Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
432: Graduation


__ADS_3

Episode 432: Graduation


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Sesuai dengan rencana acara sekolah, kini sekolah sudah dihias dan didekor dengan cantik. Tak hanya adanya balon-balon yang berisikan selamat hari kelulusan yang terpampang. Namun, ada juga lampu kelap-kelip yang menemani.


Mereka menggunakan seragam wisuda mereka yang sudah dibagikan sebelum mereka kembali ke rumah. Selama acara berlangsung banyak tangis haru karena harus melepaskan masa abu-abu yang begitu mengenang bagi mereka. Suka juga duka selalu ada di perjalanan lika-liku masa abu-abu mereka.


Jika saat lulusan dahulu Lesya didampingi orang lain, maka saat ini Lesya didampingi oleh Sella. Iya, sengaja Sella dan Galang yang mendampingi karena Mily akan mendampingi Letha dan Mayang mendampingi Elvan. Sangat adil juga makmur bukan keputusannya?


Selama pidato berlangsung tak ada suara kerusuhan yang menggema. Lantunan nasihat-nasihat bijak dari 'mantan' kepala sekolah terus terdengar hingga acara digantikan menjadi pengumuman juara di tiap kelas bahkan nilai tertinggi di angkatan mereka.


Tiap nama yang disebut maju ke depan untuk mendapatkan piala yang disiapkan sekolah. Letha juga maju karena dialah yang merupakan juara kelas. Sama sekali peristiwa yang sangat biasa melihat juara kelas lain yang maju dan menerima penghargaan di atas panggung. Berbeda halnya jika juara kelas A yang maju, semua heboh menyoraki Elvan. Iya, Elvan lohh!


"Wuuu… Selamat Sayangkuuu…"


Lesya diam-diam mengepalkan tangannya kuat dengan lontaran kalimat yang disebut. Ingin mengamuk tapi sedang acara. Wajar saja suaminya itu memiliki banyak fans karena ketampanannya. Iya, Lesya tak pungkiri jika Elvan memiliki paras yang mampu memikatnya bahkan hatinya juga.


"Mom ngeri sama Mily, dia gak capek ke sini dalam kandungan besar gitu?"


Di saat seperti ini Lesya menoleh ke arah mommy tirinya. Beralih melirik auntynya, benar saja jika dilihat seharusnya Mily tak perlu repot-repot pergi ke sekolah dengan keadaan badan dua yang cukup besar. Kasihan sekaligus ngeri. Jika jatuh atau kesenggol sedikit saja, mungkin sudah persiapan untuk operasi, baginya.


"Dad, perjanjian masih berlaku loh!"


Lesya kini beralih menatap daddy kandungnya dengan senyum smirk yang tak terlepas di wajahnya. Galang menoleh dan mengangguk mengiyakan saja. Posisi duduk mereka berpisah dengan yang lainnya. Bersama Luna juga Lisa saja enggak, karena mereka sedikit telat tadi karena jalanan yang macet.


"Tanpa kecurangan!" ucap Galang.


"Gw gak curang kali! Gak pernah gw sogok guru buat ninggiin nilai gw, gak sabar deh bisa denger nama gw yang kepanggil." antusias Lesya.


"Tapi kalau nilai kamu yang kepanggil di angkatan kalian, harusnya di kelas juga ke panggil dong?" sahut Sella bingung.


Lesya terdiam dan memasang wajah cemberut, benar juga apa yang dikatakan Sella. Tak peduli lah, terpenting setelah mendapatkan motor impiannya dari Luna, mobil impiannya juga harus terkabul walau dia masih sanggup membeli dengan uangnya sendiri.


Suasana tak terlalu hening karena suara tepuk tangan yang menggema untuk menyoraki para lima besar sekolah mereka. Namun, mereka dibuat terkejut saat nama 'mantan' penguasa yang ditakuti seantaro sekolah juga ikut masuk dalam daftar nominasi. Asekk!


Sebelum bangkit Lesya mengoceh-oceh mengenai mengapa dirinya yang mendapat ranking dua bukan satu.


Sella dan Galang yang sedikit mendengar ocehan Lesya tampak menahan tawa. Rupanya tetap Elvan lah yang mendapatkan peringkat satu di angkatan mereka. Juara kelas juga sekolah tetap bertahan pada posisinya hingga saat ini.


"Apa liat-liat? Mau gw colok mata lo pada hah?" ketus Lesya saat mendapati banyak mata yang menatap dirinya dengan pandangan yang terheran.


Dua tangan Lesya kini terlipat di dada disertai dengan wajah datar khasnya. Tak lupa dengan tatapan tajam, sontak semua diam dan memberikan tepuk tangan dengan canggung.


Lesya memutar bola matanya jengah. Setelah naik ke panggung, tak lupa dia menatap sinis Elvan karena masih kesal mengenai nilai mereka yang hanya berbeda beberapa point saja. Kasus dahulu di olimpiade, kembali terulang.


Setelah kelima para pemilik nilai tertinggi berkumpul dan diberikan medali juga piala dari pemilik sekolah--Angga, mereka juga difoto sebagai kenangan.


Jika Lesya mendapati peringkat dua dan Elvan peringkat satu, lain halnya pada Valen yang mendapati peringkat tiga. Iya, si Valen, tunangan si Luna!


"Eh sebentar, tiga peringkat terbesar gak ada niat pidato sebentar gitu? Masa langsung turun? Pidato dulu, sebentar aja biar nambah pengalaman pidato." pinta pak Kevin pada Elvan, Lesya, juga Valen. Mereka berpandangan dan mengangguk mengiyakan saja.


"Lo aja Bu boss jadi perwakilan, anggap aja sekalian pamitan sama guru-guru yang lo buat pusing." ujar Valen.


Pak Kevin mengangguk setuju saja dan meminta Lesya untuk berpidato. Mau tak mau, Lesya akhirnya menurut dan mendekati podium yang berada di atas panggung. Namun, kedua lelaki yang berprestasi itu tetap berdiam diri mendampingi di belakang Lesya hingga proses pidato Lesya selesai.


"Selamat pagi-- eh malam maksudnya!" ralat Lesya memukul pelan mulutnya yang asal sembarang ceplos.


"Sebagai murid yang baik hati dan juga tidak sombong, mula-mula saya sebagai perwakilan dari angkatan ini mengucapkan terimakasih pada guru-guru yang mengajar dengan sabar selama SMA ini." lanjut Lesya mulai serius dengan percakapannya.


Suasana tampak hening mendengarkan dengan baik pidato Lesya. Niat awal yang ingin tertawa diurungkan karena masih ingat dengan tatapan tajam Lesya. Guru-guru yang berada di sana juga ikut terhanyut dengan ucapan-ucapan tulus murid mereka yang sangat terkenal kelakuan nakalnya yang diluar batas.


"Terimakasih buat guru-guru karena masih punya stok sabar buat ngadepin kami. Makasih juga buat ilmunya yang sudah diajarkan. Ya, walau saya sendiri suka bolos, jadinya gak punya ilmu, keren kan saya bisa naik panggung di sini." bangga Lesya penuh percaya dirinya hingga mengundang gelak tawa.


"Maafin kita juga kalau emang kita ada salah, ya memang ada sih. Manusia tak luput dari dosa, termasuk saya. Maafin juga kalau alat-alat sekolah banyak yang saya rusakin. Mungkin kalau diingat, saya pribadi liar ya? Iya saya tau kok, makanya minta maaf juga sebagai perwakilan yang lainnya di sini."


"Kalau saya pribadi lebih banyak buat ulah di BK juga ruang OSIS, buat Ibu Bunga, maap ya Bu karena kelakuan saya yang buat Ibu harus stok banyak kesabaran juga buku hitam. Intinya saya mewakili yang lain cuman minta maaf juga makasih sama guru-guru yang mengajar kita di sekolah ini."


"Finally, saya juga ngucapin makasih pada orangtua yang bersedia membiayai sekolah kami dan mendukung kami buat mencari cita-cita. Orangtua kalian ya bukan saya, soalnya saya udah kaya." ucap Lesya menyombongkan diri lagi.


"Maaf juga kalau kita sebagai anak punya salah, entah apa itu. Oh satu lagi, sebagai perwakilan saya juga meminta maaf karena tindakan anak-anak kalian yang kebanyakan mengotori seragam yang kalian beli dengan hasil kerja keras kalian, mereka belom tau gimana rasanya kerja, jadi mohon maaf."


"Last, buat temen-temen semua, mohon maaf kalau selama kalian sekolah gw terkadang buat ulah yang entah sengaja atau enggak jadi buat kalian keganggu. Mohon maaf sebesar-besarnya juga kalau kalian terkadang gak nyaman karena sikap gw yang begitulah!" tulus Lesya hendak mengakhiri pidatonya.


"Ada yang mau ditanya gak, Sya?" tebak pak Rio yang sudah tahu gelagat Lesya yang celinguk sana-sini seolah mencari orang. Lesya menoleh dan menjentikkan jarinya. Tahu saja 'mantan' kepala sekolahnya ini jika dia ingin bertanya.


"Kenapa saya gak langsung dapet juara kelas Pak? Padahal saya masuk 5 besar loh!" tanya Lesya sedikit berbisik dari belakang. Pak Rio memutar bola matanya malas. Sudah yakin jika mantan muridnya akan bertanya demikian.

__ADS_1


"Karena tugas kamu terlambat selesaiin, sementara Letha selalu tepat waktu. Nilai ujian kamu memang lebih tinggi, tapi nilai sikap lebih tinggi kembaran kamu." jelas pak Rio. Lesya memicingkan matanya curiga seolah tak percaya.


"Bapak bo’ong!"


"Tanya saja sama Bu Bunga sana!"


"Bener tuh, kudu tanya istri Bapak ini!"


Lesya kembali berbalik dan hendak menyelesaikan pidatonya. Setelah mengucapkan kata-kata penuh manis, akhirnya Lesya turun bersama Elvan juga Valen. Kali ini Lesya lebih cepat menghindari Elvan karena Lesya masih merasa kesal point nilainya yang hanya berbeda sedikit dengan Elvan.


Acara perlahan mulai bebas tetapi tetap rapi. Dengan jamuan makan malam yang disiapkan, semua saling melemparkan canda tawa tanpa beban.


Berbeda dengan temannya yang lain, Lesya berbalik hendak pergi keluar untuk mencari angin malam. Dia butuh refresing di luar pengapnya ruangan.


Langkah kaki Lesya terhenti di satu kursi yang biasa digunakan saat dia disuruh keluar kelas dahulu. Tatapan matanya berubah tajam saat mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya. Mendongkak, Lesya mengelus dadanya sabar melihat siapa yang datang menghampirinya.


"Ngagetin lo, Pan!" latah Lesya.


Elvan tak menanggapi namun ikut duduk di sebelah Lesya. Mencolek dagu Lesya yang masih mengambek, Elvan sudah tahu karena apa gadis itu cemberut. Saat berangkat Lesya masih biasa saja, saat mengambil piala berubah sinis karena berbeda beberapa point saja dengannya.


"Cengeng, padahal beda 3 point doang! Sama-sama pegang piala juga." datar Elvan sengaja memancing Lesya.


Sang empu menoleh dan menatap dengan pandangan datarnya. Bibirnya menahan senyum di kala Elvan juga tak tahan menahan senyumnya.


"Masih kecil jadi fuckboy, gedenya mau jadi apa lo?" sinis Lesya memainkan drama mereka saat pertama kali bertemu. Elvan mendekatkan wajahnya dan mengencup pipi Lesya sekilas.


"Jadi suami lo dong!" jawabnya.


Mereka berdua sama-sama tertawa mengingat kenangan saat itu. Anehnya hingga mereka kembali dipertemukan, keduanya sama sekali tampak tak ingat satu sama lain. Namun, raut wajah Lesya berubah menjadi datar mengingat perbedaan tipis mengenai hasil point nya juga Elvan. Sisa tiga point lagi masalahnya, kan tanggung namanya!


"Nih, pake aja! Jangan cemberut lagi ya.. nanti jadi tambah jelek!" canda Elvan tersenyum lucu mengejek Lesya.


Tak lupa Elvan juga melepaskan medali yang masih bertengger di lehernya dan memasangkan di leher Lesya. Alhasil, Lesya kini sudah menggunakan dua medali di lehernya. Satu adalah miliknya, satu lagi adalah milik Elvan.


"Bilang aja mau nitip, kan bentar lagi mau manggung!" sinis Lesya menye-menye.


Elvan mengangguk setuju. Dia juga sengaja menitipkan medalinya karena akan segera naik panggung untuk pergantian pemilik sekolah atas namanya. Lumayan tempat penitipan.


"Nah tuh pintar, yok balik!" ajak Elvan.


Lesya mengangguk menurut dan membalas genggaman Elvan tak kalah erat. Keduanya berjalan kembali ke aula. Sementara dalam hati Elvan tersenyum penuh maksud pada Lesya.


...✎﹏﹏﹏﹏﹏﹏...


Tak hanya itu Elvan juga bahkan sudah mengaku jika Lesya adalah istrinya pada pidatonya kali ini hingga membuat Lesya mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya. Lesya kaget dengan pengakuan Elvan secara dadakan tanpa adanya permintaan izin juga pemberitahuan dengannya.


Suara rusuh dan kehebohan juga terdengar begitu memekikkan telinga karena beberapa orang yang tak terima jika idola mereka sudah berpawang dengan Lesya, si dewi cantik yang terkenal dengan nilai moral yang rendah.


*** “Pantes devil dulu bisa ngelakuin apa aja, rupanya karena ada Elvan kita yang di belakang dia.”


“Gw gak relaa huhu… Padahal niatnya mau nembak my bebeb huhu…”


“Gak habis pikir gw! Kirain cuman pacaran terus bisa putus, eh nyatanya malah udah nyatu.” ***


Bisik-bisik netizen yang pernah mendengar isu mereka yang berpacaran hanya menganggap angin lewat saja.


Mereka berpikir tak mungkin idola mereka yang layaknya malaikat dapat mau pacaran dengan malaikat maut mereka. Bahkan para netizen dulu hanya menganggap tindakan mesra keduanya hanyalah saling sekedar saling menolong saja. Tak menyangka mereka ternyata sudah sah dalam agama juga hukum.


"Saya juga minta maaf kalau terkadang buat ulah bahkan melibatkan kalian. Terimakasih atas pengalaman di masa kemarin dan saya harap kalian juga dapat menemukan yang terbaik di masa depan kalian, terimakasih dan selamat malam." ucap Elvan menutup pidatonya.


Dari arah bawah Lisa menggerutu diikuti Luna karena tindakan Elvan yang sama sekali tak seperti bayangan mereka. Kedua gadis itu berpikir jika ada kata-kata manis dan Lesya berjalan ke depan saat dipanggil oleh Elvan. Lalu ada hadiah dan kata-kata cinta. Nyatanya, hanya sekedar pengakuan saja.


"Aelah, gak romantis amat sih jadi cowok! Gemes pengen gw bisikin pake bisikan seytan." gerutu Luna cemberut.


Lisa mengangguk setuju dan menghela nafasnya dengan berat. Nasib punya sepupu kutub, pasti susah mendengar lontaran kata manis. Tadi siang masih manis, mengapa sekarang tidak? Kurang greget lohh. Begitulah pikiran mereka.


"Lo gak kecewa gitu, Sya? Gak romantis ya kayak di novel-novel lain yang gw baca. Kasih bunga, bawa lagu, ungkapin cinta, beuhh damage nya membuatku jantungan." dramatis Luna mengoceh.


"Bener tuh, kayaknya Pak boss butuh ajaran biar bisa romantis dari seniornya ini. Cuman diakuin tapi gak bilang cinta, harap maklum ya Bu, soalnya Bapak kakuan orangnya." timpal Ken lagi dari belakang mereka.


Revan juga menggangguk setuju dan bersikap seolah bersalaman dengan istri dari ketuanya. Sayangnya sama sekali tak Lesya tanggapi alias dianggurin saja.


Lesya tersenyum geli dan menggeleng jujur. "Gw sama sekali gak kecewa tuh. Cara dia beda sama yang lo baca di novel, Luna. Kalau yang di novel ya di novel, kalau Papan ya Papan. Gw juga gak butuh ungkapan manis pahit atau asin karena gw cuman butuh tindakan dia. Percuma manis kayak mulut Ken, tapi malah putus gitu aja." ucap Lesya diakhiri mencibir Ken di belakangnya.


"Aduh Bu, sakit hatiku dengernya, lidahnya terlalu tajem terus nusuk amat Bu," ringis Ken memegang dadanya seolah terpental dengan ucapan keras Lesya yang sengaja menyindir nya.


Lesya dan teman-temannya tertawa meledek. Tak hanya Luna juga Lisa, ada Nayla, Amel, dan Letha yang ikut-ikutan.

__ADS_1


"Kalau gw sih setuju juga sama lo, Sya, tapi sayangnya gw lebih setuju sama Luna. Gak romantic, ga like!" sahut Nayla meredakan tawanya. Luna dan Lisa mengangguk setuju dengan ucapan Nayla. Sebagai seorang perempuan sangat wajar jika meminta hal-hal manis dari seorang pria bukan?


"Terpenting gw diakui udah cukup tuh!" ucap Lesya dengan jujur.


Luna dan Lisa hanya berdehem menanggapinya saja. Bagi mereka, ucapan lembut Lesya begini membuat mereka kegelian mendengarnya alias seperti bukan Lesya, sahabat mereka. Mungkin karena efek sudah terbiasa melihat Lesya yang galak, ya.


...--...


"Wah congratttss! Gak nyangka lo bakal juara satu, kirain lo bakal tinggal kelas."


Suara bariton yang terdengar cukup keras membuat Lesya mengalihkan perhatiannya. Dia mengangkat dua jarinya berbentuk huruf ‘V’ kepada Cakra—sang empu suara seolah meralat ucapan Cakra yang memujinya.


Mengenai hal yang sempat membuat Lesya marah saat pesta sudah selesai. Cakra juga memilih mengikuti saran Lesya yaitu memulai bisnisnya dari nol hingga dapat membuktikan jika dia mampu tanpa bantuan mertuanya.


Saat sudah tiba dengan Alam, Cakra juga mengira medali dengan angka satu di leher Lesya adalah milik adik angkatnya. Kebetulan saat itu mereka tak melihat dua tali yang bergelantungan di leher Lesya alias yang satu sedang tertutup.


"Dapetnya dua bukan satu! Yang juara satu si Ketbok, numpang nitip doang sama gw dia." lesu Lesya memonyongkan bibirnya manyun.


Cakra juga Alam berpandangan dan tertawa meledek Lesya. Setidaknya, ada yang bisa mengalahkan adik angkat mereka walau hanya perihal kejuaraan.


"Beda berapa point, Sya?" tanya Alam penasaran.


Lesya mengangkat tiga jarinya tanpa mengubah ekspresi murungnya. Cakra dan Alam kembali tertawa melihatnya.


Mereka datang berdua tanpa istri-istri mereka. Elena juga sudah semakin besar kandungannya dan Cakra menyarankan agar dijaga oleh Lita saja, sekalian menghindari pertengkaran antar Lesya juga istrinya. Bisa gawat jika mereka bertemu, berantam yang ada.


Luna yang mendapati kedua abangnya segera mendekat dan diam-diam menyempil dari belakang hingga membuat Cakra juga Alam terkejut dengan kehadiran Luna secara tiba-tiba.


"Luna?" kaget mereka.


"Apa sih? Lagian yang disamper sapa cuman Lesya, gw juga mau kali." ujar Luna dengan nada yang merajuk.


Cakra beralih merangkul Luna dan mengacak rambut Luna hingga berantakkan. Selain dengan mendiang Leon, Luna adalah adiknya yang paling dekat jika dalam keluh kesah bersama dahulu. Jika bersama Alam, biasa temannya itu lebih banyak memendam.


"Lesya! Luna!" sapa Felicia yang ikut datang dengan Vay. Mereka menoleh dan membalas sapaan Felicia dengan ramah.


Tak hanya itu, Valen juga ikut bergabung melihat Vay yang hadir. Entah mengapa, Valen ingin dekat dengan bocah lelaki itu. Begitu juga dengan Vay.


"Paiii, yuhuu…"


Vay merentangkan tangannya ke arah Valen dan dengan sigap Valen mengangkat Vay di gendongannya. Keduanya saling memberikan tos yang sebelumnya pernah mereka sepakati. Lesya memicing curiga dengan keakraban keduanya seperti teman baik.


"Widih rame nih, ajak-ajak dongg!" sahut Lisa dengan teman-temannya yang lain di sana.


Mereka menoleh ke asal suara dan tersenyum saja menanggapinya. Pandangan mata Lesya menajam di kala melihat Letha yang menggandeng sebelah tangan Farel yang tak retak karenanya. Iya, tangan Farel masih retak sebelah. Kata dokter, Farel membutuhkan sedikit waktu pemulihan lagi agar benar-benar pulih.


"Lepas!" Lesya berbicara tanpa suara ke arah Farel yang juga menatapnya. Terpaksa Farel melepas karena tahu dengan maksud Lesya walau hanya sekedar kode dari gerakan mulut.


"Kenapa lo halangin sih, Sya?" heran Lisa berbisik melihat interaksi keduanya dari belakang. Lesya hanya diam tak menanggapi ucapan Lisa.


"Yokk poto-poto!"


Cakra mengajak dengan mengangkat kamera yang dia bawa dari rumahnya. Mereka menurut dan dengan heboh berfoto dengan gaya bebas ala mereka, tentunya ada Cakra yang menjadi photographer mereka. Alam juga tak kalah heboh sekedar merusuh dengan melemparkan bunga yang dia potong kecil-kecil ke arah mereka bersepuluh.


"Bang Alam jangan ngerusuh!" protes Luna.


"Enggak kok cuman ngelempar doang! Biar estetik hasilnya." elak Alam polos.


Para orang tua yang melihat hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Mereka hanya berdiam tanpa mengganggu aktivitas foto-foto mereka.


"Bang Alam diam atau mau gw gali kubur sekalian gw lempar bunga Telasih hah?" galak Lesya akhirnya angkat suara.


Sontak Alam diam saja sebelum hal yang tak diinginkan terjadi. Dapat Alam tebak, dia juga merasaka jika Cakra juga diam-diam menertawakan dirinya.


"Ikut gabung sini biar rame yok Bapak-Ibu, Mommy-Daddy juga Om-Tante atau siapa lah yok gabung!" Luna berseru dengan heboh dan menarik para orang tua mereka untuk ikut bergabung dengan mereka. Banyak gaya yang diambil oleh Cakra dalam rangka foto bersama.


Cakra kini sudah meletakkan kamera miliknya di tiang yang sempat dikeluarkan Alam dan ikut berswafoto dengan mereka. Gaya terakhir adalah gaya di mana Luna yang tak sengaja hampir terjatuh membuat mereka kaget. Di tambah Lesya yang tanpa sengaja menyenggol auntynya hingga terjatuh.


"LESYAAAA?!" kaget mereka.


"AAAA AUNTYYY DARAH AUNTT!!" panik Lesya membuat semua membopong Mily cepat. Sudah dibilang seharusnya Mily tak ikut, sayangnya sang empu tetap kekeuh ingin ikut ke acara.


"LAH JADI POTO GAK SIH?"


"NANTI AJA LUN, ANAK ORANG SEKARAT!"


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


>>><<<


Maaf ya kemaren gak update, sibuk nulis juga mikir ide. Kemarin juga jadwal ku praktek jadi agak sibuk, maaf yaa gayss..


__ADS_2