
Tanpa basa-basi baik Lesya, Luna, Lisa, Leon, Valen, Ken, Frans, dan Farel melahap isi box yang lumayan besar tersebut dengan rebutan. Mereka tahu jika varian tersebut sangatlah enak dan hanya dapat dibeli oleh orang tertentu.
Letha yang membeli itu saja harus melewati dan menunggu beberapa bulan persiapan hadiah tandingan basket. Dan untuk orang yang terpandang termasuk Elvan tak membeli itu karena malas alias penunggu gratisan.
"Gil* cokelatnya pas banget dimulut! "
"Lumer lagi! "
"Pengen nambah! "
"Inget gender! "
"Serius enak woy! Gak mandang gender nih penjualnya. "
"Habisin tanpa bac*t bisa gak? "
"Ampun bu Lesya! Sya! Sya! Sya! "
Pletak!
"Mamp*ss! Haha.. Lagi Sya! "
"Kurang kenceng! "
"Diem or gw sleding? "
Banyak ocehan tak jelas dari 4 kawan Elvan dan Lesya dkk yang terdengar. Elvan yang tak mencicipi bahkan hanya memainkan ponselnya menghela nafas sabar. "Pan, serius gak mau? Enak loh! " tanya Lesya menawari.
Elvan melirik dan menggeleng. "Habisin aja! " Valen melahap ice cream yang ada di sana dan menatap sahabatnya itu. "Serius Van gak mau? Masih ada nih walau sedikit doang sih! "
Lesya mengangguk. "Tauk lo! Yang punya masa gak makan? Sedangkan yang minta malah minta pabrik nya! " Luna mendengus. "Gw gak minta pabriknya ya Sya! "
Lisa yang menyeka sudut bibirnya yang berlumutan cokelat mencibir. "Heleh! Tapi lo masih pengen kan? " Luna menyengir kecil dan mengangguk. "Kalo ada sih.. Ya mau lah masa enggak! " jawab nya semangat 45.
Lesya yang masih sibuk melahap, menyendokkan ice cream dengan satu kotak batang cokelat dan satu permen cokelat. "Nah mau gak? " Elvan menerima saja karena malas ditanyai dirinya mau apa tidak.
__ADS_1
Tanpa Lesya sadari, dirinya sedang menyuapi Elvan hingga membuat teman-temannya terdiam. "Enak kan? " tanya Lesya. Elvan mengangguk sekilas saja dan menatap teman-temannya karena tak bersuara lalu kembali pada ponselnya.
Bahkan tanpa Lesya sadari juga, dirinya memasukkan sendok yang dia gunakan untuk menyuap Elvan ke dalam mulutnya. "Sya.. " kaku Luna.
Lesya mengangkat dagunya aneh. "Kalian kenapa sih? " tanyanya. Luna menggeleng kecil sebagai perwakilan. "Lo sadar? " Bingung dengan perkataan Luna, Lesya menggeleng saja. "Enggak! Sadar apaan? " tanya nya bingung.
Lisa menggeleng dan membekap mulut Luna yang hendak berbicara. "Eng-enggak! Maksudnya tuh enggak jadi iya itu! " gugup Lisa membekap mulut Luna dan berbisik tepat di telinga Luna. "Jangan ganggu! "
Lesya menatap aneh mereka semua. "Aneh! " gumamnya kecil. Berbeda dengan Luna yang justru memberontak di saat mulutnya dibekap. "Emphh! " gerang Luna menepuk-nepuk punggung tangan Lisa.
Valen yang mendengar gerangan Luna walau bergumam, melepaskan bekapan Lisa hingga Luna terlepas. "Blahh! Njem tangan lo bau! " Gelak tawa terdengar baik Frans, Valen, Ken, Farel, Lesya bahkan Leon. "Sial*n! " julid Lisa.
...~o0o~...
Lesya mengamati dan terus menajamkan pendengarannya di telinganya. Saat ini dirinya berada di dalam kamar miliknya dan Elvan. Hanya sendiri saja karena Elvan mengurusi beberapa pekerjaan kantor karena Angga sedikit pening meng-handle semua itu.
"Huh!! Gak ada berita lain lagi? Udah berapa hari gw gak kesana ya? " molog Lesya kecil. Seraya mengurus perkembangan perusahaan milik keluarga Fyo, perkembangan hotelnya, dan beberapa aset milik keluarganya.
Hingga dirinya kembali fokus mendengarkan sedikit suara yang muncul dari penyadap yang dia pasang di kamar Mila. Masih belum ada yang mengetahui jika dirinya meletakkan penyadap suara.
Bahkan, selama dirinya tak menjenguk Mila, dia memerintahkan beberapa anggota Lion Claws yang bekerja dalam bidang perawatan untuk menjadi suster pengobatan sang mami.
Someone: Maaf jika saya menyakiti anda nyonya!
Mila: [tertidur sangat pulas].
Someone: Dan mohon sampaikan maaf saya kepada queen Ellion nyonya! Maaf jika saya mengkhianati dan menjadi penghianat queen Ellion! Jujur, saya terpaksa melakukan ini atas perintah bu Amanda,
Mila: [sama sekali tak mendengar].
Someone: Ma-af dan terimakasih untuk jasa putri anda yang sangat berbaik hati ingin menampung diri saya yang menjadi penghianat ini, *perlahan menyuntikkan satu racun ke dalam selang infus hingga Mila merasakan sesak.
Mila: Hah!! Huh!! Hah!! *benar-benar sesak nafas.
Someone: *mengambil pisau di belakang sakunya dan menusuk dadanya dan melemparkannya begitu saja ke sembarang arah.
__ADS_1
Mila: [sesak nafas dan sekarat].
Someone: [tiada].
Lesya tak percaya mendengar suara penjelasan orang tersebut. "Dia salah satu suster yang gw suruh? Heh! Dasar penghianat?! " geram Lesya meninju angin.
Melotot tak percaya, Lesya mendengar suara pintu terbuka dan teriakkan seseorang dari seberang sana. "Ar-ara?! " lirihnya dan terburu-buru mengambil kunci motornya dan hendak keluar namun tertahan mendengar suara dari seberang sana.
Letha: DOKTERR!! SUSTER!! *teriak.
Dokter: Pasien masih dapat selamat namun keadaannya saat ini sedikit sesak. Dimohon menunggu beberapa waktu kembali agar beliau dapat selamat.
Tanpa basa-basi Lesya menutup laptop dan membuka headphone miliknya yang dia gunakan dan berlari meninggalkan rumah mewah tersebut.
Naas, di saat dirinya berlari ke dalam depan pintu gerbang, pagar gerbang rumah tersebut tertutup rapat tanpa celah. Dan dirinya tak dapat memanjat karena sama sekali tak terdapat alas kaki yang menopang dirinya di atas nanti.
Memang Angga merancang desain bangunan tersebut karena dahulu, saat hendak keluar Elvan sering memanjat pagar. Alhasil, Angga mengubah desain pagar tersebut.
Saat menempuh pendidikan sekolah dasar, Elvan memang sangatlah nakal. Apalagi di saat dirinya beranjak menjadi pelajar siswa sekolah menengah pertama.
Hingga Angga menyuruh dengan tegas Elvan agar merubah sikap badboy nya saat menempuh pendidikan sekolah menengah atas. Tak dapat membantah, dengan susah payah Elvan menjadi dua kepribadian.
Itu sebabnya Elvan berbeda sifat antara di dalam sekolah dan luar sekolah. Dan dirinya mampu mengelola gengster milik ayahnya sejak kelas 6 saat itu. Kalian pilih goodboy or badboy gaes?
Lesya menghela nafas panjang dan mengacak rambutnya frustrasi. "Arhh! " Dan seketika sorot mata Lesya berubah tajam. Bagaimana tidak?
Dorr! Dorr!
Dua tembakkan terdengar hingga Mayang yang berada di dapur bersembunyi di bawah kolong meja. "Shitt! Lagi?! " geram Lesya masuk dan sorot matanya mengarah ke penjuru ruangan.
"Bundaa! " panggil Lesya berlari ke arah dapur. Betapa terkejutnya dia melihat Mayang gemetar ketakutan di bawah kolong meja yang ada. "Bunda?! " Mayang mendongkak dan menarik Lesya agar diam. "Syuutt! "
Lesya terdiam. Beberapa pekerja wanita mengurungkan dirinya di kamar mereka. Sementara beberapa bodyguard menjelajah isi rumah. Satpam rumah tersebut juga ikut membantu para bodyguard.
Dorr!!
__ADS_1
Suara teriakkan seorang wanita terdengar hingga Lesya hendak keluar dan mengepalkan tangannya erat. "KELUAR LO ALEESYA!! " geramnya. Mayang menahan dan menggeleng agar Lesya tak keluar.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗