
Pagi yang bersinar sudah kembali menampilkan cahayanya. Awalnya mereka yang masih berada di negara asal kini sudah berpindah ke negara orang. Mereka yang pergi hanya membawa barang-barang kebutuhan saja karena sisanya dapat disediakan di tujuan.
Sesuai rencana, kini mereka semua sudah duduk di kursi masing-masing. Pesawat pribadi bagaikan pesawat pada umumnya. Hanya orang tertentu saja yang pergi seperti: Elvan, Galang, Sella, Mily, Gilang, Luna, Valen, Felicia, Lisa dan Vay saja. Untuk yang lainnya akan menyusul nanti. Termasuk keluarga Grey lainnya, Cakra dan Alam.
Sebenarnya untuk Gilang hanya ikut karena kembarannya saja. Saat diberitahu bahwa Galang akan menjadi pendonor, emosinya melonjak parah.
Dengan segera semua itu ditegaskan sang abang kembarannya, akhirnya Gilang setuju saja, namun tetap dengan syarat. Pertama Galang tak boleh meninggalkannya dan yang kedua dia akan ikut dengan sang kembaran ke negara asal mereka. Kedua kembaran itu merasa masa bod*h dengan pekerjaan mereka berdua. Galang menyerahkan pada Ronald, asistennya begitu juga dengan Gilang yang menyerahkan semua pekerjaan kantornya para asistennya.
Kemarin, tepat waktu tidur, Sarah menyuntikkan obat bius pada selang infus hingga rencana mereka sungguh berjalan. Dan untuk keperluan yang dibutuhkan sudah dipersiapkan lebih dahulu dibandingkan waktu menyuntikkan obat bius pada Lesya.
Henny awalnya tak mengizinkan Luna pergi. Namun karena bujukan dan permohonan Luna yang bahkan membuat drama menangis dadakan akhirnya membuat Henny tak tega dan mengiyakan saja. Namun syarat tetap berlaku. Harus ditemani oleh Valen!
Valen juga awalnya menolak halus namun setelah dibujuk oleh Luna akhirnya juga luluh. Lagi pula dia yang seharusnya sekolah, kini diundur dan harus kembali izin demi kemauan Luna.
Oke, back to topic...
Kini seorang gadis yang baru bangun dari tidurnya hanya terbengong saja. Mengapa dia meraba sekeliling dan merasa sedang berada di kursi bukan brankar? Bukankah kemarin dia baru saja tertidur di brankar? Lalu sekarang, dimana dia? Pikirnya bingung.
Sungguh, di saat Lesya meraba sebelah kanannya, dia merasa sedang di dalam pesawat karena kaca yang dia raba layaknya kaca pesawat. Arghh, mengingat dia tak dapat melihat sekeliling membuatnya frustasi.
"Le, lo udah sadar? "
Suara bariton yang sangat familiar kini baru saja didengarnya. Merasakan tangannya yang digenggam membuat dirinya hendak menepis tangan besar itu. Namun tak mampu karena tiba-tiba saja lelaki itu lebih dahulu menahan genggamannya agar tak terlepas.
"Tangan lo dingin Le,"
Lesya terdiam. Dia sama sekali bukannya merasa dingin namun takut. Tangannya mungkin merasa dingin karena dia selalu ditempatkan di ruang yang selalu memiliki pendingin ruangan.
Dan kini Lesya merasakan kedua tangannya sama-sama digenggam dan ditiup perlahan agar tak dingin. Dan saat merasakan tiupan nafas di kulit tangannya, hatinya tersentil. Dengan segera Lesya kembali menarik tangannya dan melipat tangannya di dada.
"Where are we will go? (Ke mana kita akan pergi?) " tanya Lesya datar. Elvan yang terdiam karena penolakan Lesya kembali tersadar. "Prancis," jawab Elvan.
__ADS_1
Deg!
Lesya merasakan aura atmosfer di sekelilingnya lenyap. Mendengar nama negara asalnya, dia merasa akan segera dipulangkan begitu saja. Namun dia kembali tersenyum tipis di saat mendengar kelanjutan ucapan Elvan.
"Pendonor adanya di negara asal lo, jadi kita ke sana buat oprasi." lanjut Elvan lalu beralih mengusap pelan kepala Lesya lembut. "Mau kan oprasi nanti? " sambung Elvan lagi bertanya.
Lesya terdiam. Operasi? Sungguh, dia sangat bingung. Secepat inikah Elvan menemukan pendonor yang cocok? Lalu, bagaimana kehidupan pendonor nya nanti? Apa menggantikan dirinya yang bu-ta ini? Pikirnya bingung.
"Emang udah ada? " tanya Lesya.
"Ada kok, namanya Charlos." kata Elvan jujur.
Alis Lesya menyatu mendengarnya. Nama itu terdengar tak asing baginya. Melihat kebingungan dari Lesya, dengan tanggap dia paham apa yang dipikirkan gadis itu. Benar kata Galang, kepekaan otaknya tinggi namun daya lemotnya terkadang menyumbat ingatannya.
"Charlos? Kok tiba-tiba sih? Dia gak mikir kehidupannya nanti gimana gitu? Pengen banget gantiin gw yang bu-ta ini?! "gumam Lesya tak paham namun tetaplah terdengar jelas. Dan entah mengapa juga nada bicaranya justru menjadi kesal. Kan harusnya dia senang.
"Dia juga udah mikir ke situ dan katanya dia ikhlas karena satu tanggung jawaban. Udah jangan pikirin, terpenting lo udah punya pendonor! Jangan lupain dia yang jadi pendonor lo nanti, okey? " kata Elvan memberi pengertian agar Lesya tak kembali bertanya lagi.
* Hemm, siapa ya si Charlos? Udah tua atau masih muda? Kalau masih muda sih gw tolak aja mendingan! Kasian di dianya masih muda malah bu-ta gara-gara gantiin gw! * batin Lesya penasaran dengan sosok pendonornya.
* Gw tau apa yang ada dipikiran lo Le, semoga ini yang terbaik dan ini juga yang buat lo kembali punya semangat hidup! Jangan pernah murung, karena itu yang buat gw merasa gagal ngejagain lo! * batin Elvan yang menatap lekat Lesya yang terdiam entah memikirkan apa.
...〰〰〰〰〰〰〰✍...
Setibanya di tujuan, semua berjalan menuju mobil jemputan masing-masing. Hal itu sengaja agar tak mengganggu satu sama lain. Leon juga akan pergi dengan mobil ambulance yang tersedia. Tentunya untuk Leon pasti ditemani Felicia dan Lisa. Lalu Vay? Bocah itu lebih memilih bersama Luna dan Valen agar tak menganggu Leon nantinya.
Di sebuah mobil yang berisikan dua pasutri terdiam satu sama lain. Hanya terdengar suara mesin saja yang terdengar. Gilang yang bertugas menyetir, menatap Lesya penuh benci dari kaca mobil. Sungguh, bagaimana abangnya tiba-tiba mau begitu saja? Bahkan menjadi pendonor pula!
Ah iya, di sini Gilang yang menjadi supir karena hanya pria itu yang dapat mengetahui sebagian daerah negara Prancis ini. Tentu juga karena dia adalah salah satu orang yang merupakan asli Prancis dengan campuran ke-Asiaan.
"Ekhem!! " dehem Elvan keras.
__ADS_1
Gilang berkomat-kamit dalam batinnya seolah menyumpahi Lesya dan Elvan yang duduk di kursi belakang mobil. Mily dengan tanggap menyenggol sikut Gilang agar tetap fokus berkemudi. Sementara Lesya hanya acuh saja dengan apa yang dia dengar dan rasakan. Namun di saat mengetahui Gilang juga ikut, dia yakin jika pria itu akan menertawakan kondisinya.
“Quelle est l'adresse? (Di mana alamatnya?) “ dingin Gilang. Dia sengaja menggunakan bahasa asalnya agar menguji seberapa pahamnya Lesya mengenai bahasa asalnya.
“La C*** Lou** ** **, Sir! [sensor] “ jawab Lesya singkat. Mily dan Elvan yang mendengar hanya terdiam saja karena tak paham. Tak urung Elvan sedikit paham apa yang dibicarakan karena jawaban Lesya layaknya sedang memberitahukan nama tempat.
Gilang hanya diam saja tak menanggapi jawaban Lesya. Dia hanya fokus mengarahkan sesuai alamat yang diberi tahu anak tiri— atau keponakannya? Jawab di paragraf ini ya, enaknya panggil apa. Ponakan atau anak tiri? 🧐
Elvan beralih menggenggam tangan Lesya yang masih saja dingin. Sang empu hanya diam saja. Dia diam bukan karena ruangan dingin lagi. Namun karena mendengar suara aneh di benaknya. Semacam delusi. Ya, gangguan itu sedang dia tahan sekarang. Walau tak dipungkiri dia tetap takut mendengar semua suara aneh di benaknya.
"Kenapa? " tanya Elvan yang paham raut wajah Lesya. Sang empu tersadar dan menggeleng saja. Sangat malas mengeluarkan suara. Perutnya kosong namun dia tak ingin makan. Lesya sangat terpukul dengan semua yang dia alami. Kehilangan bayinya dan juga matanya.
Elvan yang melihat gelengan kepala Lesya hanya mengangguk paham saja. Tangannya beralih mengelus pucuk rambut istrinya dengan lembut. Untung saja Lesya sama sekali tak melakukan perlawanan lagi seperti sebelumnya.
"Udah tau belum kalau dua hari lagi kamu operasi Sya? " tanya Mily memecah keheningan. Sang pemilik nama tanpa sadar mengernyit heran dengan ucapan auntynya. "Kok dua hari lagi sih? Kenapa gak sekarang? " tanya Lesya heran.
"Pendonor nya pengen ngabisin waktu paling lama dua hari buat ngurus-ngurus masalah kedepannya." jawab Mily dan dibalas anggukan paham oleh Lesya.
Lesya tersenyum simpul. Ini adalah pertama kalinya dia tersenyum setelah kejadian dia mengetahui kondisinya. Elvan yang melihat ukiran bibir Lesya menampilkan senyum tipisnya. Begitu juga dengan Mily yang masih tetap menghadap ke belakang sejenak.
"Kenapa senyum? Gak sabar kan lo- eh kamu? " kata Mily yang justru hampir mengubah logat bicaranya. Lesya hanya mengangguk jujur. Tak dipungkiri, dia bahagia mendengarnya walau orang lain harus berkorban untuknya. Sungguh, Lesya pasti akan sangat-sangat berterima kasih pada orang baik itu nanti nya!
"Dua hari lagi kan? Gak sabar, bisa liat lagi walau mata orang jadi korban," lirih Lesya entah mengapa tak tega dengan pendonornya. Elvan yang masih setia mengelus pucuk kepala gadisnya hanya kembali angkat suara. Dia juga senang di saat Lesya yang bimbang karena hatinya.
"Kalau bisa liat lagi nanti, mau liat apa dulu? " tanya Elvan mengalihkan perhatian. Lesya mengangkat bahunya tak tahu. "Entah! Tapi mumpung di Prancis, gw mau foto di Menara Eiffel nanti! " balas Lesya antusias.
"Aunty ikutt lah! " sahut Mily.
"Bumil gak boleh ikut! " balas Lesya yang entah mengapa menjadi seperti sebelumnya. Mily mengerucutkan bibirnya manyun. Dia tetap kekeuh ingin ikut pergi agar mengalihkan perhatian ponakannya. Ya, sengaja kan ya.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1