Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
355: Merried Gilang and Mily


__ADS_3

Berjalan di sekitar lorong hotel yang sepi, Lesya merasa mereka hanyalah berkeliling memutari hotel saja. Berdecak sebal karena tak kunjung tiba, Lesya akhirnya angkat suara dan protes kepada Ronald, selaku pemandu jalannya.


"Woyy, ini kapan sih nyampenya?! Kaki gw pegel nih jalan sana-sini kayak mau ke alam lain! Sebenarnya tempatnya dimana sih?! Gak sekalian pake pesawat apa biar cepet nyampe! " protes Lesya menggerutu.


Ronald hanya dapat tersenyum tipis dan membuka salah satu pintu yang ada di depannya setelah tiba. Kepalanya sedikit menunduk sesuai dengan dirinya yang menghormati majikannya. Saat ini Lesya memang hanya menggunakan seragam SMAnya tanpa mengganti. Namun hal itu membuat Ronald justru tetap menjaga attitude nya agar tak dipandang buruk oleh sang nona muda. Dia sadar siapa dia.


"Maaf nona muda, kita sudah tiba sedikit lama karena lokasi yang di tempati tuan Gilang berada di tempat tertutup agar jauh dari banyaknya media berita. " jelas Ronald menjawab pertanyaan Lesya.


Lesya hanya berdehem pelan saja dan mulai memasuki ke dalam ruangan mewah yang sudah diisi beberapa orang penting. Pandangan mata beberapa tamu terarah padanya. Wajahnya yang mirip dengan Galang membuat semuanya terdiam bingung dengan kehadirannya.


Lesya yang risih ditatap demikian dengan cepat menghampiri Galang dan duduk di sebelahnya. Saat dia datang, Galang sudah mempersiapkan masker hitam untuk digunakan sebagai penutup wajah Lesya. Galang lebih dahulu tahu jika gadis itu tak ingin diliput ataupun sekedar tersorot camera ataupun pandangan orang lain yang kemungkinan banyak mengkritiknya.


"Pake ini, sebelum makin kesebar! "


Lesya hanya mengangguk saja. Dengan cepat dia menggunakan masker hitam itu di wajahnya. Kedua tali hitam sudah terpasang di kedua telinganya membuat dirinya setidaknya lega karena hanya dilihat oleh beberapa orang saja sebelumnya. Pandangan matanya beralih melihat ungkapan janji suci yang dilontarkan kedua mempelai di sana.


"Kok bisa tiba-tiba adek pengecut lo mau tanggung jawab sama aunty? " tanya Lesya sedikit berbisik karena dia tak mungkin keras-keras berbicara.


"Awalnya gw ajak dia minum di satu kamar yang sengaja gw siapin. Dalam minuman itu gw udah masukin obat perangsang buat Gilang. Dan sebelumnya anak buah gw bawa Mily yang udah pingsan karena obat bius yang sengaja gw kasih. Setelah mereka gw satuin di kamar yang gw siapin, Mily baru sadar dan dia pengen keluar dari kamar setelah liat wajah Galang. Sayangnya gw kunci pintu dari luar dan jadi deh gitu! " jelas Galang pelan. Lesya melipat tangannya di dada dan mendesis sinis.


"Tumben adek lo gak nolak? " sinisnya.


—Flashback on—


"G-gw dimana? " gumam satu perempuan setelah sadar dari pingsannya. Dia melihat sekeliling dan terkejut mendapati Gilang yang berada di sofa kamar dengan penampilan acak-acakan.


"G-gilang?! " pekik Mily sedikit terbata.


"Hello? Welcome to my game Mila! Wah-wah, apa kabar lo sekarang? Setelah puas nolak gw di depan banyak anak-anak waktu sekolah, setelah lo dikabarkan menikah, dan setelah lo pergi dari dunia ini... Lo gak bisa kabur dari gw okay? " ucap Gilang lalu berjalan mendekat ke arah Mily. Lelaki itu mengira jika Mily adalah Mila, cinta pertamanya.


"Gilangg?! " pekik Mily lagi di saat Gilang hendak memulai aksinya. Dengan cepat Mily mendorong dan berusaha lari dari cengkraman pria itu. Dia kini sudah tahu bagaimana rasanya menjadi Mila dahulu. Dimana tragedi yang menyebabkan barang berharga milik seorang wanita direnggut secara paksa oleh lawan jenis.


Dan karena hal itu juga dia perlahan mulai mengubah gayanya. Baik dalam ataupun luarnya. Bagian luar atau disebut gaya tampilan selalu dia pastikan tertutup dan tak memperlihatkan lekuk tubuhnya. Sementara bagian dalam yang disebut hati dia jaga dengan cara mulai menerima kehadiran anak yang dia kandung dan juga keberadaan kedua keponakannya.


Mungkin benar perkataan pepatah kali ini untuknya: 'selagi kamu hidup, karma selalu ada!'. Rasanya ingin mengulang waktu dan mencoba melupakan Arga agar rasa bencinya dengan Mila tak membuatnya berubah licik. Namun kenyataan tak sesuai dengan ekspetasi.


"Tolongg?! Bukaa! "


Suara pekikan Mily tak terdengar dari luar karena Galang memang sengaja memasang peredam suara buatannya sendiri hingga tak terdengar gebrakan pintu dari dalam. Namun demikian, tingkah keduanya masih dipantau oleh Galang di CCTV yang ada sebagai jaga-jaga jika terjadi suatu hal.


Mily yang sudah ditarik kembali ke atas ranjang hanya dapat menahan sakit bagian perut dan tangannya saja. Tiba-tiba tangis Mily pecah membuat Gilang sejenak menghentikan aksi liarnya.


Namun sedetik kemudian tanpa basa-basi Gilang kembali membuat Mily merasa tak pantas di dunia. Didikan sang kakak dahulu membuatnya masih sadar apa itu hal baik dan apa itu hal buruk. Jangan memandang orang lain sebelah mata! Walau dahulu memang sempat menjadi tokoh antagonis, Mily masih memiliki ajaran keras dalam hidupnya.

__ADS_1


Galang hanya diam saja memantau pergerakan mereka. Tak lupa dia merekam sedikit dan menghubungi pihak-pihak yang terlibat mengurusi pernikahan. MUA, pendeta, dan tak lupa Ronald juga ikut turun tangan mendekorasi ruangan hotel yang berada jauh dari kerumunan.


Dan akhirnya setelah beberapa jam mereka yang sibuk menolak dan memaksa, tertidur untuk mengumpulkan energi. Dan di saat mereka terbangun, sudah ditunggu oleh Galang yang meneguk minumannya dengan santai.


Mily yang terkejut dengan hadirnya Galang tentu saja menutup tubuh polosnya. Galang yang sama sekali tak melihat setitik tubuh Mily hanya sibuk menatap layar ponsel dan hendak keluar dari sana. Sementara Gilang masih diam saja menatap tak percaya karena perlahan dia paham jika sang abang kembarnya merencanakan hal yang sebelumnya terjadi padanya dan juga pada Mily.


"Oh iya, siap-siap yah kalian bakal nikah bentar lagi! Pendeta, dekor, MUA, gaun, cincin udah siap bahkan petugas KUA juga bakal dateng nanti! So, siapin diri baik-baik! " pesan Galang santai lalu benar-benar pergi dari ruangan itu.


HAH?!


Mily hanya menahan wajahnya yang ingin sekali menenggelamkan kedua pria gi-la ini sekarang. Baik Galang dan Gilang tak ada yang waras sama sekali. Bahkan Mily juga masih penasaran mengapa Galang tiba-tiba saja berubah dengan Lesya, sang keponakannya. Padahal dahulu dan di saat tawuran berlangsung, Galang masih tetap dalam sikap kejam brutalnya.


—Flashback off—


"Gw ngancem pake data lengkap perusahaan Arga buat gw sebar kalau dia gak mau. Dan yaa... Dia langsung setuju asal gw nanam saham lebih di sana atas nama dia." jawab Galang.


"Gobl*k! " gumam Lesya namun tak terdengar. "Orang hamidun gak boleh ngelakuin hal aneh-aneh dulu! " kata Lesya lagi.


"Nyatanya, anaknya masih hidup tuh! " kata Galang santai. Lesya hanya memutar bola matanya malas. Dia beralih menatap Mily di depan altar. Pikirannya melayang pada CCTV dahulu sekolah Gregus yang sempat dia buka.


* Bunda, mami, aunty ngalamin hal yang sama. Pernikahan terpaksa dengan tujuan berbeda. Kalau bunda buat nyenengin orang tuanya, mami buat nutupin aibnya, dan aunty buat mempertahankan ayah dari anak dia! Gw masih gak nyangka di dunia ini ada yang begini termasuk gw sendiri yang nerima perjodohan supaya mami dan papi di sana senang! * batin Lesya tersenyum kecut.


"Loh Sya? Kamu juga datang ya? " tanya Sella dengan menggendong sang anak di tangannya. Lesya menoleh ke arah sumber suara dan mengangguk pelan saja.


Duduk di sebelah Lesya, kini Lesya sudah duduk berada di tengah-tengah Galang dan Sella. Dan Justine duduk di gendongan sang ibunya. Hingga acara sudah selesai, mereka berjalan hendak ke atas altar dengan bebarengan.


"Congrats, jangan lupa tanggung jawab lo makin bertambah! " ucap Galang dahulu. Gilang hanya menatap datar sang abang kembarnya. "Gilaa rencana lo! Sama adik sendiri kejam, pantes gak dapet warisan." balas Gilang meledek dengan datar.


"Gw gak peduli! " kata Galang lalu beralih pada Mily. "Jangan mau dikasarin, kalau bisa balas kasar kalau dia macem-macem! " lanjut Galang dibalas anggukan pelan oleh Mily.


"Congrats uncle, semoga langgeng terus nyampe tua ya! " ucap Sella menirukan gaya bicara anak kecil. Tangannya masih menggendong-gendong sang anak. Gilang hanya berdehem pelan. Jujur saja dia sangat muak dengan kehadiran Sella karena dapat mengubah pola pikir Galang. Dan karena hal itu, Gilang sedikit tertekan jika dilarang ini-itu lagi oleh abang kembarnya.


"Hem, makasih. " acuh Gilang.


"Ckck, akhirnya setelah sekian lama ini lo bertanggung jawab dengan kelakuan keji lo itu! Congrats, semoga lo bisa jadi pribadi lebih baik dan lebih positif! " ucap Lesya menyindir dari belakang Sella.


Gilang hanya menatap datar Lesya. "Puas lo sekarang? Jangan harap lo bisa bebas! " datar Gilang. Lesya hanya mencibir pelan. Galang dan Sella sudah berjalan ke arah depan agar memberi waktu pada tamu lainnya untuk mengucapkan kata selamat.


"Belom puas, soalnya gw belom liat lo menderita dibuat anak lo nanti! " santai Lesya lalu beralih pada Mily. Dia masa bodo jika Galang melototi dirinya tajam sedari tadi. Lesya justru mengangkat satu tangan Mily dan memainkannya. Itu adalah suatu kebiasaan sedari kecilnya jika ingin berceloteh namun serius.


"Aunty udah gak perlu takut buat ke sana-sini lagi kan? Aunty juga gak perlu takut kalau sepupu gw nanti ngalamin hal yang sama kayak gw sekarang. Kalau dia susah gak mau diajak kompromi nanti, jambak atau gak aduin ke anak aunty siapa tau dapat karma! " celoteh Lesya.


"Iya, lagian lo kok bisa di sini? Eh, maksud sa-saya itu, kenapa kamu di sini? Hampir masuk jam siang, emang kamu gak sekolah? " tanya Mily mengalihkan pembicaraan dengan sedikit terbata.

__ADS_1


Lesya tersenyum tipis saja dalam benaknya. Selama ini perjuangannya untuk mengakhiri masa peperangan dengan beberapa belah pihak membuahkan hasil walau hanya sedikit saja. Setidaknya sudah ada Galang dan Mily yang ingin berubah. Walaupun Lesya tak tahu apa penyebabnya, namun dapat dilihat dari sorot mata keduanya yang tak sama lagi dengan yang dahulu.


"Iya, ini juga mau balik! Baik-baik ya aunty, gw ehh maksudnya, Lesya pamit ke sekolah lagi byee.. " pamit Lesya yang ikut-ikutan menggunakan kata formal.


Mily hanya mengerjap tak percaya mendengarnya. Dia juga agak tersentak saat Lesya memeluk dirinya. Sebelumnya, dia tak pernah merasakan hal ini. Dia juga merasa bebannya berkurang karena pelukan hangat Lesya. Sedari tadi, dia sangat tertekan menerima kenyataan jika dia sudah tak lajang tua lagi. Apalagi pasangannya adalah seseorang yang merenggut mahkotanya secara paksa.


Tes!


Tanpa sadar Mily menurunkan satu tetes air matanya. Dia begitu tenang di saat kondisinya yang begini, ada orang yang mensupport dirinya. Sebelumnya, hanya Mayang dan mendiang sang kakaknya saja yang mau mensupport setiap keputusannya. Dan sekarang Lesya bagaikan pengganti Mila yang sudah pergi dengan tenang. Dia sangat malu dengan sikapnya sebelumnya kepada Lesya.


"Aunty, Lesya pergi ya! Oh iya, besok ada karnaval kan di sekolah gw? Para penanam saham juga ikut hadir? Lo juga hadir dong, UNCLE? " tanya Lesya sengaja menekankan kata 'uncle' di kalimatnya.


"Apa urusan lo hah? Kan perusahaan bokap lo dulu bukan punya lo atau Lara lagi, tapi sekarang udah punya gw! " datar Gilang menatap Lesya dengan penuh rasa sinisnya. Gadis yang ditatap datar hanya memutar bola matanya malas.


"Besok lo jangan datang deh, soalnya ayah Angga bakal datang! Nah, gw takutnya lo gak bisa kontrol emosi lo dan berakhir keributan yang sangat tak haqiqi! " ucap Lesya langsung tanpa berbasa-basi. Gilang hanya menyenye pelan saja. Namun dia beralih menatap malas kedua perempuan yang berbeda umur saat Mily lebih dahulu menyenggol sikutnya.


"Gw gak kayak dulu, walaupun gw masih debat sama mertua lo itu." ucap Gilang jengah dengan sorot mata yang tajam. Lesya hanya membalas tak kalah tajam dan mengangguk malas saja.


"Terserah, gw balik duluan byee! " malas Lesya lalu berjalan pergi setelah beralih sejenak menatap Mily. Dapat Lesya rasakan perasaan Mily bagaimana saat ini. Namun untuk urusan mereka, dia tak dapat ikut campur. Urusannya saja belum selesai, apalagi dengan urusan orang lain!


Lesya menghampiri Sella setelah turun dari altar sederhana ruangan hotel itu. Walau dekorasinya tak terlalu mewah, dekorasi ruangan itu tampak terkesan elegant. Apalagi ruangan yang di tempati itu adalah ruangan khusus.


"Tan, gw balik ke sekolah dulu ya keburu ketangkep OSIS hehe.. " cengir Lesya sedikit berbohong. Sella yang kebetulan masih sibuk menggendong sang anak menoleh dan mengangguk saja. Posisinya dan Lesya jauh dari keramaian karena keberadaan mereka akan mengundang rumor nantinya. Lalu Galang? Lelaki berumur itu sedang pergi ke toilet.


"Oh, kok cepet sih Sya? " tanya Sella sedikit kecewa. Lesya hanya tersenyum tipis saja. Tangannya beralih menoel-noel pipi gembul adik lelakinya yang berada di gendongan mommy tirinya. "Iya tan, soalnya di sekolah kan besok ngadain karnaval jadi, gw yang tugasnya jadi ketua kelas rada sibuk deh! " jawab Lesya.


"Oh iya ya! Besok juga mommy dateng loh nemenin daddy kamu. Justine nya nanti juga ikut tapi bawa baby sister buat jaga-jaga." ucap Sella memberitahu. Lesya menautkan alisnya dan sedikit terkekeh melihat pergerakan sang adiknya.


"Bagus dong! Kan nanti jas-jus bisa nemenin kakaknya ya? " ujar Lesya seolah bertanya pada Justine. Sella sedikit terkikik mendengarnya. Panggilan Lesya masih sama. Jas-jus!


"Iya kakak, nanti jas-jus temenin kok. " ucap Sella mewakili dengan nada khas yang dia buat menjadi kanak-kanak. Berbeda dmehan Justine yang hanya menggerakkan tangannya dan bibirnya.


"Yaudah deh tan, Lesya pamit ya, byee! " pamit Lesya lalu mengulurkan tangannya untuk menyalimi Sella. Dikarenakan wanita itu tak paham dan sedang menggendong adiknya yang berbeda ibu itu, Lesya akhirnya sedikit berjongkok dan menggapai punggung tangan Sella agar dia salimi. Sella yang terkejut hanya tersenyum bahagia saja. Ini kedua kalinya!


"Hati-hati loh ya Sya.. " pesan Sella.


"Iya tan, "


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


>>><<<


Episode kali ini tembus 2000+ kata sebagai gabungan episode yang kemarin yah. Percayalah, author sibuk PAS akhir ini dan acara pribadi author. Dimohon untuk tetap setia membaca dan memberi dukungan di novel ini yah😄

__ADS_1


__ADS_2