayss, boleh pergi dulu gak? Ini kita berlima ada urusan sama mereka berdua." ucap Ken dengan tampang manisnya seraya menunjuk ke arah dua sahabat yang masih tetap duduk di bangku mereka tanpa mengetahui keberadaan mereka di sana.


"Buat apaan sih ngusir-ngusir?! "


Ken menggerutu sebal di kala satu lelaki yang sedang bermain ponsel kini angkat suara dengan nada seolah tak suka. "Gak denger? Kita ada urusan sama DEVIL kalian! " ucap Ken seraya menekankan kata 'devil' di sela-sela kalimatnya.


Mau tak mau mereka yang berada di kelas B itu berjalan keluar dari kelas mereka. Jam pelajaran memang sudah berakhir. Setiap kelas juga pasti akan dirapikan para pekerja sekolah. Toh juga mereka berniat hendak pulang kok!


"Langsung aja ngomong! "


Lesya yang dicari kini akhirnya angkat suara. Pandangannya tak lepas dari setumpuk buku yang sempat dia anggurkan. Sesuai janjinya pada Galang, mungkin impiannya yang ingin disemangati oleh daddy kandungnya terwujud. Jangan hanya karena dendam masa lalu, dia menutup mata dan tak mengakui Galang adalah daddy nya. Itu ciri khas peengecut namanya!


Luna yang kini sudah selesai membereskan buku-bukunya kini menoleh pada kelima lelaki di dalam kelasnya. Cukup kaget Luna melihat perubahan drastis sahabatnya yang kini menjadi culun. Kacamata yang masih bertengger, rambutnya kini diikat walau acak-acakan, buku paket dan catatan terbuka lebar. Tangan sahabatnya juga tak berhenti bergerak di atas kertas putih yang tadinya kosong. W-wow!


"Al, dia kesyurupan ya? " bisik Valen pada Luna tanpa suara. Luna mengangkat kedua bahunya tak tahu. Namun mereka sama-sama menoleh kaget di saat Lesya membalas ucapan mereka tanpa menghentikan pergerakan tangannya.


"Jangan kira gw tu-li atau bu-ta lagi Val! Kalau ngomong, ngomong aja gak usah bisik-bisik kayak syetan." datar Lesya.


"I-iya sih. Tapi kan mata lo kagak noleh ke gw k-kok bisa tau sih? " bingung Valen sedikit takut dengan aura kuat yang dikeluarkan sahabat tunangannya.


Sang lawan bicara tiba-tiba menghentikan gerakan tangannya yang begitu cepat dan menoleh menatap Valen sekilas. Kembali menoleh ke arah papan tulis yang masih tetap diisi coretan-coretan spidol, tiba-tiba saja dia terkekeh pelan membuat bulu kuduk mereka kmebali naik kecuali Elvan.


"Don't be crazy! " datar Elvan.


"Nope, I'm not crazy! Lucu doang serius," balas Lesya menunjukkan dua jarinya yang berbentuk huruf 'V' ke arah Elvan.


"Lucu? Lucu dari mana Sya?! "


LLun kini merasa tertekan di saat Lesya justru berucap dengan mengucapkan kata 'lucu' sebagai alasannya. Padahal mereka dibuat merinding oleh senyum yang berkepemilikan seorang Lesya.


"Lucu aja baru nyadar. Sejak operasi gw langsung tanggap kalau liat sesuatu lewat gitu. Telinga gw juga makin tajem, mungkin karena efek dari gw yang masih bu-ta itu yang sering denger-denger suara aneh." kata Lesya dengan tangan yang memainkan bolpoinnya.

__ADS_1


"Stoppp! Jangan terusin, gw merinding ya dengernya! " kata Luna yang paham dengan ucapan Lesya. Sang lawan bicara hanya menaikkan satu alisnya saja. Ide jahil terlintas dibenaknya namun terhenti karena Elvan yang angkat suara karena paham dengan kejahilannya.


"Jangan usil! Nah, denger dulu."


Elvan dengan segera merogoh sakunya dan mencari nomor kontak tangan kanannya di dunia gangster nya. Revan, ya lelaki itu memang sengaja tak sekolah karena perintah dari ketuanya yang memberikannya jalan bebas agar dapat lepas dari pekikan tawanan mereka.


Elvan sengaja juga menelepon tangan kanannya itu agar dapat membuat pandangan Lesya teralihkan hingga tak terlalu menatap buku. Seminggu ini, sudah hampir sebagian tugas yang dikerjakannya. Bahkan makan hanya sekali sehari. Lesya juga selalu mengurung diri di kamar dengan buku yang bertumpuk-tumpuk.


Dan untuk hari ini, Elvan meminta bantuan tangan kanannya sekaligus dia membantu Revan keluar dari pekikan tawanan markas mereka. Mereka sama-sama untung. Revan yang untung lepas dari pekikan tawanannya dan Elvan yang untung membawa Lesya pergi melihat dunia luas selain buku.


You calling Revan...


📞 Halo? Pak bossss buruan woy dateng nih, gendang telinga gw pecah yang ada dibikin si Letha woy! LEPASIN GW?!!


"Denger? " tanya Elvan.


Lesya menatap Elvan dengan dirinya yang tetap setia diam tanpa berniat membalas. Memang Elvan meloud speaker panggilannya agar didengar oleh Lesya. Satu anggukan kepala gadis itu berhasil lolos walau hatinya masih ragu.


📞 Kasih Rev!


📞 Gimana hidup lo? Hampir dua minggu dikurung di markas gw? Seru?


📞 Elvano? ELVAN ITU KAMU KAN?


Elvan tampak terkekeh mendengarnya. Bukan hal yang wajar bagi kelima temannya yang mendengar kekehan nya. Namun Luna juga Lesya saling pandang dan merasakan buku kuduk mereka sedikit menaik dibuatnya.


"Mau ngomong? " tawar Elvan.


Lesya menyenggol sikut Luna pelan. Dia bingung sendiri makanya menyenggol sikut Luna agar meminta pendapat sahabatnya ituitu agar membantunya.


"Kalau lo mau, ngomong aja Sya. Kan udah lama kalian gak ngomongan karena perang. " kata Luna yang paham maksud sahabatnya. Sang empu yang dibalas hanya diam seraya membereskan semua buku-bukunya dengan segera.


"Okey,"


📞 Mau bebas nona?


📞 Lo Elvan kan? T-tapi gak mungkin,---

__ADS_1


📞 Ya, gw Elvan yang lo kenal.


Letha yang di seberang telefon tampak shock mendengarnya. Namun karena pikirannya yang mengetahui jika dia kini menjadi tawanan sang idola di sekolahnya tampak geram. Bahkan dia tak peduli lagi dengan rasa sukanya hingga berteriak melengking yang disertai kata-kata umpatan kasar.


📞 ELVAN BANGS*T!! LEPASIN GW DARI SINI BRENG*SEK?!!


📞 Ouh? Lepasin? Setelah gw lepasin, lo pilih gw masukin guci atau peti ma*yat?


"Elvan?! " tajam Lesya.


"Why? Lo juga gak masalah kan? " santai Elvan beralih menatap Lesya yang kini sudah tampak terpancing dengan kata-katanya. Terbukti dengan cara panggilnya yang kini menyebut nama bukan julukan 'KetBok' atau 'Papan'.


Gadis yang saat ini masih menggunakan kacamata itu mengepalkan tangannya kuat. Buku-buku yang sempat dia coret-coret dengan tulisannya kini sudah dia kemasi dan masukkan ke dalam tas ransel miliknya. Kini dia menghela nafasnya dan berjalan mendekati Elvan.


Tuutttt!


Lesya yang mulai terpancing dengan ucapan Elvan kini akhirnya mematikan panggilan itu. Bahkan keempat teman Elvan yang melihat tampak terkejut dengan reaksi yang dikeluarkan Lesya.


"Aleesya?! " sentak Elvan reflek.


"Ke markas kan? Yaudah ayo! " kata Lesya yang kini meletakkan tas ransel nya di sebelah pundaknya. Elvan menghela nafas dan meletakkan ponsel nya ke dalam saku. Akhirnya dia mengangguk dan beranjak berdiri diikuti keempat temannya juga Luna.


"Ayo! "


"Paleenn, tunggu gw bentar! "


"Iya buru makanya."


"Done, ayokk! "


Mereka kini berjalan keluar dari kelas B itu. Tas ransel yang digendong Lesya di pundak kini sudah diambil alih oleh Elvan. Dia tahu, gadis itu membawa buku-buku yang lebih banyak dari pelajaran biasa yang ditetapkan sesuai jadwal kelasnya. Gabut memang!


Namun tanpa mereka sadari dua gadis yang sempat ikut diusir oleh mereka. Mereka juga mendengar apa yang dibicarakan oleh mereka tadi.


Cukup terkejut mereka saat mendengar suara pekikan. Memang pintu kelas tak ditutup secara rapat tadi hingga mereka yang penasaran kini dapat mendengar jelas dari luar kelas mereka. Diam-diam keduanya membuntuti ketujuh remaja yang ingin pergi ke 'markas' katanya.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2