
Elvan hanya tertawa receh saja menanggapinya dan berjalan ke arah kursi besar miliknya di sana. Rupanya dia ingin memeriksa CCTV tersembunyi yang sama sekali tak diketahui oleh siapapun kecuali dirinya. Tangannya bergerak lincah dan gesit seolah tak ada kesalahan kata yang dia ketik. Sorot matanya memandang tajam dan akhirnya melihat siapa pelaku yang membuat wasabi di kopi Lesya tadi.
Jika bertanya kabar kepingan gelas yang pecah, jawabannya saat ini sedang Lesya bereskan karena menganggu kebersihan lantai ruangan Elvan itu. Lagipula Lesya sudah selesai makan dan sudah merapikan piring sisa makannya. Gadis itu berjalan ke arah Elvan dan ikut melihat ke arah rekaman CCTV di samping Elvan.
Betapa terkejutnya mereka melihat seseorang yang sangat mereka kenal di sana. Mata mereka berpandangan sedikit terkejut dan sedetik geram dengan tingkah orang itu. Diam-diam melunjak!
Elvan mematikan rekaman di layar laptopnya dan memejamkan matanya. Kesabarannya sudah habis menghadapi Chatrin, pelakunya. Sementara Lesya hanya diam saja dengan tangan yang sudah terkepal kuat. Melihat raut wajah Elvan saat memejamkan matanya, rasa sedikit bersalah Lesya kembali muncul karena membuat lelaki itu kembali terlibat dengan masalahnya. Lagi-lagi musuhnya berulah di depan Elvan secara tak lamgsung! Apa dia harus lempar ke rumah sakit dahulu ya semua musuhnya agar diam tanpa mengganggu dirinya? Ck, niat nyari makan jadi nyari masalah!
Greebb!
"Au?! " ringis Lesya terkejut.
Elvan memang sengaja menarik Lesya duduk ke atas pangkuannya dalam matanya yang masih tertutup. Remamber, dia sangat peka dengan situasi di sekitarnya namun dia tak mempedulikan apapun yang tak berhubungan dengannya! Dan Lesya, tentu saja dia tahu rasa bersalah menyelimuti gadis itu.
Mata Elvan perlahan membuka dan memeluk Lesya yang duduk tepat berhadapan dengannya. Meletakkan dagunya di pundak Lesya, Elvan diam-diam tersenyum senang merasakan elusan di rambutnya dari tangan Lesya.
"Ketbok, kita ke apart aja ya? " pinta Lesya tiba-tiba. Rupanya gadis itu memang tahu jika Elvan tak tertidur namun hanya memejamkan matanya saja. Elvan yang sudah tahu mengapa hanya berdehem kecil saja menyetujui permintaan Lesya.
"Terus soal wasabinya gimana? " bingung Lesya menoel-noel pipi Elvan pelan. Laki-laki itu hanya mengangkat bahunya tak tahu saja. "Ladenin bentar baru kita habisin, gimana? " saran Elvan.
__ADS_1
"Lo gak marah kan gw itu sebenarnya Queen Ellion? " cicit Lesya ragu. Dia masih bingung dengan pikiran Elvan yang sulit dia tebak. Namun dia tahu semua orang pasti tak akan membiarkan pasangan mereka memasuki area lingkungan gelap sepertinya.
Elvan menggeleng kecil dan kembali memposisikan cara tidurnya dalam posisi duduk. Memilih tempat ternyaman dan meletakkan kepalanya di pundak Lesya, Elvan juga membalas dengan entengnya pertanyaan Lesya itu. "Kalau gw tanya sama lo, apa lo bakal nyuruh gw keluar dari gangster gw? " jawab Elvan justru bertanya balik. Lesya menggeleng kecil.
"Kan itu hak pribadi lo, dan gw gak bisa larang seenak jidat gw nyuruh keluar gitu aja! Apalagi itu turunan dari ayah kan? Masa sih semau gw nyuruh lo keluar dan ngeruntuhin sesuatu yang udah dibangun sejak dulu sih? " terawang Lesya menjawab pertanyaan Elvan dengan pemikiran dunia gangsternya.
"Nah, sama kayak gw! Apalagi itu kerja keras lo, masa gw runtuhin gitu aja hal yang lo bangun dari kecil sendirian lagi? Gw tau itu bahaya tapi gw gak bisa asal mikirin posisi gw aja, harus ngertiin juga posisi lo yang pasti bingung milih antara gw atau semua anak buah lo, lagian kita juga impas sama-sama megang gangster besar kan? Harusnya saling bantu bukan saling nanya begini! " jelas Elvan panjang kali lebar tanpa mengubah posisinya yang masih tetap memeluk pinggang Lesya dan meletakkan keningnya di pundak gadis itu. Lesya mengembangkan senyumnya mendengar pemikiran dewasa Elvan.
"Aaa.. Serius kan? Jadi, boleh dong gw. . . Main bunuh-bunuhan? " tanya Lesya lagi dengan ragu. Dia tahu jika seorang lelaki sangat anti dengan yang namanya pembunuh. Entah takut dibunuh sama pasangannya ataupun juga memang takut dengan gelagat seorang pembunuh.
Elvan membuka matanya dan beralih duduk menatap lekat Lesya. "Kalau sama musuh boleh! Kalau sama orang yang gak bersalah gak boleh! " jawab Elvan. Lesya mengangguk antusias dan mengangkat dua jarinya. "Berarti kalau gw nanti bakalan nusuk-nusuk ulet keket boleh dong? " antusias Lesya. Elvan mengerutkan keningnya bingung.
"Ulet chat-chatrin? " jawab Lesya enteng.
Tawa Elvan pecah dan menyandarkan dirinya di kursi yang dia tempati itu. Hancur sudah pertahanan batunya yang anti dengan seorang perempuan hanya karena ucapan Lesya yang menggelitik. Chatrin? Namanya diganti jadi chat-chat alias keket!? Ada-ada saja, tapi dia suka nama panggilan dari Lesya itu yang entah dari pikirannya yang sebelah mana!
"Boleh kan nusuk-nusuk ulet keket?
"Lah malah ketawa? Ganteng, jangan ketawa dong kan meleleh! " gurau Lesya menggoda. Elvan sontak menghentikan tawanya dan ikut berbalas godaan Lesya yang menyebutnya sebagai ganteng.
__ADS_1
Cuupss!
"Iya cantikku! " jawab Elvan lalu memajukan bibirnya moyong mengencup bibir Lesya sekilas. Lesya sontak memukul lengan Lesya karena lantang menciumnya. Sudah ketiga kalinya ini! Sekuatnya apapun perempuan, pasti akan baper dengan godaan ini. Bener gak yang baca? Senyam-senyum bae kayak authornya yang nulis, awas ada emak wkwk..
"Apaan sih?! Udah ish, kerjain dulu noh tugas lo baru boleh ngobrol sama gw! Mana ketos kutub yang selalu ngutamain tugasnya hem? " tanya Lesya mengangkat satu alisnya. Elvan hanya mengedikkan bahunya acuh. Dengan sengaja dia mendorong kursi dengan tenaganya maju hingga terbentur mejanya. Tentu saja dia meletakkan kedua tangannya di antara posisi duduk Lesya hingga gadis itu tak dapat pergi kemanapun. "Ketos lo yang dulu mulai beda sama yang sekarang! " enteng Elvan. Lesya hanya menautkan kedua alisnya saja. Memang benar kok!
"Kecantolkan lo sama gw? Nyampe gw sihir kutubnya leleh! " canda Lesya tertawa ngakak. Elvan hanya tersenyum kecil saja. Setelah beberapa menit kehilangan keseriusannya, tiba-tiba saja Elvan teringat dengan sesuatu.
"Lo inget gak apa kata bokap lo waktu di sekolah? Kayaknya ada yang aneh! " ucap Elvan tiba-tiba. Lesya mengerutkan keningnya bingung. Niat sedang bercanda mengapa membahas mengenai masalah ayahnya? Lagipula dia tak ingin teringat kembali dengan ayah kandungnya itu. Namun dia tetap menjawab ucapan Elvan yang mendadak.
"Jadi anak baik, jangan mau kayak daddy yang pengecut! Jaga Letha dan orang di sekitarmu karena Vion bukanlah ketua asli Ice Blue! Jangan deket-deket sama cowok, nanti ada yang panas termasuk sama guru sendiri! Jangan terlalu repotin keluarga Grey, daddy gak mau punya utang budi sama mereka karena mau rawat anak bandel di sana! " ucap Lesya dengan detail mengingat ucapan terakhir Galang di sekolah saat itu.
"Bukan ketua asli Ice Blue? Trus siapa dong ketuanya kalau bukan Vion? " molog Elvan. Lesya teringat dan tersentak kaget. Ada benarnya ucapan Elvan itu. Namun karena dirinya yang mendengarkan ucapan Galang dengan baik tanpa mencerna membuat dirinya kehilangan satu informasi. Untung saja Elvan mengingatkannya hingga dia baru saja tersadar tentang hal itu. Hadeh, salfok!
"Iya juga ya? Apa perlu kita tangkep Vion terus interogasi? " saran Lesya memberi ide. Elvan menggeleng kecil menolak ide dari Lesya. "Dia nanti bisa tau kalau gitu caranya! Menurut gw, kita biarin dulu begini nyampe dia mau nangkepin mukanya! " usul Elvan diangguki setuju oleh Lesya.
"Oke, deal! Kalau soal ini, jangan sampai orang lain tau ya kecuali kita berdua. " ucap Lesya lagi diangguki paham oleh Elvan.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1