Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
304: With Mily


__ADS_3

"Nooo! Lo tau gak, di Paris hampir masuk musim salju! Dan kalau lo terbang trus kalau bayi lo kenapa-napa gimana? Gw gak jadi dong dapet adek?! Enggak, lo harus di sini nyampe lahiran pokoknya! Gw kan mau liat adek gw juga di sini aunty... " kesal Lesya menolak mentah-mentah jawaban Mily.


Terlihat wajah tak suka yang dipancarkan oleh Lesya kepada Mily. Tentu saja, dahulu dia kecil sangat ingin menantikan adik sepupu dari Mily langsung. Kalian tahu? Lesya tak suka jika merasa kesepian ditambah Letha dan dia tak sering berkomunikasi membuatnya ingin menantikan seorang adik dari rahim Mily dahulu. Yah walau mereka jarang akur, tetap saja bukan keinginan Lesya dikabulin oleh Mily saat ini? Dapat dibilang juga antara Mily dan Mila, Lesya lebih dekat dengan Mily. Why?


Fyi, kalian pasti tentunya tahu kan Mily merupakan seseorang yang lama sekali menyukai sosok mendiang Arga? Nah, secara logika Arga sangat menyayangi Lesya, Mily memang sering mengabulkan beberapa permintaan Lesya demi nama baiknya terlihat baik di hadapan Arga.


Memutar bola matanya malas, Mily tak goyah dengan pendiriannya. Dia sudah mengatur rencana hidupnya dan anak yang dia kandung. Berhubung saat ini hanya Lesya saja yang tahu mengenai kehamilannya membuatnya semakin resah jika rencananya yang memutuskan kabur dari geng Sakh akan gagal dibuat Lesya. Tahu bukan mereka bagaikan harimau dan singa yang berebut mangsa?


"Suka-suka gw lah! " enteng Mily.


Lesya mengangkat satu alisnya menantang Aunty nya itu. Dengan tenang dia merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Dia mencari nama ‘Leon’ di ponselnya dan menghubungi lelaki itu.


Calling Leon...


📞 Halo Sya?


📞 Cari pelaku yang ngehamilin aunty gw!


Sontak Mily melotot tak percaya dengan ucapan Lesya yang kelewat santai. Dengan cepat tangan Mily terangkat menabok lengan Lesya walau sama sekali tak mengenai keponakannya itu karena menghindar dengan gesit.


📞 Hah? Aunty lo hamil? Gimana ceritanya nih tua-tua baru hamil? Jangan bilang diperk*sa sama orang?!


📞 Mana gw tau semprul, kalau tau juga gw gak bakalan nelfon lo! Mending cari aja deh trus kirim ke email gw sekalian vidionya!


📞 Lo mau nonton filmnya langsung nih? Umur lo belom nyampe ye langsung maen minta!

__ADS_1


📞 Suka-suka gw dong! Lagian gw udah sering liat langsung kali, lebay lo!


📞 Yowess, ada lagi gak nih?


📞 Eumm, satu lagi! Tutup semua penerbangan pesawat ke luar negeri manapun kalau aunty gw mau rencana kabur!


📞 Sip!


📞 Okeh, sekalian gw juga nanti mau ke markas lah maen-maen sana Ion!


📞 Tinggal datang ae ribet lo! Lagian Lion akhir ini pendiem di markas, nunggu makanan daging manusia kali ya? Lo sih gak bunuh langsung si Vion biar jadi santapannya Lion.


📞 Beg*k lo! Udah tau si Vion udah punya Vay! Nah, gw kasian aja sama dia kalau hidup gak ada bapaknya! Lagian lo sok tau amat kalau Ion pendiem gara-gara kurang gizi! Lupa lo ya gw selalu rutin beli makanannya!


📞 Oh iya, lupa gw kalau Queen gw perhatian sama Lion nyampe lupain gw!


Tuuuttt...


Lesya sudah malas menanggapi Leon memutuskan panggilannya dan menatap polos Mily yang sudah ingin mengomelinya. Lihat saja wajah Mily, merah padam! Mana airnya? Kasian kebakar panas terus wajah Mily, hehe..


"Aunty kenapa? " tanya Lesya polos.


"Ngapain lo blokir penerbangan gw hah?! Gabut banget ya hidup lo nyampe ngurusin hidup gw hah?! " kesal Mily tak tahu harus bagaimana lagi.


"Emang! Gw kan lagi gak ada kerjaan libur begini Auntyyy.. Makanya jalan-jalan yukk?! " semangat Lesya menawarkan. Sudah lama dia tak bermain-main dengan tantenya itu. Dahulu, Mily sering kali setuju karena adanya Arga yang membawa Lesya berjalan-jalan. Dia kira ini waktu yang tepat untuk berduaan dengan Arga namun nyatanya, Argalah yang lebih dahulu pergi dengan tenang. Meninggalkan dirinya, Lesya, Letha dan akhirnya disusul Mila—sang kakak.

__ADS_1


"Gak, gw masih marah ya sama lo! "


"Ayolah auntyyy.. Masa sih harus manggil papi dulu biar jalan-jalan? Ya kali gw dead dulu baru hidup lagi bawa papi! " malas Lesya memelas. Mily memutar bola matanya malas. Akhirnya dia dengan terpaksa alias tak tega menyetujui permintaan keponakannya itu.


Lesya tersenyum tipis mendengarnya. Dia yakin Mily hanya terpaksa menerima hanya karena wajahnya yang memelas begitu. Akhirnya mereka makan dengan tenang walau sesekali Lesya dengan tampang tanpa dosa menjahili aunty nya.


"Auntyy, tungguin gw di sini ya! Gw mau nitip kunci mobil gw sama pemilik cafe ini! " pamit Lesya beranjak berdiri. Mily mengernyitkan alisnya bingung. "Emang lo kenal sama pemilik cafenya? " ragunya.


Lesya mengangguk antusias. Dia meninggalkan Mily yang terlihat ragu dengan jawabannya ke arah ruangan Elvan. Dia tahu jika Mily ke cafe menggunakan mobilnya sendiri. Jika ingin berjalan-jalan berdua saja dengan Mily, tentu saja mobilnya akan tinggal. Dan dia akan menitip sejenak kunci mobilnya kepada Elvan bukan agar tak hilang?


___


Di sisi Letha dkk, Amel tampak sedikit memperhatikan Lesya dan Mily. Dia tahu jika Mily adalah aunty dari temannya Letha. Panggilan Letha kepada Mily adalah tante bukan aunty karena kata aunty itu hanya panggilan dari Lesya untuk Mily saja. Toh, Letha tak dekat bukan dengan Mily? Suka-suka lah!


"Tha, lo gak pengen ketemu sama tante lo gitu? Noh liat deh, lo gak iri apa Lesya sama tante lo deket gitu? " tanya Amel mengangkat satu alisnya menatap Letha.


Baik Letha dan Nayla mengikuti arah pandang Amel. Letha berdecak malas saja melihat pemandangan itu. Memang dia iri karena dia merasa wajah Mily saat ini sama persis dengan mendiang maminya.


"Yah gw iri tapi, gw gak deket sama sekali sama tante gw! Orangnya agak cerewet galak lagi! " ucap Letha. Nayla tertawa lucu mendengarnya. Jadi ini ceritanya Letha menjelekan Mily atau berbicara sesuai fakta? Pikir Nayla ngakak.


"Dulu tuh memang mereka berdua deket tapi sering ribut! Lesya dulu manja banget sama tante gw dan tante gw selalu nurutin Lesya trus bawa jalan-jalan sama papi! " lirih Letha mengaduk minumannya. Amel yang mendengar saling berpandangan dengan Nayla. Mereka tahu Letha sering kali merasa kesepian saat peninggalan Mila.


"Sabar Tha! Gw yakin, ada saatnya lo bahagia tapi masih proses di jalan! Ini saat masa tantangan hidup lo Tha.. " nasihat Nayla bijak menggenggam tangan dingin Letha. Berbeda dengan Amel yang mengelus pundak Letha.


"There we are Tha! Ada kita di sisi lo kok, jangan sedih gini yah, kita jadi ikutan sedih liatnya! " hibur Amel diangguki pelan oleh Letha. Sementara yang dihibur hanya mengangguk pelan saja dan tersenyum kecut dengan kedua temannya.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2