Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
187: Gelang!


__ADS_3

Teringat bayang-bayang dirinya di kurung di dalam gudang dan disiksa, membuat Lesya tersenyum sinis yang terkesan miris. "Apa kata dunia kalau gw queen Ellion tapi mau-mau aja disiksa? Miris banget hidup gw! Tunggu aja kelanjutan hari, apakah masih banyak penghargaan yang gw terima dalam hidup? " gumam Lesya kecil menatap arah langit dan pohon-pohon di atasnya.


"Gw Zelyra Aleesya Michella Fyo, akan menunjukkan jati diri gw di saat yang tepat! Dan di saat itulah gw yakin jika keputusan yang gw buat akan berdampak baik dengan kehidupan gw ke depannya! Semoga saja semua rencana yang gw pikirkan matang-matang selama ini berjalan dengan baik dan lancar! Buat papi, semoga papi tenang di saat semua berlangsung! " tekad Lesya.


Lesya sangat menikmati self time nya untuk meredakan amarahnya yang sempat naik ke ubun-ubunnya. Selama ini terlalu lama dirinya menyimpan banyak rasa di dalam hatinya. Entah itu kecewa, sedih, marah, benci, dan lainnya, membuat mentalnya sedikit terganggu.


Dirinya membutuhkan waktu sendiri lebih banyak dibandingkan berkumpul ramai-ramai. Namun hal tersebut justru dia singkirkan begitu saja. Menurutnya, dengan banyaknya berkumpul yang dapat membuat dirinya melupakan sejenak semua masalahnya yang terjadi.


Lesya yang pernah membenci orang lain yaitu lelaki tampan yang pernah meruntuhkan pertahanan bajanya saat SD, namun karena dirinya yang tahu jika Vion lah yang membunuh ayahnya membuat bekas luka di dalam lubuk hatinya.


Mengapa dirinya baru sadar? Dan wajah Vion saat ini bekas operasi plastik! Mengapa dirinya baru sadar setelah beberapa tahun berteman baik dengan Vion? Bahkan banyak rahasia yang dia tutupi dengan baik dan diketahui oleh Vion karena dirinya yang lebih banyak bercerita kisahnya dengan Vion.


Mengapa dirinya harus menjadi pelampiasan amarah seseorang? Sementara dirinya jika marah tak melampiaskan terhadap orang lain. Mengapa juga selalu dia yang disalahkan dalam semua masalah keluarganya? Mengapa dan mengapa?


Banyak pertanyaan muncul dalam benak Lesya yang membuat moodnya seketika down jika sendiri. Rasanya dia ingin berteriak sekencang-kencangnya bertanya apa jawaban dari semua unek-uneknya selama ini.


Niatnya yang mau self time diurungkan olehnya  karena mengingat dirinya yang tak sanggup berpikir jernih lagi. Walaupun Lesya merupakan remaja yang tangguh dan kuat menghadapi masalahnya, dia tetaplah perempuan lemah yang membutuhkan perlindungan dan sandaran. Mau bagaimana lagi?


Lesya menoleh ke arah gelang tangannya yang berbunyi kecil. "Apaan nih bunyi-bunyi? Heran gw dah! Gw tenggelem di sungai bunyi, gw jatuh jurang bunyi! Sekarang? Bunyi juga? " heran Lesya.


Ting! Ting! Ting! Ting!

__ADS_1


Mata dan jari Lesya berputar mengelilingi gelang tersebut binggung mana yang harus dia tekan. "Ini gimana sih berhentiin suaranya?! Heran gw dari tadi bunyi mulu! " kesal Lesya.


Tak lama Elvan datang dengan langkah cepatnya berjalan menghampiri Lesya. "Le?! Lo gak papa kan? " Lesya menoleh ke arah Elvan. "Loh? Lo ngapain ke sini? " tanya Lesya bingung.


Menghela nafasnya lega, Elvan duduk di sebelah Lesya lebih tepatnya batu besar itu. "Ngapain di sini? Sendirian lagi! "


Lesya menautkan alisnya dan menggeleng kecil. "Enggak tuh! Gw di sini sama batu, tanah, pohon, langit, angin! Banyak kan? " polos Lesya tanpa dosa.


Elvan hanya memutar bola matanya malas dan menatap manik mata Lesya. Seketika dirinya tahu sorot mata Lesya menunjukkan rasa kesepiannya. "Sini! "


Lesya menoleh dan bingung sendiri melihat Elvan yang merentangkan tangannya. "Apaan nih? Oh, lo minta peluk? Sorry ya, kalo mau peluk gw itu mahal! Satu jam meluk aja lo meluk, traktir isi cafe lo! " gurau Lesya yang tak ingin dikasihani lagi oleh Elvan.


"Iya! Sini! " Lesya mengalihkan pandangannya di saat Elvan justru menyetujui ucapan gurauannya beralasan. Elvan yang melihat tak ada pergerakkan dari Lesya tak ingin memaksa lagi. "Punya masalah? Sini cerita! " ujar Elvan.


Elvan yang paham dengan sikap Lesya yang justru terdiam tak ingin memaksa lagi. Dirinya sudah diperingati oleh Mayang sebelum berangkat ke sekolah pagi-pagi buta untuk merubah bicaranya dengan Lesya menjadi lebih hangat.


Elvan hanya mengelus anak rambut Lesya dengan satu tangannya. "Lo tau? Bunda nyuruh gw ganti nada bicara gw sama lo! " Lesya yang penasaran menoleh dan bertanya. "Lah? Kenapa? Emang lo ada salah apaan sama bunda? "


Elvan menggeleng. Tangannya masih tak berhenti mengelus anak rambut Lesya. "Enggak ada salah! Kata bunda biar lebih akrab terus karena lo istri sah gw! " jawab Elvan santai.


Mata Lesya membulat lebar. "Gw mau belajar bertanggung jawab sama semua yang berhubungan dengan lo! Jadi... Kalo lo butuh teman cerita, gak usah sungkan datang ke gw! Oke? " Lesya mengangguk patuh saja.

__ADS_1


"Tapi gw bengek sama nada bicara lo! Walau udah biasa aja sekarang, tapi lo berubah jadi cerewet kek emak-emak rempong! " Elvan menatap datar Lesya.


Sudah sulit mengubah gaya bicaranya, justru Lesya meledek nya dengan begitu mudahnya berkata jika dia cerewet. Lesya tertawa kecil. "Just kidding Pan! But that's a fact not a hoax!" tawa Lesya kecil.


Elvan memutar bola matanya dan mengambil tangan Lesya yang terdapat gelang pemberiannya. Dirinya mengatur ulang cara kerja gelang tersebut membuat Lesya berhenti tertawa dan fokus menatap jari Elvan yang terus bergerak di area pergelangan tangannya.


Tiba-tiba saja Lesya bertanya. "Pan, ini gelang kenapa bunyi mulu sih?! Gw bising dengernya! Kek gabut nih gelang! " Elvan melirik Lesya sekilas. "Itu kesalahan! Gw buat 2 cara kerja di gelang ini! "


"Cara kerja? Dua? Gimana cara kerjanya? " tanya Lesya beruntun.


"Pertama, kalau lo dalam bahaya atau gw dalam bahaya, gelang ini bakal bunyi! " jawab Elvan.


Menautkan alisnya bingung, Lesya kembali bertanya. "Trus kalau dua-duanya dalam bahaya? " tanya Lesya. Elvan meletakkan tangan Lesya seperti semula karena sudah berhasil dia ubah. "Suara yang dikeluarkan lebih besar dibanding satu pihak yang dalam bahaya! "


"Trus yang kedua cara kerjanya? "


"Lo dalam bahaya, di gelang gw bunyi! Sementara gw dalam bahaya, di gelang lo bunyi! "


"Bagusan yang kedua sih cara kerjanya! Gak terlalu berisik-berisik kan? Btw, kalo kita kepisah jauhhhh banget gimana tuh? Masih kehubung gak gelangnya? "


Elvan sedikit tersenyum melihat cara mempraktekkan Lesya pada kata 'jauh' dipanjangi oleh gadis remaja itu. "Masih kehubung kok! "

__ADS_1


"Selain itu, gw pasang location system di gelang kita! " tambah Elvan. Lesya memiringkan kepalanya sedikit menatap Elvan. "Di mana? Contohin dong! "


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2