Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
87: Yakin?


__ADS_3

Leon mengangguk saja. Seraya melahap makanannya, mereka berbincang santai di kantin.


Di ujung dinding kantin, terlihat wajah yang menahan marah. Dia sama sekali tak dapat mendengar percakapan Lesya, Luna, dan Leon tadi.


Orang itu mengepalkan tangannya kuat-kuat dan berlalu pergi turun dari kantin. Dia berambisi akan melenyapkan Lesya dengan tangannya nanti.


"Awas lo! Zelyra Aleesya Michella Fyo! Gw pastiin lo bakal menderita lebih dari gw! "


Orang tersebut melewati Lisa begitu saja. Dia tak sadar jika Lisa mendengar suara ambisinya tadi. Lisa menatap kepergian orang tersebut lalu melirik Lesya.


"Heh! Manarik! " Lisa berjalan menuju meja Elvan dengan santai. Dia membisikkan sesuatu di telinga Elvan yang diyakini terkait dengan orang yang tadi.


Elvan mengangguk dan melahap makanannya. Lisa ingin sekali membogem wajah tampan sepupunya itu. Jika kalian mau tahu, Elvan lebih muda 2 bulan dibandingkan Lisa.


"Untung sepupu! " Valen menambahkan cibiran Lisa. "Untuk ketua plus sahabat!" Mereka mengangguk-angguk setuju dengan cibiran tambahan Valen.


Kembali kepada Lesya yang pamit ke toilet sebentar. Seperti yang sering dia temui, dia menemukan secarik kertas lagi di pojok sudut wastafel.


'Gw bakal bikin lo rasain apa yang gw rasain saat ini! ' begitulah isi dari kertas tersebut. Lesya tersenyum miring.


Sejujurnya Lesya tahu siapa yang memberikannya kertas kali ini. Bahkan pelaku, berbeda dari yang sebelumnya.


Lesya keluar dari toilet dan kembali ke kantin. Dia merutuki kebodohan seseorang yang memberinya petunjuk. "Sksk, licik boleh! Tapi gobl*k jangan! " gumamnya kecil.


Bahkan Lesya tahu jika orang tersebut mengepalkan tangannya erat-erat karena dirinya yang tak panik seperti orang biasa mendapat teror-an.


Lesya diam-diam mengangkat senyum liciknya. Hingga semua orang yang melihat dan melewatinya bergidik ngeri sendirinya.

__ADS_1


Lesya langsung duduk dengan santai di bangkunya. Luna bergidik ngeri sendiri melihat sahabatnya itu. "Sya, ngeri woy senyumnya! "


"Gak peduli" Leon menggeleng, "Senyum yang ikhlas ngapa! Ini senyum kayak mau bunuh orang aja" Lesya tertawa kecil.


"Emang iya! Kenapa? Mau bantu gw cari manusia? " Luna dan Leon dengan cepat menggeleng sebagai jawaban.


Lesya mendengus. Dia menyimpan kertas tersebut di sakunya dan menatap ke dua sahabatnya. "Btw, gimana keadaan markas Yon? "


"Ya gitu! Pernah sih waktu itu ada paket dari TW dan paket itu isinya ****** tikus semua! " Luna bergidik ngeri membayangkannya.


"Iw! Namanya juga TW Tikus kaWe! " ngegas Luna hingga terdengar di meja Elvan dkk. Lesya menggeleng, "Ngapa lo gak cerita? "


"Ini gw lagi cerita woy! Btw pas di buka isi perutnya ada kamera kecil di sono" Lesya memegang dagunya dan mendengarkan baik-baik penjelasan Leon.


Leon menarik nafas lagi. Dia yang ada di sana waktu itu ketakutan melihatnya. "Dan di beberapa kamera itu ada satu kertas yang isinya satu huruf doang! "


"Ha? Gimana? " molog Luna. Leon geleng-geleng kepala, "Sksk, ciri-ciri orang pendek akal ya gini"


"Lanjutin! " Leon berpikir sejenak dan menggaruk tenguk lehernya yang tak gatal itu. "Sampe mana ya? "


Dengan cepat Luna menginjak kaki Leon dari bawah hingga korban meringis kesakitan. "Auchhh.. Sakit Lun! "


"Kenapa udah inget? " Leon mengangguk kecil saja, "Udah aduh, galak bener sih mbak"


"Lanjut! " dingin Lesya. Baik Luna maupun Leon menutup mulut mereka mendengarnya.


Dengan cepat Leon menyerahkan satu box kecil dari sakunya kepada Lesya. "Kejadiannya cepet banget dan itu huruf-huruf yang kita temuin di kamera"

__ADS_1


Lesya menerima box tersebut dan mengangguk. "Oke, mksh. Kejadiannya kapan? "


"Kemarin bertepatan dengan gw yang baru balik dari RS" Luna mengetuk-ketuk jarinya di meja. "Ini berhubungan gak sih sama dia? "


Pertanyaan itu sukses membuat mata Leon melotot, "Setau gw enggak! Karena gw yakin dia udah gak ada! "


"Yakin lo? " Leon mengangguk antusias, "Bahkan gw ngeliat wajah dia di kubur dua tahun yang lalu! "


Luna menghela nafasnya, "Haiss.. Perasaan gw gak enak dengernya! Lo tau kan? Dia itu obsesinya besar banget apalagi sama lo Sya"


"Semua masalah datangnya dari gw! Dan semua masalah akan gw selesaikan sendiri" Luna terdiam menunduk.


Dia tak sengaja berucap tadi. Dirinya merasa bersalah mengungkit nama yang amat Lesya benci di dunia ini. Lesya beranjak pergi dari kantin dengan box kecil pemberian Leon di tangannya.


"Lesya! " Leon ikut berdiri melihat Luna yang berdiri ingin menyusul Lesya. Dengan cepat Leon menahan tangan Luna yang ingin pergi.


Luna menatap Leon kesal. "She needs some alone time now! " Luna mengangguk kecil lalu kembali duduk, "Gw salah ya? "


Leon mengangguk jujur sebagai jawaban. "Lo emang salah tapi lebih salah kalo lo gak coba ungkit dia lagi! "


Luna menatap Leon dan menggeleng, "Enggak! Gw salah! Harusnya gw gak ungkit nama dia kan? "


Leon menggeleng, "Kalo lo gak ungkit mungkin Lesya sadar dalang di balik semua ini! Karena waktu di susun bang Alam dan bang Candra, nama dia ke ungkit"


"Sial*n! Dia masih hidup dong? " kesal Luna bercampur sedih.


Leon menggeleng lalu mengangguk, "Gw gak tau pasti! Pertama, gw liat wajah dia terakhir. Kedua, gw pernah liat wajah dia waktu gw lagi di minimarket! "

__ADS_1


"Serius? " Leon mengangguk yakin. "Gw sempet gak yakin tapi, dari cara berpakaian, wajah, suara, tingginya ngebuat gw yakin! "


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗


__ADS_2