
Sementara Gratara? Dia terlihat santai dan duduk di satu kursi pojok dengan sebuah rokok di tangannya. Kini matanya lah yang beralih tertutup oleh topeng. Dan tanpa sengaja, Gratara dan Lesya melakukan eyes contact. Jujur saja Lesya ingin melihat siapa yang melukainya.
* Gratara kan ya? Gw tandain muka lo bangs*t! * umpat Lesya dalam hatinya lalu terduduk memegangi perutnya yang kesakitan. Darah masih mengucur deras dan dia tak tahu harus bagaimana.
"Lesya?! " panik Felicia yang baru saja turun setelah mengganti bajunya. Bom-bom yang dipasang di setiap tangga juga sudah dinonaktifkan oleh Vayleen. Ya, sebenarnya ini rencana Lesya pada Leon, Lisa, dan Vay saat tadi pagi.
"Lo kenapa sih?! " panik Felicia lalu menopang tubuh Lesya yang masih terus mengeluarkan darah. Pandangan Lesya sedikit perlahan memburam. Gadis itu merasakan sakit yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Bahkan hawa gelapnya juga langsung hilang sekejap saat merasa sakit pada perutnya.
Felicia saja ingin sekali protes di saat Lesya mencengkram erat pergelangan tangannya. Vay yang baru saja tiba di bawah juga dibuat binggung dengan kumpulan darah yang berada di permukaan lantai kotor gedung tua itu.
"K-kak s-sakit, " adu Lesya.
"Iyaa, bilang dulu be*go lo kenapanya biar tau gw bangs*t! " kesal Felicia sedikit ngegas. Lesya mengatur nafasnya. Dia menggeleng pelan seolah mengisyaratkan dirinya tak bermasalah. Felicia saja dibuat bingung dengan Lesya. Maksudnya apaan sih?!
"Bac*t dah, mending kita ke atas dulu."
Lesya kembali menggeleng pelan.
"Gak! Anggota gw perang, anggota Tiger juga perang, gw juga lah! " kekeuh Lesya yang memutuskan kembali perang.
Rasa sakit yang dirasakan Lesya sudah berada di puncak dan tiba-tiba surut begitu saja. Melihat wajah Vay yang disebelah Felicia sekilas, lalu beralih melihat ke arah tombak yang menancap di perutnya sebuah kenangan dimana dirinya melihat sang papi ditusuk kembali terlintas di benaknya.
Melepaskan topangan tangan Felicia, Lesya kini beralih memegang kepalanya yang memutar bagaikan kaset yang sedang rusak. Matanya terlihat linglung dan berusaha menutup ingatan pahit itu. Namun sama sekali tak bisa! Bukan tak bisa sih, tapi ingatan itu terus-terusan berputar seolah memaksanya mengingat kejadian tusuk itu.
"Kenapa sih lo? "
"Kak, "
"Apa? "
"P-papi ditusuk ya? "
Deg!
Felicia meremas bajunya sendiri mendengarnya. Jika pertanyaan Lesya begitu, sudah tentu dia tahu apa yang dibicarakan. Terlebih saat Vion meninggalkan mereka, Dengan segera Felicia membopong Lesya ke pinggir dibandingkan menjadi sebuah halangan dalam medan perang kali ini.
__ADS_1
"Lesya, sadar, jangan kayak gini please, lagi perang Sya! " ucap Felicia cemas.
Lesya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tak mendengar ucapan Felicia. Kejadian dimana Arga ditusuk saat dirinya kecil, sedang dia tolak untuk mengingatnya. Mengapa ditolak? Karena Lesya tahu jika dia mengingat kejadian itu, mentalnya dapat breakdown.
Felicia dengan tanggap menangkup kedua pipi Lesya. Dia masih ingat mengenai cara ini untuk menenangkan remaja SMA itu. "Lesya, tatap mata gw! Jawab ya, obat lo di mana? " tanya Felicia lembut. Lesya merogoh saku roknya. Benar, obatnya itu ada di mana?!
"T-tadi ada, se-sekarang gak ada! "
Mata Felicia membulat. Dia beralih mengecek saku rok Lesya. Benar, tak ada sama sekali. Omong-omong soal Vay, anak kecil itu berusaha menghentikan seseorang yang berniat mencelakai Luna dari belakang. Felicia memutar otaknya dan mengingat jika dia juga pernah menyimpan obat yang dibutuhkan.
"Sya, "
"Hm? "
"Gw mau ke atas buat ambil obat, di sini lo bisa jaga diri gak? Di sini rame loh."
"I'm fine, lo ke atas sana! "
"Bener ya, hati-hati loh! "
"Iya, di sini aja dulu lo."
Felicia dengan cepat membopong Lesya agar memegang pegangan tangga bawah. Tujuannya adalah supaya mudah dia lihat nanti. Setelah berpamitan, dengan cepat Felicia bergegas naik ke atas dan mencari obat yang dibutuhkan Lesya saat ini di dalam kamarnya. Dia salah satu orang yang mengetahui penyakit Lesya ini selain Vion, suaminya sendiri.
Namun di saat Felicia pergi mencari tablet obat, seorang perempuan dengan balok kayu juga turun dari tangga. Lesya tak dapat menoleh ke arah sumber suara. Lesya hanya mencakar-cakari tangannya agar rasa sakit yang dia rasakan sedikit berkurang. Tanpa sadar, sebuah balok akhirnya tepat mengenai pelipisnya.
Takkkk!
Suara nyaring itu membuat beberapa dari mereka menoleh. Jujur, mereka tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Terlebih pada Lesya, dia tak percaya dia dibuat terjatuh oleh seseorang yang sangat dia sayang walau tak dekat.
"Lesya, " panggil Luna setelah menumbangkan Faris. Menghampiri sahabatnya, Luna mengepalkan tangannya erat dan mengarahkan ujung katananya pada seseorang yang membuat Lesya hampir pingsan.
"Letha, lo gilaa ya?!! " bentaknya.
Ya, orang itu adalah Letha. Jika tak paham negara Letha di sana dimohon baca ulang dari episode 373 deh. Orang yang beberapa kali diomongi oleh Vion dan Gratara juga sudah keluar. Orang itu adalah Zelara Aleetha Michelle Fyo, kembaran Lesya walau tak identik.
__ADS_1
"IYA GW GILAA-!! GW GILAA SAMPE-SAMPE JADI KAMBING HITAMNYA DIA KAN?!! " balas Letha dengan nada membentak. Luna hendak melayangkan senjatanya tepat pada bagian dada Letha. Namun sayangnya dengan segera Leon menahan dia agar tak berbuat sesuatu hal yang nekat.
"BAC*T LO ANJ*NG! Lagian di leher lo merah-merah jangan bilang lo habis ngel*nte di sini? " ujar Luna mengarahkan pedangnya pada leher Letha yang berwarna merah kebiruan. Nada meledek dari Luna membuat Letha mengepalkan tangannya geram.
"KALAU GAK GARA-GARA PEMBAWA SIAL KAYAK DIA, GW JUGA GAK AKAN MUNGKIN JADI GINI YA!! " bentak Letha geram dengan tangan yang menunjuk ke arah Lesya yang baru saja dibantu bangun oleh Elvan. Walau dapat dilihat, Lesya sedikit menolak pada awalnya.
Plaakk!
"Bac*t! Kalau mau perang tinggal join, gak usah drama." datar Lesya setelah menampar pipi Letha. Jujur saja Lesya hanya asal menampar. Namun tenaganya, dapat di bilang lumayan keras karena suaranya yang nyaring.
Tindakan Lesya itu membuat semua kaget. Pasalnya Lesya sangat menyayangi bahkan tak akan pernah mau memakai kekuatan fisik pada Letha. Dan sebesar apapun itu, Letha selalu mendapatkan kata 'maaf' walau tanpa dibilang dahulu dari Lesya. Cukup kaget memang. Bahkan Letha saja memegang pipinya tak percaya dengan tamparan barusan.
"Heh, lo aja nampar gw seolah gw yang punya salah sama lo. PADAHAL DI SINI LO YANG GAK TAU DIRI YA!! " bentak Letha lagi.
Plaakk!
"Gw bilang bac*t ya bac*t be-go! " datar Lesya kembali menampar sebelah pipi Letha. Dan lagi-lagi Letha membulatkan matanya tak percaya. Beberapa dari mereka masih diam menyimak. Sementara Luna yang menyadari tatapan mata Lesya yang bagaikan sedang mencari mangsa dengan cepat menarik tangan Letha agar mundur ke belakang.
"Sstt, udah Sya tenangin diri, jangan sekarang! " ucap Luna yang kini mulai paham. Walau bahunya sakit karena pelatuk dari Vion, rasanya bukanlah apa-apa dibandingkan melihat kedua kakak adik kembar yang bertengkar.
"Syaaa.. Obatnya adanya kadarluarsa semua! " ucap Felicia tiba-tiba. Lesya menatap datar Felicia. Dan ini wanita yang baru saja tiba menutup mulutnya seolah tahu maksud tatapan Lesya.
"Heii, anggota gw dan lo berdua yang tersisa udah di luar perangnya. Karena kita sisa segini, gimana kalau kita diskusi aja? " tawar Gratara angkat suara lalu memadamkan rokoknya dan menurunkan topeng matanya perlahan.
Betapa terkejutnya mereka melihat wajah Gratara yang sangat mereka kenali. Melihat kebingungan semuanya, Vion yang terkapar lemas di lantai akhirnya kembali tersenyum licik karena ekspetasinya kini terpampang jelas di depannya. Lihat saja Lesya yang terkejut hingga mengepalkan tangannya erat.
"Papih, " lirih Lesya.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
>>><<<
Lanjut besokkk! Deg-degan ngetiknya, jangan lupa jejak ya...
Buat questions tentang kehamilan Lesya nanti ya jawabnya. Sengaja dibuat biar suasana makin tegang, udah jangan protes-protes, semoga sukaa🌻
__ADS_1