
Slaak!
Suara sumpit terjatuh dari tangan Leon dan Luna terdengar. "WHAATT?! HAH?! " Baik Luna dan Leon sama terkejut mendengarnya.
Lesya yang sudah menutup telinganya karena tahu akan berakhir seperti ini. Sontak mereka menjadi pusat perhatian sekitar mereka walau hanya sekilas.
Luna yang pasalnya sudah jengkel bahkan geram dengan nama Rio, dengan cepat berceloteh hingga Lisa dan Lesya menutup telinga mereka walau masih terdengar celotehannya.
"Wah benar-benar tuh anak! Perlu apa gw kasih pelajaran buat dia hah?! Berani banget setelah bertindak hal yang fatal nyampe lo masuk rumah sakit dua hari dengan gampangnya dia nongol lagi?! Wah hantarin nyawa ke gw rupanya! Belom tau aja dia siapa gw! Gw aduin sama bang Cakra mamp*s aja dia! Aduh bentar gw haus! " celoteh Luna tanpa jeda.
Bukannya mereda, Leon justru menyambung ucapan Luna yang terhenti karena kehausan. "Kalo sempat dia mau ketemu elo Sya, bilang ke kita biar kita cegah! Enak amat dia! Setelah lo melembek karena dia, dengan gampangnya dia mau ketemu sama lo seolah enggak ada beban dan rasa bersalah sama sekali! Enggak akan gw biarin! Dia pantesnya jadi kelinci percobaan kita! Di-ARGGHH! " sambungnya.
Lesya menginjak kaki Leon dari bawah seraya tersenyum penuh makna menatap Luna dan Leon bergantian. "Kenapa? Sakit ya? Sama gw juga sakit denger lo nyerocos tanpa titik! " polosnya.
Pandangan kantin mengarah kepada Lesya dkk. Lisa memutar bola matanya malas. "Brisik lo pada?! Emang ngapa sih sama orang yang namanya Rio! " Lesya melepaskan injakkan nya.
"Gw benci sama orang yang namanya Rio! Kek banci any*ng! Sok good aslinya bikin gw pengen jadiin kelinci! " jengkel Lesya.
Satu sumpit mengarah ke arah Lesya. Tepat sasaran! Kepala Lesya bagian belakang merasa sedikit nyeri hingga dia menatap belakang dan mengeluarkan kata mutiara nya namun tercekat. "Anj*ng! Siapa yang bera--- Eh, bu bunga ada apa bu? " ramah Lesya menatap bu bunga.
Luna, Lisa dan Leon hampir tertawa mendengarnya. Bahkan tak hanya mereka saja, namun seisi kantin! Namun mereka berusaha tahan dibandingkan menghadapi geraman seorang Lesya.
Bu bunga tersenyum manis penuh makna dan menghampiri meja Lesya. "Ada apa? Kamu sendiri ngapain nyebut-nyebutin nama suami saya hah?! Mana ngomong nya banci pula?! "
Lesya menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal. "Salah kali bu! Maksud saya tuh bukan pak Rio suami ibuk! Tapi musuh SMP saya buk yang asal nongol! " terang Lesya jujur.
__ADS_1
Mata bu bunga memicing mendengarnya. "Bener? Jangan bohong kamu! " Lesya memutar bola matanya malas. "Benerrr ibukkk! Gak percayaan amat sih?! Kalo saya jujur bilangnya salah! Kalo saya bohong bilangnya salah juga! Mau ibuk apa sihh?! "
"Sama aja! Yang penting kamu hina-hina nama suami saya! Coba kamu bayangin kalo su--- " Bu bunga melotot melihatnya.
Lesya dengan cepat menutup mulut bu bunga. Bukan karena takut ketahuan statusnya namun karena kupingnya yang panas mendengarnya. "Syuutt! Ibuk salah paham! Mending sekarang ibuk susul pak Rio sana! Kalo pak Rio kecantol goda sama bu Lina gimana tuh? " kompor Lesya.
Dengan cepat bu bunga melotot dan pergi meninggalkan Lesya dkk. "Parah lo Sya! " ucap Luna. Lesya menggedikkan bahunya acuh. "Kalo gak kayak gitu, ceramah mulu tuh mulut! " Mereka berempat tertawa bersamaan mendengar jawaban Lesya.
Tiba-tiba saja terdengar suara bariton dari semua speaker yang ada di sekolah Gregus yang membuat semua siswa-siswi mendengarkan dengan baik suara pak Kevin di speaker.
📢Perhatian semuanya, bagi semua siswa-siswi sekolah Gregus, baik kelas 10,11, dan 12 harap berkumpul di aula utama sekolah segera! Sekian dari saya, terimakasih!
Sontak banyak suara bisikkan terdengar karena sibuk membicarakan dan menebak ada hal apa hingga mereka semua dikumpulkan di ruang aula.
* "Ada apaan tuh? Tumbenan amat digabung! Biasa juga kepisah kan? "
"Gak usah banyak bac*t! Tinggal datang ke sono gampang kan?! Kalo kita dikumpulin semuanya, berarti emang ada hal penting! " *
Masih banyak ricuhan yang terdengar di kantin. Sibuk membicarakan hal tersebut seraya berjalan menuju aula hal biasa yang Lesya temukan di kehidupan sehari-hari. Biasa tukang gosip! Pikirnya.
"Ada apaan ya? " molog Lisa. Sontak Leon menatap Lisa dan memberikan gombalan kecil yang membuat Lisa sedikit tersipu. "Ada bidadari di mata aku! "
"Njem! Kalo mau uwu jangan disini! Ini kawasan kaum single yang masih menghalu dinikahkan oleh pangeran tampan idaman kita! " Lesya menyentil jidat Luna yang asal menceplos saja. "Lo aja sih! Gw mah enggak! "
Sstt!
__ADS_1
Lisa mencibir kecil. "Heleh! Kasian gw sama lo yang gak laku-laku! Ckck, kayaknya gak ada cowok yang mau sama lo deh! " Luna yang hendak menoyor kepala Lisa ditahan oleh Leon. "Udah kita ke aula aja! "
Dengan terpaksa mereka berjalan menuju aula walaupun disertai debatan-debatan kecil yang terdengar. Baik Lesya, Luna, dan Lisa tak ingin mengalah satu sama lain.
Jujur saja mereka telat pergi karena koridor dan tempat sekolah lainnya sangatlah sepi karena banyak yang sudah pergi ke aula. Geng telat nih namanya!
Ceklek!
Leon menghela nafasnya lega karena perdebatan sudah berhenti di saat dirinya membuka pintu aula. "Masuk or keluar! " tanya Leon basa-basi.
"Dahlah gw masuk byee! " ledek Lisa masuk ke dalam ruangan. Bergantian dengan Luna yang menepuk pundak Leon. "Inggris lo anjlok Yon! " ucapnya penuh prihatin lalu masuk tanpa dosa.
Kini giliran Lesya yang hendak masuk namun sebuah ledekkan terlintas dibenaknya. "Perlu guru privat Inggris? Siapa tau langsung naik bahasa lo! "
Leon menghela nafas dan mengelus dadanya sabar menghadapi cobaan dari ketiga gadis yang menjadi sahabatnya itu. "Sabar Yon! " Lesya terkikik mendengar samar-samar gumaman Leon.
"Kenapa telat? Dari mana? Bukannya pengumuman bilangnya datang segera? Kurang jelaskah pengumuman nya? " Lesya menoleh ke arah pak Rio yang menatapnya tegas. "Berantem bentaran pak sama kucing! " sindirnya menatap Lisa santai.
Lisa mengancangkan bogemannya ke arah Lesya yang justru duduk di samping kiri Luna dengan santai tanpa beban. "Savage lo Sya! " bangga Luna.
Lesya mengangguk saja mendengarnya. Sedangkan Leon? Dia terlebih dahulu duduk di samping kanan Luna dan Lisa sebagai jaga-jaga saat keributan.
Pak Rio menghela nafasnya dan hal tersebut terdengar jelas karena dirinya sedang menggunakan microphone.
"Hah! Baik saya ulang sekali lagi! Jadi, tujuan saya mengumpulkan kalian semua, membahas soal kejadian kemarin dan persiapan outing yang diselenggarakan per kelas! Masalah dana, semua sudah disponsori oleh pemilik sekolah, tuan Arlangga Grey! Silahkan, "
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗